CEO Belok Vs Colonel Cantik

CEO Belok Vs Colonel Cantik
Penyerangan


__ADS_3

"Udah udah jangan berantem, mau perjodohan kalian di batalin?"


"Ya ga gitu juga konsepnya pa, Aliya itu harus di kasih tau supaya ga kecentilan, biar jadi cewek anggun gitu lo," seru Chandra melirik ke arah Aliya yang saat ini memandangnya sinis.


"Eleh bilang aja cemburu, susah banget," kesal Aliya memutar bola matanya malas.


"Diam pokonya lo besok ikut gue," putus Chandra tak ingin di bantah.


"Ga..." namun Aliya tetap Aliya yang pastinya akan membantah.


"Telfon kakek ni," ancam tuan Omer kembali, sembari mengangkat telfonnya.


Chandra dan Aliya segera segera terdiam. Tuan Omer tersenyum melihat tingkah kedua orang itu, yang sebenarnya takut untuk di pisahkan namun selalu bertengkar.


......................


Chandra dan Aliya kini sedang kembali dari kantor Chandra, pak Ujang hari ini di minta untuk pulang terlebih dahulu karena ada sedang tidak enak badan, jadi Chandra lah yang menyetir mobil yang mereka tumpangi. Saat berada di dalam mobilnya, Aliya merasa ada sesuatu yang aneh, mereka seperti tengah di buntuti oleh seseorang, mobil hitam sejak tadi mereka berangkat dari kantor selalu mengikuti mobil mereka, bahkan di setiap persimpangan mobil itu melaju sesuai dengan laju mobil mereka. Aliya segera menelfon kakek meminta bantuan untuk di kirimkan beberapa bodyguard. Aliya juga tak lupa menelfon sahabatnya Alex dan Erick.


"Curut untuk sementara kita mutar mutar dulu deh, tapi di tempat yang rame," seru Aliya sembari melirik ke arah belakang mobilnya.


"Kenapa? Kenapa ga langsung pulang?" Chandra tampaknya tak menyadari mereka saat ini tengah di buntuti oleh seseorang.


"Rumah lo aga sepi, kita lagi di buntuti," Aliya segera memberi tahu keadaannya kepada Chandra.

__ADS_1


"Ah sama siapa?" Chandra tampaknya masih bingung, pasalnya baru kali ini ada kejadian semacam ini di dalam kehidupannya, selama menjadi seorang manusia.


"Ga tau, mobil itu dari tadi buntuti kita," jelas Aliya sembari menunjuk mobil dari arah belakang. "Dari tadi dia ngikutin kita, kemana kita pergi kesitu dia pergi."


Chandra segera melirik kaca spionnya, teryata benar mereka saat ini tengah di buntuti. Chandra segera menekan pedal gas, segera melaju sebisa mungkin, menjauh dari mobil tersebut. Benar kata Aliya saat ini mereka tengah di buntuti, terbukti saat Chandra melaju lebih cepat, mobil itupun melaju lebih cepat jua.


"Jadi gimana? Mutar mutar terus? ini bensinnya ga banyak loh, takutnya kita kehabisan bensin, tadi kata pak Ujang belum di isi bensin," Chandra segera memberi tahu tentang keadaan bensin mereka, Aliya saat ini juga lupa untuk membawa senjata api.


"Aduh udah berapa?" Aliya seketika sedikit panik ketika Chandra mengatakan hal tersebut.


"Masih segini," jawab Chandra menunjuk meteran minyak di mobilnya.


"Cukup lah itu, kalau macet kita di dalam mobil aja, soalnya udah nelpon kakek, dan duo sableng," Aliya segera mencoba menekan kepanikannya agar tidak bertindak sembarangan, dalam situasi seperti ini yang terpenting harus tenang, dan memiliki rencana agar tidak salah bertindak.


"Alex sama Erick," jawab Aliya, terus melirik ke arah belakang, Aliya sedikit bingung melihat pergerakan mobil tersebut yang berusaha menyamai posisi merek.


"Mereka cepat ga kira kira," Chandra terus menerus menekan pedal gas, pasalnya saat ini jalanan sudah mulai sepi.


"Mungkin, tapi mereka minta kita untuk muter muter aja dulu, jangan sampai ke tempat sepi," kata Aliya yang tampaknya tak menyadari keadaan mereka saat ini cukup sepi.


Tampaknya mobi yang mengikuti mereka, tahu bahwa dirinya sudah ketahuan, mobil tersebut nekat memepet mobil yang di kendarai Chandra. Chandra yang mengetahui hal itu segera kembali menarik pedal gas agar melaju lebih kencang, namun nasib bukan berpihak kepadanya. Mobil mereka berlahan lahan kehabisan bensin dan mulai sedikit tersendat sendat, karena mobil mereka sudah kehabisan bensin.


Melihat hal tersebut, mobil hitam tersebut segera memepet mobil Chandra untuk masuk ke lorong sepi, akhirnya Chandra tak ada pilihan. Karena mobil yang ia tumpangi terus di geser ke arah yang di inginkan si penguntit.

__ADS_1


"Diam diam aja kita di dalam, jangan sampai keluar," perintah Aliya sembari menunduk. Chandra mengikuti perintah Aliya, dan ikut menunduk juga.


Orang yang mengemudikan mobil tersebut segera keluar dari mobil, tampaknya seorang pria dengan tubuh tegap, tengah memegang tongkat baseball, pria itu mengenakan topeng.


"Tutup telinga," Aliya segera memerintahkan Chandra untuk menutup telinga, dan Chandra mengikuti nya. Tepat setelah telinga Chandra di tutup pintu kaca mobil pecah karena di pukul oleh tongkat baseball. Aliya segera menarik Chandra dan mendorong pintu mobil tersebut agar terbuka, laki laki tersebut terhuyung ke belakang, membuat Aliya tersenyum.


Aliya segera keluar untuk melawan orang tersebut, karena jika tidak maka mereka akan sama sama dalam bahaya. Saat mereka sudah mulai berkelahi tiba tiba mobil lain datang dan menyerang mereka. Chandra tak tinggal diam, untung saja dia pernah belajar karate, setidaknya bisa ikut berkelahi. Saat tengah berkelahi, pria bertopeng itu mengayunkan tongkat baseball untuk segera menyerang Chandra.


"Kena kau dasar hama," gumam orang itu ketika mengayunkan tongkat baseball di tangannya.


Tak.


Naas tingkat tersebut tepat mengenai kepala bagian belakang. Chandra segera berbalik menyerang pria bertopeng tersebut, Chandra menendang pria itu tepat di perut hingga pria itu terhuyung ke belakang, Chandra segera menyambut Aliya yang kini tengah bersimbah darah di bagian kepalanya. Chandra segera memeluk Aliya dan berusaha menutupi kepalanya. Orang tersebut tampak terbengong melihat tubuh Aliya yang bersimbah darah.


"Sayang bangun, kamu ngapain ha? Kamu ngapain berdiri di belakang aku?" Chandra segera memeluk erat Aliya. "Sayang bangun," Chandra mengecup puncak kepala Aliya berharap gadis itu membuka matanya.


Erick, Alex dan bodyguard kakek Rio baru saja tiba, mereka sedikit kesusahan untuk mencari Aliya dan Chandra, karena lokasi mereka yang terus berpindah. Erick segera menyerang pria bertopeng tersebut, nampaknya pria itu masih melawan, membuat Erick segera mengeluarkan pistolnya, dan menembak lelaki tersebut. Setelah orang bertopeng tersebut lumpuh, barulah Erick segera memborgolnya, sementara Alex segera memanggil ambulans. Erick yang penasaran siapa sebenarnya pria bertopeng tersebut, segera membuka topeng pria itu, alangkah terkejutnya ketika melihat siapa di balik topeng tersebut.


"Senior," Alex yang melihatnya terlebih dahulu sangat terkejut.


"Bukannya senior pergi tugas ya?" Erick memandang Alex, sementara polisi telah membawa orang tersebut ke dalam mobil polisi.


Alex pergi mengikuti polisi untuk menjadi saksi, dalam permasalahan tersebut dengan mengenakan mobil beberapa bodyguard. Sementara Erick menemani Chandra, dan menelfon kakek Rio. Dengan mengenakan mobil yang ia kenakan tadi.

__ADS_1


Beberapa masyarakat berkumpul dan melihat tempat kejadian perkara, yang di beri garis polisi, agar masyarakat tak sembarangan masuk, karena akan merusak barang bukti yang ada.


__ADS_2