CEO Belok Vs Colonel Cantik

CEO Belok Vs Colonel Cantik
Awal mula misi


__ADS_3

Malam ini Chandra tidak tenang, sudah berkali kali ia berbolak balik hingga menggulingkan badannya ke seluruh arah tempat tidur yang empuk. Namun Chandra merasa tempat tidur ini terbuat dari batu, entah karena ini berbeda dari kamarnya atau memang perasaannya yang tidak tenang.


Malam ini Chandra memang memutuskan tidur di rumah aliya, menemani kakek Rio yang sejak tadi bersedih, wajah tua itu mengatakan seakan takut kehilangan. Chandra bahkan mendengarkan setiap ocehan yang keluar dari mulut kakek Rio, hingga kakek Rio merasa mengantuk sendiri. Ah, rupanya begini rasanya memiliki kakek.


Chandra menggeram kesal karena saat ini memikirkan keadaan Aliya, bagaimana mungkin Aliya menerima tugas seberbahaya itu? Ah, sadarkan Chandra dekat dengannya saja berbahayanya untuk Aliya.


Apa Aliya tidak memikirkan tentang kakek Rio dan dirinya? Ah sejak kapan ada dirinya di sana? Chandra menggelengkan kepalanya menepis pemikirannya sendiri.


Chandra bangun dan berkeliling kamar yang lebih tepat untuk laki laki, Chandra menggeleng melangkahkan kakinya ke arah laci.


Chandra sedikit tertarik dengan beberapa album foto Aliya. Chandra membuka satu persatu, tampak seorang gadis mungil yang yang tengah tertawa ke arah kamera.


"Imut," Chandra tampa sengaja tersenyum melihat foto Aliya.


Chandra kemudian membuka lembaran selanjutnya, terlihat seorang anak laki laki memangku seorang anak perempuan. Yang mengejutkannya adalah anak laki laki itu adalah dirinya. Bahkan foto selanjutnya adalah saat dirinya mencium pipi Aliya.


Chandra tersenyum melihat pose tersebut kemudian memotret nya, sungguh Chandra tidak mengingat masa masa itu dan ternyata mereka sepertinya sangat akrab saat itu.


"Lucu juga," Chandra berucap sembari mengusapnya, dan menjadikan foto masa kecil mereka manjadi wallpaper ponselnya.


Setelah melihat foto foto tersebut, entah kenapa Chandra kembali teringat tentang Aliya yang saat ini mungkin dalam bahaya. "Selamat lah, gue bakal marah besar kalau lo ga selamat dan ga ngerecokin hidup gue lagi."


......................


Lain Chandra lain pula Aliya, yang saat ini tengah berada di salah satu negara kepulauan, Aliya tengah menikmati waktu tugasnya kembali, Aliya ingat betul perdebatan antara dirinya dan juga kakek Rio. Ini adalah kesempatan terakhir Aliya untuk melakukan tugasnya, Aliya sudah berjanji ini mesi terakhirnya untuk hal seperti ini.


Kali ini tugas Aliya adalah mengawal keluarga konglomerat yang tengah di teror, Aliya juga mendengar informasi bahwa kali ini yang meneror mereka adalah seorang mafia kelas dunia. Aliya tak tahu apa penyebab mereka menjadi di teror, namun bisa Aliya lihat bahwa mereka dalam keadaan bahaya.


Mengingat ini adalah tugas ini adalah tugas berbahaya, Aliya tidak mau mengambil resiko, ceroboh dalam bertindak dengan menggunakan barang barang pribadi miliknya. Iya tak ingin memikirkan hal lain, Aliya harus fokus memikirkan misinya.


Sesampainya di tempat tujuan seorang wanita cantik yang di ketahui bernama nyonya Yanti, yang akan jaga oleh Aliya dan kawan kawan menyambut mereka, serta bodyguard sebanyak dua puluh orang. Dari yang Aliya perkirakan mungkin saja wanita itu seumuran dengan nyonya Mona, berkisar empat puluhan tahun. Wanita itu tampak tersenyum bersahaja, ke arah Aliya yang tengah mengenakan masker hitam dan jaket hitam juga, dengan kaus oblong putih.

__ADS_1


"Selamat datang," nyonya Yanti menyambut Aliya dengan senyuman, dan uluran tangan.


"Terimakasih atas sambutan nya," Aliya menyambut uluran tangan nyonya Yanti.


"Sama sama."


Sesampainya mereka di kediaman istana nyonya Yanti, mereka segera mempersilahkan mereka untuk beristirahat.


......................


Aliya terbangun tepat jam setengah enam, membuat Aliya segera bergegas, dan akan melakukan olahraga di tempat gym keluarga tersebut, setelah setengah jam Aliya segera menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya.


Setelah membersihkan diri, Aliya segera keluar kamar nya, dan menemui nyonya Yanti yang tengah membantu maid untuk membuat sarapan.


"Selamat pagi tante cantik," kali ini Aliya berperan sebagai keponakan dari nyonya Aliya, Aliya memeluk nyonya Yanti dari belakang.


Nyonya Yanti tersenyum mengusap lembut tangan Aliya, rasanya nyonya Yanti memiliki anak perempuan.


"Iya bibi sekalian mau melihat lihat," Aliya melepas pelukannya kepada nyonya Yanti.


Para maid yang melihat Aliya untuk pertama kalinya, memandnag Aliya dengan pandangan bingung.


"Ah, dia Aliya keponakan ku, semalam dia tiba di sini, dan untuk sementara tinggal di sini," mendengar penuturan nyonya-nya, membuat para maid mengangguk mengerti.


Setelah sarapan sesuai dengan janji nyonya Yanti dan Aliya pergi ke pasar, mereka segera masuk ke dalam mobil.


"Nanti malam, saya harap anak tante ada di rumah, soalnya mau membicarakan masalah strategi, nah untuk nanti nanti, saya akan mengawal anak tante," Aliya sambil berbisik kepada nyonya Yanti, ketika sampai di dalam mobil.


"Lalu di rumah yang lain?" Aliya mengangguk mendengarkan pertanyaan nyonya Yanti.


"Namun rencananya hari ini saya akan menggledah rumah tante, memeriksa setiap cctv," Aliya tersenyum ke arah nyonya Yanti.

__ADS_1


"Cctv?"


Setelah kembali Aliya segera masuk dan berpura pura ingin membantu para maid membersihkan rumah.


"Non mohon maaf biar saya saja," seorang maid merasa tidak enak.


"Ga papa, saya ga ada kerjaan jadi mau bantu bantu, bosan di rumah aja," Aliya berusaha meyakinkan maid tersebut.


"Tapi non," maid tersebut tampak ragu.


"Tante ga akan marah kok," Aliya segera mengambil alih kemoceng tersebut, dan memulai aksi memeriksa setiap sudut ruangan dengan berpura pura membersihkan.


Di dalam baju yang Aliya gunakan, di situ terdapat beberapa pendeteksi cctv, dan logam khusus. Aliya telah menyelesaikan bersih bersihnya, dan mendapati bahwa terdapat dua puluh lima cctv dalam berbagai bentuk, seperti bentuk skrub, pengharum ruangan, boneka, bahkan berbentuk seperti paku.


"Cek mereka benar benar telah memasukkan banyak orang sepertinya di sini, mungkin kami sedikit terlambat," Aliya menggeleng melihat sekumpulan cctv yang telah Aliya temukan.


Setelah mengumpulkannya Aliya segera memberitahu rekan lainnya untuk mulai beraksi, memeriksa setiap penghuni rumah, termasuk maid, satpam, supir dan bodyguard.


Aliya pun kembali memasang cctv yang baru, yang terkoneksi ke ponselnya, dan laptopnya. Untung saja Aliya membawa beberapa bentuk cctv dalam bentuk yang berbeda beda.


"Cek ini lah kalau jaman terlalu canggih, menyebalkan dan menyusahkan," Aliya memandang setiap tampilan layar ponselnya.


Aliya tampa sengaja melihat tingkah salah satu maid yang amat mencurigakan, maid tersebut tampak menelfon seseorang dengan mengendap endap ke taman belakang.


"Jo coba periksa ke taman belakang, ada maid yabg mencurigakan," Aliya terus saja memantau sembari menghubungi temannya.


"Baik," Aliya tersenyum mendengar jawaban dari rekannya.


Aliya kemudian kembali memantau ruangan lain, dengan laptop nya, benar saja beberapa maid, sekuriti dan bodyguard bertindak aneh, seperti saling menyampaikan pesan tersembunyi.


"Aduh ini benar benar banyak yang sudah menyusup," Aliya menghela nafasnya, sembari memandang kalung pemberian atasnya, untuk mantau sekalian berkomunikasi. "Berat ini."

__ADS_1


__ADS_2