
Di dalam mobil, Anna kembali menyampaikan permohonan maaf kepada timnya. Dia tak habis pikir, bagaimana bisa dia melewatkan lampiran penting yang jumlahnya hingga tujuh lembar itu.
“Sudahlah, sayang. Itu sudah terjadi. Sekarang kamu fokus memberikan masukan kepada Pak Adrian untuk pertemuan besok,” kata Bu Dian menenangkan Anna. Perempuan empat puluh tahunan, berbadan gempal, dan berkulit putih itu adalah staf paling senior di LSM Hijau Lestari.
Adnan mencoba mencairkan suasana dengan membuka topik baru. “Bu Dian, kenapa tidak mau jadi program manager? Ibu memenuhi semua kriteria. Seharusnya saya yang jadi anak buahnya Ibu.”
“Saya tidak bisa, Adnan. Saya harus merawat ibu saya yang sudah sepuh. Kalau jadi PM, saya kan harus traveling ke lima kota dan kabupaten di mana program-program kita dilaksanakan. Belum lagi menemui lembaga donor dan jaringan kerja kita di nasional dan luar negeri,” jelas Bu Dian seraya melirik Riska di sampingnya.
“Makanya, langganan tuh Riska gantikan saya ke acara nasional dan luar negeri. Ya, kan, Riska?“
Riska mengangguk sambil tersenyum ke arah Adnan.
_______________________***____________________
Perjalanan ke Kabupaten X memakan waktu tiga jam. Adnan dan tim baru tiba kembali ke kantor sekitar pukul lima sore. Tim comdev masih harus melanjutkan pekerjaan mereka, kelihatannya bakal lembur. Adnan duduk berhadapan dengan Pak Ben di ruang rapat di lantai satu.
“Saya mohon maaf, Pak. Saya gagal menjalankan tugas pertama saya, bahkan mempermalukan lembaga dalam forum. Saya yakin Anna melakukan tugasnya dengan teliti dan sangat baik karena saya juga mempelajari dokumen tersebut, beserta lampirannya satu per satu. Saya pun tidak menemukan lampiran yang dimaksud,” jelasnya.
Dengan suara bergetar dan menunduk, Adnan mengungkapkan kebingungannya, “Saya heran, kenapa hari ini lampiran itu ada di dokumen yang saya dan Anna pegang?”
“Jadi kamu pikir ada yang sabotase? Siapa dan mengapa? Ini LSM di mana saya merasa bangga membangunnya. Meskipun antarstaf tak selalu akur, kami keluarga yang dekat dan saling mendukung, jika ada kesulitan,” kata Pak Ben dengan suara mulai meninggi.
Adnan menghela napas dalam. Dia merasa semakin tidak enak kepada Pak Ben. Kesannya dia mencari kambing hitam. “Saya tidak bermaksud begitu, Pak,” jawabnya lemah. “Saya bersedia mengundurkan diri karena tampaknya tak cakap sebagai PM.”
“No, no, no. Sekarang kita fokus pada solusi. Kamu harus memperbaiki reputasi lembaga kita. Pastikan Anna kali ini memberi masukan komprehensif dan mereka mengapresiasi peran kita di depan publik. Let’s move on,” kata Pak Ben.
__________________***_____________________
Anna merebahkan diri di kasur. Dia bete sekali dengan kejadian hari ini. Dicobanya merunut dari awal apa yang kira-kira menyebabkan kekacauan hari ini. Dimulai sejak hari pertama dia masuk kantor, bertemu Adnan, mendapat dokumen dari Riska, kemudian mempelajarinya di rumah.
Esok harinya, Anna ingat mulai menuliskan hasil analisanya dari dokumen. Setelah itu dia berdiskusi dengan Bu Dian, Riska, dan Adnan.
Hari berikutnya diskusi dilanjutkan dengan Adnan. Sangat detil, namun seru, sampai- sampai mereka harus bekerja lembur.
Anna tersenyum sendiri mengingat hari diskusi itu. Pipinya merona. Mereka sedang menikmati paket ayam geprek saat makan malam, sebelum listrik tiba-tiba terputus dan ruangan menjadi gelap gulita.
Adnan menyalakan senter di ponselnya untuk menerangi meja. Mereka melanjutkan makan malam. Romantis, serasa candle light dinner. Sayang, keromantisan itu hanya bertahan sekitar sepuluh menit karena satpam kemudian menyalakan genset. Ruangan pun kembali terang benderang.
Ah, Adnan. Dia benar-benar pria tampan dengan tubuh atletis. Cukup jangkung dibandingkan pria-pria dekil di kantornya, tapi sedikit lebih pendek dari Pak Ben yang tingginya nyaris 180 cm. Kulitnya cokelat terang. Makin macho, deh. Sikapnya juga lembut, penuh perhatian, membuat Anna berdebar dan salah tingkah bila ada di dekatnya.
Anna harus berjuang keras untuk tampak normal di depan Adnan. Dia sadar, bukan hanya dia yang naksir Adnan. Ada dua staf lapangan perempuan, plus Omest, yang selalu cekikikan tak jelas tiap kali berdekatan dengan Adnan. Wait! Satu lagi. Riska juga tampaknya naksir Adnan. Hmmm, dia rival berat dibandingkan tiga anak bunyat tadi.
__ADS_1
Anna mencoba membuat perbandingan, apa saja yang telah dirinya dan Riska lakukan untuk mendapatkan kesan baik dari Adnan.
“Aku, hampir menyemprot Adnan dengan ludahku saat kali pertama bertemu. Dia menyodorkan tisu utnuk membersihkan bumbu cilok yang mengotori pakaianku. Lalu aku kehilangan lampiran penting, sampai-sampai insiden memalukan itu terjadi di forum konsultasi publik. Total nilaiku, minus satu.” Anna bicara sendiri dan menuliskan tanda minus dan angka satu besar-besar di kertas.
“Riska, mencarikan Adnan kosan dengan penuh perjuangan, memberikan informasi dan data yang lengkap, bahkan dia jilid dengan hard cover, mirip tesis. Selalu tampak rapi dan manis di depan Adnan. Total nilai, tiga.”
Huuuh! Anna kesal sendiri dan mengacak-ngacak rambutnya.
__________________****_______________________
Sarapan pagi bersama ibu dan adik-adiknya, Derri dan Rangga, adalah momen favorit Anna. Selalu saja ada keributan kecil yang membuatnya tersenyum tiap kali mengingatnya. Seperti pagi ini.
“Dik, elu ujian semester kapan? Awas, ya, kalau IPK-mu tidak naik. Biarpun kuliah di universitas negeri, kalau IPK-mu jelek begitu, malu tahu!” Anna menasihati dengan gaya kakak sulung.
“Tenang saja, Kak. Kan nanti aku tinggal praktikkan nepotisme saja kepada mantan anak buah Papah dan minta kerja. Apes-apesnya, mah,” kata Derri mencandai kakaknya. Derri, si anak tengah yang jahil. Kuliah di jurusan Teknik Informatika, semester empat. Anna selalu merindukan pipinya yang gembul karena selalu menyuap makanan terlalu banyak.
“Eh, cireeeng! Dasar kepala kanji. Awas, ya, kalau elu nepotisme gara-gara nilai jeblok! Elu mencoreng nama baik Papah tahu. Lihat saja. Gue sambit, nyaho, lu!” semprot Anna geregetan.
“Mamihhh! Masa anak ganteng Mamih dibilang cireng!“ Derri mengadu dengan gaya sok menghiba.
Sang ibu mendekati meja makan dan meletakkan sebuah boks Tupperware besar beisi pisang keju. “Ini buat teman-temanmu di kantor, Anna.” Ibu Anna memang murah hati, senang membuatkan makanan untuk teman anak-anaknya, maupun tetangga dan kelompok pengajiannya.
“Kamu jangan panggil dia cireng. Anak Mamih yang gagah dan gembul itu lebih cocok jadi… mmm… batagor!” kata sang ibu menggoda Derri.
“HAHAHA!!!” tawa Rangga, si bungsu, meledak. Anna pun sampai tersedak. Bi Sumi, asisten rumah tangga mereka, masuk ke ruang makan. “Aduh, pagi-pagi sudah ada yang sarapan batagor?” sapanya polos. Lalu semua tertawa lagi. “Bi Sumi gak nyambung!” sahut Rangga.
___________________***_______________________
Anna meletakkan Tupperware berisi pisang keju buatan sang ibu di atas meja pantry. Diketikkannya pesan di WAG kantor: Gaes, ada pisang keju di pantry.
Dia membawakan dua potong pisang keju di atas piring kecil untuk Pak Ben ke ruangannya. Pak Ben menyambut dengan suka cita dan berterima kasih. Dia meletakkan piring kecil itu di samping gelas kopinya.
“I’m so sorry ya, Pak. Kejadian kemarin sungguh memalukan. Bapak tentu sudah mendengar dari Kak Adnan dan kawan-kawan?” kata Anna.
“It’s okay, Anna. Sekarang fokus pada rencana pertemuanmu dengan CEO perusahaan itu. Pukul berapa kalian bertemu? Saya sudah lihat bahan presentasimu yang kamu kirim semalam. Good,” ujar Pak Ben.
Adnan muncul dari tangga dan baru hendak berjalan ke mejanya ketika Pak Ben menyebut namanya.
“Adnan, kamu harus meeting dengan tim comdev sebelum mereka ke lapangan minggu depan. Jadi minggu ini kamu fokus dengan mereka.” Pak Ben memotong pembicaraannya sendiri dengan Anna dan memberikan arahan pada Adnan.
“Siap, Pak,” jawab Adnan seraya melempar senyumnya ke Anna. Anna membalas dan melambaikan tangannya ringan.
__ADS_1
Pak Ben kembali ke Anna. “Jadi pukul berapa nanti?”
“Pukul dua siang, Pak. Di Hotel Andromeda,” jawab Anna.
Jam makan siang, Adnan duduk di dekat Anna di meja makan. Dia memanfaatkan waktu yang singkat ini untuk memastikan Anna siap, sekaligus memberikannya semangat. Anna sangat senang dengan bentuk perhatian ini. Dia tak menyadari delikan iri Riska di ujung meja. Kenapa si Anna bisa seberuntung itu. Setelah dijatuhkan malah mau ketemu CEO. Riska menggerutu dalam hati.
Jam istirahat berakhir. Anna baru saja mendaratkan pantatnya di kursi kerjanya tatkala Riska datang menghampiri. “Kamu mau pakai baju gitu, Dik? Sori, ya, sekedar saran. Masa mau meeting khusus dengan CEO cuma pakai jins dan kemeja?” cerocos Riska.
“Aduh, salah ya, Kak?” Anna memeriksa pakaiannya.
“Memang, sih, kita orang LSM. Gayanya kasual, tapi mengingat kejadian yang memalukan kemarin, bukankah kita harus berusaha lebih keras untuk memberikan kesan baik?” kata Riska lagi.
Anna tertegun. “Baiklah, Kak. Terima kasih masukannya,” ujarnya.
Riska tersenyum dan menepuk pundak Anna. Dia berlalu menuju mejanya sendiri.
Anna beranjak ke kamar mandi kantor di lantai itu. Ada ruang ganti di dalamnya. Loker berjejer di sepanjang salah satu dinding kamar mandi nan luas itu.
Keberadaan kamar mandi, sekaligus ruang ganti ini sangat disyukuri para staf, terutama yang baru kembali dari lapangan. Mereka bisa segera membasuh wajah lusuh dan mengganti pakaian bersih sebelum melanjutkan pekerjaan di kantor.
Ada cermin setinggi badan orang dewasa terpampang di sisi dinding yang lain. Anna memandang dirinya di depan cermin itu. Dia bingung, kalau pun harus pulang dulu ke rumah, apa yang bisa dia pakai dari koleksi pakaiannya di lemari?
Ada empat rok, dua dress terusan selutut untuk kondangan, tiga gamis, dan dua blus kurung batik. Tak ada yang menarik. Sisanya? Ya, cuma celana, kemeja, dan kaos.
Anna memperhatikan bayangannya sendiri di cermin. Parasnya manis. Kulitnya kuning langsat. Tinggi 160 cm dan berat 60 kg membuatnya langsing, namun berisi alias sintal. Bibirnya merah muda, tak perlu lagi pemulas bibir. Tapi banyak orang bilang, yang membuatnya menarik justru wajahnya yang terlihat cerdas dan karakternya yang supel.
Anna menghela napas. Dia masih belum bisa memutuskan apa yang hendak dia pakai sebagai ganti kemeja dan jins ini. Dengan gontai dia berjalan keluar kamar mandi dan berpapasan dengan Adnan di depan pintu. Adnan baru keluar dari toilet.
“Hai! Koq, keluar dari kamar mandi, tapi tidak terlihat baru selesai mandi?” sapa Adnan.
“Iya nih, Kak. Baru cari inspirasi di depan cermin. Menurut Kakak, sebaiknya aku berganti pakaiankah untuk menemui CEO itu?” tanya Anna to the point.
“Well, menurutku, sih, bajumu sudah cukup layak. Jins dan kemeja berkerah masih terlihat sopan dan bagus. Kemejamu malahan kelihatan baru,” kata Adnan memperhatikan Anna dari ujung rambut hingga kaki.
“Sepatu ketsmu juga bersih, tidak berlumpur,” ujarnya terkekeh. “Lagipula ini private meeting, kan? Tak ada dress code, toh? Tapi kalau kurang PD, ya, pake blazer, deh. Tak perlu dikancing,” saran Adnan lagi.
“Waaah! Kakak benar-benar fashion advisor! Lewat, deh, Ivan Gunawan. Makasih banget!” Anna melonjak dan matanya berbinar binar. Saran yang jitu menurutnya. Lalu baru teringat, wait, ada blazerkah di rumah? Ah, ya, ada satu blazer biru navy yang dikenakannya saat wawancara untuk penyaringan penerima beasiswa S2 dulu di Nuffic Neso, Kedutaan Belanda.
Sambil memasang helm dan menyalakan sepeda motornya, Anna berdoa, “Tuhan, beri aku kesempatan untuk tampil dan melakukan hal keren di depan Kak Adnan. Sejak bertemu, aku selalu saja bermasalah dan dia selalu saja tampak sempurna! Tolong ya, Tuhan. Kabulkanlah. Aamiin.”
Anna melaju menuju rumah untuk mengambil blazer. Dari sana rencananya dia akan langsung berangkat ke Hotel Andromeda.
__ADS_1