CEO Belok Vs Colonel Cantik

CEO Belok Vs Colonel Cantik
Kalian sedang apa?


__ADS_3

"Nah gini dong curut," Aliya berkata sembari memutar tubuhnya.


"Kan jadi e, eh pa, pintu baru kebuka ya," Aliya menampakkan wajah panik di hadapan tuan Omer yang tersenyum ke arah dirinya dan Chandra.


"Eh kalian mau ke ruangan sekarang," tuan Omer tersenyum lebar ke arah Aliya dan Chandra.


"Eh iya om, ngomong ngomong baru ya om, ya kan," Aliya masih saja berpura pura lugu.


"Iya, oh ya papa mau Chandra dan kamu Aliya ngantar tuan Brayen ke bawah," tuan Omer mempersilahkan Brayen untuk masuk.


Aliya menelan ludahnya, ia memang mengharapkan kedua orang di sampingnya ini melakukan perdebatan, namun ia juga tak ingin berada di tengah tengah perselisihan mereka (dalam artian sebenarnya) Aliya bahkan kini merasa seolah berada di tengah tengah bara api. Kedua orang yang berada di sampingnya kini saling lirik melalui pantulan cermin di hadapan mereka, membuat suasana semakin mencekam.


"Kayaknya mending gue berada di lift horor deh, gue ngerasa mau di santet kalau gini," Aliya sedikit berdehem memecahkan keheningan merek.


"Ehem," seketika kedua laki laki belok itu memandang ke arah Aliya.


"Ehem, ehem ga boleh ya? Lagian sih kalian diam mulu dari tadi, serasa kalian lagi musuhan tapi katanya temen," Aliya benar benar mencoba mencairkan suasana.


"Brayen, aku punya temen cantik cantik parah, kalau aku cowok sih aku bahkan jatuh cinta sama mereka," Aliya mulai menjual ke dua temannya kepada Brayen.


"Oh ya?" Brayen tampak tak berminat.


"Iya banyak banget yang mau sama dia, tapi dia malah cuek abis, katanya malas pacaran," Aliya mulai mempromosikan teman temannya.


Saat pintu lift terbuka Aliya terus berbicara ke arah Brayen, dan tidak menghiraukan Chandra yang memandangnya dengan pandangan kesal.


Setelah sampai di depan lobi, tiba tiba seorang perempuan memanggil Aliya, sontak membuat Aliya memandang ke arah sumber suara.


"Kak Aliya, kamu ngapain di sini?" seorang wanita blasteran tampak menghampiri Aliya dan memeluknya, tampak dari wajahnya dan gaya bicaranya yang sedikit belepotan, karena belum terlalu fasih berbahasa Indonesia. Dengan refleks Chandra segera menarik Aliya, agar tak terlalu lama berpelukan dengan wanita itu.


"Apaan sih lo," kesal Aliya karena di tarik oleh Chandra.

__ADS_1


"Siapa ni? Yang dijodohin ya?" kata wanita tersebut, masih dengan nada yang belepotan, namun berusaha menggunakan bahasa yang baik dan benar.


"Ah iya kenalin Chandra yang ini Brayen," Aliya memperkenalkan kedua laki laki yang ada di sampingnya.


"Hai Angel," Angel segera mengulurkan tangannya ke arah Chandra dan juga Brayen.


Angel Lalika Pradana adalah putri bungsu tuang Aldo Pradana yang saat ini bekerja sama dengan perusahaan keluarga Kostak, Angel adalah salah satu sahabat dari Aliya, meskipun umur mereka terpaut lima tahun, namun mereka tetap berteman baik.


"Lo ngapain di sini?" Aliya tampak penasaran.


"Iya gue harus wakilin perusahaan buat ngomongin masalah kerja sama," Angel tampak anggun menggunakan blesser semi formal, tampak menarik perhatian banyak mata, terutama para laki laki.


"Oalah, gue kirain kenapa, si Aska mana? Masih banyak alasan tu anak?" Aliya tampak celingak celinguk mencari keberadaan Aska.


"Ah di engga bisa, soalnya hari ini dia ada praktek," Angel tersenyum manis.


"Tapi dia nanyain kakak terus loh, soalnya udah jarang main ke rumah," tutur Angel.


Brayen yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia memilih meninggalkan ketiga orang tersebut, terlebih lagi ketika melihat sang mantan pacar tampak sangat penasaran dengan pembicaraan tunangannya dengan sahabatnya.


Chandra sendiri sibuk memperhatikan pembicaraan antara Aliya dan Angel, kedua wanita ini tampak antusias membicarakan tentang lelaki bernama Aska dan Riky. Saat Chandra menoleh ke sampingnya, rupanya Brayen sudah pergi, ia tak ada lagi di tempat tersebut, padahal Chandra hanya ingin menyelesaikan dengan baik baik, jika memang mereka harus berpisah.


"Eh kak ayo ah, lima menit lagi nih," Angel melirik jam yang melingkar di tangannya.


"Oh ayo," Aliya segera berjalan berdampingan dengan Angel, meninggalkan Chandra yang berjalan tepat di belakangnya.


Hampir satu jam mereka rapat membicarakan tentang kerja sama antar perusahaan, akhirnya Angel pamit ingin segera pulang, karena harus masuk kuliah. Setelah Angel pulang Chandra dan Aliya kini kembali masuk ke dalam ruang kerja Chandra.


Mereka sama sama tenggelam dalam kegiatan mereka masing masing, Chandra dengan pekerjaannya, sementara Aliya sibuk dengan ponselnya. Chandra yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya segera melihat ke arah Aliya, tampak Aliya sangat bahagia melihat ke arah ponselnya. Chandra yang penasaran segera mendekat.


"Cil lo ngapain?" Chandra sangat penasaran.

__ADS_1


"Idih keepppooo," Aliya mengatakan hal tersebut menekankan kata kepo dengan durasi yang sedikit di perpanjang.


"Idih pelit amat lo," Chandra merebut ponsel Aliya sembari melihat layar ponsel Aliya, ternyata Aliya tengah memperhatikan kenaikan saham saham yang ia beli.


"Idih posesif amat lo, belum juga jadian, ah belum juga baikan," Aliya meralat sendiri omongannya.


"Gue sama lo? Tunggu Bumblebee pakai sarung sama peci," Chandra menunjukkan wajah jijiknya ketika mengatakan hal itu.


Dari balik perkataannya, jelas tergambar bahwa Chandra tidak akan mau melakukan hal tersebut kepada Aliya, bahkan tidak akan pernah terjadi hal semacam itu.


Aliya yang mendengarkan nya hanya tersenyum penuh arti, Aliya segera mengambil ponselnya dari tangan Chandra kemudian tampak tengah mencari kontak seseorang.


"Bentar gue nelfon temen gue dulu," Aliya segera menjauh dari Chandra.


"Halo Ilham lo bisa ngedit video atau foto Bumblebee lagi sarungan dan pecinan ga? Oh ok, secepatnya ya," Aliya mengatakan hal tersebut setelah sambungan telfonnya terhubung.


"Oh ok, thanks gue tunggu hari ini tolong ya, sebelum jam makan siang, bayarannya nanti gue transfer tinggal sebut aja," Aliya tampak tersenyum puas ke arah Chandra.


"Jangan sekali kali lo jilat omongan lo," ancam Aliya setelah mengantongi ponselnya.


"Lo curang lo ya," kesal Chandra berusaha merebut ponsel Aliya.


Yah kita tahulah akhirnya mereka akan bertengkar dan bergulat ria, dan seperti kegiatan rutin mereka ketika hanya berdua saja.


Chandra yang terus berusaha merebut ponsel Aliya, tak pernah putus asa, akhirnya menangkap tangan Aliya yang terdapat di belakang Aliya. Aliya tentu saja tak ingin kalah, Aliya terus berusaha menjauhkan tangan Chandra dari ponselnya.


Karena mereka terlalu fokus bertengkar, mereka tak menyadari posisi mereka saat ini, Chandra yang tengah menghimpit tubuh Aliya di pegangan sofa, terus memojokkan Aliya, hingga membuat sebelah tangan Aliya mendorong tubuh Chandra yang terus mendesaknya.


Entah karena terlalu kencang atau ada sedikit tarikan terhadap kemeja Chandra, tampa sengaja Aliya melepaskan kancing baju Chandra, hingga berserakan di lantai. Sementara Chandra semakin mendekat, dan melambungkan pertahanan Aliya, Aliya akhirnya terjatuh di sofa dengan Chandra yang menindihnya.


Chandra tak perduli, ia lebih fokus merogoh ke arah belakang Aliya, meski tangannya terhimpit tubuh Aliya, entah sengaja atau tidak wajahnya sudah tenggelam di rambut lebat Aliya. Hidungnya sedikit mendengus ketika berada di posisi tersebut.

__ADS_1


"Kalian sedang apa?"


__ADS_2