
Anna bingung mau pake baju apa ke ulang tahun kolega Rye. Akhirnya dia putuskan pake baju andalan yaitu sutra taffeta.
Rye sedang konkow di meja makan dengan Rangga dan Derri. Ada semangkok besar cilok dalam balutan bumbu kacang yang banyak dan menggoda.
“Ayo ko ayooo nambah lagi.” kata Derri dengan mulut penuh.
Rye menuruti. Ciloknya memang enak banget dan tidak pedas. Rye takjub kok bisa makanan dari kanji pake lemak sapi di dalamnya, bisa menciptakan cita rasa luar biasa ketika dipadukan dengan sambal kacang.
Lemak di dalam cilok yg Rye makan muncrat. Rupanya lemaknya mencair. Rye kaget dan bumbu kacang muncrat ke baju. Dia jadi gugup.
“Ha…ha…ha…Kak Rye sudah ketularan teteh. Jorse !” kata Rangga sambil memberikan Tissu pada Rye.
____________________***____________________
Anna dan Rye mampir dulu ke Hotel Andromeda untuk ganti kemeja yang kena noda cilok.
“Bei kok ultah di diskotik sih ? aku belum pernah ke situ. Nanti pada mabuk dan narkoba lagi.” kata Anna
“Itu diskotik katanya punya reputasi terbaik di kota ini. Nah pemiliknya itu istri yang ultah. Jadi suami istri memang pengusaha. Daaaaan…kalau pestanya tidak cocok dengan kita, ya habis salaman terus pulang.” kata Rye dengan senyum manis
“Bou Bei sering ke diskotik ?.” tanya Anna
" Ehmmm…sudah lama tidak. Mungkin 6 tahun lalu aku ke diskotik. Kenapa ?" tanya Rye mengelus pipi Anna. Anna menurunkan tangan Rye dan memberi kode dengan matamya kalau ada sopir di depan. Rye ngeyel. Dia malah mau nyosor. Anna menutup mulut Rye dengan telapak tangannya.
Sesampainya di lobby hotel Rye bertemu GM dan bertukar sapa. Dari arah kiri Anna melihat manager VVIV. Mereka saling melambaikan tangan.
" Aduh mbak makasih banget. Hotel murah hati banget ngasih hadiah baju ini untuk saya." kata Anna
" Oh itu bukan dari kami. Saya cuma ketitipan. Ituu yang ngasihnya." kata si manajer sambil menunjuk ke arah Rye.
" Serius mbak ? kok gak bilang sih." kata Anna terkejut
" Habis Pak Adrian mintanya begitu. Nah klu sekarang udah jadian. Saya kasih tau biar Mbak Anna makin sayang sama beliau he…he…he." kata si manajer
Anna tersipu sipu. Gak dibeliin baju juga saya sudah cinta mati mbak. batin Anna
Di penhouse…
Anna mengikuti Rye ke walk in closet.
“Mau bantuin ganti kemeja ?.” kata Rye sambil membuka bajunya yang kotor. Pemandangan tubuh sexy dengan perut six pack, sungguh terdengar klise. Tapi itulah mahakarya dari Tuhan.
Anna tidak menjawab. Dia mendekat dan membantu mengancingkan baju sang kekasih. Baru juga satu kancing Rye sudah mencium pipi kirinya. Anna agak kaget. Dia melihat sekilas dengan wajah merona. Lalu dia fokus lagi pada baju yang mau di kancing. Rye mencium pipi kanannya dan mau mulai ke leher.
“Bou Bei diem dong. Ini bajunya gak selesai selesai dikancing.” kata Anna setengah geli
Rye mendorong Anna ke tembok. Dia meneruskan misinya di leher Anna.
" Bou Bei hentikan. Nanti kita terlambat !". kata Anna menjerit kecil.
“Memangnya upacara bendera, kalau telat disetrap.” kata Rye menghentikan misinya sebentar.
____________________***_____________________
Dalam perjalanan menuju pesta ulang tahun…
“Bou Bei kok ngasih aku baju gak bilang bilang. Terus momennya itu kok pas banget. Padahal kamu kan gak hadir di pesta itu. Kok bisa tau ?.” tanya Anna penasaran.
" Pertama, aku kan belum pacaran sama kamu. Masih secret admirer he…he…he. Kedua, Pak Ridzki hadir di acara itu. Dia lihat kejadian kamu kesiram minuman milik tamu. Jadi dia telepon aku." kata Rye sambil menatap lekat Anna. Setiap menit cintanya terus bertambah pada Anna.
“Kok Pak Ridzy telepon kamu ?.” tanya Anna makin penasaran
" Yah namanya orang tua. Dia mungkin lihat kalau aku naksir kamu he…he…he. Pak Ridzy itu umurnya sudah 60 tahun. Dia kepercayaan Ko Hendra dan membantu aku membangun perusahaan di sini. Dia juga biang kerok kenapa aku disebut Pak Rye di Kalimantan ini he…he…he." jawab Rye panjang lebar
“Oh itu gara gara Pak Ridzy jadi dipanggil Rye. Kata mama kan itu nama panggilan kamu karena kamu bungsu ya pap ?. Heuh aku jadi ikutan panggil Pak Rye. Sementara Stefi panggil kamu Adrian.” kata Anna merajuk
“So what ? ratusan orang panggil aku Adrian atau Adi. Cuma satu orang yang panggil aku Bou Bei.” kata Rye sambil menarik Anna ke pelukannya dan mencium pucuk kepalanya.
“Emang siapa ?.” tanya Anna sambil mendongak
__ADS_1
“Monyet.” jawab Rye kesal
Anna memukul dada Rye. Dia gak terima dibilang monyet. ( salah sendiri oon 😅).
Pak Salim yang lagi nyetir ikut senyum.
“I love you Bou Bei.” bisik Anna kembali ke pelukan Rye.
“I love you too a million times.” bisik Rye dan mencium kembali pucuk kepala Anna.
_____________________***____________________
Diskotik itu sangat luas dan mewah. Acara sudah dimulai. Yansen Jagau, pengusaha Dayak tulen baru saja siap siap akan meniup lilin.
Rye dan Anna disalami beberapa orang. Stefi ternyata datang dengan sekertarisnya, Jonatan Sembiring. Mereka menyalami Rye juga.
Setelah acara tiup lilin, ada lima perwakilan tamu yang diundang untuk menyanyi atas permintaan yang ulang tahun. Setelah itu acara menari atau disko.
“Penyanyi ketiga adalah perempuan cantik dan multi talenta. Saya meminta Nona Stefani Hanusa menyanyikan sebuah lagu untuk saya.” kata Pak Yansen dengan semangat
Hadirin termasuk istri Pak Yansen bertepuk tangan meriah. Stefani maju ke tengah lantai disko. Para tamu membuat lingkaran. Stefi menghadap Pak Yansen dan mulai menyanyikan lagu karena cinta.
Suara Stefi sangat bagus. Para hadirin terpukau termasuk Rye.
“Waaah bagus banget suaranya qin. Keren ya ?” kata Rye sambil melihat sekilas ke Anna. Matanya tertuju lagi ke Stefi sambil tepuk tangan
“Biasa aja.” kata Anna datar
“Bagus lagi. Kayak Joy Tobing.” kata Rye. Dia gak peka kalau Anna kesal
“Ya udah kamu pacarin aja dia !.” kata Anna sewot
Rye tidak mendengar karena gemuruh tepuk tangan dari para hadirin termasuk dirinya.
Anna semakin kesal. Dua lagu terakhir telah selesai. DJ mengumumkan acara puncaknya yaitu menari atau disko. Anna tidak tau kalau acara pesta disko itu seperti pesta dansa, tuan rumah atau yang punya pesta akan turun memulai tarian dan kemudian dipertengahan, diikuti oleh para tamu yang lain. Tapi meskipun tau, dia sepertinya tidak akan peduli.
Anna membungkuk hormat pada Rye. Lalu satu kakinya menyapu lantai dengan gemulai. Sebelah tangannya menyisir rambut dengan lima jari dan menyibakkan rambutnya sambil bergoyang pelan. Sungguh elegan tapi sexy. Para hadirin bertepuk tangan. Mulut Rye menganga. Anna mendekat sambil menari. Badannya menempel pada badan Rye. Para hadirin bersorak. Rye sontak tersadar. Dia gak terima kekasihnya jadi bahan tontonan orang orang. Dia langsung menarik tangan Anna dan keluar dari tengah arena. DJ melihat hal itu. Dia langsung mempercepat tempo musik dan mengajak semua hadirin turun. Hadirin bersorak.
“Bou Bei stop !.” kata Anna yang akhirnya berhasil melepaskan tangan dari genggaman Rye. Napasnya ngos ngosan.
“Kamu apa apaan sih ? seneng jadi tontonan orang ?.” kata Rye sewot
" Oh kamu gak terima ? terus kamu pikir aku seneng hah lihat pacarku berbinar binar tepuk tangan buat saingannya ?." balas Anna gak kalah sewot.
“Kamu ngomong apa sih ? aku cuma tepuk tangan !. sementara kamu jadi tontonan orang !.” kata Rye nyaris berteriak
Anna terdiam sesaat. Tapi dia gak mau mengalah. Dia super kesal.
" Aku pulang ! sana kamu berpesta dengan Stefi !" kata Anna setengah berlari menuju pintu luar
" Annaaa ." panggil Rye sambil mengejar.
Seorang petugas keamanan menghampiri mereka. Sementara petugas keamanan lainnya melihat dari pintu.
" Maap mas dan mbak. Ada yang bisa kami bantu ?" kata si petugas. Itu langkah pertama dari SOP untuk melerai orang yang mau bikin keributan di diskotik.
“Tidak. Saya mau pulang.” kata Anna Pendek dan berjalan menuju pintu.
Rye memberi tanda pada si petugas dengan tangannya kalau semua baik baik saja.
Di luar diskotik
Rye menelepon sopir untuk menjemput mereka di depan pintu utama. Dia meraih tangan Anna.
“Anna tolong jangan kekanakan begini. Please stop !.” kata Rye sambil menarik tangan Anna agar berhenti.
Anna berhenti. Dia sambil jalan bingung juga mau pulang bagaimana. Di Kota P gak ada taksi mangkal. Hanya ada taksi online. Diskotik ini ada di kawasan jalan protokol dan elit. Jadi gak ada pangkalan ojek tradisional.
Mereka saling diam selama di dalam mobil. Kali ini Rye tidak mau mengalah. Anna keterlaluan pikirnya. Maka dia memilih cooling down dulu. Tapi meskipun sedang marah, Rye memang laki laki sejati. Dia turun dari mobil dan menemani Anna masuk rumah.
__ADS_1
Mamih sudah nunggu sambil nonton film seri India. Anna langsung masuk kamar. Rye bertukar sapa dan pamitan pada mamih.
Malam itu baik Anna maupun Rye tidak bisa tidur. Rye menelepon Manager on Duty malam itu, untuk menyiapkan mobil sedan sewaan dan sudah siap jam 6 pagi. Dia mau nyetir sendirian.
______________________***_____________________
Rye sudah tiba di rumah Anna jam 6.30 pagi. Dia menggunakan kaos polo putih dan celana olahraga hitam.
“Masuk masuk. Aduh Anna masih tidur kayaknya. Kebiasaan kalau libur habis sholat suka tidur lagi. Sejak pulang dari Belanda, dia jadi malas olah raga.” kata mamih heboh.
"Anna…Annaaa bangun. Aduuh nih anak dibangunin malah narik selimut. Itu nak Adi datang.’ kata mamih sambil mengguncang pantat Anna yang tidur meringkuk.
Rye yang duduk di ruang tamu tertawa mendengar mamih yang gagal membangunkan Anna
“Gak apa apa mih. Boleh saya saja yang bangunin ?.” kata Rye sambil melongok dari pintu kamar Anna yang terbuka setengah.
“Oh boleh boleh. Biar malu dia. Mamih pergi ke pasar dulu ya. Persediaan di dapur sudah habis bisss.” kata mamih sambil keluar dari kamar.
Rye nganter mamih sampai garasi dan melambaikan tangan sampai mobil mamih berlalu. Dia masuk lagi ke rumah. Masuk kamar Anna dan menguncinya. Dia tidur di samping Anna dan memeluknya dari belakang.
Anna yang sebenarnya sudah bangun merasa kaget dengan tindakan Rye.
Gile nih cowok. Berani meluk di sarang macan. batin Anna
Diapun melepaskan tangan Rye dan bangun. Rye diam saja dan tetap tiduran. Dia memandang Anna sambil tersenyum. Anna cemberut dan pergi ke kamar mandi. Dia cuci muka dan sikat gigi.
Anna keluar kamar masih pakai piyama diikuti Rye. Mereka duduk berhadapan di ruang tamu.
“Kita baikan ya. Marahnya jangan lama lama.” kata Rye
Anna diam saja.
“Anna please.” kata Rye memohon
“Aku mau kamu pecat Stefi. Aku gak tahan kalau ada dia disekitarmu. Katakan aku egois. Terserah. Tapi kita pasti bertengkar kalau ada dia.” kata Anna dingin
“Okay. Aku tentu akan dituntut ke pengadilan karena pemecatan semena - mena. Tapi gak apa apa. Kamu tau kan alasan atas permintaan pacar itu, tidak bisa diterima sebagai dasar pemecatan. Itu termasuk pelanggaran pada hak pekerja yang dilindungi hukum.” kata Rye
Anna terdiam. Cemburu membuatnya menjadi wanita yang picik.
“Tapi gak adil dong kalau cuma kamu yang punya syarat. Aku juga minta kamu keluar kerja atau kamu tetap kerja tapi lapor sama aku ketika kamu ngobrol, apalagi harus jalan dengan rekan pria. Terutama si ulat bulu, Adnan.” lanjut Rye datar
Anna melotot
“Enak aja. Itu melanggar hak asasi aku dong !. Lagian aku gak gatel dan naksir cowok lain !.” kata Anna sewot
“Tapi Adnan naksir kamu bahkan sampai sekarang, meskipun sudah diputuskan. Aku bisa lihat tatapannya. Ingat kamu pernah naksir dia. Sedangkan aku TIDAK PERNAH naksir Stefi.” kata Rye kesal
“Tapi kamu suka sama dia. Dia lebih baik dari aku. Dia sempurna !. Kamu lebih sering ketemu dia daripada aku. Cuma nunggu waktu kamu akan jadian sama dia. Itu mah hukum universal.” kata Anna. Tangisnya mulai pecah
“Ya jangan kasih alasan aku jauh dari kamu. Sikapmu yang cemburu buta itu yang bikin kita bertengkar dan jauh. Bukan dia atau orang lain.” kata Rye kesal
Anna menangis. Kedua kakinya diangkat ke kursi. Dia membenamkan mukanya di paha dan memeluk kedua lututnya.
Rye menghela napas. Kesedihan Anna adalah kelemahannya. Dia duduk berlutut di depan Anna
“Aku tidak akan berhenti bersikap baik pada orang yang baik dan profesional. Siapapun itu. Aku juga tidak akan berhenti memberi apresiasi pada talenta orang lain. Siapapun itu. Kalau berhenti melakukan semua itu untuk menyenangkan kamu. Berarti aku hanya akan jadi boneka atau robot. Kamu yakin akan bahagia ? karena aku pasti tidak bahagia.” kata Rye lembut dan dalam
Rye membuka pelukan tangan Anna dari kedua lututnya. Anna menurut. Dia menurun kan kakinya. Dia melepaskan pegangan tangan Rye dan mengusap air matanya yang terus berderai. Dia menunduk dan terus sesegukan.
“Jadi keputusanmu bagaimana ? kita baikan atau tidak ?.” kata Rye sambil meraih kedua tangan Anna.
Anna mengangguk
" Kamu pulang aja dulu. Nanti orang rumah ribut kalau lihat aku sembab. Aku mau mandi dan tiduran di kamar sampai mataku gak bengkak." kata Anna.
Rye setuju. Anna mengantar Rye sampai teras rumah. Rye mengecup bibir Anna beberapa kali. Anna mengangguk sebagai tanda dia gak marah. Rye melambaikan tangan sambil menutup pagar dan berlalu menuju mobilnya.
Bersambung .....
__ADS_1