
Hari Minggu sore yang cerah. Leo ada di ruang kerja Jeffrey.
“Jadi ini kesuksesan besar, dong. Kamu tidak perlu lagi video rekaman si Rye dan Shannon,” kata Jeffrey sambil menghirup bubuk terlarang ke hidungnya.
“Masihlah. Keluarga Rye, terutama kedua kakak tertuanya, siapa tahu mereka akan meragukan kisah Shannon. Kita tinggal kasih lihat ke mereka. Aktingku bagus, kan? Berteriak dan menjambak rambutku sendiri. Hehehe!” kata Leo memeragakan adegan pura-puranya itu di hadapan Jeffrey.
“Dan aku adalah pemilik klub yang arif dan bijaksana,” tukas Jeffrey.
Keduanya terbahak.
Malam itu di apartemen Leo…
“Jadi tadi sore kamu sudah bertemu Adrian. Bagaimana hasilnya?” tanya Leo penasaran
“Sangat bagus dan tidak. Sangat bagus karena dia dengan mudah mau bertanggung jawab. Tidak bagus, dia mau aku tinggal di penthouse-nya selama hamil dan melahirkan. Dia akan ambil bayi ini,” kata Shannon bingung.
“Lalu apa masalahnya?” tanya Leo belum paham.
“Pertama, aku bilang padanya aku hamil tiga minggu, padahal sudah sembilan minggu. Untung perutku kecil. Kedua, Bagaimana kalau anak itu mirip kamu?” kata Shannon khawatir.
“Ah, kamu ini mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Itu masih lama, nanti kita cari solusinya. Justru yang harus kamu pikirkan adalah bagaimana kamu kasih bagianku?” kata Leo kesal.
“Berapa pun uang saku yang dia berikan padaku akan kusisihkan untukmu. Oh, ya, Adrian akan menggaji seorang asisten pribadi untukku. Apa yang harus kulakukan?” kata Shannon.
“Eh, kamu pikir aku pengemis? Kamu harus memberiku minimal 50 ribu dolar sampai anak itu lahir. Kalau kamu dapat lebih, berarti itu bagianku. Kamu pasti hidup mewah dengan Adrian. Soal anak itu lahir nanti bagaimana, kita masih punya banyak waktu,” kata Leo.
Matanya berbinar penuh keserakahan.
"Ayo, kita rayakan," kata Leo sambil membuka baju Shannon.
_______________________***___________________
Shannon benar-benar menikmati hidup bergelimang harta. Sudah tiga bulan dia tinggal di penthouse Adrian. Oh, begini rasanya jadi horang kayah, pikirnya.
Shannon menolak kehadiran asisten pribadi. Itu berlebihan, alasannya kepada Adrian. Sebagai gantinya, dia minta izin Adrian agar Gwen boleh menemaninya dan menginap di penthouse. Adrian tentu saja mengizinkan. Dia memuji Shannon sebagai perempuan baik dan tidak serakah.
Kehamilan Shannon versi Adrian adalah tiga bulan lebih tiga minggu. Yang tidak dia ketahui, janin yang dikandung Shannon sebetulnya lebih tua dua bulan. Namun Adrian tak terlalu memperhatikan dan tidak memahami sepenuhnya mengenai kehamilan atau besar perut perempuan yang sedang mengndung.
Dia pun jarang bertemu Shannon. Dalam satu bulan, paling-paling hanya delapan harian dia berada di New York. Setiap kali berkunjung ke penthouse, Adrian menyempatkan menyapa dan membacakan cerita untuk bayinya.
Mereka tidur di kamar terpisah. Meskipun Shannon menawarkan diri untuk berhubungan intim, Adrian menolak. Dia trauma dan tak sanggup berhubungan dengan wanita yang tidak dia cintai.
____________________***_____________________
Adrian memutuskan menceritakan tentang Shannon kepada keluarganya, namun Leo menyarankan agar kejadian yang sebenarnya tak perlu disampaikan. Adrian lagi-lagi merasa sangat bersalah kepada Leo. Malu rasanya menerima kebaikan Leo yang sudah dia khianati, meskipun tak secara sengaja.
Keluarga Adrian cukup terkejut, namun senang tatkala mendengar dirinya punya kekasih. Meski begitu, Nyonya Hanidar, ibunya, marah, kenapa putranya tak menikahi Shannon.
“Ma, itu hanya kecelakaan satu malam. Kami tidak saling mencintai. Dia setuju menyerahkan hak asuh bayi itu padaku. Lalu dia akan melanjutkan hidupnya. Mimpinya menjadi seorang desainer. Aku akan memberikan bekal yang cukup untuk dia memulai karirnya.” kata Adrian.
"Ya, sudah. Tidak apa-apa, Ma. Biar bayi itu nanti Rosita yang asuh. Mereka masih muda, 25 tahun. Bagus kamu bertanggung jawab, Rye," kata Rosita seraya mendelik sinis pada Sonny.
“Cece aja yang urus. Kamu sudah urus anak Sonny. Aduh, senangnya ada bayi lagi di rumah,” kata Nancy ceria.
“Mama belum bisa ke Amerika sekarang. Kasus Roby masih belum beres,” kata Nyonya Hanidar dengan wajah murung.
“Nancy dan Rosi saja yang ke sana, Ma.” Nancy menenangkan ibunya.
Satu minggu kemudian…
Shannon sangat gugup mendengar kabar dari Rye, bahwa kedua kakaknya akan berkunjung. Dia langsung melaporkan kabar ini kepada Leo. Leo berkonsultasi dengan Jeffrey.
“Kasih foto USG ketika tiga bulan. Kalau ditanya jenis kelamin, bilang belum tahu. Nanti genap empat bulan baru mau dicek. Oh, ya, kakak perempuannya sudah punya anak?” tanya Jeffrey.
“Ya. Memangnya kenapa?”
“Si Rye mungkin saja tidak tahu bedanya antara hamil tiga bulan dengan lima bulan, tapi kakaknya pasti tahu. Suruh Shannon pakai baju yang bisa menyamarkan kandungannya, jangan baju hamil. Nanti malah terlihat sangat jelas. Syukurlah perutnya tidak terlalu besar.” Jeffrey memberi arahan dan menutup pembicaraan dengan Leo di telepon.
Hari kedatangan Nancy dan Rosita…
__ADS_1
“Oh, senangnya bisa bertemu denganmu. Aku Rosita, kakak kedua Rye dan ini Nancy, kakak ipar tertua Rye.” Rosita memperkenalkan diri kepada Shannon.
Seperti yang sudah diduga, kedua perempuan ini mengecek semua detil kehamilan Shannon. Mereka saling bertukar cerita tentang keluarga Shannon dan keluarga Rye. Setelah satu jam, Rosita mengajak Nancy pamit. Shannon sangat lega. Sebelum pulang, mereka minta pelayan yang sedang bertugas mengambil foto mereka bertiga.
Di sebuah kafe eksklusif di kawasan upper Manhattan…
Nancy dan Rosita menikmati cappuccino mereka.
“Benar kamu, Ros. Dia pasti hamil enam bulanan. Tidak mungkin baru mau empat bulan. Apa bayinya gede banget, ya?” kata Nancy.
Rosita mengambil ponsel dan menelepon.
“Richard, hubungi Goldman & Associates, firma Hukum yang mengurus kepentingan kita di Amerika Serikat dan Kanada. Minta detektif mereka menyelidiki Shannon McKenzie. Detilnya akan kukirim via e-mail nanti, sekaligus fotonya.” Rosita berbicara tegas di telepon.
Nancy mengangguk dan tersenyum puas.
Satu bulan kemudian…
Nancy kembali ke New York dan mengunjungi kantor pengacara Goldman & Associates.
“Ah, senang sekali sebulan ini dengan urusan investigasi Shannon. Saya mungkin terdengar seperti orang aneh, tapi sungguh, setelah kedua anak saya besar, hidup saya sungguh membosankan. Saya hanya pergi ke salon, arisan, dan menghadiri undangan,” katanya riang di hadapan tim pengacaranya.
“Oh, Nyonya, bukan hanya Anda yang bersemangat dengan penyelidikan ini. Kami juga! Hahaha!” kata seorang pengacara senior tertawa, diikuti para kolega juniornya.
“Semua sudah terkonfirmasi, baik soal keluarganya, maupun semua aspek kehidupan sosialnya. Dia pacar lama sahabat Tuan Adrian, Tuan Leo Chung. Ada kemungkinan dia telah hamil sebelum berhubungan dengan Tuan Rye. Anda bisa melakukan tes DNA setelah bayinya lahir. Saat ini kami masih mengawasi gerak-geriknya,” jelas pengacara senior kepada Nancy.
Dia melirik kepada detektif mereka, “Eric, bagaimana hasil pemantauanmu baru-baru ini?”
“Dalam satu bulan ini, dia pergi ke apartemen Leo dua kali, ditemani kawannya, Gwen,” jawabnya.
“Hmmm, menarik,” kata Nancy tersenyum simpul.
____________________***_____________________
Dua setengah bulan setelah kunjungan Nancy dan Rosita…
Rye sedang menikmati sarapan pagi dengan Shannon.
Rye mengangguk-angguk sembari menyesap jus jeruknya.
“Agenda kedua,” lanjut Shannon, “mereka hendak mengumpulkan dana untuk membuat tempat bermain dan penitipan anak. Aku ingin hadir. Aku ingin memberikan sumbangan atas nama anak kita. Ini mungkin kedengaran konyol, tapi aku selalu bermimpi menjadi filantropis.”
“Oh, itu tidak konyol, Shannon. Itu cita-cita yang mulia. Minggu depan aku masih di Indonesia. Kamu saja yang mewakili. Nanti kubuatkan cek,” kata Rye sambil memotong wafelnya.
Shannon bertepuk tangan dan tersenyum gembira. “Thank you. Dokter Jeffrey dan dokter kandunganku juga akan ada di sana. Oh, ya, bukankah Leo sekarang berpacaran dengan sekretarismu, Norma? Kau bisa undang dia? Lebih banyak yang hadir akan lebih bagus, kan?” katanya ceria.
“Okay,” jawab Rye pendek.
Lima hari kemudian…
Rye menelepon Shannon, menanyakan kabarnya.
“Syukurlah, kamu sehat. Kamu hati-hati, ya. Kehamilanmu sudah menginjak usia tujuh bulan. Lusa kamu berangkat dengan Norma saja ke acara amal, diantar sopir. Jadi kamu bertiga dengan Gwen,” kata Rye.
“Apakah nanti pada saat acara kusebutkan nama calon anak kita?” tanya Shannon.
“Hmmm, menurut tradisi Asia itu kurang baik. Bisa mengundang sial. Bilang saja atas nama bayi Rye dan Shan,” katanya.
“Aku suka itu,” kata Shannon. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca. Laki laki bodoh. Kenapa kamu begitu baik. Maafkan aku. Dia membatin.
Di acara amal klinik kesehatan di Brooklyn…
Dr. Jeffrey sedang menerima telepon dari Leo yang sedang berdinas di Hongkong, sekalian pulang kampung.
“Idemu memang brilian, Jeff. Aku salut padamu. Jika semua berjalan sesuai rencana, satu minggu lagi bayi Shannon akan lahir. Tapi kalian bisa paksa besok dia melahirkan, ya,” kata Leo di seberang telepon.
“Itulah, makanya nanti setelah acara, Shannon akan merasa sakit dan siap melahirkan. Kita tunggu satu malam. Besoknya, kami akan keluarkan bayi itu, lewat operasi C-Section jika diperlukan. By the way, siapa yang akan transfer kepada kami bertiga? Oh, ya, itu di luar harga bayi mati yang akan ditukar dengan anakmu, ya,” kata Jeffrey.
“Aku akan membayar kalian dengan emas batangan. Masing-masing senilai 100 ribu dolar. Dengan begitu, tidak akan terlacak hubungan kita bertiga. Untuk biaya bayi, aku akan kasih cek kepada kepala klinik sebagai donasi. So, it’s all good. OK, semoga sukses, ya.” Leo mengakhiri pembicaraan.
__ADS_1
Seusai acara, Shannon yang sedang beristirahat sebelum pulang, sambl minum teh di ruang kerja kepala klinik, tiba-tiba merasa perutnya sakit. Segera dia dibawa ke ruang bersalin. Obat perangsang kontraksi yang diminumnya satu jam lalu ternyata bereaksi cepat.
Dokter kandungan Shannon dan perawat yang mendampinginya sudah menyiapkan diri. Kepala klinik memberi instruksi kepada perawat klinik untuk membantu, hanya jika diperlukan. Dokter Jeffrey ikut membantu persalinan di dalam ruangan.
Pukul sembilan malam, bayi Shannon lahir. Kurus dan lemah. Perawat segera memasukkannya ke dalam inkubator dengan berbagai selang. Pagi-pagi, Shannon akan dipindahkan ke rumah sakit elit di upper Manhattan. Bayinya akan dilaporkan sudah meninggal dan akan diambil di klinik oleh Adrian dalam keadaan sudah dibalsem.
Bayi sesungguhkan yang lahir dari Rahim Shannon akan dikirim ke rumah sakit milik pemerintah dengan fasilitas lebih lengkap. Dia akan dilaporkan sebagai anak telantar.
Perawat selesai membersihkan tubuh Shannon dan mengganti pakaiannya. Selanjutnya Shannon dipindahkan ke ruang pemulihan.
Dokter Jeffrey mengirimkan pesan kepada Adrian kalau bayinya sudah lahir, namun nyawanya tak dapat diselamatkan. Adrian sangat syok. Dia menelepon pengacara grup Erlangga di New York. Bersama Nancy, Adrian berangkat ke New York. Mudah baginya untuk keluar dan masuk The Big Apple sebagai pemegang visa permanent resident.
Pukul sebelas malam, empat pengacara Goldman & Associates mendatangi klinik. Mereka didampingi dua detektif polisi, satu ahli forensik, dan satu dokter obgyn dari Royal Manhattan Hospital.
Mereka berpencar. Dua pengacara langsung mencari kamar Shannon. Sisanya menuju ruang kepala klinik.
Dalam ruangan, sang kepala klinik sedang ngopi bareng dr. Jeffrey dan dr. John. Mereka sedang membahas pembayaran yang akan mereka terima dari Leo. Ketiganya terkejut akan kedatangan pengacara.
“Maaf, kenapa harus membawa ahli forensik dan polisi segala?” sergah kepala klinik.
“Dokter Jeffrey mengirim pesan pada klien kami, bahwa puteranya telah lahir dan meninggal. Beliau ingin memastikan semua berjalan sesuai prosedur,” kata salah seorang pengacara berhati-hati menghadapi kegelisahan kepala klinik..
Dr. John dan dr. Jeffrey saling pandang. Bayi yang sudah dibalsem di ruang Annat sudah meninggal sejak kemarin. Rencana mereka adalah besok pagi mereka akan mendapatkan bayi yang baru meninggal di tempat penampungan imigran gelap. Tentu saja skenario pendukung waktu dan sebab kematian sudah dirancang.
Sementara itu di ruang pemulihan, Shannon sedang menyedot pipet air mineral. Perawat yang dipekerjakan khusus untuk merawatnya sedang merapikan bantal untuk kenyamanan Shannon, ketika pengacara Adrian masuk.
“Selamat malam, Nyonya. Kami pengacara Erlangga Group,” kata salah satu pengacara.
"Oh, cepat sekali kalian datang. Terima kasih," kata Shannon menyambut dengan senyum merekah. Setelah berjuang hidup dan mati untuk mengeluarkan bayinya, dia lupa kalau seharusnya dia bersandiwara sebagai ibu yang berduka.
Satu pengacara duduk di kursi bulat dari besi. Dia menggesernya agar lebih dekat ke ranjang. Rekannya tetap berdiri. Klinik ini hanya punya kamar standar karena diperuntukan untuk masyarakat miskin.
“Nyonya, kami turut berduka cita atas meninggalnya bayi Anda. Anda wanita yang tegar. Semoga Anda bisa segera punya bayi lagi,” katanya bersimpati.
“Oh, bayi saya meninggal? Oh, ya, ya,” kata Shannon gugup.
Duh, aku lupa, mestinya aku bersedih. Tapi kukira mereka baru akan kemari besok pagi. Kenapa mereka datang cepat sekali? Shannon membatin.
“Bayi Ny. Erlangga tidak meninggal. Dia kritis, tapi masih hidup. Siapa yang bilang dia meninggal?” sanggah perawat tiba-tiba dengan nada sewot.
Dua pengacara itu saling pandang.
“Maaf, bisakah saya melihat bayinya? Biar rekan saya tetap di sini bersama Ny. Shannon,” kata pengacara yang tetap berdiri.
Perawat mengangguk dan memandu pengacara itu ke ruang bayi, di mana anak Shannon berada dalam inkubator.
Tak lama kemudian, dua mobil polisi datang. Rupanya ketiga dokter telah ditangkap. Dokter forensik membawa bayi yang sudah dibalsem ke laboratorium kriminal kepolisian. Satu polisi berjaga di kamar Shannon. Detektif memasang police line di kantor kepala klinik.
Para detektif itu hanya perlu sepuluh menit untuk mendapatkan surat perintah penggeledahan dan penangkapan. Apalagi ada firma Hukum Goldman & Associates yang terlibat di dalam kasus ini yang mewakili korban, Adrian Erlangga.
Shannon menangis histeris. Dia sangat takut kalau harus masuk penjara. Shannon dan para dokter ditangkap atas tuduhan penipuan dan penggelapan status anak, sehingga masuk kategori penelantaran anak.
Adrian tiba di Amerika keesokan harinya bersama Nancy. Dia langsung menuju ruang bayi. Pengacara, perawat, dan polisi yang berjaga menyambutnya.
Nancy dan Adrian memandangi bayi kurus itu dengan mata berkaca-kaca.
“Kondisinya kritis, Tuan. Dia lahir dalam keadaan menyandu obat psikotropika. Rupanya selama hamil, ibunya sering mengonsumsi mariyuana. Dia juga khawatir Tuan akan melakukan tes DNA, sehingga bayi ini akan ditukar dengan bayi yang sudah meninggal. Tapi dia sudah mengakui kalau bayi itu putra Tuan Leo,” kata pengacara.
“Bagaimana dengan Leo?” tanya Adrian.
“Dia akan ditangkap begitu mendarat di New York,” kata polisi.
Adrian mengangguk dan berpaling pada bayi lemah di inkubator.
“Bagaimana nasib anak ini?” tanyanya.
“Negara akan mengambilnya,” kata pengacara.
“Ajukan petisi kepada pengadilan agar aku bisa menjadi wali hukumnya sampai dia dewasa,” kata Adrian, masih memandangi bayi itu.
__ADS_1
“Anda sudah punya nama untuk didaftarkan?” tanya pengacara.
“Ya. Kevin,” jawab Adrian, tersenyum.