
Pagi menyingsing memancarkan sinarnya, hingga masuk ke sela sela jendela kamar. Aliya memicingkan matanya, karena semalam Aliya tidak terlalu menutup gorden tersebut. Sementara Chandra jangan di tanya lagi, saat ini Chandra tengah menghimpit sebagian tubuh bagian bawah Aliya.
Aliya yang semalam di gempur di dalam kamar mandi, kini merasakan nyeri di sekitar tubuhnya. Chandra masih setia dengan tidurnya, kini berusaha Aliya singkirkan dari atasnya. Chandra terusik dan memandang Aliya sembari tersenyum.
"Morning my wife," sapa Chandra kembali mengecup bibir Aliya, dan berpindah ke daerah leher Aliya. Tangannya jangan di tanya, kini mulai mengusap sesuatu yang lembut, di bawah selimut sana.
"Curut jangan gini, gue mau pipis," Aliya berusaha menyingkirkan tangan Chandra.
"Mau mandi sekalian?" Candra tampak enggan menyingkir dari atas Aliya.
"Tangan oy tangan, bandel banget. Lagian lo kok berat banget,"kata Aliya berusaha menghalau tangan Chandra.
"Nah sudah di tempat yang tepat," kata Chandra sembari meremas sesuatu.
"Ah, gue mau pipis curut," Aliya berusaha menahan desahannya.
"Ya sudah ayo gue temenin," Chandra segera menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh polos mereka.
"Lo ngapain hah?" Aliya menahan teriakannya, agar tak terdengar.
"Bantuin Lo mandi," Chandra segera bangkit, dan mengangkat Aliya ke dalam gendongannya.
"Eh gue bisa sendiri," kesal Aliya berusaha lepas.
"Ga, ga bisa, biar gue bantu," Chandra segera meletakkan Aliya ke atas closed kembali.
Aliya hanya menatap geli ketika melihat Superman Chandra telah berdiri tegak, di hadapannya. Entah kenapa Aliya malu sendiri, padahal Chandra saja tidak terlihat malu sama sekali. Chandra bahkan tetap berdiri di hadapan Aliya sembari memandangi sesuatu di sana.
__ADS_1
"Eh Chandra lo ga malu apa?" Aliya bahkan kini menutup wajahnya.
"Ngapain malu juga, orang kelihatan juga semalam," kata Chandra santai.
Setelah melihat Aliya selesai menunaikan hajatnya, Chandra segera menggendong Aliya ke kamar mereka, dan membaringkannya di tempat.
Dan kita semua tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya, tak perlu kita ceritakan.
"Terimakasih," Chandra saat ini masih betah memeluk Aliya dengan tubuhnya yang polos.
"Untuk apa?" Aliya kini menjawabnya dengan mata yang terpejam, karena kantuk kembali menyerang.
"Untuk semua," Chandra kembali menghadiahkan sebuah kecupan manis di puncak kepala Aliya.
"Hm, ngomong ngomong lo udah pernah belum sebelumnya?" Aliya tampak penasaran, bahkan kini kelopak matanya kembali terbuka.
"Hm," hanya itu jawaban dari Aliya, bahkan kini Aliya tersenyum dalam diam, karena tahu ternyata dirinya adalah yang pertama.
"I love you," kata Chandra dengan berbisik.
"Love you to," jawab Aliya membuat Chandra tersenyum.
......................
Tepat pukul dua belas siang, kedua insan ini baru saja terbangun, mereka telah siap dengan pakaian lengkap, seprai juga sudah di ganti oleh mereka.
Sementara di bawah kakek Rio, tuan Omer dan nyonya Mona kini tengah makan siang, kembali tanpa kedua anak mereka, yang baru saja menikah. Saat Chandra dan Aliya turun, tepat ketiganya telah selesai makan siang.
__ADS_1
"Kalian sudah bangun? Ayo langsung saja makan siang, nanti kalau mau gabung di ruang keluarga ke sana saja," kata kakek Rio sembari tersenyum melihat kedua cucunya.
"Iya kek," jawab Chandra segera menarik kursi untuk Aliya. Chandra jelas tahu bahwa Aliya saat masih merasa perih di daerah khusus istimewa nya. Hal itu karena tadi saat akan mandi bahkan Aliya harus ia gendong.
Setelah ketiga orang tua itu beranjak dari ruang makan, Chandra segera duduk di samping Aliya. Chandra melihat Aliya saat ini tengah berusaha mengambil makanan untuk dirinya.
"Udah biar gue aja, lo duduk aja," Chandra segera merebut piring yang di pegang oleh Aliya, membuat Aliya segera mendudukkan dirinya.
"Makasih," kata Aliya kala Chandra meletakkan piring berisi nasi dan lauk pauk di hadapannya. Chandra juga mengambilkan untuk dirinya sendiri.
......................
Setelah selesai makan siang di rekap dengan sarapan yang tertunda, mereka segera menyusul yang lain ke ruang keluarga, Aliya duduk di sofa single, sementara Chandra duduk tepat di depan sofa yang di duduki oleh Aliya. Chandra menarik tangan Aliya, dan meletakkannya di tepat di pundaknya.
Ketiga orang tua itu tersenyum melihat adegan tersebut, namun mereka lebih memilih untuk pura pura tidak tahu, mereka bertiga seolah berfokus kepada tv, dan tak memperhatikan sekitarnya.
Chandra meletakkan kapalanya di paha Aliya, sembari menggenggam tangan Aliya, sesekali mengecupnya dengan gemas, terlebih jika mengingat kejadian tadi malam dan tadi pagi. Chandra mengusap lembut wajahnya dengan telapak tangan Aliya. Gadis itu tampaknya tak masalah dengan perlakuan dari Chandra, bahkan cendrung nyaman.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hitung tujuh batu nisan ke kiri, lalu lima batu nisan ke depan. Sepasang mata gelap mengamati dirinya dari balik buku. Pakaian wanita itu, tidak seluruhnya berwarna hitam, kerahnya berwarna ungu gelap, namun cat kukunya hitam, senada dengan eye shadow, dengan rambut yang sedikit bercampur dengan ungu, meskipun lebih banyak hitamnya di sana.
Dengan kacamata hitam yang bertengger di ujung hidung, sementara gagang dari kacamata itu sendiri berwarna ungu. Ah, tampaknya warna favorit wanita itu hitam dan ungu. Barracks mengalihkan pandangannya pada wanita yang sangat ingin tahu itu, kalau kata anak jaman sekarang kepo. Barracks megang iPod. Layar iPod-nya menampilkan video terbaru the angel, from the darkness. Hasil editan terakhir sangat fantastis. Barracks mematikan iPod, menarik lepas alat pendengar dari telinganya, dan memasukkan alat tipis itu kedalam saku belakang celananya.
Hi novel baru othor telah terbit yuk baca menanti fajar, dengan gender romantis, dan vampir, spiritual dan lain lain. Dan mungkin akan di adakan giveaway juga di sini.
__ADS_1