
Anna masih bingung apa yang harus diceritakan. Dia khawatir, dua orang staf itu akan dipecat. Wait ! kenapa mikirin mereka.
Korban disini adalah Pak Rye dan dirinya. Pak Rye bayar 8,5 juta rupiah per malam dan kamarnya dikotori orang orang mesum itu. Akhirnya Anna menceritakan kejadiannya.
"…begitulah Pak ceritanya. Kalau sekarang saya pikir pikir…tindakan saya itu bodoh sekali. Coba saat itu saya keluar bukannya sembunyi. Kan saya bisa mencegah kemungkaran !. " suara Anna meninggi.
Semakin dipikir, semakin kesal dia pada dirinya sendiri.
" Mbak Anna jangan menyalahkan diri. Itu bisa jadi Mbak Anna diserang. Namanya lagi birahi tinggi orang bisa kalap klu diganggu. Coba lihat ayam atau soang lagi kawin diganggu. Mereka bisa berubah ganas dan murka !". Daniel coba menghibur Anna dan tampaknya cukup berhasil. Tidak menghibur sih tapi menghilangkan rasa menyesal Anna. Rye mengangguk angguk.
Wajah Anna terkesiap membayangkan apa yg terjadi. Si pria mesum murka dan akhirnya dia dipukul sampai pingsan terus dibunuh dan Annatnya disembunyikan di bawah tumpukan laundry. Hiiiiiiii ngeri. Anna bergidik sendiri.
“Ok sekarang kamu mandi. Daniel siapin jakuzi buat Anna mandi. Terus pesankan baju ganti pd manager VVIP.” Rye beranjak dari ranjang. Anna baru mau ngomong untuk menolak tapi Rye sudah menggeleng kepala dan dengan tegas dia bilang, “NO !. Anna kamu baru saja mengalami trauma di tempatku ! aku gak akan biarkan kamu pulang sendiri dalam keadaan seperti ini. Tlp orang kantor dan rumah klu kamu masih disini dan akan pulang setelah makan malam. That’s final !”.
Anna menolak mandi di jakuzi karena takut ketiduran waktu berendam he…he…he.
Sementara itu Daniel sudah telepon manager VVIP untuk menyediakan baju ganti untuk Anna. Dalam waktu 10 menit baju sudah tiba.
Baju rok terusan dengan karet di pinggang. Ukuran all size. Sederhana dengan warna salem tapi kelihatan keren. Wajarlah secara baju itu merk Carolina Herrera. Sambil menunggu. Anna keluar kamar mandi, Rye dan Daniel membahas kejadian Anna dengan Manager VVIP.
Perempuan cantik berumur 39 tahun itu sampai merah padam karena syok. Dia membungkuk dalam sambil menangkup kedua tangan tangan di dada. Dia langsung menelepon Manager House Keeping dan Manager HR. Mereka akan berkumpul di ruangan Manager VVIP untuk membahas insiden ini. Anna keluar dari kamar mandi memakai jas mandi. Rambutnya setengah kering habis di hair dryer. Si manajer VVIP tergopoh gopoh menyerahkan tas baju sambil meminta maap atas insiden itu pada Anna.
Anna mengucapkan terima kasih dan mengagumi baju yg diberikan padanya. Terus dia melongok lagi ke dalam tas dan tampak merenung. “kenapa mbak ? ada yg kurang ?” tanya si manajer.
Rye dan Daniel ikut memandang Anna. Anna merasa grogi tapi akhirnya dia memberi kode untuk mendekat lalu berbisik ke telinga si manajer. " Saya perlu pakaian dalam".
“Oh ok. Maap tadi waktu dipesan saya tidak tahu situasinya. Tunggu aja 10 menit.” Si manajer langsung mengeluarkan hp dari saku jasnya.
Rye sadar Anna tidak mau dia mendengarkan apa yg akan dia katakan pd si manajer. Maka ketika Anna berbisik Rye dan Daniel sudah melangkah ke luar kamar. Tapi pintu kamar masih terbuka.
Hallo. Elsa tolong kirim bra warna hitam no 36 dan CD ukuran M. Bukan lingerie say…model biasa tapi premium. Buat VVIP." kata si manajer sambil melangkah ke luar kamar.
Anna hanya melongo pasrah. Percuma dia berbisik. Dua pria yang baru dia temui sudah tau ukuran BH dan CDnya. Anna menutup mukanya dengan satu tangan.
__ADS_1
Pesanan daleman Anna datang dalam 12 menit. Tadi si manajer telepon butik di Mall yang terhubung dengan hotel. Staf si manajer sdh menunggu depan lift VVIP dan meluncurlah dia ke kamar Rye. Meskipun uang bukan segalanya tapi in this case, that’s the power of MONEY !
5 menit kemudian Anna dan Rye sudah duduk di meja makan restoran hotel di private lounge. Steak sudah siap disajikan begitu mereka tiba. Ini acara makan langsung ke intinya karena sudah maghrib dan Anna ingin segera pulang.
Anna diantar Rye dengan mobil yang sudah disiapkan hotel. Sedangkan Daniel membawa motor Anna. Mereka konvoi menuju rumah Anna
___________________***_______________________
Pagi ini Anna memutuskan tidak akan menceritakan insiden kemarin. Dia pikir bahwa hal itu cuma akan bikin keributan yang tidak perlu. Di kantor, Anna langsung masuk ruang rapat. Bu Dian dan Adnan sudah di dalam ruangan dengan laptop masing - masing. Pak Ben menyusul 5 menit kemudian. Pak Ben langsung meminta Anna memberi laporan tentang pertemuannya dengan CEO PT. Eka Prakarsa.
“Pertama tama Saya minta maap karena kemarin pergi lama dan gak sempat update. Pak Rye harus ketemu gubernur. Saya menunggu dia sampai satu jam. Waktu nunggu saya ketiduran. Jadi maap saya gak ngabari. Begitu ketemu, kami ngobrol sana sini dulu. Baru satu jam kemudian mulai presentasi dan diskusi. Jadi dari jam 2 siang sampai jam 5 sore, diskusinya sih cuma 1 jam. Tapiiiiii…jeng jeng jengggg…kita diminta buat proposal untuk kerjasama !”. Informasi yang disampaikan Anna tidak bohong. Hanya konteksnya yang sedikit berubah.
"Apaaa ? waah hebat !"mereka bertiga serempak. Bu Dian dan Adnan malah tepuk tangan juga.
“Well Anna. Itu melebihi harapan kita. Very good job !”. Pak Ben memuji dengan semangat. Selanjutnya mereka mendiskusikan langkah langkap yang harus dipersiapkan. Rapat yang dimulai jam 8 pagi itu berakhir jam 9.30. Mereka rehat dulu di pantry. Jam 10 rapat kedua akan dimulai, yaitu rapat bulanan dimana semua staf hadir.
Menjelang jam 10 para staf sudah mulai turun dan cari posisi nyaman di ruang rapat. Selain itu mereka takut datang terakhir karena yg datang terakhir wajib memimpin doa.
"Hello amazing staff ! hari ini akan kita mulai dengan update dari manajemen dan selanjutnya seperti biasa akan ada update per divisi, supporting unit, dan keuangan.’’ Pak Ben membuka denga apresiasi pada semua staffnya. Staf Hijau Lestari bukan hanya dekil tapi juga banyak yang jahil dan gokil 😀.
Motto mereka Dekil Berarti Kerja Keras. Makanya tiap pulang dari lapangan mereka memastikan diri sudah sedekil dekilnya 😜
" Adnan ini rapat bulanan pertama untukmu ya. " Pak Ben melirik pada Adnan dan dibalas dengan anggukan dan senyum. Duuh manisnyaaa batin beberapa cewek di ruangan itu.
“So kabar gembira dari Anna. Dia kemarin bukan hanya bisa memberi masukan tapi malah diberi tawaran untuk membuat proposal kerjasama !.” semua staf tepuk tangan hanya satu yg tidak. Siapa lagi klu bukan Riska. " Tentu kita senang bukan semata mata dapat uang untuk membiayai program kita. Tetapi setiap kerjasama memberikan peluang pada kita untuk mempengaruhi kebijakan dan cara kerja yang mendukung pengelolaan lingkungan yang baik dan …" Pak Ben membuat jeda…" kesejahteraan rakyaaat" demikian staff Hijau Lestari serempak menjawab. Adnan tertawa sambil geleng geleng kepala. “Kompak banget ya” katanya takjub.
“So untuk riset persiapan proposal kita serahkan pada Anna. Saya beri waktu 1 minggu untuk concept note, baru kumpulin input dari semua tim. Seperti biasalah klu kita bikin proposal. Let’s move on ke agenda ke dua, Program pengurangan emisi karbon melalui perhutanan sosial dan rehabilitasi lahan gambut siap dilaksanakan. Komposisi tim pelaksana persiapan program sudah disetujui. So, Ibu Dian kamu in charge untuk ini dan mulai merapat ke Pemprov untuk koordinasi.” Pak Ben berhenti dulu untuk menarik napas." oke yang terakhir dari manajemen, Dodi dan Winda sudah kalian putuskan siapa diantara kalian yg akan pergi untuk training tata kelola tambang tradisional di Vietnam akhir bulan depan ?".
Dodi dan Winda saling pandang. Kemudian Dodi menjawab, " tampaknya kami belum siap pak. Kami belum bisa tampil di forum regional atau internasional tanpa didampingi Mbak Riska selaku SPO kami."
Pak Ben tampak kecewa. Dia matian matian memberikan dukungan dan kesempatan agar semua staff bisa meningkatkan kemampuan dirinya dan bisa lebih profesional. Namun sebagian orang memang kurang percaya diri dan tidak mau berusaha dengan tekun.
Riska mencoba memberi pembelaan." Maap Pak Ben, saya sudah berusaha mempersiapkan mereka. Namun mereka masih belum bisa mengikuti pelatihan dalam Bhs Inggris. Mereka khawatir disana gak optimal." Winda dan Dodi hanya menunduk.
__ADS_1
Pak Ben mendengus. " Tampaknya harus Riska lagi yang pergi. Well kamu tau apa yang harus dipersiapkan Riska. Ok lanjut …"
" Tepu". Bisik Dino pada Anna di sebelahnya." Maksud loe ?". Anna kepo. " Ntar sore gue ceritain pas gak rame."
___________________***______________________
Di ruang logistik, Anna membantu Dino menyiapkan keperluan pelatihan kelompok budidaya ikan lele di 10 desa di Kabupaten Y. Sekalian mereka mau bergosip soal pelatihan di Vietnam itu. Oh ya Dino itu seumuran sama Anna. Mereka berdua soulmate. Dino supporting unit untuk pelatihan.
" So jadi gimane tuh ceritanye ?" tanya Anna sambil masukin 10 box pulpen ke box ligistik yg akan digunakan untuk pelatian.
“Si Dodi bilang ke gue kalau si Mbak R (riska maksudnya) itu memang mentoring mereka untuk nyiapin diri ikut training di Vietnam itu sesuai instruksi Pak Ben. Tapi semua yang mereka lakukan dianggap jelek dan mereka dkritik terus klu ngomong Bhs. Inggris. Lah gua aja yang S2 Bahasa Inggris, kalau ngomong mah gak kayak nulis tesis kaliii susunan katanya. Yaah udah deh, Si Dodi sama si Winda jadi gak percaya diri gitu.” Kata Dino sambil mengecek daftar logistik yg sudah masuk ke dalam box.
" Wah itu sudah masuk harassment (pelecehan) tuh. Kantor kita kan punya kebijakan anti kekerasan dan pelecehan. Loe tau kan pelecehan itu bukan hanya seksual, bisa juga pelecehan verbal (omongan). sikap bermusuhan, body shaming (meledek bentuk fisik tubuh). Si Dodi dan Si Winda napa gak lapor sama Bu Dian. Kan dia direct supervisor mereka ?" Anna tampak kesal.
“Halah kayak loe gak tau orang kita. Kebanyakan cuma berani ngomong di belakang. Gimana kita bisa bela, giliran di depan malah manis manis kayak gak terjadi apa - apa.” kata Dino. Anna mengangguk angguk. “Iya sih. Tim kayak gitu gimana mau kuat dan berkembang. Anak buahnya pengecut, supervisornya tukang bully.
Wassalam deh. Anyway, ini gak bisa diabaikan. Aku akan coba ngomong sama Mbak Jamil (nama lengkapnya Jamilah). Dia kan manajer HRD dan Keuangan. Hal kayak gini harus dibicarakan hati - hati dan dicermati pelan - pelan agar tidak terjebak pitnah. Kita kan sudah punya SOP (standar operasional prosedur) penanganan kasus kekerasan dan pelecehan. Nah klu ini kan baru dugaan jd biar Mbak Jamil menyiapkan langkah investigasi.” timpal Anna.
Dino dan Anna kembali ke ruang kerja.
Adnan datang menghampiri meja Anna. " Hai’" sapanya. " Hai juga" jawab Anna. “Ini timeline untu persiapan proposal sampai approval.” Adnan menyerahkan tabel rencana kerja sebagai alat monitoring dia sebagai PM." Oh ya prestasimu layak diberi penghargaan. Bgm kalau saya traktir makan malam nanti malam ?" Adnan menatap Anna sambil kedua tangannya mengetuk ngetuk pelan meja Anna.
Anna terlihat sumringah. Dia menguatkan diri untuk tidak loncat loncat. " Oh baiklah. Gimana kakak jemput aku habis Insya ? Kita makan dimana ?"
"Ah itu mah gampang. Kita putuskan nanti ya ? thanks " Adnan tersenyum senang dan kembali ke mejanya. Sejak itu, Anna sudah gak konsentrasi kerja. Dia cengar cengir aja kayak orang sedeng.
_________________
Readers yang budiman,
Tunggu kelanjutannya ya banyak kejadian tak terduga loh
Dukung otor dengan like, komen, dan vote
__ADS_1