
Anna hari ini tampil trendy. Baru kali ini orang yang berdandan kasual tapi bisa terlihat sangat elegan. Dia memakai kaos khasmir dan span longgar selutut dari bahan kulit, warna hitam. Saat ini dia dianggap special karena datang pake rok, dan dia juga pake sepatu pantofel dengan hak 3 cm. Kacamata hitam bertengger di dadanya. Laptop dia simpan di tas jinjing besar. Hari ini Anna naik taksi online.
Di kantor Anna jadi pusat perhatian baik rekan perempuan maupun laki laki. Cantik cantik, begitulah semuanya memuji. Riska tidak lagi menganggap Anna saingan. Adnan telah memilih dia. Meskipun Anna lebih cantik dan lebih muda.
Adnan menatap Anna dengan rasa kehilangan yang dalam. Ternyata Anna hanya seorang cewek matre yang memilih Rye dan meninggalkan dia.
Anna hanya ikut rapat bulanan. Kemudian dia ke sekertariat Tim Prospect untuk menyerahkan laporan. Dia telah minta izin Pak Ben dan DR Ririn untuk cuti setengah hari.
Dari Hongkong Rye turun di Jakarta dan terbang ke Kota P di Kalimantan dengan helikopter. Rye turun dari helinya di dekat hanggar. Dia melihat perempuan yang luar biasa cantiknya. Meskipun sederhana tapi tampak sangat sexy dan trendy. Dia berdiri di balik tembok kaca dengan melipat tangannya dibawah dada. Berbaju biru tua dengan rok hitam. Pakai kacamata hitam. Dia bergegas menuju ruang tunggu.
Si gadis cantik membuka kacamatanya dan tersenyum.
“Annaaaaa…oh my God ! kamu makhluk terindah yang Tuhan berikan padaku” Rye memeluknya erat. Dia menciumi muka Anna.
“Sudah Maaas…rusak make up-ku nanti” kata Anna sambil menjauhkan mukanya dari sosoran bibir Rye. Yang dimaksud make up buat Anna itu adalah bedak tipis dan lipstik yg tipis juga he…he.
Di mobil Rye duduk memeluk erat Anna. Anna berusaha melepaskan diri tapi kalah. Mereka berjalan menuju lift khusus menuju penthouse dari akses garasi. Begitu pintu lift tertutup dan mulai bergerak, Rye bertanya pada Anna soal agenda ketemu ibu dan adik adiknya.
“Apakah sore ini atau malam aja ?” tanya Rye sambil memegang erat tangan Anna
“Mamih berangkat ke Bekasi Jawa Barat hari ini. Pulangnya mungkin seminggu lagi.” Jawab Anna asal. Cuma itu yang ada di otaknya sekarang.
Rye merapatkan dirinya pada Anna yang sudah nempel di tembok lift. Rye menyesap pelan bibir Anna yang sangat dirindukannya itu. Ciuman itu tidak berhenti sampai lift tiba di lantai 30.
______________________***____________________
Bu Dian dan Jamilah duduk di ruang rapat dengan pintu terkunci.
“Sebagai direct supervisornya Riska, saya melihat perubahan yang cukup mengkhawatirkan pada Riska. Dia makin kurus, tampak lelah, dan yang paling mengejutkan dia jadi tertutup sekarang. Mbak Jamil kan tau, saya setiap dua minggu ke lapangan. Jujur dia gak bilang apa apa klu minggu lalu dia cuti sakit. Dia mustinya kasih tau aku kan. Pokoknya dia berubah banget.” Bu Dian bicara dengan nada penuh kekhawatiran.
“Itulah mbak. Dia ambil cuti sakit satu minggu . Itu minggu yang lalu. Dia gak mau klaim asuransi. Katanya dia pake obat warung. Terus waktu ke Puskesmas lupa gak bawa BPJS katanya. Padahal Mbak Dian tau sendiri kalau urusan uang Riska itungan banget. Inget waktu dia marahin Indri karena telat ganti uangnya Rp. 5000. Nah ini biaya dokter dan obat.” Jamilah serius sekali mukanya.
" Bagaimana ya cari taunya ? kalau masalahnya di kantor kan kita bisa intervensi. Tapi kalau di luar kantor, kita gak punya hak untuk intervensi kan ?.. Oh tunggu sebentar, 3 bulan yang lalu dia sangat sumringah. Kugodain apa dia punya pacar. Dia jawab iya. Tapi dia bilang rahasia. Tunggu tanggal mainnya. Begitu katanya…" Bu Dian berfikir keras
“Nah itu. Coba Mbak ajak jalan terus korek siapa tau ada hubungannya dengan dia punya pacar. Kasian kinerjanya menurun, badannya makin kurus dan sering terlihat tidak sehat. Kayaknya setiap minggu dia ada aja demam atau pucat. Bisa satu atau dua hari.” Jamilah menyemangati
____________________***_____________________
Adnan tidak bisa meredakan kekecewaannya pada Anna. Lama lama dia merasa marah dan frustasi. Semakin hari dia semakin cantik. Begitu gumannya dalam hati. Semakin dia merindukan Anna, dia malah semakin benci dengan riska. Dia menginginkan Anna bukan Riska. Tapi hanya Riska yang mau menyerahkan dirinya. Adnan kirim WA ke Riska…“pulang kantor kamu ke tempatku” tulisnya.
Riska yang duduk jauh di sebrangnya melihat padanya dan mengangguk. Adnan melengos dan kembali fokus pada laptopnya.
Bu Dian ngajak Riska jalan jalan dan makan malam.
“Ayo Riiis… sudah lama kita gak jalan bareng. Ayo kamu mau apa saja, kutraktir !.” Rayu Bu Dian
“Maap mbak gimana kalau sabtu besok. Hari ini aku ada janji sepulang kantor. Okeh ?” Riska menolak dengan senyuman
“Aduh ini janjian sama yayang nih kalau sampai tawaran saya ditolak” Bu Dian memancing.
__ADS_1
Riska tertawa tapi tidak menjawab
“Kalau sabtu gimana kita sambil pijet di tempat spa ? terus maksi dan nonton. Kamu mau ?” Bu Dian benar benar bos yang baik.
Riska mengangguk senang.
____________________***_____________________
Riska datang lebih dulu di kontrakan Adnan. Dia mengambil kunci cadangan dan membuka pintu. Dia membereskan ruang tamu dan menyapu, sambil nunggu Adnan datang.
Flashback…
Tiga bulan yang lalu, Adnan menggauli Riska dengan kasar untuk pertama kalinya di kosan. Riska menjerit jerit kesakitan.
Esok harinya pemilik kos datang menemui Adnan. Dia mendapat laporan dari tetangga di belakang kosan. Katanya mendengar suara wanita menjerit jerit dari dalam kosan. Tapi suaranya terdengar kecil seperti dari jauh. Bapak kos tau, hanya ada Adnan yang ada di kosan jam 3 sore. Dia melihat dari CCTV. Sedangkan penghuni kosan lainnya pergi kerja semua.
Adnan terkejut. Dia mengaku kemarin itu dia kurang enak badan jadi pulang ke kosan. Lalu dia menyetel video dewasa. Dia minta maap. Setelah pemilik kos pergi, Adnan kirim WA pada Riska. Dia menyuruh Riska cari rumah kontrakan yang sepi. Riska yang saat itu sedang sakit karena perbuatan Adnan, memaksakan diri untuk mencari kontrakan itu.
Saat ini…
Adnan masuk ke dalam kontrakannya. Dia menjambak rambut Riska yang sedang cuci piring.
“Kamu bukannya menyiapkan diri biar segar dan harum. Ini malah keringatan” hardik Adnan sambil melempar Riska ke karpet di ruang tamu.
“Maap kak. Minggu lalu kan kakak tau aku keguguran. Dokter bilang aku gak boleh berhubungan dulu selama 40 hari.” Riska bersimpuh di kaki Adnan.
“Terus kamu ke sini mau ngapain kalau gak berguna ?” Bentak Adnan sambil membuka celananya. Riska diam saja tertunduk
Riska melakukannya sampai Adnan puas. Setelah itu Adnan pergi ke kamar mandi dan menyuruh Riska pulang.
_______________________***____________________
Bu Dian terus memikirkan Riska. Apa yang terjadi dengan anak buahnya itu. Lusa adalah hari sabtu. Dia berharap konkow dengan Riska bisa terwujud.
Riska dan Bu Dian pergi ke tempat spa jam 8 pagi. Bu Dian sudah reservasi sebelumnya. Hari ini mereka bukan cuma mau pijet tapi ambil pake spa lengkap.
“Jam 7 tadi saya sudah makan lontong sayur porsi gede. Tau sendiri spa komplit bisa 2,5 jam. Daripada kelaperan. Inget dulu Ris, perut kita pada keroncongan. Sampe malu kita sama mbaknya ha…ha…ha” Bu Dian mengenang masa lalu ketika masih sering jalan bareng dengan Riska.
“Iya mbak. Itu spa terburuk yang kita alami. Tadinya mau refreshing malah tersiksa karena kelaparan. Mau kita batalkan sudah setengah sesi. Sayang kan tetep harus bayar full.” kata Riska sambil membuka bajunya dan memakai kemben.
" Jadi kamu sarapan apa ?" Bu Dian sudah selesai berkemben ria dan naik ke dipan pijat.
“Bubur ayam satu porsi lengkap. Sampai mamangnya kaget. Aku kan biasa beli separo. Ini sudah seporsi tambah pula telor dan ati ampela he…he…” Riska menggulung rambutnya dan lalu menjepitnya.
Bu Dian mengamati Riska yang membelakanginya ketika dia masih ganti baju dan nyanggul rambutnya. Dia melihat bekas memar yang sudah memudar di belikat sebelah kiri dan lengan atas.
Sambil dipijit, Bu Dian terus memikirkan Riska. Apa yang terjadi dengan anak itu ?. Kakak sulungnya meninggal tabrakan motor. Dia sekarang anak sulung. Adiknya 3. Ayahnya stroke sudah 3 tahun dan ibunya buka warung nasi. Beliau pergi subuh dan pulang malam.
Selesai dipijit, mereka turun untuk mandi. Riska mendapat pesan WA. Raut mukanya langsung berubah. Dia yang baru saja ceria tampak tegang.
__ADS_1
“Mbak aku gak jadi maksi dan nonton ya. Ini disuruh pulang ke rumah. Bapak gak ada yang jaga. Aku pipis dulu.” kata Riska sambil menyimpan HPnya di atas dipan pijat. Dia setengah berlari menuju toilet.
Bu Dian baru mengganti kemben dengan jas mandi ketika melihat WA baru muncul di wall hp Riska…Adnan: Gak pake telat. Harus siap pakai !
Bu Dian membelalakkan matanya dan buru buru ke ruang mandi begitu melihat Riska datang.
_____________________***_____________________
Bu Dian melihat Riska memasukkan CD dan BHnya ke tas. Berarti dia sengaja gak pake daleman. Riska menolak diantar Bu Dian. Riska bilang sudah pesan ojek online dan pergi dengan terburu buru.
Bu Dian termenung di dalam mobilnya. Dia masih di parkiran salon dan spa. Akhirnya dia telepon Jamilah.
“Riska ternyata berhubungan dengan Adnan. Coba kamu ke kosan Adnan untuk memastikan, Jeng. Pura pura aja lagi cari kosan buat sodara gitu.”
Jamilah mengikuti saran Bu Dian. Dia mendapatkan informasi dari penghuni kos yang lain kalau Adnan sudah lama pindah. Mereka tidak tau kemana Adnan pindah.
Bu Dian memutuskan untuk menemui koleganya dr. Farid Ridwan yang juga merangkap phisikolog.
“Tampaknya teman Mbak Dian ada dalam toxic relationship atau bahasa kita hubungan yang beracun atau hubungan yang buruk. Urusan kekerasan pada perempuan itu memang sangat rumit. Pertama budaya yang dianut masyarakat ketika menempatkan perempuan sebagai objek bukan subjek. Itu menjadi penyebab rantai kekerasan pada perempuan semakin kuat dan panjang. Kedua karena perempuan merasa tidak berdaya dan menerimanya sebagai takdir. Ketiga ada kondisi phisikologis dimana perempuan senang disakiti secara seksual. Saran saya coba di kantor buat semacam diskusi atau pelatihan internal untuk membuka wawasan tentang pentingnya perlindungan dan pemberdayaan perempuan. Hal ini salah satunya untuk memberi pemahaman tentang toxic relationship itu.” dr. Ridwan menjelaskan dengan runut dan jelas.
_____________________***____________________
Adnan sedang melampiaskan kekesalannya pada Riska karena tidak bisa mendapatkan Anna. Riska pada posisi nungging. Satu tangannya dilipat ke belakang dan dipegangi Adnan. Adnan terus menghentak hentakkan batangnya dengan buas. Riska menangis dan menjerit kesakitan.
Riska sangat mendambakan Adnan bersikap sedikit lembut padanya. Dia ingin menikmati hubungan yang mereka lakukan selama ini. Tapi Adnan belum menunjukkan perubahan. Dia tidak mau konsultasi atau bantuan, karena dia tidak mau berpisah dari Adnan.
____________________***______________________
Anna dan Rye duduk di karpet dan bersandar di sofa. Kaki Rye ditekuk setengah berdiri sehingga membentuk piramid. Tangan sebelahnya merangkul Anna yang duduk menyamping dan kepalanya bersandar di dada Rye. Rye sedang menulis sesuatu dalam hurup mandarin.
“Ini dibaca wo de airin artinya kamu cintaku, kesayanganku, ke…muuuach…” Rye tidak menyelesaikan bicaranya karena sudah gak tahan nyosor bibir Anna yang begitu dekat di sampingnya. Anna menepis dan membelokkan muka Rye agar kembali ke kertas catatan yg disediakan hotel.
“Terusin lagi…daftar nama panggilan orang cina. Kayaknya rumit banget kalau baca di komik kungfu.” Anna memerlukannya agar tidak malu kalau ketemu keluarga Rye.
Rye membuat bagan silsilah
“Ini aku ditengah ya. Aku punya tiga kakak laki laki. Kakak laki pertama yaitu Ko Hendra disebut Toa - Kiu dan istrinya Toa - Kim. Kakak kedua yaitu Ko Sonny disebut Ji - Kiu atau Er - Kim dan istrinya disebut Ji - Kim atau Er - Kim. Kakak ketiga yaitu Ko Roby disebut Sa - Kiu dan istrinya disebut Sa - Kim. Namun secara umum kakak laki laki dipanggil gege atau koko dan kakak perempuan cece atau cie cie. Kalau adik laki laki titi dan adik perempuan dipanggil mei mei. Jelas ?” Rye melirik Anna.
Anna bangun dari dekapan Rye dan merapihkan rambutnya.
“Berarti kami salah ya panggil tukang kue di komplek itu Cece Silvy padahal umurnya sudah ada 56 tahun-an. Terus pemilik toko mebel malah lebih tua lagi dipanggil Ko Abun.”
“Ya nggak lah. Kalau dalam komunikasi hari hari kan gak selalu sesuai pakem. Kayak Mas dan Mbak. Bu Dian 40 tahun dipanggil mbak. Kamu 24 dipanggil mbak juga.” kata Rye sambil menatap pujaan hatinya.
“Loh kok tau umur Bu Dian ?” Anna sedikit kaget dan kagum
“Lah aku kan baca CV kalian dilampiran proposal” Rye menarik Anna ke dekapannya lagi
“Kalau Kak Adnan berapa umurnya ?” Anna iseng
__ADS_1
“Ngapain nyebut - nyebut Ikan Sapu itu ?” Rye kesal dan nyosor leher Anna.
Anna menjerit tertahan, kegelian. Sementara mereka sedang bermain main, dering telepon di HP Anna berbunyi. Tampak nama mamih di layar.