
Mamih sekeluarga datang menjelang makan siang. Mereka disambut di kediaman Ny. Henidar Sahar Erlangga. Keluarga inti Rye menyambut mereka dengan ramah. Mamih sangat gugup. Dia tidak menyangka keluarga Rye akan hadir lengkap.
“Selamat datang Bu Rosidah atau saya panggil Bu Rosi ?.” kata Ny. Hani sambil membuka lebar kedua tangannya untuk memeluk mamih.
“Boleh Ros atau Rosi bu.” kata mamih menyambut pelukan Ny. Hani
“Ini Hendra, anak sulung saya dan istrinya Nancy. Anaknya Peter pegang kantor perwakilan di Amerika dan ini anak keduanya Andre kuliah di UI. Nah ini Rosita yang mau ultah sore nanti he…he…putri kedua saya. Suaminya lagi di Tokyo sekarang. Ini Jocylin, si anak mahal nih. Ros harus nunggu 7 tahun baru dapat dia. Naah ini Sonny, putra ketiga. Anak anaknya ikut ibunya. Mudah mudahan Bu Ros gak nonton infotainment.” kata Ny. Hani sambil senyum tapi geleng geleng kepala.
" Mas Sonny suami artis ya ?." kata mamih ragu ragu sambil tersipu
Semua orang anggota keluarga Erlangga tertawa.
" Iyaa mantan bu. Artis sinetron, Frisila Gorin." kata Sonny menjabat tangan mamih sambil ikut tertawa.
" Dan ini Felicia, putri saya yang ke 4. Dia dokter bedah. Baik hati tapi mahal senyum. Ini anak kelima saya Roby dan istrinya Diana. Anak anaknya lagi main di belakang. Kalau Rye gak usah saya kenalkan kan ?." kata Ny. Hani dengan jenaka
Kini giliran mamih yang memperkenalkan anak-anaknya.
“Ini Derri anak kedua saya kuliah semester 6. Dan Rangga SMA kelas 2. Kalau Anna sudah kenal kan ?.” kata mamih masih tampak grogi.
Semua tertawa. Betapa kontras, keluarga Rye begitu panjang perkenalannya. Sedangkan mamih begitu singkat.
“Rangga, Joy itu gamer handal loh. Kamu bisa main sama dia.” kata Rye sambil merangkul Joy (panggilan untuk jocylin) dan didekatkan pada Rangga.
Rangga dan Joy langsung sumringah dan mata mereka berbinar. Mereka langsung akrab. Joy mengajak Rangga ke kamarnya untuk main game. Rye tersenyum sambil geleng geleng kepala.
Derri tampak asyik ngobrol dengan Andre. Sonny dan Roby gak mau jauh dari Anna. Mamih ngobrol dengan Ny. Hani, Hendra dan istri, serta Rosita. Rye gabung dengan para sesepuh untuk menghormati mertuanya. Feli ngobrol dengan Diana.
Mereka makan siang di ruang makan tamu yang luas dan mewah. Anak anak Roby dan anak angkat Rosita makan di tempat makan dekat ruang bermain dan kolam renang. Ny. Hani lupa tidak menyebutkan cucunya semua karena terlalu banyak.
Setelah makan siang mereka menyepakati, pernikahan Rye dan Anna akan dilangsungkan bulan depan. Pernikahan yang praktis begitu Rye dan Anna bilang.
Jam 2 siang, mereka sudah berangkat ke Hotel Palmira.
Rosita sudah pesan dua kamar VIP. Satu untuk Rangga dan Joy yang akan melanjutkan pertandingan gamenya. Satu kamar lagi untuk Derri dan Andre yang akan nonton siaran langsung pertandingan Motor GP Monte Carlo di TV kabel. Bayar full day hanya untuk beberapa jam. Dasar horang kayah.
_____________________***_____________________
Acara coctail party diselenggarakan pada jam 4 sore. Rosita Marlina Erlangga berulang tahun yang ke 52 tahun. Dia dua tahun lebih tua dari mamih yang baru berusia 50 tahun. Acara diselenggarakan di Hotel Palmira.
Hotel termahal di Jakarta milik pangeran dari Saudi Arabia. Di hotel ini disediakan helipad di atas gedung hotel. Tepat dibawah atap ada satu lantai yang menghubungkan pintu menuju helipad. Di lantai itu ada lift, ruang pusat kontrol dan keamanan, logistik, laundry, dan kamar staf berupa barak.
Ruang pesta itu dengan konsep garden party di lantai 29. Richard Oeng mengucapkan selamat ulang tahun pada istrinya dari Tokyo. Wajahnya terpampang di layar besar.
Mamih tampak minder tapi dia coba tutupi sebisa mungkin. Ny. Hani dan Nancy bergantian menemani mamih. Rosita juga sesekali menyapa. Mereka keluarga yang baik dan ramah.
“Eh Bu Ros ternyata nama panggilan kita itu sama ya he…he…he…” kata Rosita waktu menghampiri mamih dan Ny. Hani
Mereka bertiga tertawa
" Iya yang satu Rosidah dan satunya lagi Rosita ha…ha…ha…panggil aja dia Ce Ros dan dinda jadi Bu Ros. Aman sudah." kata Ny. Hani memberi solusi
Hati mamih berbunga bunga. Seumur hidup baru kali ini dipanggil Dinda. Mereka orang super kaya tapi orangnya asyik dan gak pamer. Beda banget sama Bu Agus.
Stefi datang dengan Ibunya. Stefi dan ibunya mengucapkan selamat pada Rosita. Kemudian berbaur dengan para tamu. Stefi menghampiri Rye yang sedang memperkenalkan Anna pada koleganya.
“Hai Anna dan Rye. Sorry saya harus pinjam Rye nih. Rye, itu Dirjen ESDM ada disini. Tau kan kita sudah nunggu sebulan untuk ketemu dia.” kata Stefi menunjuk pada seorang pria tinggi kurus.
“Annabbisa temenin Pak Erik dan istrinya sebentar ?.” kata Rye dan kemudian pamit pada koleganya.
Pak Erik tidak lama ngobrol dengan Anna. Dia dan istrinya pamit untuk berbaur dengan yang lain. Sonny segera menghampiri Anna begitu melihatnya sendirian
“Kamu kalau mau jadi presenter TV atau pegang prime time di saluran berita, bilang aja. Aku baru beli stasiun TV Nusantara Media.” kata Sonny sangat ramah
__ADS_1
“Waah makasih Kak. Tapi panggilan jiwaku di LSM he…he …he.” kata Anna santai
" Eeh tapi sayang itu kulit putih mulus. Nanti kalau sering kelapangan nanti dekil loh." kata Sonny jenaka
“Di LSM kami, dekil itu lambang integritas. Semakin dekil, maka semakin tinggi integritas kita.” kata Anna jenaka
Sonny tertawa terbahak bahak
" Aku terlambat bertemu denganmu. Sayang sekali." kata Sonny menatap penuh penyesalan
Anna merasa jengah. Dia minta izin mau gabung dengan Feli yang tampak sendirian.
" Kemana cece Diana ?." kata Anna
" Tadi sih menemui Roby di pojok sana. Sekarang gak tau kemana." kata Feli sambil celingukan.
Anna ngobrol dengan Feli sambil mengamati Stefi yang dengan lincah tapi tetap anggun mendampingi Rye bertemu orang orang penting bagi PT. Eka Prakarsa. Stefi lahir dan besar di lingkaran yang sama dengan Rye. Dia adalah bagian dari komunitas ini. Sedangkan Anna orang asing yang masih menyesuaikan diri. Anna merasa tidak berguna.
Sementara itu, Ny. Lala Hanusa melihat mamih akhirnya sendirian. Nancy sedang bergegas menuju Roby yang konkow dengan beberapa tamu seusianya di pojokan.
“Hallo selamat malam. Saya Lala, ibunya Stefi kawan dekat Adrian sejak kecil.” kata Ny. Lala melebih lebihkan.
" Oh saya Rosidah. Saya ibunya Anna, tunangan nak Rye." kata mamih dengan ramah
" Coba lihat itu anak saya yang sedang memfasilitasi Rye dengan beberapa orang penting. Di lingkaran kami, jumlahnya tidak banyak. Orang bilang kami kelompok 1% dari total jumlah rakyak Indonesia. Jika kami tidak saling menguatkan kami bisa tersingkir dan jadi orang kebanyakan. Itu coba lihat di sana !. Itu Pak Priambodo dan istrinya. Dia terpaksa merger karena menantunya cuma pegawai pemda biasa. Terus dari keluarga sederhana. Ya tentu saja kekuatan perusahaannya tidak bertambah. Malah berkurang." kata Ny. Lala penuh kesombongan
Mamih hanya mengangguk ngangguk saja. Hatinya ciut. Dia hanya janda dari kepala kantor PLN level kabupaten dan sudah meninggal pula. Apakah dia dan anaknya hanya akan jadi beban untuk kemajuan bisnis Adrian (Rye) ? begitu hatinya berkata. Dia senang sekali ketika Nancy bergabung kembali. Ny. Lala ngobrol dengan Nancy.
Anna pergi menuju toilet. Di pojok taman dekat koridor menuju toilet, Anna melihat punggung Diana turun naik. Diana menghadap ke Balkon.
" Cece…Ce Diana ?. Cece kenapa menangis ?." tanya Anna sambil mengelus punggung Diana
" Oh Anna. Gpp. Saya mau flu kayaknya. Biasa suka berair mata dan hidung." kata Diana kaget
Anna tau Diana berbohong. Tapi dia tidak berani memaksa. Dia pamit ke toilet
" Yakin itu anak Adrian ? bukannya dia meninggal ketika lahir ?..iya aku tau. Kan waktu kak Ros minta tes DNA, pake lawyer dari kantor kakakku. Nah kakakku yang pergi ke Amrik." kata Stefi pelan di telepon. Tapi namanya di toilet, suara cukup jelas terdengar.
Stefi bergegas ke luar ketika ada orang masuk. Anna keluar dari kubik toilet. Dia membersihkan tangan. Dia memandang wajahnya di kaca.
Siapa sebenarnya dirimu Bou Bei ? kenapa kamu gak pernah cerita padaku ?. batin Anna
Acara tiup lilin diawali dengan ucapan doa yang dipimpin biksu khong hu cu. Acara berakhir jam 6 sore setelah acara menyanyi dan menari dari para tamu.
Mamih sempat menyayangkan aneka kue dan buah yang masih berlimpah. Dia iseng menghitung ada 11 jenis macam kue mulai dari mini sandwich sampai mini pie buah dan kue tradisional. Ada empek empek mini yang siap makan gak usah dipotongin lagi. Lima jenis minuman. Duuuh coba klu pestanya di rumah. Kan bisa dibungkusin buat dibawa pulang para tamu. Hal itu seperti kebiasaan di lingkungannya.
____________________***______________________
Rye mengantar mamih sekeluarga sampai helipad. Dia mencoba mengecup pipi Anna ketika tidak ada yang melihat. Anna melengos. Rye agak kecewa tapi dia mengerti. Mungkin Anna takut dilihat keluarganya.
Di pesawat heli, mamih dan Anna tidak banyak bicara. Mereka tenggelam dalam pikirannya masing masing.
Hanya perlu waktu 40 menit dari Jakarta ke bandara udara Kota P dengan helikopter. Gak usah macet ke bandara, check ini, boarding dll. Mereka turun di hanggar dan berganti naik Alphard menuju rumah.
Tiga hari kemudian…
Mamih memutuskan jalan ke ujung blok rumahnya menuju tukang sayur. Kalau nunggu lewat depan rumah akan
kelamaan.
Mamih melihat ibu ibu sudah bergerombol mengelilingi roda sayur Bang Mudes.
“Oh iya kah ? ih dasar playboy. Itu si Agnes Monira kan umurnya paling baru 19 tahunan ya ?” kata Mama Alya.
__ADS_1
" Bukan. Dia baru 18 tahun. Sama dengan anak saya, si Desi. Kan bulan lalu dia merayakan ultah diliput infotainmen." kata Mama Desi.
" Aduuh enaknya jadi orang tajir melintir. Bisa dapat anak gadis orang biar sudah bangkotan ha…ha…ha…" Bang Mudes ikut menimpali.
Ibu ibu itu tampak canggung ketika melihat mamih.
" Mama Anna. Itu Sonny Erlangga kan sodara calon mantu panjenengan tho ?." tanya Bu Handoko yang umurnya sudah 60 tahun lebih.
“Oh iya bu.” jawab mamih agak malu
Selang dua hari berita tentang keluarga Erlangga menjadi trending topik di berbagai saluran infotainmen. Penyanyi pendatang baru, Agnes Monira menggugat Sonny agar bertanggungjawab atas kehamilannya. Berita itu belum reda muncul berita penangkapan Roby karena sedang pesta sabu di sebuah hotel di Jakarta.
Derri merasa kasihan pada ibunya. Di mall, di jalan dan di Mesjid, ibunya terus ditanya tanyai soal keluarga Erlangga. Sepulangnya dari pengajian, mamih menangis karena gak kuat mendengar sindiran sindiran pedas grup keong racun.
“Kita itu ya ibu ibu, jangan terlalu silau dengan harta sampai anak gadis kita jadi tumbalnya. Ingat akhlak juga penting.” kata Bu Agus pada ibu ibu pengajian yang lain.
Grup keong racun yang lain tentu saja jadi backing vocal yang gak kalah pedasnya.
Derri menyesal. Seandainya dia waktu hajatan Bu Agus tidak menyuruh Rye memperkenalkan diri di panggung, tentu keluarganya saat ini akan tetap tentram.
_____________________***______________________
Anna menahan diri untuk tidak bertanya pada Rye saat mereka video call. Hari Sabtu siang Rye baru tiba di Kota P. Paginya dia harus main golf dengan beberapa pejabat dan kolega. Anna minta ketemu di Penhouse.
Rye begitu girang melihat Anna di depan pintu. Dia langsung memeluk Anna setelah menutup pintu. Bibirnya sudah nyosor ke seluruh muka. Anna mendorong Rye ketika bibir si oppa sudah di leher.
“Kenapa qin ?.” tanya Rye dengan napas memburu
" Aku belum juga duduk, sudah nyosor aja." kata Anna ketus
Rye tentu bete. Dia heran kenapa Anna jutek gitu. Padahal ini bukan yang pertama kali. Tapi seperti biasa, Rye gak protes. Dia mengikuti Anna menuju sofa.
" Kamu lagi bad mood yang ?." tanya Rye sambil duduk dekat Anna
“Bou Bei apakah kamu pernah punya anak dari hubunganmu di masa lalu ?” kata Anna. Dia tidak menggubris pertanyaan Rye
“Tidak.” jawab Rye mantap
Anna kaget dengan respon Rye yang cepat dan tegas. Dia pikir, Rye akan kaget atau gugup. Anna bimbang apakah dia harus mengkonfrontir Rye soal pembicaraan Stefi di telepon yang dia dengar. Anna memutuskan tidak melakukannya. Dia tidak mau memberi ruang bagi Stefi dalam hubungan dia dengan Rye.
" Seminggu ini mamih cukup stress dengan pemberitaan Kak Sonny dan Kak Roby. Dia banyak ditanyain tetangga." kata Anna mengalihkan isu.
Raut wajah Rye langsung berubah. Rahangnya seperti mengeras. Dia jelas menahan marah.
" Heuh…tampaknya aku harus menjelaskan tentang keluargaku. Aku tidak bermaksud berbohong. Hanya saja waktunya begitu pendek untuk menjelaskan semuanya. Aku tentu harus memprioritaskan mendapat restu dari mamih dibandingkan yang lain." kata Rye sambil menatap Anna
“Jadi sejak papa meninggal, dua orang itu bandelnya makin menjadi jadi. Mulai dari bolos sekolah, pesta pesta yang berakhir ricuh dan banyak lagi deh. Nah Ko Sonny itu memang playboy. Umur 40 tahun sudah 3x menikah. Dua anak dari dua istri, ikut ibunya. Tapi dia juga punya dua anak dari selingkuhan yang berbeda. Keduanya diadopsi Ce Rosita. Si Ko Roby suka judi dan narkoba. Ce Diana itu istri kedua. Anak sulungnya itu, si Vania dari istri pertama. Untung Ce Diana itu baik mau menyayangi Vani seperti pada kedua anaknya.” lanjut Rye dengan wajah prihatin
“Aku tidak keberatan kalau Bou Bei punya anak dari hubungan terdahulu. Asal jangan masih berhubungan dengan ibunya.” kata Anna dengan tulus
Rye tertegun takjub mendengar pernyataan Anna.
“Kamu perempuan yang luar bisa. Aku sangat beruntung.” kata Rye
Rye menyesap bibir Anna penuh cinta. Anna meresponnya. Bibir itu seperti candu bagi keduanya. Semua emosi Anna yang tertahan seperti tersalurkan. Mereka berhenti ketika mulai kehabisan napas.
“Oh ya kita diundang ulang tahun oleh kolega nanti malem. Hampir saja lupa.” kata Rye.
Anna mengangguk. Merekapun melanjutkan ritual dari pinggang ke atas.
__________________
Readers yang budiman,
__ADS_1
Terima kasih masih setia
Terus dukung yaaaa