CEO Belok Vs Colonel Cantik

CEO Belok Vs Colonel Cantik
Perang ranjang panas


__ADS_3

"Idih ga malu lo di kamar cowok malam malam," Chandra berusaha menyingkirkan Aliya dari atasnya.


"Ga lah orang lo belok."


Chandra hanya mendengus segera mendorong Aliya agar turun dari atasnya. Tampaknya Chandra belum menyadari kejahilan Aliya.


"Minggir lu dari atas gue," Chandra berusaha menyingkirkan Aliya.


Aliya segera menyingkir dan menyembunyikan ponsel Chandra, kali ini Aliya akan benar benar membalas perbuatan Chandra.


"Keluar lo dari kamar gue," Chandra bangkit dari tempat tidurnya.


"Iya sabar curut, balikin ponsel gue," Aliya menengadahkan tangannya.


"Iya sebentar," Chandra segera mengambil ponsel Aliya dari laci meja kecil, yang berada di samping tempat tidur nya.


"Nih keluar lo," kata Chandra segera mendorong Aliya untuk keluar dari kamarnya.


"Iya iya, gue cuman mau ngambil ponsel gue," kata Aliya melangkah keluar dari kamar tersebut.


Tampaknya mereka saat ini tengah menempuh jalur damai, namun perang media sosial tengah berlangsung, di jamin besok adalah puncak dari perang media sosial.


Chandra mencoba meraih kenop pintu, namu anehnya pintu tersebut tidak dapat di buka, justru seolah terkunci dari luar.


"Cil pintunya terunci dari luar," Chandra terlihat panik, Aliya pikir Chandra hanya bercanda sehingga menanggapinya dengan tawa.


"Ha pintunya terkunci dari luar? Panik ga? Panik ga? Panik lah masa engga tettew," Aliya justru menggodanya.


"Gue beneran cil," Chandra berusaha meyakinkan Aliya.


Aliya akhirnya mencoba membukanya, namun nihil, ternyata benar yang di katakan oleh Chandra, pintu kamar tersebut terkunci dari luar.


"Eh kok bisa?" Aliya kini ikutan panik dengan keadaan tersebut.


Terkunci dengan musuh bebuyutan? Ah apa Aliya sudah gila? Bagaiman mungkin ini terjadi? Apa tuan Omer sengaja? Atau tuan Omer justru tidak sengaja?


Beribu pertanyaan muncul di benak mereka berdua, sungguh sangat mengesalkan. Karena tidak ada yang biasa di tanyai.


"Bik, pah, mah buka pintunya," Chandra berteriak sembari menggedor gedor pintu.


"Udah tidur semua kali ya?" Aliya melirik jam di ponselnya ternyata sudah jam sepuluh lewat.


Chandra bahkan menepuk jidatnya, karena dari dulu mereka memang memiliki kebiasaan tidur lebih awal, jika tidak ada yang harus di kerjakan.


"Ayolah cil tidur yuk, lo tidur di sofa," kata Chandra menunjuk sofa yang ada di ruangannya.

__ADS_1


"Idih enak aja lo, ingat ya gue ini cewek, jadi lo yang tidur di sofa," bantah Aliya tak terima di minta untuk tidur di sofa.


Chandra memandangnya jengah dan melempar bantal ke arah Aliya.


"Gue ga mau tahu lo tidur di sofa," Chandra benar benar tak ingin di bantah.


"Enak aja lo, gue mau tidur di tempat tidur aja deh," Aliya ngotot tak mau tidur di sofa.


"Lah terus," Chandra tampaknya masih keberatan.


"Ya lo yang di sofa, lagian badan gue pegel pegel, ayolah Chand," Aliya berusaha membujuk Chandra.


"No, no, no, no, no," Chandra tetap tak mau.


"Ayo lah lo kan cowok, ngalah lah sama cewek," Aliya berusaha bernegosiasi.


"Eleh ga mau gue, ga ada cewek cowoan," Chandra benar benar tak mau.


"Ih kok bisa gitu sih," Aliya benar benar kesal di buatnya.


"Iya bisa lah emang loh siap gue?" Chandra tampaknya benar benar tak ingin mengalah.


"Tunangan kalau lo lupa," Aliya segera menghamburkan diri ke tempat tidur.


"Engga," Aliya justru mengurung dirinya di bawah selimut.


"Jangan salah kan gue ya," Chandra segera menindih Aliya di dalam selimut.


"Lo bisa apa? Lo belok Chandra," Aliya terkekeh mengejek Chandra.


"Gue juga cowok Aliya," Chandra berusaha mengancam.


"Tapi ga normal," Aliya terkekeh di balik selimut.


"Jangan salahin gue," Chandra segera menyikap selimut dan masuk ke dalam selimut.


Chandra segera menindih Aliya membuat Aliya segera bergerak, dan mencoba lepaskan diri dari Chandra.


"Berat lo, jangan jangan lo ga belok, lo pura pura doang," Aliya mencoba memojokkan Chandra.


"Kata lo ga takut," Chandra tersenyum berhasil membuat Aliya di dalam kurungannya.


"Ok kita lihat aja," Aliya segera menarik Chandra untuk memeluknya, Aliya memonyongkan bibirnya hendak mencium Chandra.


Chandra terkejut refleks berusaha membuatnya menjauhkan diri dari Aliya. Aliya yang melihat ekspresi wajah Chandra sontak terkekeh, Aliya tahu Chandra akan melakukan hal tersebut.

__ADS_1


"Dasar me*sum lo ya, kalau suka sama gue bilang aja," Chandra tersenyum memandang Aliya.


"Enak aja, gue ga suka sama lo," Aliya memutar bola matanya malas.


"Sama lo juga bukan leve lan gue, model kayak lo jangankan gue, orang gila di pinggir jalan aja jijik," Chandra tersenyum mengejek.


Aliya segera bangun dan menyerang Chandra, terjadilah perang panas di atas tempat tidur, dengan kedua orang kucing dan tikus yang saling berguling giling, berusaha mengalahkan satu sama lain.


Akhirnya mereka kelelahan membuat Chandra dan Aliya segera berbaring di sisi tempat tidur, Chandra segera memandang Aliya yang tengah mengatur nafasnya.


"Ya udah lo boleh tidur di sini, dengan syarat lo ga boleh dekat dekat dengan gue," Chandra akhirnya mengalah.


Chandra segera meletakkan bantal guling di antara mereka, membuat Aliya terkekeh geli, rasanya di film yang sering di tonton oleh Juwita, perempuan lah yang melakukan hal tersebut.


Aliya segera berbaring membelakangi Chandra, menutup matanya, sementara Chandra juga melakukan hal yang sama. Untuk pertama kalinya mereka bisa berdamai di ruangan yang sama.


......................


Pagi menjelang Chandra dan Aliya di bangunkan oleh bunyi ponsel Chandra.


"Cil angkat telfon cil," Chandra tampaknya belum sadar sepenuhnya.


Karena saat ini Chandra terlelap sembari memeluk Aliya, bahkan sangat baik untuk membuat orang salah paham.


"Hm," Aliya hanya berdehem ria, Aliya bahkan ikut memeluk Chandra.


Ponsel Chandra kembali berdering membuat Aliya segera meraba sekitar tempat tidur, dan akhirnya ketemu.


Tanpa melihat nama si penelpon Aliya hanya tahu itu sebuah video call, Aliya segera mengangkatnya dengan masih di dalam pelukan erat Chandra.


"Cil siapa yang nelfon?" Chandra tampaknya masih nyaman dengan posisinya sehingga malas untuk membuka matanya.


"Engga tau," kata Aliya segera meletakkan ponsel tersebut kembali.


"Ya udah tidur lagi, gue capek banget semalam habis gelut sama lo," Chandra semakin memeluk erat Aliya, berusaha mencari kehangatan.


"Lo kerja ga curut?" Aliya sedikit membuka matanya hendak memandang Chandra.


"Nanti aja, hus tidur lagi gue masih ngantuk," Chandra kembali memeluk kepala Aliya.


Sementara di luar tuan Omer dan nyonya Mona tengah membuka pintu kamar Chandra, tuan Omer memang sengaja mengunci mereka di dalam kamar, agar mereka segera berdamai dan tidak ribut lagi. Bahkan kakek Rio ikut andil dalam hal ini, ikut memberi ide.


Saat mereka masuk mereka terkejut dengan posisi kedua manusia yang kerap di gelari kucing dan tikus tersebut.


"Kalian ngapain?"

__ADS_1


__ADS_2