CEO Belok Vs Colonel Cantik

CEO Belok Vs Colonel Cantik
Perang media sosial


__ADS_3

"Kek lihat ponsel Liya ga?" Aliya menghampiri kakek Rio yang tengah membaca grafik perusahaan.


Pasalnya sejak tadi Aliya tak menemukan ponselnya, rasanya Aliya tak terlalu memainkannya hari ini, tapi entah ponselnya hilang ke mana.


"Dari pada kamu ngurusin ponsel kamu, lebih baik kamu bantu kakek ngurusin semua berkas ini," kakek Rio menghela nafasnya.


Pasalnya ia sudah tua namun Aliya tak kunjung mengurus bisnis keluarga, ingin rasanya kelak Rio istirahat dan pensiun dari pekerjaan kantor, kakek Rio sudah merasa terlalu tua untuk menyandang gelar CEO.


"Nanti deh dulu kek, Liya lagi nyariin ponsel Liya," kata Aliya sedikit cemberut.


"Nanti dulu ya, bantuin kakek dulu nanti baru kakek bantuin cari ponselnya," kakek Rio mencoba memberikan penawaran.


"Beneran ya, janji," Aliya meminta kakeknya berjanji terlebih dahulu.


Kakek Rio hanya mengangguk mengiyakan keinginan cucu kesayangannya. Ah nasib memiliki anak semata wayang, dan cucu semata wayangnya, hanya bisa bergantung kepada satu orang saja, itu pun jika di mintai tolong harus dengan berbagai bujukan, atau penawaran tak pernah ingin rugi.


Aliya mulai membantu kakek Rio untuk mengerjakan pekerjaan kantor yang lumayan banyak, ini memang tak sesulit yang di bayangkan Aliya, karena pada dasarnya Aliya memiliki pengetahuan tersebut, namun Alya lebih suka dengan pekerjaannya sekarang, sebagai seorang colonel.


Bukan tampa sebab Aliya menyukai pekerjaan tersebut, Aliya bahkan memiliki banyak relasi yang cukup luas untuk menambah jaring bisnis keluarganya, hanya dari profesinya saja.


Setelah setengah jam Aliya menyelesaikan pekerjaan nya, dan sesuai janji kakek Rio akan membantu Aliya mencari ponselnya yang hilang.


Aliya terus mencarinya dengan mengenakan ponsel kakeknya, namun tak kunjung terdengar nada dering nya, padahal statusnya bergetar. Aliya semakin frustasi saja di buatnya, Aliya kembali menelfon ponselnya namun hasilnya tetap sama.


Aliya kemudian melihat ponsel kakek Rio untuk memastikan nomor ponselnya, namun tantangannya sedikit terpeleset, hingga fitur di aplikasi pengirim chat tersebut berganti dengan status, dan alangkah terkejutnya ketika melihat bahwa dirinya membuat sebuah status. Buru buru Aliya membuka statusnya, seketika matanya membulat melihat status dari nomor nya.


"Chandra curut sableng," seketika suara Aliya menggema di ruangan tersebut, membuat kakek Rio yang tengah mencari di ruang tengah segera berlari ke kamar Aliya.


"Kamu kenapa Liya," kakek Rio penasaran dengan teriakan cucunya.


"Ni liat kelakuan curut sableng," Aliya menunjukkan ponsel kakek Rio dengan akun milik Aliya, di mana Chandra tengah berpose tersenyum setengah te*la*nja*ng di status aplikasi chatting tersebut.

__ADS_1


"Ah jangan jangan," Aliya segera melihat berbagai aplikasi media sosial, dan benar saja ternyata Chandra telah mengirim berbagai foto, milik Chandra yang setengah te*la*nja*ng.


"Astaga, ngebet dia mau jadi suami kamu," kakek Rio justru salah menyimpulkan.


"Mana ada, dia mau balas Liya," kesal Aliya segera menyambar kunci motornya, dan jaketnya untuk segera ke rumah keluarga besar Kostak.


Sementara itu di rumah keluarga Kostak, lebih tepatnya di kamar Chandra. Chandra tengah tertawa penuh kemenangan karena berhasil mengerjai Aliya, bahkan saat ini para penghuni asrama laki lakinya tengah berkicau membalas pesan Aliya.


Ah, perasaan puas menjalar di hari Chandra, bagaiman tidak ia berhasil membalas perlakuan telak Aliya terhadapnya tadi siang.


Namun tiba ponselnya berbunyi dengan nama kakekku sayang lengkap dengan emoji gambar hati, sontak membuat Chandra panik, dan memilih tidak mengangkatnya.


Setelah sekian lama dan entah beberapa kali ponsel tersebut berbunyi dengan nama yang sama, kemudian berhenti. Bahkan nama tersebut tak pernah lagi menelfonnya, sontak membuat Chandra bernafas lega, namun ketika Chandra melihat kembali jumlah orang yang melihat statusnya, Chandra sadar bahwa Aliya telah melihat status tersebut, sontak membuat Chandra terkikik sekaligus bergidik dalam waktu yang bersamaan.


Hanya butuh empat puluh lima menit Aliya membelah jalan menuju rumah besar Kostak, Aliya segera masuk ke dalam pagar dan segera mengetuk pintu utama rumah tersebut.


Tak lama kemudian nyonya Mona membuka pintu rumah utama mereka, alangkah terkejutnya dirinya ketika melihat Aliya yang datang bertamu di malam hari.


"Malam tan, Chandra nya di dalam?" Aliya langsung saja menanyakan keberadaan Chandra.


"Ponsel Liya di bajak Chandra tan," jujur Aliya segera kepada nyonya Mona.


"Ya udah masuk dulu sayang, kamar Chandra di lantai dua, sebelah kanan tangga paling ujung dekat balkon," nyonya Mona segera membaritahu kamar Chandra.


"Makasih tante, untung tante baik," Aliya segera berlari menuju kamar Chandra.


Aliya mengetuk pintu kamar Chandra, namun tak ada jawaban, saat Aliya hendak membuka pintu, ternyata sudah di kunci Chandra.


"Aggh," Aliya menggeram kesal, Aliya kemudian turun untuk meminta kunci cadangan.


"Kunci cadangan tuan muda kalian di mana?" Aliya tak ingin berbasa basi.

__ADS_1


"Di naklas meja samping kamar tuan, yang di dekat lemari kaca non," asisten rumah tangga tersebut menjawab dengan pelan.


"Makasih," kata Aliya segera naik kembali ke atas, namun ternyata tuan Omer baru saja keluar dari kamarnya.


"Udah ketemu Chandra nya," tuan Omer tersenyum ke arah Aliya.


"Belum om, soalnya di kunci," Aliya mencoba tersenyum walaupun dalam hati sedikit dongkol.


"Aliya biar papa bantu," tuan Omer membantu Aliya.


Mereka segera masuk ke lantai dua, dan membuka pintu kamar Chandra dengan kunci cadangan.


Aliya segera masuk dan menghampiri Chandra, sementara tuan Omer segera menutup pintu, dan meninggalkan kucing dan tikus tersebut di ruang yang sama.


Aliya mendekati ponsel yang tergeletak, namun ternyata itu ponsel Chandra membuat Aliya tersenyum kemenangan.


"Bangun lo," Aliya tiba tiba menyerang Chandra yang di tutupi selimut.


Chandra terkejut, segera membuka selimutnya dan mendapati seorang wanita, dengan rambut panjang menutupi wajah nya, sementara bajunya terlihat dengan warna putih.


"Ah kunti," Chandra berteriak shock, baru pertama kali melihat pemandangan tersebut.


Aliya terkekeh sembari sembari mengarahkan kamera ke arahnya sekali menjulurkan lidahnya, kemudian menyoroti posisi mereka.


Aliya kemudian mengirim ke status Chandra, serta ke berbagai kanal media sosial Chandra.


Chandra belum menyadari balasan dari Aliya, ia hanya terbengong melihat posisi Aliya berada di atas perutnya, yang tertutup selimut.


"Cil lo ngapain di atas gue?" Chandra tampaknya masih shok dengan keberadaan Aliya saat ini, yang tiba tiba berada di kamar Chandra tepatnya di atas perutnya.


"Ngasih kejutan lah, gue kangen tau," Aliya tersenyum tengil memandang wajah Chandra.

__ADS_1


"Idih ga malu lo di kamar cowok malam malam," Chandra berusaha menyingkirkan Aliya dari atasnya.


"Ga lah orang lo belok."


__ADS_2