CEO Belok Vs Colonel Cantik

CEO Belok Vs Colonel Cantik
Suwe' lo njel


__ADS_3

Chandra melangkah masuk dengan pelan, kini dirinya sedikit tegang, tangan Chandra mengepal melihat kebersamaan Brayen dan Aliya. Chandra melihat Brayen tengah memegang kotak beludru sembari memandang dinding, Brayen mengusap kepala Aliya dengan lembut. Jujur saja saat ini Chandra merasa sangat cemburu.


Kakek Rio yang baru saja masuk melihat Chanda segera membuka suara. "Mau apa kamu kesini?" kakek Rio mengejutkan Chandra.


"Kek kami datang untuk meminta maaf," Chandra segera mendekati kakek Rio.


Chandra mengerti kemarahan kakek Rio kini hanya tertunduk pasrah. Mendengarkan apa yang akan kakek Rio katakan.


"Itu saja?" Kakek Rio hanya menggeleng, sembari terkekeh.


"Chandra," gumam Aliya, sontak membuat Chandra memandang Aliya dengan sendu.


"Aliya masuk," perintah kakek Rio. Membuat Aliya segera masuk dengan menanduk. membuat Chandra semakin teriris.


"Mau apa kamu?" Kakek Rio membuat Chandra memandang ke arahnya. Chandra memandang kakek Rio


"Kek Chandra boleh ketemu Al?" Chandra memohon kepada kakek Rio.


"Kamu kira kamu siapa?" Kakek Rio seolah memandang Chandra rendah


"Kek tolong restui hubungan kami lagi kek," Chandra memohon, biarlah harga dirinya hilang asal bisa bersamaa Aliya.


"Kamu sadar kamu siapa?" Kakek Rio benar benar tampak malas meladeni Chandra.


"Kek tolong maafkan masalalu Chandra, Chandra akan lakukan apapun," Chandra semakin memohon.


Kakek Rio terkekeh tampak memikirkan apa yang akan ia lakukan, Chandra mulai menunduk memikirkan apa pun yang akan di lakukan kakek Rio terhadapnya.


"Apapun?" Kakek Rio menantang Chandra sembari tersenyum.


"Iya kek, Chandra mohon," Chandra mengiba.


Dapat kakek Rio lihat wajah putus asa Chandra, membuat kakek Rio menahan tawa.

__ADS_1


"Saya tidak yakin," kakek Rio tersenyum misterius, sepertinya akan ada sesuatu yang sulit yang akan di berikan kepada Chandra. Kakek Rio berfikir untuk kembali membuat Chandra semaki panik dan mengiba. "Kalau begitu tinggalkan cucu saya."


Chandra sungguh terkejut bagai mana mungkin Chandra menyetujuinya, tak mungkin dan tak akan pernah. Chandra menggeleng.


"Kek semuanya dapat saya lakukan asal jangan yang satu itu," Chandra kembali mengibah. Sontak membuat kakek Rio tersenyum puas.


Brayen tersenyum miris melihat Chandra memperjuangkan Aliya, padahal ini bukan yang pertama kali nya Brayen mendengar bahwa mantan kekasihnya itu sangat mencintai Aliya, bahkan pertama kalinya itu dari mulut mantan kekasihnya sendiri. Benar kata Juwita, gadis yang saat ini tengah berbisik dengan Angel. Bahwa ia harus sembuh, dan mencari cinta sejatinya. Akhirnya Brayer hanya membuang nafas dan mengalihkan pandangannya demi mengalihkan fikirannya juga.


Sementara nyonya Mona dan tuan Omer sedikit menegang, mereka terkejut melihat mantan kekasih anaknya juga hadir di sini, entah apa rencananya, yang jelas nyonya Mona dan tuan Omer sangat gelisah. Hingga saat ini mereka masin bingung siapa yang memberitahukan kebenarannya kepada kakek Rio. Dan bagaimana mungkin kakek Rio bisa mengenal Brayen.


"Pah jangan jangan papa mengenal anak itu, bagaimana kalau papa tahu?"


Angel memandang ke arah nyonya Mona, seakan menanyakan keadaan saat ini. Nyonya Mona menganggukkan kepalanya menandakan sudah waktunya. Angel dan Juwita segera berjalan mendekat ke arah kakek Rio, di ikuti Brayen. Yang berdiri tepat di belakang Chandra.


"Kamu sadar tidak ha?" Kakek Rio meninggikan Suaranya. "Sekarang ayo lihat ke belakang."


Chandra melihat kebelakang dan melihat Brayen, Chandra terkejut, tak menyangka Brayen kini berdiri di belakangnya, rasanya ingin Chandra pukuli saja Brayen. Chandra mulai curiga bahwa lelaki itu yang melaporkan nya. Jika memang benar maka Chandra tak akan memaaf kannya.


"Ah bukan bukan, Brayen menyingkir, dia tak tampak," kakek Rio tersenyum ke arah Brayen, hingga akhirnya Brayen menyingkir.


Chandra terdiam melihat Aliya tersenyum, Chandra ikut tersenyum. Ternyata dirinya merindukan senyum itu. Entah kenapa setelah melihat senyum itu Chandra terhibur. Ah, dapat kita simpulkan ternyata Chandra ketergantungan dengan senyum Aliya.


"Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, Happy birthday Chandra," Aliya tersenyum menyanyikan lagu tersebut.


Sementara kedua temannya yang minim akhlak kini diam diam mengumpat suara Aliya yang benar benar fals.


^^^"Chandra benar benar jatuh cinta, bahkan suara seperti kentut bebek saja dia tersenyum senang," Juwita memandang Aliya dengan sinis.^^^


^^^"Aduh kentut Bunga Citra Lestari saja lebih estetik dari pada suara kak Al," Angel tersenyum bingung menatap Aliya.^^^


"Ini maksudnya... kek," Chandra masih terlihat bingung dengan kejutan tersebut.


"Ini ulang tahun kamu kan?" Kakek Rio terkekeh melihat wajah bingung calon cucu menantunya.

__ADS_1


"Mah, pah," Chandra memandang ke arah nyonya Mona dan tuan Omer.


"Iya sayang selamat ulang tahun," seakan tahu maksud dari anaknya nyona mona mengangguk sembari tersenyum.


Chandra berjalan mendekati Aliya membuat Brayen mengambil alih kue di tangan Aliya, dan memberikannya kepada Juwita. Nyonya Mona dan tuan Omer terkejut melihat hal tersebut.


"Jadi kalian," Chandra memandang Aliya yang tersenyum ke arahnya. Chandra memeluk Aliya. "Makasih, gue takut banget, lo jangan gini lagi," hanya itu yang mampu Chandra ucapkan.


"Iya iya, ini bukan ide gue suwer," kata Aliya di balik pelukan mereka.


"Lo hutang penjelasan tetap kutil kancil gue," kata Chanda Sedikit mengecup pundak Aliya


Dapat Aliya rasakan Chandra meniti kan air mata. Aliya terkekeh merasakan Pundaknya basah air mata.


"Sorry," ucap Aliya tak tega melihat Chandra menangis. "Oh ya bay the way, happy birthday, all the best for we, sorry suara gue emang fals," ah, Aliya tampak nya menyadari hal tersebut. Tapi ucapan Aliya membuat Chandra sedikit terkekeh.


"Hah kok Al the best for we?" Chandra kembali mengecup gemas pundak Aliya.


"Ya kan ujung ujungnya lo minta supaya tahun ini bisa kawin sama gue," Aliya sungguh percaya diri dengan jawabanya.


"Ada ada aja lo," di mulut Chandra mengatakan hal tersebut, namun di dalam hatinya Chandra sangat bersyukur bahkan mengamini ucapan Aliya.


Brayen kembali miris melihat Chandra yang memeluk Aliya dengan posesif, dapat Brayen lihat betapa besarnya cinta Chandra untuk Aliya. Brayen hanya menghela nafasnya dengan berat.


"Yang sabar ya lo, emang kadang kita harus ikhlas demi mendapat yang terbaik untuk diri kita dari Tuhan," Juwita di samping nya menyenggol lengan Brayen, agar tersadar dari lamunannya.


"Hm bantuin gue ya," pinta Brayen memandang ke arah Juwita.


"Acie, bisik bisik," Angel segera menggoda Juwita dan Brayen. Tampaknya dirinya akan memiliki mainan baru. "Sikat aja kak Bray," kata Angel menaik turunkan alisnya menggoda Juwita.


"Eh ni anak kecil main sabung aja, cari pacar sono baru ngurusin orang lain," kesal Juwita ingin sekali menutup mulut Angel.


"Ga ah malas gue masih muda, yang ada entar gue langkahin lo nya kan kasian," ledek Angel sembari terkekeh.

__ADS_1


"Suwe' lo njel," kesal Juwita. Juwita memang mengakui banyak lelaki yang mengantri untuk Angel. Wajar saja wajah blasteran nya mampu menyihir banyak laki laki.


__ADS_2