
“Pak Rye ?” Adnan terkejut melihat Rye. Dia ternyata pria yang menggendong Anna.
“Kamu bosnya Anna kan ?” kata Rye sambil menurunkan Anna yang minta turun. “Kakimu nanti sakit. Kenapa harus turun ?” Rye mengabaikan Adnan.
"Gpp. Sepatu saya lepas satu jadi tadi pincang.” kata Anna sambil merapihkan bajunya.
Adnan langsung menuju tempat Anna jatuh dan menemukan sepatu Anna sekitar satu meter dari tempat dia jatuh. Adnan memasangkan sepatu di kaki Anna.
Sementara Rye melepas jasnya yang kotor bagian punggungnya.
Deni datang mendekat
“Anna kenapa ?” Deni tampak heran melihat Adnan memasangkan sepatu dan ada pria asing menepuk nepuk jas yang ada tanahnya.
Anna dan Adnan celingukan dan gugup.
Mereka bingung bagaimana menjawabnya.
“Nona ini bertabrakan dengan saya. Tadi saya sedang mondar mandir teleponan di sana dan dia juga tampaknya sama. Cuma bedanya dia di teras belakang betang ini…di lantai 2 !” Rye menyelamatkan mereka berdua.
Deni sangat kaget dan semakin mendekat
“Dia gak apa apa” jawab Adnan ketus
Sementara itu di rumah betang lantai satu …
“Yaaah …videonya jelek !!” gini nih kalau direkam video hp. Payaaah !!" para pria yang ada di ruangan itu emosi jiwa dan bubar
Para pembaca jangan lempar hp dulu yah…petualang tim Prospect mencari cinta akan segera dimulai 😜
_____________________***______________________
Flasback tadi malam…
“Kamu harus ikut saya periksa ke dokter. Dari sini RSUD kan dekat” Kata Rye mencegah Anna pergi.
Anna mengatakan bahwa dirinya baik - baik saja.“Tapi kamu menabrak saya. Setidaknya kamu menawarkan diri mengantar saya menemui dokter, bukan ?..Yaa itupun kalau kamu punya sopan santun.” kata Rye Dingin dan diapun mulai berjalan menuju parkiran mobil di bagian samping depan rumah betang.
Adnan, Deni dan Anna serempak meminta Rye berhenti.
“kami akan mengantarmu" Adnan dan Deni hampir bersamaan.
Rye tetap berjalan menjauh sambil berkata, " Saya tidak suka mobil saya penuh.”
Anna berlari mengejar Rye. “Tunggu pak. Saya ikut”.
__ADS_1
Deni dan Adnan saling pandang. “Kita ikut aja pake mobil kita sendiri.” Adnan mencoba menelepon salah satu sopir mobil rental mereka. Tidak ada jawaban. Deni mencoba nomor sopir mobil yang dia tumpangi. Sama juga…Adnan melihat Rye dan Anna masuk mobil. Dia sangat geram dan menendang pintu mobil. “Arrrgh…supir sialan ! kuputus kontrak sewa mobilnya, baru tau rasa !” Adnan benar benar kalut dan emosi.
Deni datang dari arah ruang bagian umum rujab. Ruangan itu bagian dari gedung tempat para staf rumah tangga berkumpul atau markas lah. Letaknya disebelah kiri rumah betang dan sejajar dengan tempat parkir mobil. Deni berjalan cepat diikuti dua sopir.
“Maap pak. Kami lagi nonton bola jadi gak kedengar suaranya.” Si sopir yg dipilih Deni minta maap sambil membuka pintu otomatis dengan kuncinya. Sopir yg lain hanya berdiri canggung tanpa bisa bicara.
“Tinggal di dalam mobil sampai acara selesai !”, Adnan berkata ketus sambil naik ke mobil dan membanting pintu.
Anna minta maap berkali kali. Dia mengatakan bahwa dirinya masih sedikit kalut jadi belum bisa berpikir jernih. Dia mengucapkan terima kasih atas bantuan Rye.
“Aku tidak membantumu. Aku korban tabrak !” katanya datar. Dalam hati dia merasa geli karena godain Anna. Sopir di depan mesem mesem. Wajah Anna merona. Dia salah tingkah.
“Kamu kenapa bisa sampai jatuh? dan jangan bilang karena kepeleset. Kalau itu sudah jelas !. Saya ingin tau apa yang terjadi sebelum itu ?” Rye menatap Anna yang duduk di sampingnya.
Jrang ! jreng ! brokkk ! duaaaar ! itulah pertanyaaan paling Anna takutkan. Itu pula yang membuat pikirannya kalut tujuh keliling. Dia malu dan merasa seperti pecundang. Sudah terbayang bagaimana hidupnya kelak penuh hina dina, ketika kejadian itu jadi trending topik di sosmed: jadi bahan guyonan sampai cibiran, dibikin meme lucu sampai yang memalukan. Begitu malunya sampai keluarganya harus pindah Korea Utara dimana Sosmed buatan negara kapitalis gak boleh masuk. Duuuuh pengen menghilang rasanya… “Boleh nanti saja ? malu kalau di dengar pak sopir” ahh akhirnya Anna bisa berkilah
Deni bertanya hal serupa pada Adnan. Adnan sempat grogi tapi egonya tidak menerima laki laki saingannya bersikap usil pada urusannya. Sebenarnya pertanyaan Deni wajar saja. Tapi Adnan memang kadung gak suka padanya. Deni dianggap sebagai ulat bulu yg mengganggu hidupnya.
“Sebaiknya Pak Deni tidak usah ikut campur terlalu jauh. Kejadian ini biar saya yang urus. Oh ya tolong jangan ceritakan dulu pada teman teman. Kita kan tidak mau membuat orang khawatir hanya untuk hal sepele ini”.
Adnan memutus keingintahuan Deni.
“Saya kira saya berhak tau apa yang terjadi. Dia bagian dari tim dimana saya bekerja. Saat ini dia jatuh dari lantai 2 sementara kita semua berada di satu komplek. Apakah anda mencoba menyembunyikan sesuatu ?” Deni tidak terima dibilang ikut campur. Selain itu, ucapan Adnan seperti korek yang dilemparkan ke bara api. Bara yang sudah lama terpendam karena Adnan selalu menghalangi dirinya mendekati Anna.
"Jadi apa maumu ? mau jadi pahlawan kemalaman ? " Adnan sudah tidak bisa menahan amarah. Dia berbalik dan mencengkram baju Deni. Deni langsung membalas mencekik leher Adnan. “Lepaskan kalau kamu masih ingin hidup !” ancam Deni dengan suara bergetar penuh penekanan.
“Juhiiii…kamu minta mati !” teriak Adnan. Deni masih sibuk mencoba bangkit. Juhi membalikkan badannya sambil membuka seatbealt.
“Saya sekarang mau tanya, bapak bapak ini mau ke Rumah Sakit untuk menemani Mbak Anna atau mau masuk UGD ?” si Juhi gregetan. Dia setengah kesal dan setengah takut. Adnan dan Deni terdiam. Mereka saling pandang. Adnan meniupkan napas dari mulutnya sambik kedua tangannya memegang kepala. Dia baru menyadari kalau dia menjadi tidak terkendali karena panik, cemburu, dan berusaha keras untuk menutupi kejadian yang sebenarnya. Dia tidak sanggup momen yang sangat pribadi dan istimewa itu harus diceritakan pada orang lain. Apalagi kepada banyak orang. Dia juga sama dengan Anna, dia akan merasa tidak nyaman dan malu.
Dokter memastikan Anna tidak apa apa. Dokter meminta Rye membuka bajunya. Anna mau pergi karena risih. Tapi Rye Memanggilnya…“May tolong pegang kemejaku”. Anna gak jadi pergi.
“Jadi Mbak Anna terjun bebas menimpa Masnya nih … so sweet…” si Dokter tersenyum jahil sambil melihat ke arah Anna. Anna merasa canggung tanpa bisa berkata apa apa.
“…Yaah begitulah dok kalau punya pacar pecinta drakor. Pake sepatu hak tinggi, masih juga naik ke bangku kayu bergaya ala si cewek diTitanic gitu” timpal Rye santai. Anna cemberut dan mendelik pada Rye. Dia kesal digodain dua orang itu. Tapi karena dia bersalah dan ingin menutupi kejadian sebenarnya. Jadi dia diam saja.
" Ok. Syukurlah tidak ada cedera yang serius. klu pundak mas yg kanan agak sakit karena ototnya kaget. Mungkin ketika bangun tiba tiba. Maklum ditindih dengan keras ya." Si dokter menahan senyum sambil mengerling ke Anna. Anna tersenyum pasrah.
" So silahkan mas pulang Mandi air anget. Jangan lupa cuci rambut karena bagian belakang banyak tanah he…he…he…" Si dokter paruh baya yang ramah, dengan tubuh gempal, dan kepala botak mengkilat itu, mengakhiri pelayanannya.
Rye dan Anna berterima kasih. Rye memakai kemejanya dan meminta Anna mengancingkan bajunya. Anna menurut karena minimal itu yg bisa dia lakukan setelah merepotkan Rye dengan kejadian ini.
Rye menatap Anna dari dekat. Anna harus mengulang ketika sadar di kancing ketiga dia kesingsal satu. Jadi dia mulai dari bawah sekarang. Rye tersenyum geli. Dia merapihkan rambut Anna yang tergerai ke mukanya. Saat itu Deni dan Adnan masuk ke IGD dan melihat adegan itu.
Rye tidak perduli ketika melihat dua pria malang itu datang menghampiri. Adnan sangat kesal dan mau menangis rasanya, ketika Anna melihatnya malah bilang “Bentar ya kak”. Lalu dia kembali menyelesaikan pekerjaannya mengancingkan baju Rye.
__ADS_1
Adnan mungkin bisa dibilang orang paling merana malam itu. Pertama, deklarasi cintanya berantakan. Kedua, wanita yg dicintainya malah digendong orang. Ketiga, orang itu yang mendapatkan perhatian si pujaan hati. Dan puncaknya, Anna memutuskan pulang ke hotel diantar Rye.
Anna minta Adnan dan Deni kembali ke pesta. Saat ini pasti teman temannya sudah menyadari kalau mereka bertiga tidak ada. Anna juga minta tolong agar si supir membantu mencarikan dompet pesta yg berisikan hpnya.
__________________***_________________________
“Ingat tugas utama kita selama enam bulan ini ada dua: pertama, updating kajian kebutuhan program dan persiapan untuk pelaksanaan program. Updating pada pokoknya melakukan cross check dan analisa hasil tahun lalu ketika proposal dibuat dengan kondisi saat ini. persiapan pada pokoknya meliputi sumberdaya pendukung program berupa fisik maupun komitmen pemerintah lokal serta penerimaan masyarakat.” DR Ririn mengingatkan kembali tujuan tim ini dibentuk dan apa tugas pokoknya.
Selanjutnya pembagian personel diserahkan pada Bu Dian berdasarkan rancangan yg sudah disetujui DR. Ririn.
Dino girang sekali bisa mendampingi Cecen sebagai penerjemah. Tugas Cecen mengamati dan wawancara kehidupan sosial, budaya dan ekonomi masyarakat khususnya di sekitar hutan dan tambang.
Mereka tiba di atas bukit kecil menuju jalan ke sungai. Dari sana mereka bisa melihat beberapa perempuan merendam karet. Mereka berjalan mendekati sungai. Terdengar suara mereka ngobrol.
Ibu A: "Tuh akenkuh jadi sarjana, are kea lepah duit akan iye sakula
Dino tanpa diminta langsung menejemahkan: “Itu keponakanku sudah sarjana, tapi banyak juga duit habis buat dia sekolah” Cecen mengangguk angguk.
Ibu B:“Iye lah…puna ih wayah tuh mun sakula te…hai rega. Sama kilau andi paranghingkuh”
Artinya: Iya memang sekolah zaman sekarang mahal banget sama kayak adik dari kerabatku.
Cecen sangat menikmati tugasnya. Dia sangat mengagumi keindahan alam di sana. Atas izin Pemdes dan warga dia mengambil foto berbagai kegiatan mereka.Beberapa kali pula dia mengambil foto Dino dalam berbagai ekspresi dan kesibukannya, tanpa sadar ada yg mencuri fotonya.
Ketika perjalanan pulang, motor sewaan Dino mogok karena jalanan masih tanah jadi harus sering ngerem klu licin atau melewati bebatuan. Akhirnya mereka numpang mobil bak terbuka yang memuat beberapa dus barang dan aneka sayuran.
Dino menekuk kakinya agar Cecen bisa lebih leluasa meregangkan kakinya. Dino merentangkan sebelah tangannya nempel di dinding mobil tempat mereka bersandar. Hal ini untuk melindungi Cecen agar tidak kejedot.
Perjalanan ke hotel masih satu jam lagi. Seringkali mereka terguncang karena jalanan yang jelek. Guncangan yang besar membuat mereka saling bertubrukan. Tubrukan pertama, Cecen mendarat di dada Dino. Tubrukan kedua, Dino nyungsep di dada Cecen. Cecen menjerit. Dino buru buru bangun. Tapi guncangan berikutnya sudah terjadi. Dino jatuh menimpa Cecen dan bibir mereka beradu. Mereka terdiam menunggu jalan agak datar. Dino dan Cecen bangun. Wajah mereka merah seperti kepiting rebus.
Mereka membuang pandangan ke arah berlawanan karena sangat malu. Cecen menyingkirkan daun sawi yg menjuntai ke wajahnya. Sementara di kepala Dino masih ada beberapa helai kacang panjang seperti penyanyi rap.
____________________***_______________________
Ini sudah hampir dua minggu di lapangan. Sebentar lagi mereka akan pulang ke ibukota provinsi untuk mengerjakan laporan.
Omar bepikir keras bagaimana membuat Triana jatuh cinta padanya. Satu satunya cara adalah membuat momentum yang berkesan. Pilihan satu, merekayasa kejadian dimana Omar menjadi pahlawan. Tapi dia sangsi. Biar dia keturunan Jengkhis Khan tapi kayaknya nepuk lalat aja gak tega. So, opsi yang tersisa adalah menciptakan momen romantis seperti di film Korea.
Kesempatan itu datang ketika Triana dan Omar harus pergi ke suatu desa di Kabupaten Z. Dia telah menyiapkan semuanya: LCD, genset mini, laptop berisi aneka genre film tapi berelemen romantis. Omar telah menyogok jojo sopir pemuda Ambon tulen yang kekar. Dia dipilih karena merangkap bodiguard.
Dipertengahan jalan, 2 ban mobil kempes. Tentu ini juga sudah direncanakan. Jojo minta izin mau cari bengkel terdekat karena cuma ada 1 ban serep. Omar mulai menjalankan rencananya. Dia mengajak Triana nonton sambil menunggu jojo balik dan mengganti ban.
Triana diminta memilih film. Baru saja 5 menit, laptop mati. Omar pergi mengecek colokan listrik. Siapa tau kurang pas. Tiba tiba dia bergetar dan menjerit. Rambut Omar berdiri. Rupanya dia kena setrum. Triana datang mendekat…“Mas Omar aduh kenapa jadi begini ?” Omar hanya mengerjat dan kemudian pingsan.
Jojo memberikan pernapasan buatan…baru juga satu tarikan, Omar sudah terbangun. Dia menjerit melihat wajah Jojo dekat sekali. Triana tertawa geli.
__ADS_1
Kesialan Omar masih berlanjut. Ketika jalan bareng di pantai, dia disengat ubur ubur. Kebetulan di Kabupaten Z, pantainya tidak hanya untuk pelabuhan niaga tapi ada bagian untuk wisata. Waktu Omar akhirnya bisa mengajak Triana nonton film di bioskop yg cuma satu satunya di kota tersebut. Tapi gagal maning karena ternyata saat itu di bioskop sedang festival film Rhoma Irama selama seminggu.
Triana menyadari upaya Omar selama ini. Triana mengajak Omar jalan jalan menikmati malam. Mereka duduk di bangku taman dekat bioskop. Triana mengeluarkan tupperware kecil berisi potongan kue bolu. Omar sangat suka rasanya enak dan lembut. Triana bilang itu bolu tape yang dia beli dekat hotel mereka menginap. Omar mengangguk angguk sambil mengunyah potongan kedua.