CEO TAMPAN MENCARI RESTU

CEO TAMPAN MENCARI RESTU
Bab 31 PERANGKAP


__ADS_3

Anna menceritakan kejadian tadi malam pada Rye setelah selesai menangis. Rye mendengarkan dengan posisi masih memeluk Anna sambil berdiri. Sesekali dia mengelus pipi Anna dengan punggung tangannya. Dia memeluk Anna setelah gadis itu selesai bercerita.


“Oh beruntung sekali Bou Bai dicintai kamu. No worry, kita punya banyak waktu untuk saling mengenal setelah menikah.” kata Rye sambil mengecup pucuk kepala Anna.


Setelah mandi, Anna bilang pada Rye ingin ikut tim CSR melihat lahan bekas tambang rakyat.


“Nggak. Ngapain kamu ke sana ? kan tujuan datang ke sini mau weekend denganku.” jawab Rye tegas.


“Tapi aku gak enak sama Nova dan Franz. Masa aku sudah disini gak gaul sama mereka. Nanti aku dikira sombong tau.” jawab Anna. Dia menyembunyikan alasan yang sebenarnya.


“Itu perasaanmu saja. Satu, kamu staf ahli untuk riset kebijakan. Sedangkan mereka staf lapangan. Jadi wajar kalau gak barengan. Kedua, Jika kamu gak ketemu mereka hari ini, paling mereka pikir kamu sudah pulang.” jawab Rye agak kesal


Anna cemberut. Argumentasi Rye memang solid.


“Ya udah aku say hello doang sama mereka sambil pamit. Itu kan sopan santun sama teman sekantor, please…” Anna memohon


Rye menghela napas


“Ya udah kamu pergi naik motor punya Zaky. Pinjam sana di belakang.” jawab Rye


_____________________***_____________________


Anna turun dari Honda Scopy merah punya Zaky. Cowok botak yg sexy dan macho itu ternyata senang motor yang menurut Anna, imut.


Tim CSR yang terdiri dari Linda dan David baru keluar dari kamar mereka. Nova dan Franz sudah siap dengan perlengkapan safety. Mereka sedang mengelap helm masing - masing.


Stefani datang dengan mobil jeep terbuka. Dia disopiri Jhon Sembiring, sekertarisnya.


“Hai Anna jadi ikut kami ?” tanya Stefi sambil menyalami Dia juga sudah siap dengan perlengkapan safety yg terdiri dari: sepatu boot karet, rompi dengan spotlight, dan helm yang ada senternya.


“Aduh kayaknya enggak deh. Soalnya harus pulang.” kata Anna kecewa


“Oh ya udah. Aku hari ini mau berburu batu mulia. Katanya di bekas tambang itu banyak ditemukan batu mulia. Kan itu bekas tambang emas ya. Aku mau cari buat mamanya Al. Tante Hani pasti senang.” ujar Stefi ceria dan bersemangat.


Hati Anna sontak membara. Wanita ini akan berpetualang mencari batu mulia untuk calon mertuanya.


HAH ! dia pikir aku tidak mengendus motifnya. Ini jelas strategi sekali berenang, dua pulau terlampaui. Dia dapat kekaguman dari Rye karena telah bertualang bongkar batu di lahan bekas tambang. Dia juga akan mendapat pujian dari Mama Hani karena memberi hadiah dari hasil jerih payah. batin Anna.


“Aduuuh seru banget kayaknya. Ok deh saya ikut. Pulang toh naik mobil perusahaan bukan carteran umum.” kata Anna dengan seringai puas


" Oh ya ? ok deh." kata Stefi dengan senyum terpaksa


Mereka berangkat dengan mobil jip dan satu mobil dobel gardan yg biasa disebut mobil ranger.


Satu jam kemudian, mereka sudah sampai di lokasi bekas tambang emas rakyat. Anna turun dari mobil Stefi.


Dua anak buah Stefi dan staf Hijau Lestari jalan mengitari lahan bekas tambang menuju hutan karet. Mereka menuju pos perbatasan lahan milik Eka Prakarsa dengan hutan dan lahan warga. Sedangkan Stefi, sekertarisnya, dan Anna menuju lahan bekas tambang.


Lahan bekas tambang emas itu mungkin ada sekitar 2000 m2. Tanah tanah bekas galian yang sudah kering dan tandus. Sebagian lain berlumpur dan sebagian lainnya lagi membentuk kolam kolam air beracun merkuri. Airnya hijau dan ada juga yang keruh. Ini merupakan kerusakan lingkungan yang parah akibat penambang emas liar. Di Kalimantan proses menggali dan menyaring emas dengan mesin itu disebut mesin sedot atau nyedot.


“Disitu tempat para staf lapangan kita menemukan batu mulia. Di bawah ada terowongan tua dari zaman penjajahan Belanda.” kata Stefi nenunjuk ke arah tebing.


“Ok let’s go !” kata Anna bersemangat. Dia akan cari batu mulia buat mamih dan mama.


“Kamu duluan deh Anna. Jhon aku mau palu yang lebih kuat. Ini pegangannya kurang enak.” kata Stefi sambil berjalan menuju jip yang di parkir sekitar 100 m dari lahan yang memiliki lereng terjal.


Anna setuju. Dia terhunyung hunyung menuruni lereng dan loncat loncat mencari pijakan yg tanahnya tidak retak. Beberapa kali dia terpeleset. Lahan bekas tambang ini dulunya merupakan lereng bukit untuk berladang. Namun kemudian warga dan pendatang yang menjadi penambang liar, memporak porandakan kawasan tersebut.


Anna sudah turun ke tebing menuju lokasi bekas terowongan. Stefi sudah berjalan sekitar 20 meter ke dalam kawasan bekas tambang. Dia berteriak pada Anna yang terlihat di bawah.


“Annaaaa…kayaknya kita batalkan saja. Aku baru ingat aku ada meeting jam 3 sore dengan direktur teknis dan manajer humas !, atau kamu mau lanjut ? nanti pulang dengan mereka yang lagi ngecek perbatasan ?” teriak Stefi sambil melambaikan tangan.

__ADS_1


Anna menimbang nimbang. Klu dia batalkan, rugi banget dia sudah cukup jauh ke dalam kawasan dan harus merangkak naik tanpa hasil.


“Aku lanjut aja kaaaak…Tolong kasih tau mereka. Si Franz misalnya. Suruh nyusul saya ke sini.” teriak Anna


“Okayy…” balas Stefi dan diapun kembali ke mobil


“Bu gimana mau saya teleponin si Erwin, sopir Ranger yang ikut tim lapangan ? biar dia bisa nemenin Mbak Anna.” tanya Jhon sambil menyetir.


“Berburu batu permata itu makan waktu Jhon. Santai aja. Nanti sudah 30 menit kita telepon mereka.” jawab Stefi kalem


“Oh ya bos. Itu kan daerah berbahaya


tanahnya tidak stabil dan bisa longsong. Lalu ada kolam limbah merkuri. Itu sangat beracun. Kita dilarang ke sana kan ?.” tanya Jhon


“Bahh ! kau ini crewet kali Jhon. Macam mana pula kita bisa larang. Dia itu tenaga ahli riset dan kebijakan. Jadi itu bagian dari studi dia.” jawab Stefi menirukan logat Batak


Jhonatan Sembiring sang sekertaris terkekeh dengan tingkah bosnya itu.


Setelah 30 menit, Stefi menelepon Erwin agar menjemput Anna.


Dalam perjalanan pulang itu, Stefi tersenyum puas. Anna sudah menjadi targetnya sejak bertemu pertama kali di acara gala dinner ulang tahun Erlangga Group. Stefi secara teliti menyusun profil Anna sebagai target. Dalam film film polisi dan FBI di Hollywood sono, disebut profiling. Dalam bahasa LSM, analisa stakeholder atau analisa aktor.


Profiling Anna:


Ketemu di gala dinner. Dia tampak canggung, tidak nyaman, dan pasif tidak mau berbaur. Kesimpulan: dia bukan sosialita


Bahasa tubuh: merasa tidak nyaman dan tidak percaya diri di depan Stefi.


Kesimpulan: Anna akan berusaha menutupi rasa mindernya dengan menerima ajakan Stefi dan membuktikan pada Rye kalau dia tidak kalah hebat dari Stefi. Hal itu terbukti saat lomba di company gathering. Dan semakin jelas ketika wajah Anna tampak skatmat ketika di stand sosis


Maka strategi yang digunakan: pancing emosi, tantang untuk kompetisi dan masukan pada perangkap.


Maka perangkap dipasang. Rye akan sangat marah karena Anna sembrono dan mengancam reputasi perusahaan jika ada kecelakaan. Maka meskipun Anna masih jadi tunangan Rye, dia tidak akan boleh lagi datang dan menginap di site.


_____________________***______________________


Rye menggunakan waktu sendiriannya di villa untuk bekerja. Biarpun hari minggu atau libur, dia seperti ayahnya, dan kakaknya Hendra. Mereka akan menyempatkan bekerja. Mungkin itu yang disebut workholic.


Ketika dia sedang khusyu melihat pergerakkan saham Erlangga Group, handphone berbunyi.


“Pak, Mbak Anna pingsan dan sekarang ada di klinik perusahaan dekat mes karyawan.” kata Daniel di sebrang sana.


Rye bergegas menuju klinik.


Anna sudah siuman. Dia hanya dehidrasi dan beberapa bagian tubuhnya sedikit memar.


Stefi mencegat Rye dan menjelaskan dengan versinya.


" Aku sudah melarangnya Adrian. Tanya si Jhon, aku sampai teriak teriak ngajak dia pulang. Tapi dia tetep ingin berburu batu mulia." kata Stefi dengan wajah sedih


“Makanya aku telepon Erwin untuk jemput dia. Kalau tidak, mungkin Anna kondisinya bisa lebih parah.” lanjut Stefi


" It’s ok stef. Makasih sudah bantu nyelamatin dia." kata Rye sambil berlalu ke ruang pasien.


Anna baru selesai makan bubur instan dan minum obat. Dia melihat Rye dengan rasa takut. Dia ketahuan berbohong.


“Kamu bisa jalan ? ayo kita ke mobil.” kata Rye dingin


Mereka sudah sampai di villa dalam 5 menit. Anna merengek minta maap selama di mobil. Tapi Rye tidak menggubris.


“Bou Bei aku minta maap. Stefi bilang tempatnya dekat. Ternyata jauh.” kata Anna putus asa sambil mengekor Rye masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Rye melempar jaketnya ke sofa.


“Apakah ini sisi kamu yang aku gak tau ? sudah berbohong sekarang cari kambing hitam lagi. Kamu anggap aku ini apa ?” omel Rye emosional. Dia terus ngomel soal bagaimana hal yang lebih buruk bisa terjadi. Bagaimana dia harus mempertanggungjawabkannya pada keluarga Anna. Betapa dia akan gila hanya memikirkannya saja.


" Iya aku salah. Aku minta maap. Aku tidak akan mengulanginya lagi." kata Anna dengan air mata berderai.


Rye sangat tidak tahan melihat kekasihnya menangis. Tapi dia menguatkan diri.


“Kamu masuk kamar dan bersihkan diri. Setelah itu kamu mau makan atau tidur terserah.” kata Rye sambil melangkah pergi ke ruang kerja.


Anna menangis di kamar. Matanya sembab. Dia takut Rye memutuskan hubungan mereka.


Rye akhirnya kalah juga. Dia gak tega mendengar Anna menangis terus. Dia masuk ke kamar


“Kamu mau mandi sendiri atau dimandiin ?.” tanyanya datar.


Anna terdiam. Dia menunduk sambil sesegukan.


“Mandi sendiri.” katanya parau


15 menit kemudian Anna sudah segar habis mandi. Dia keluar kamar dan melihat Rye sedang menuang sop burung walet dan menyaring seduhan ginseng merah. Anna tau itu barang barang mahal. Di film kungfu aja, ginseng merah itu hanya untuk raja dan bangsawan sangat kaya.


Anna berdiri mematung. Dia bingung harus ngapain. Rye melihat kepadanya. Dia keluar dari pantry dengan membawa sop dan air ginseng.


“Duduk” perintah Rye pada Anna.


Anna menurut. Rye mengambil sendok bebek. Dia mulai menyuapi Anna. Anna gak berani nolak. Hati Anna sedikit tenang. Tampaknya Rye tidak akan memutuskannya.


Rye meminta Anna tidur agar bisa cepat pulih. Dia menyelimuti Anna. Dia melangkah pergi tapi terhenti ketika tangan Anna memegang tangannya. Rye berbalik. Mata mereka saling berpandangan. Rye menindih Anna. Mereka saling melepaskan emosi yang terpendam dengan ciuman yang rakus.


Anna sudah rela jika imas ketemu ujang sore ini. Tapi Rye tidak memintanya. Dia tetap konsisten dari pinggang ke atas. Mereka tertidur sambil berpelukan


______________________***_____________________


Seminggu kemudian…


Mesjid Al Barokah mengadakan pengajian gabungan laki laki dan perempuan setiap bulannya di Hari Minggu.


“Bapak dan ibu, para pemuda pemudi jamaah Masjid Al Barokah yang dimuliakan Allah. Sesungguhnya setiap manusia itu tidak luput dari dosa. Ada tiga jenis manusia: pertama, manusia yang banyak dosanya - sedikit amalnya. Kedua, manusia yang amal dan dosanya seimbang. Ketiga, manusia yang amalnya banyak - dosanya sedikit. Kira kira bapak ibu masuk yang mana ?.” kata Ustad Hamdran.


Para jamaah meresponnya dengan tertawa


“Untung ya kita itu ikut pengajian. Jadi dapat ilmu. Coba Bu Widodo itu. Rumah deket mesjid tapi gak mau ngaji ke mesjid. Tapi kalau urusan gosip, heuuuuh bisa satu jam ngobrol di tukang sayur.” bisik Bu Fawzi ke Bu Joni.


“Iya kah ? eh sama ja dengan Mama Sofia tetanggaku. Dia itu ratu gosip.” bisik Bu Joni menimpali


Bu Aswin yang duduk dekat mereka hanya geleng geleng kepala.


“Jadi hadirin sekalian. Jangan kita sibuk beghibah, mencari cari aib orang. Bisa jadi dosa kita lebih banyak dari mereka. Mari kita fokus untuk memperbaiki diri.” lanjut Ustad Hamdran


Bu Joni dan Bu Fawzi manyun. Bu Aswin tersenyum puas. Sukurin. batinnya


“Kayaknya aku masuk yang pertama mih” bisik Anna pada ibunya


“Syukur kalau sadar.” kata mamih sambil senyum. Ibu dan anak itu tertawa geli tanpa suara


Anna memang dipaksa ibunya untuk ikut pengajian dalam rangka menyiapkan bekal untuk menikah.


________________


Readers yang budiman,

__ADS_1


Bagaimana persaingan Stefi dan Anna ? ikuti kelanjutannya


Dukung otor dengan like, komen, dan vote


__ADS_2