CEO TAMPAN MENCARI RESTU

CEO TAMPAN MENCARI RESTU
Bab 15 KAOS ALMAMATER


__ADS_3

Setelah hujan semalaman, cuaca begitu cerah dan udara pagi begitu segar. Anna membuka jendela kamar hotelnya di lantai 5. Hotel Tralala merupakan hotel termewah di Kabupaten X. Sudah jam 7 tapi Anna masih malas untuk mandi. Dia berdiri bersandar pada sisi jendela dan menghadap pemandangan langit yang mulai biru dan cerah.


Nukila mandi lama sekali dengan menggunakan shower gel. Setelah itu masih disemprot parfum mahal pula. Penampilannya sangat istimewa. Rambutnya disanggul kasual. Jepit rambutnya warna bronze dan liontin besar model etnik dengan hiasan batu mulia. Itu semua menyempurnakan keseluruhan penampilannya.


Di ruang makan sudah ada Triana dan Cecen.


“Wow Mbak Nuke cakep bangeeeet” Cecen melihat takjub. Begitu pula dengan Triana.


"Iya dong. Hari ini sangat penting untuk melobi CEO PT. Eka Prakarsa menjadi mitra di Proyek Ini. Kalian tau gak kalau aku sudah ketemu CEOnya dua kali. Pertama enam bulan yang lalu di Bandara Incheon. Aku jatuh dan dia tolong aku. Ya terus ngobrol lah sebentar. Kemudian waktu konsorsium donor ini launching inisiatif Proyek Prospect, kebetulan aku hadir. Nah tau deh kalau target lokasinya salah satunya kabupaten X. So, aku langsung kontak temanku di sana, kalau aku berminat gabung di project mereka.


“Walaaaah jangan jangan kakak gabung ma kita cuma mau ngejar CEO Eka Prakarsa !” kata Triana


“Siapa tau ?” Jawab Nukila genit. Mereka semua tertawa.


___________________***________________________


Nukila dan Bu Dian datang ke kantor lapangan (site - office) PT. Eka Prakarsa ditemani Pak Tomo Kepala Dinas Perijinan dan Penanaman Modal Kab. X. Dia sepupu bupati dan termasuk tangan kanannya bupati.


" Takdir itu memang misteri ya pak. Enam bulan yang lalu kita ketemu di Bandara Incheon loh…dan bapak menyelamatkan saya waktu itu. Masih ingat nggak ?" kata Nukila ceria


“Ehmmm…sorry tampaknya tidak” Jawab Rye kalem. “Anna mana ?” tanya Rye pada Bu Dian sambil mempersilahkan duduk.


“Anna ke kota V untuk wawancara dengan aktifis lingkungan, Yolanda Nona. Jarak ibukotanya kan cuma satu jam dari sini, jadi kami semua tinggal di sini”. Kata Bu Dian. Rye mengangguk sambil lalu.


Mereka diskusi cukup lama. Sampai Rye mempersilahkan mereka melanjutkan diskusinya dengan Direktur Teknis dan Manajer Humas. Setelah beres rapat dengan dua bawahan Rye tersebut, Bu Dian dkk pamitan pada Rye. Rye mengantar mereka sampai parkiran.


“Kalian disini selama seminggu kan ? kalau kalian ada waktu datang saja ke acara company gathering dua hari lagi. Pak Ridzky tolong kirim undangan ke DR Ririn ya.” Rye menoleh ke arah Pak Ridzy. Pak Ridzky mengangguk takjim meng-iyakan.


Nukila senang bukan kepalang. Pak Tomo juga dipersilahkan untuk datang juga. Bu Dian mengucapkan terima kasih. Ketika mereka naik mobil, Nukila berhenti sejenak dan menoleh pada Rye,…" Eh usia kita kan sama-an ya. Gak enak banget manggil bapak. Gimana kalau saya panggil Mas ?"


“Bapak juga gak apa apa” Jawab Rye datar seperti biasa. Glek, Nukila jelas gondok tapi dia mencoba menutupinya dengan tetap ceria. Bu Dian yang sudah duduk di dalam mobil tersenyum mendengar dan melihat hal itu. Dia menutup mulutnya menyembunyikan senyum.

__ADS_1


____________________***_______________________


Anna dan Deni gagal bertemu Yolanda Nona. Menurut stafnya, Nona mendadak harus ke Desa Lambe di Kabupaten W karena ada konflik antara waga dengan perusahaan sawit.


Pesta untuk karyawan lapangan yang saat ini berjumlah 35 orang diselenggarakan sore sampai malam. Para tamu yang mau mandi dan sholat disediakan di guess house dekat villa keci khusus CEO. Para tamu biasanya beberapa orang yang bukan orang perusahaan. Pada kesempatan ini adalah delapan orang tim Prospect plus Pak Tomo, Kadis DPM-PTSP.


Menurut Pak Ridzy, Manajer Humas, Rye orangnya suka ketenangan dan privacynya harus terjaga. Jadi kalau lagi mengunjungi kantor di site/lapangan, dia tinggal di villa kecil dan bertemu orang di ruangan tamu khusus CEO di guess house. Sedangkan mess karyawan jauh dari guess house. Letaknya di gerbang timur menuju lokasi tambang.


Masuk gerbang utama, dua mobil tim Prospect parkir di dekat pagar sebelah kanan. Mereka turun dari mobil dan melihat sebelah kiri gedung perkantoran. Di tengah ada tempat parkir luas dan lebar yang berfungsi juga sebagai lapangan. Sebrang perkantoran ada ruang logistik, klinik, dan ruang satpam yang berjumlah 6 orang. Searah lurus dari gerbang utama, di sebrang lapangan ada bangunan guess-house dua lantai.


Di lapangan yg letaknya di tengah tengah tiga bagunan itu, sudah ada panggung pendek untuk pertunjukkan dan hiburan dari karyawan - oleh karyawan. Beberapa stand makanan dan minuman, termasuk tempat barbeque.


“Pak Rye terima kasih sudah mengundang kami” Bu Ririn menyalami. Beliau kemudian memperkanalkan timnya. Deni agak canggung waktu salaman. Beberapa kali dia membetulkan kacamatanya. Nukila gak mau jauh dari Rye yang berdiri dan ngobrol dengan Bu Ririn. Pak Tomo selaku pejabat ngumpul di situ. Bu Ririn lama lama sabar kalau Nukila nempel dia terus. Beliau menganjurkan Nukila berbaur. Nukila nolak.


Tim Prospect berbaur dengan para karyawan dalam berbagai permainan. Cecen sempat kena hukuman pada suatu permainan dan dihukum nyanyi balonku diganti hurup i kata vocalnya. Cecen sempat belepotan sehingga harus mengulang tiga kali.


Bukan Anna kalau gak slordig (jorok - Bhs Belanda). Ketika lomba masukin bola pingpong pake sendok ke ember kecil, dia malah kepeleset dan nubruk penonton yg lagi bawa es jeruk. Baju bagian dadanya basah kuyup karena si pemilik es jeruk menggunakan gelas plastik besar. Sedotannya nyelip di kemeja Anna tepat pada belahan payudaranya. Orang tertawa ngakak. orang orang terdekat membantu si pemilik minuman dan Anna. Panitia menghentikan dulu permainan.


Anna ditemani Ibu Jum koki yang tinggal di belakang guess house satu paket dengan dapur komplitnya. Farida resepsionis juga ikut mendampingi. Secara Anna adalah tamu. Jadi ini bagian dari sopan santun perusahaan.


Anna memakai daster Bub Jum yang kebesaran. Sementara celana jeansnya tetep dia pakai. Dia minta Farida pergi toh ada Bu Jum yang menemani. Baru saja Anna memasukkan kemeja putih dengan motif garis garis biru ke mesin cuci, Rye datang ke tempat mesin cuci.


“Ayo ikut aku. Kamu bisa ganti pake kaosku. Bu Jum tolong cuci, keringkan dan setrika ya”. Rye memerintah dengan nada seperti biasanya …datar. Anna seperti terhipnotis. Dia nurut aja. Untung BHnya yang basah gak ikut dicuci juga, batinnya.


Rye membawa Anna keluar dari pintu belakang guess house. mereka keluar dari pagar samping. Hanya 100 m dari guess house tampak tembok tinggi mengelilingi sebuah rumah kecil yang hanya tampak atapnya saja dari luar. dibalik tembok tampak berderet rapat pohon cemara yang dirawat rapi. Rye memasukan kode pin pada pintu pagar besi yang dirancang maskulin tapi indah. Taman di kiri kanan jalan setapak yang dia lewati sangat indah. Aneka bonsai menghiasi taman itu. Harganya pasti ratusan juta.


Rumahnya mungil saja. Tapi tentu saja tetap kelihatan indah. Masuk dengan kode elektronik. Begitu masuk belok kiri ruang kerja dengan pintu geser kaca. sebelah kanan sofa besar dengan jendela besar tanpa sekat. sehingga seperti bingkai foto pemandangan taman bagian samping. Lalu lantainya naik seundak. Sejajar dengan area sofa ada satu set meja makan minimalis dengan dua kursi berhadapan, lalu turun satu undak ada pantry. jadi meja makannya tampak menonjol, karena lantainya tinggi sendiri, ditengah, diantara area sofa dan pantry. Sebrangnya ada kamar Rye dengan koridor yang menjadi pemisah dari ruang kerja.


Rye menarik tangan Anna dan masuk ke kamar. Lihat ranjang king size yang empuk itu, Anna ngiler pengen loncat dan tidur di situ. Rye menunjukkan kamarnya. Setelah melewati ranjang dia membuka pintu geser dan tampaklah walk in closet yang meski minimalis tapi tetap keren dan lengkap. di ujung ada pintu lagi yaitu pintu kamar mandi.


“Ok kamu pilih aja ya kaosnya. Klu mau hem tangan pendek tanpa kerah juga ada. Coba cari aja yg gak pake kancing”. Rye kemudian menutup pintu. Anna membuka dasternya. dia merasakan BHnya masih basah. Maka dia membukanya dan pergi ke satu set meja marmer dengan wastafel dan kaca rias seperti di hotel hotel. Dia mengambil hairdryer yg nempel di tembok kiri kaca cermin yg lebar sangat. Sedang dikanannya alat cukur listrik. Anna mengeringkan BH satin hitamnya. Setelah kering dia pakai lagi BHnya itu dan sembarang membawa kaos abu abu tua. Anna begitu penasaran ingin nyobain rebahan di ranjang punya Rye. Bentar aja, batinnya. Anna membuka pintu dan dia tertegun. Rye lagi duduk bersandar di kasur sambil megang hp memandang Anna.

__ADS_1


“Kok kaosnya gak dipa-kai ?” Rye nanya sambil melongo.


“AAAH…!” Anna kaget dan menjerit. Dia langsung balik badan dan masuk lagi ke ruang baju itu. “Oh my God oh my God” terdengar dari balik pintu Anna meratap. Anna memukul mukul jidatnya. Kok bisa bisanya dia nyamber kaos tapi gak dipakai malah nyelonong ke kamar tidur. Mungkin karena kebiasaan di rumah maupun di hotel yg biasa dia tempati, kalau baju itu ada di lemari di dalam kamar, sebelahan dengan kasur. Jadi bukan ada kamar dalam kamar.


Anna keluar dengan muka menunduk karena malu. Dia tidak mau melihat wajah Rye. Dia berusaha menjelaskan. Rye mencegahnya.


“Ya udah lupain aja. Lagian juga aku sudah tau ukurannya. Nomor 36 kan he…he…he” katanya jail. Anna mendelik dan menghentakkan sebelah kakinya tanda kesal. Rye tidak menggubris, dia membuka pintu kamar masih sambil tersenyum lebar.


(Waiiiit …ini barusan si Rye senyum dan jahil ? 😮)


Di lapangan tempat acara...


Anna datang menuju kerumunan penonton, sedangkan Rye bergabung lagi dengan DR. Ririn.


“Selamat datang ! rupanya korban siraman air jeruk telah kembali dengan selamat” MC menyambut Anna yang sudah bergabung dalam kerumunan. " Silahkan naik ke panggung untuk menceritakan kejadian tadi, dan sekaligus menjadi tamu kehormatan untuk membacakan para pemenang dari semua permainan tadi. Bapak Rye dan DR Ririn dan Bapak Tomo kiranya berkenan memberikan hadiah nanti" MC nyerocos penuh semangat.


Para hadirin tepuk tangan menyemangati Anna agar mau tampil ke panggung.


Komplek kantor dan mess PT. Eka Prakarsa punya lampu lampu yang sangat terang. setiap pojok ada tiang panjang dengan lampu seperti di jalan jalan besar. Anna naik ke panggung yang rendah saja, hanya dengan tiga undakan sudah sampai.


Anna berdiri sambil tersenyum menghadap hadirin. Dia menunggu MC yg sedang mengambilkan mike lainnya di pojok panggung. Lima belas orang staf PT. Eka Prakarsa tertegun melihat tulisan kaos Anna dan satu orang dari tim Prospect tampak murka. Kaos itu bertuliskan LONDON BUSINESS SCHOOL


“Bloody hell ! dia memakai kaos punya RYE !” Nukila mengumpat dalam hati dengan tatapan penuh amarah


_______________________


Readers yang budiman,


Apa yang akan dilakukan Nukila selanjutnya ? ikuti episode berikutnya


Jangan lupa like, komen, dan vote

__ADS_1


__ADS_2