
Mamih menyimpan mangkok cilok berselimut saos kacang di atas meja makan. Di sana juga sudah ada bakwan sayuran, cireng dan batagor. Makanan ini untuk menyambut kepulangan Derri dari RS.
Anna datang bergabung dengan keluarganya di meja makan. Dia minta perhatian pada ibu dan adik adiknya karena ada pengumuman.
“Apaaa ? PUTUS ?” kata Derri berteriak
“Kamu nangis nangis pengen sama dia sekarang kok malah putus ?.” kata mamih
“Apa gara gara kasus Om Sonny ?.” kata Rangga
Catatan sodara sodara: Rangga memanggil semua kakak dan ipar Rye sebagai om dan tante. Dia mengikuti Joy yang jadi “sekutunya” di virtual game. Lagian mereka sudah pada tua bahkan ada yang lebih tua dari mamih hehehe.
Anna menjelaskan bahwa kejadian pada keluarganya tidak mau terulang. Derri dan Rangga menganggap hal itu tidak adil buat Rye. Tapi mamih mengerti.
" Ya udah kalau itu sudah jadi keputusanmu. Cuma mamih pesan jangan sampai kalian bermusuhan. Kalau jodoh mah gak akan kemana." kata mamih.
Sebelum tidur, Derri video call dengan Rye.
“Bro sorry banget kalian harus putus. Emang gak bisa dipertahanin ?.” kata Derri
“Kakak sudah memohon mohon de. Tapi kakakmu tetep mau putus.” kata Rye dengan mata berkaca kaca, " kakak juga minta maap ya. Keluarga kalian harus menderita karena kena imbas kasus Roby dan Sonny." kata Rye
Derri begitu terenyuh melihat pria tampan yang kalem dan berwibawa itu tampak rapuh. Mereka ngobrol beberapa saat dan kemudian berpamitan.
Derri berbaring sambil memandangi langit langit kamar. Dia bertekad akan mempersatukan kembali Rye dan Anna.
_____________________***____________________
Riska sudah mulai konseling dengan dr. Farid. Hari ini adalah konseling kedua. HP harus silent dan disimpan di tas saat konseling.
“Bagaimana perasaan Mbak Riska saat ini ? apakah sudah mengambil keputusan ?.” kata dr. Farid
dr. Lisna dan dr. Farid tidak mengorek siapa nama pacar Riska. Mereka membiarkan Riska berterus terang sendiri. Hal ini sebuah pertanda bahwa pacar Riska orang yang dikenal oleh lingkaran Hijau Lestari dan bahkan kedua dokter ini.
“Saya masih mempertimbangkan dok. Saya sedang mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan harapan ke dia dok.” kata Riska
" Apa yang membuatmu sulit menyampaikan harapan ?." kata dr. Ridwan
“Dia tidak pernah bertanya dan saya takut dia marah kalau saya bicara.” kata Riska menunduk
“Apakah Mbak Riska menyayangi diri sendiri ?.” kata dr. Farid
“Iya tentu saja dok. Tapi gak ada yang menyayangi saya.” kata Riska
“Apakah mbak Riska mau belajar menyayangi diri sendiri ?.” kata dr. Farid
Riska mengangguk
"Saya akan buat sesi lanjutan dengan dr. Lisna untuk minggu depan ya. " kata dr. Farid
Riska mengecek pesan di WAnya. Ada beberapa pesan. Tapi ada satu pesan yang sangat menarik perhatiannya. Pesan dari Adnan. Sudah tiga minggu Adnan tidak menyuruhnya datang. Pertama karena Riska di lapangan. Kedua, Riska dirawat di RS dan konseling satu minggu ini. Kamu sudah sembuh ?, begitu bunyi pesannya. Riska membacanya beberapa kali. Hatinya berbunga bunga. Apakah Adnan sekarang mulai perhatian…,batinnya.
Riska sampai di rumah kontrakan Adnan. Adnan membuka pintu. Wajahnya masam. Ini bukan hal baru buat Riska. Adnan menyuruh Riska membuka baju. Adnan langsung menggarapnya tanpa pemanasan. Itupun hal biasa buat Riska. Sebuah WA yang menanyakan apakah dia sembuh atau tidak, ternyata hanya untuk keperluannya saja. Sadarlah Riska…
____________________***_____________________
Rye berpikir keras bagaimana dia bisa membawa kembali Anna ke pelukannya. Dia ingat kata kata Anna bahwa mereka bisa makan atau ngeteh bareng sebagai teman. Sebuah ide melintas di benaknya. Diapun tersenyum lebar dengan mata berbinar binar.
“Hallo Pak Ben. Saya kebetulan sedang di Kota P. Apakah kita bisa bertemu ?.” kata Rye
“Oh tentu. Bagaimana kalau jam 4 sore ?.” kata Pak Ben di sebrang sana
Jam 4 sore di Cafe Lovely, Hotel Andromeda.
“Terima kasih Pak Ben sudah bersedia menemui saya sore ini. To the poin saja ya pak. Mulai saat ini saya berkantor di Kota P tepatnya di hotel ini. Ini memudahkan saya ke berbagai tempat. Saya ingin perusahaan saya menjadi panutan atau role model untuk bisnis yang ramah lingkungan, dan responsif gender. Saya ingin menambah dana CSR kami untuk pengembangan SOP dan panduan program.” kata Rye. Lalu dia berhenti sejenak untuk minum teh.
“Saya sangat memuji kecerdasan Anna dalam mengusulkan kerangka program ini di awal. So, saya ingin anda menugaskan dia untuk 6 bulan ke depan. Dia langsung bekerja dengan saya. Saya akan memberi tambahan dana agar Anda bisa merekrut staf tambahan untuk riset dan kebijakan. Dengan demikian, Anna bisa fokus bekerjasama dengan saya. Bagaimana apakah Anda setuju ?.” kata Rye panjang lebar
“Well Anda sudah menjelaskan panjang lebar. Saya hanya bisa katakan…okay !.” kata Pak Ben sambi tertawa
Rye sangat senang dan diapun ikut tertawa. Mereka sepakat detail kontrak akan dibahas oleh staf manajerial dari kedua belah pihak
#Hari Senin di kantor PT. Eka Prakarsa
Rapat staf cukup tegang. Stefani meradang ketika mendengar rencana Rye pindah kantor ke Kota P. Rye hanya sesekali akan ke site sesuai kebutuhan. Rye mengangkat Thomas, Manajer HRD sebagai general manager atau GM. Manajer HRD diganti oleh Fredy Mangat, putra daerah. Dia direkrut dari perusahaan cabang Erlangga Group di Kalimantan Timur.
“Saya kira apa yang dilakukan Pak Rye sebagai CEO atau Presdir adalah hal yang wajar. Banyak perusahaan lain yang kantornya juga di ibukota provinsi. Perusahaan kita sangat baik membuka dua kantor.” kata Bu Efrensia, Manajer Logistik.
“Tapi Anna kenapa harus kerja di kantor pusat dengan Presdir ?. Dia kan harusnya bekerja di bawah saya, divisi CSR.” kata Stefi protes
“Cukup Bu Stefi !. Anda sudah melewati batas. Tadi Pak Rye sudah menjelaskan bahwa pekerjaan Mbak Anna itu untuk internal system perusahaan. Dia tidak harus ke lapangan. Biaya dan waktu yang dikeluarkan menjadi lebih efisien. Terlepas dari itu, Presdir sudah membuat keputusan. Tugas Anda menerima dan menjalankan.” kata Fredy menegur Stefi.
“Cukup cukup. Stefi saya tidak akan mengulang penjelasan saya. Mari kita lanjut pada agenda rapat berikutnya.” kata Rye kalem
__ADS_1
#Hari yang sama di kantor LSM Hijau Lestari
Adnan dan Jamilah sedang rapat dengan Pak Ben
“Kenapa Anna harus berkantor di kantor Presdir ? menurut saya itu aneh. Dia berkantor di sini aja.” kata Adnan
“Saya tidak melihat ada masalah dengan itu. Dia berkantor disana untuk efisiensi waktu dalam membahas dan mendapat persetujuan untuk hasil kerjanya.” kata Pak Ben dingin
“Kalau tidak ada yang lain, pastikan kontrak sudah ditandatangani minggu ini.” lanjut Pak Ben
_____________________***_____________________
Anna datang ke penhouse Rye dengan wajah cemberut. Rye membuka pintu dengan wajah sumringah
“Ini modus kamu aja kan mas ? masa CEO ngurusin bikin SOP. Itu mah kerjaan manajer !.” kata Anna nyolot
“Ini datang bukannya ramah tamah. Kok malah sewot. Terserah aku dong. Aku yang punya perusahaan.” kata Rye kalem
"Ya udah terserah. Kita mau mulai dari mana ? kata Anna mendengus
“Dari sini.” kata Rye sambil menunjuk meja makan yang penuh dengan hidangan aneka buah potong, pie apel, aneka roti mini yang menggugah selera, dan risoles kornet keju.
“Bou Bei !.” kata Anna jengkel
“Iya sayang ?.” kata Rye sumringah
Anna makin jengkel. Dia beranjak dan berjalan menuju pintu. Rye bergegas mengejarnya. Dia menyalip Anna dan berdiri menghalangi pintu. Mereka saling berpandangan. Anna membuang muka
“Kamu tidak senang ketemu aku ?.” tanya Rye
“Bukan gitu. Tapi ayolah … masa kamu mau mengacaukan pekerjaanmu hanya agar ketemu aku ?.” kata Anna dengan tatapan prihatin
“So what. Aku akan membalikkan dunia jika aku mampu. So, aku akan bersamamu sepanjang waktu. Terus tidak ada yang mengganggu kita.” kata Rye dengan tatapan sejuta makna
Oh jangan tatapan itu ! please God ! batin Anna
Anna membuang muka, lalu menunduk
“Hei…jangan sedih dong. Kok menunduk ?.” kata Rye sambil mengangkat dagu Anna dengan jempol dan telunjuknya.
Anna melepaskan kedua jari Rye dari dagunya. Dia memegangnya beberapa saat. Rye diam saja. Anna melepaskan pegangannya, lalu memeluk pria idamannya itu. Rye seneng banget.
“Kita harus bicara. Serius !.” kata Anna sambil melepas pelukannya.
“Kalau kita mau ketemu urusan kerjaan, kita harus profesional. Ayo kita buat peraturan. Pertama, Jangan panggil aku sayang !.” kata Anna tegas
“Lah kamu panggil aku Bou Bai. Itu artinya kan sayang.” kata Rye menahan senyum
Anna terdiam. Mukanya merona seperti tomat mau mateng. Rye tersenyum penuh kemenangan.
Anna mencoba bangkit dari rasa malunya dan mulai mengajukan peraturan.
“Sorry…aku gak akan mengulanginya. Kita kerja di meeting hub bukan di penhouse. Jam kerjaku sama seperti jam kantor biasa. Aku kerja di kantorku kalau kamu keluar kota. Ini tidak bisa ditawar tawar !.” kata Anna tegas
“Ini yang bos siapa sih ? kok kamu yang bikin aturan. Gak bisa ditawar pula ?!.” kata Rye pura pura kesal. Padahal hatinya geli.
“Take it or leave it” kata Anna tak bergeming
“Iya iya…” kata Rye mengalah
“Jadi pembagian kerjanya gimana ?.” kata Anna senang
“Kamu kerja, aku ngawasin.” kata Rye sambil beranjak mengambil dua gelas jus
“Kok gitu ?.” kata Anna protes
“Tugasmu membuat SOP dan guidelines. Tugasku mereview pekerjaanmu, memberi persetujuan, dan menyuruh bagian keuangan bayar. Cukup jelas ?.” kata Rye sambil memberikan jus apel untuk Anna.
Anna sedikit jengah. Dia lupa soal posisi profesional mereka.
Anna bekerja di kantor Rye sudah satu minggu. Dia kagum pada komitmen Rye untuk bekerja profesional. Daniel berkantor dengan mereka. Sekertaris Rye datang dua kali dalam seminggu untuk tandatangan dokumen.
Rye berangkat ke site hanya satu hari itupun dia berangkat sore dan kembali ke kota P pagi. Jadi dia tetap bertemu Anna. Dia sibuk bekerja mulai dari telepon bisnis sampai dengan teleconference di ruang meeting hub sebelah. Dia benar benar tidak mau kehilangan Anna dari pandangannya.
#Minggu kedua mereka bekerjasama
“Pak ini draft SOP sudah saya buat. Saya barusan print di business center. Daniel sedang beli laser jet yang baru. Dia mungkin kembali nanti sore. Tadi bapak sedang telepon, jadi Daniel titip pesan pada saya.” kata Anna
“Kenapa kamu panggil aku bapak terus. Lagian kita cuma berdua. Kamu sedang marah ?.” kata Rye tidak senang
"Aku gak marah. Cuma aku harus melatih diriku memanggil bapak. Jangan seperti minggu lalu, waktu kamu ke kantorku. Aku belepotan salah manggil terus. Aku malu banget diketawain temen temen dan Pak Ben.
Rye tersenyum mengenang kejadian Anna kikuk salah manggil dia Pap dan Mas.
__ADS_1
“Ya udah. Tapi mulai sekarang kita makan di Penhouse ya. Kamu lihat sendiri, kalau kita makan di restoran, banyak orang menyapa dan mengundang ketemu. Please…” kata Rye memelas
Anna setuju dan merekapun pesan makan di Penhouse. Anna rebahan dulu di kursi sebelum sholat dzuhur. Rye memandanginya
“Kenapa ngelihatin terus ?” kata Anna masih rebahan
“I miss you” kata Rye dengan tatapan penuh rindu
“Kita ketemu setiap hari kok rindu.” kata Anna sambil tersenyum. Dalam hati, dia tau apa yang Rye maksud.
Rye diam saja. Dia terus menatap Anna. Anna merasa sedih melihat tatapan sendu itu. Dia juga merindukannya. Annapun memilih menghindar. Dia pamit mau sholat.
#Minggu ketiga
Rye senang sekali karena Daniel sedang kunjungan lapangan ke Kab. X. Dia mendampingi orang kementrian dan Kadis ESDM provinsi. Jadi tiga hari ke depan, dia bisa berduaan dengan Anna.
Anna berhasil menyelesaikan revisi SOP. Rye memang profesional sejati. Dia memberikan catatan dan permintaan klarifikasi disetiap lembar dokumen SOP itu. Catatan berupa masukan dan koreksi sangatlah jelas, dan detail. Anna makin kagum padanya. Dia memang CEO yang berkualias. batinnya.
Di lift menuju penhouse
“Wah asik hari ini kita makan empal gentong. Tawaran chef sangat pas dengan yang diinginkan. Kamu gimana Pak ?.” kata Anna bersemangat
“Kok kamu masih panggil aku pak.” kata Rye kesal
Rye mempersilahkan Anna keluar duluan dari lift. Mereka masuk penhouse menuju meja makan.
Di meja makan..
“Bapak mau makan peyek bayam ?.” tanya Anna sambil mengambil peyek bayam di toples untuk kedua kalinya.
Rye diam saja. Dia makan sedikit. Dia beranjak menuju ruang kerja. Anna tidak menghabiskan makannya. Dia buru buru minum dan berjalan cepat mengejar Rye.
“Kenapa sih ? kok diem aja ? marah ?.” kata Anna sambil menarik tangan Rye.
Rye berhenti dan berbalik pada Anna
“Kamu memang benar benar ingin putus denganku ya ? Manggil bapak terus.” kata Rye kesal
" Ya mau gimana lagi. Kita harus move on kan. Coba kalau kamu punya pacar baru. Aku masih panggil kamu Bou Bei. Kan repot" kata Anna
“Kalau aku sih gak berniat cari pacar baru. Kamu yang putusin aku. Jadi kamu yang mungkin sudah punya pacar baru? aku lebih baik mati saja.” kata Rye sudah mulai marah
Anna tidak menjawab. Dia mulai kesal dengan tingkah Rye yang menurutnya kekanakan.
“Iya aku mau cari pacar baru. Silahkan kalau kamu mau mati.” kata Anna sewot
Rye terdiam. Wajahnya menampakkan betapa dia terluka.
“Ok. Silahkan kamu kembali ke tempat kerjamu. Mulai besok silahkan kerja di kantormu saja.” kata Rye dingin dan diapun berlalu menuju kamarnya.
Anna menutup mukanya dengan kedua tangan dan mendesah. Dia merasa menyesal dengan kata katanya.
Anna masuk ke kamar Rye yang tidak dikunci. Rye sedang menuju walk in closet. Dia ingin cuci muka agar lebih segar dan meredakan amarah.
“Bou Bei aku minta maap. Aku keterlaluan bicara seperti itu.” kata Anna mengikuti Rye.
Rye tidak menggubris. Dia masuk ke walk in closet. Anna memeluknya dari belakang.
“Maapin aku. Kamu boleh menghukumku tapi jangan hukuman fisik.” kata Anna
Rye menghela napas. Kemarahannya langsung berkurang 70%. Dia juga geli dengan pernyataan Anna.
“Terus hukuman apa yang pantas kalau fisik gak boleh ?” tanya Rye. Dia membiarkan Anna tetap memeluknya dari belakang.
“Ya kamu bisa potong gajiku. Nanti kusetor berapa gitu tiap gajian. Terus aku gak usah dikasih makan dan snack. Minumpun gak usah.” kata Anna mau nangis
Rye menahan diri untuk tidak tertawa. Marahnya sudah hilang 100%. Dia melepaskan tangan Anna dan berbalik. Dia pasang muka marah. Anna memandangnya dengan takut.
“Kamu melukai hatiku begitu dalam. Cuma itu hukumannya ?.” kata Rye menggertakkan gigi
“Te-rus ka-mu maunya apa ?.” kata Anna takut
“Bagaimana kalau ini.” kata Rye sambil menyesap bibir Anna dalam dan basah. Dia melepaskannya
“Fisik yang gini boleh ?.” tanya Rye dengan tatapan tajam
Anna mengangguk. Rye menarik tangan Anna dan menidurkannya di ranjang. Anna menerima hukumannya dengan patuh. Sesekali dia lebih agresif.
________________
Readers budiman,
Kalau begini ceritanya jadinya teman tapi mesra ya. Ikuti apa yang terjadi selanjutnya
__ADS_1
Dukung otor dengan like, komen, dan vote