CEO TAMPAN MENCARI RESTU

CEO TAMPAN MENCARI RESTU
Bab 18 AKSI PENYELAMATAN


__ADS_3

Langkah Yolanda Nona terhenti ketika Pak Danu salah satu tim peneliti dari BPPT mengaduh. Dia terjatuh memegangi pergelangan kakinya. Rupanya dia terkilir.


Perjalanan keluar hutan menuju biara masih panjang. Tim peneliti yang pada umumnya sudah di atas 40 tahun sudah kepayahan. Dua hari mereka masih berkutat di hutan melarikan diri dari para penjahat yang ingin menculik. Yolanda Nona menarik napas dalam. " kita harus membuat tongkat dan tandu" katanya.


___________________***________________________


Helikopter milik Rye itu jenis Bell 505 dengan kapasitas 4 orang. Sedangkan Helikopter yang digunakan Kementrian Luar Negeri (Kemenlu) jenis Sikorsky S-76C memiliki kapasitas 7 penumpang. Hesty dan Haya melesat ke helikopter milik Rye dan langsung membuka pintu kabin penumpang sambil berisik penuh keceriaan. Rye melongo saja. Dia mengalihkan pandangannya pada Anna, Bu Dian, dan Nukila, yang tertawa sambil berjalan santai. Rye pasrah dan diapun naik ke kursi penumpang disamping pilot. Bu Dian dkk naik pesawat Kemenlu dikawal Sersan Edwin.


Dua pesawat helikopter itu mendarat di lapangan yang luas. 300 meter di samping sudah bertengger pesawat logistik yang sudah datang kemarin. Kepala tim bantuan dan kepala desa menyambut. Kondisi Desa Tumbang Tora yang merupakan desa terjauh memang memprihatinkan.


Transportasi darat harus melewati hutan selama dua jam dengan mobil. Lalu sepertiga jalannya lagi, harus dengan motor atau jalan kaki.


Hampir semua rumah rusak dan sebagian tertimbun longsong. Bidan desa memberitahukan bahwa dua perempuan hamil tua harus segera dievakuasi ke puskesmas atau RS. Begitu pula dengan dua wanita hamil muda lainnya yang kondisinya sedang sakit. Dua pasien lansia dalam keadaan kritis.


Pesawat Herkules mengangkut ibu ibu dan anak anaknya yg masih kecil, serta lansia yang sehat. Sedangkan 4 wanita hamil ditemani bidan desa naik helikopter kemenlu dan dua pasien lansia ditemani aparat desa naik helikopter milik Rye.


Desa Tora memiliki penduduk sebanyak 140 kk. Tenda telah dipasang di belakang kantor desa. Dua tenda dipasang berdampingan. Satu tenda berisi Bu Dian dan Nukila. Sedangkan tenda satunya diisi oleh Anna, Hesty, dan Haya. Enam meter di sebrang terpasang dua tenda yang diisi oleh Rye dan Sersan Edwin. Di tengah tengah ada api unggun di kelilingi 5 kursi lipat.


Hesty yang tidur di sebelah kiri begitu bersemangat menceritakan pengetahuannya tentang Rye yg dia dapat dari internet. Haya dan Anna mendengarkan dengan semangat.


“Tau gak ternyata Pak Rye itu anak bungsu dari Klan Liem Raharja. Kata Forbes Asia, mereka termasuk orang terkaya Indonesia nomer 14 ! . Cuma berita soal Pak Rye dikit banget. Yang ngetop kan Sonny dan Bobby Raharja. Hadeuuh tau gitu gua ngelamar kerja di Eka Prakarsa bukan KSK. Mana lokasinya lebih jauh lagi huh.” Hesty menggosok gosok mukanya dengan kapas pembersih


“Ha…ha…ha…betul Kak. Jauh jauh dari Cirebon demi mengejar Dokter Ferry…” Haya tertawa meledek


“Shut up ! shut up !” Hesty menendang paha Haya dengan ujung kakinya. Haya sibuk menghindar sambil cekikikan


“Ayolah kaaak cerita…” Anna penasaran. Haya langsung nimbrung. Hesty pasrah sambil mencibir


“Jadi gini May ceritanya. Si Kak Hesty ngelamar ke perusahaan kami yang jauh di pedalaman Kabupaten W, karena si kakak tergila gila dengan Dokter Ferry. Dulu mereka satu kantor di Jakarta. Dia rebutan sama Mbak Inez akunting di kantor. Dokter Ferry orangnya supel jadi nih dua cewek merasa punya harapan…tapi akhirnya Dokter Ferry akhirnya memilih Bambang ! ha…ha…ha…”


“Dia ternyata gay” Hesty menambahkan dengan senyum ironis


Anna masih memandang atap tenda. Dia tidur di sebelah kanan dan Haya di tengah. Semua teman ceweknya termasuk teman setendanya saat ini begitu terkagum kagum pada Rye. Ok dia memang tampan tapi…dia lembut… baik…kalem… selalu menolong pada saat dibutuhkan…Anna menghela napas dalam…


Rye ternyata tidak sekedar pria manis seperti pemain badminton. Dia pria yang …jantan. Ada desiran halus di dada Anna. Anna mengelus ngelus sebelah lehernya, dengan tangan kanannya. Badannya menggeliat terasa bergairah.


____________________***_______________________


Anna membantu beberapa pekerja yang sedang membangun rumah anti gempa. Anna kepayahan ngangkut sejumlah kayu untuk jendela. Nungguin antrian troli yang cuma dua kelamaan. Anna merasakan ada orang yang ngambil sebagian kayu itu, shingga dia bisa melihat jalan di depannya.


“Semangatmu memang luas biasa. Tapi kalau gak bisa lihat jalan, kamu bisa jadi pasien berikutnya he…he…he…” Rye berjalan disampingnya sambil memangku kayu

__ADS_1


"Thanks " kata Anna sambil tertawa


Pak Kades lari tergopoh gopoh memberitahukan tim relawan bahwa 5 kk sudah kena kolera. 3 relawan kesehatan ditemukan di rumah mess mereka dalam keadaan demam tinggi. Rye dkk berkumpul membahas itu. Mereka bingung karena tidak ada sinyal jaringan komunikasi di tempat ini. Sementara helikopter akan datang menjemput dua hari lagi termasuk satu truk angkut milik TNI. Sersan Edwin berkata, dia akan pulang ke biara siang itu juga. Dia minta satu orang desa sebagai penunjuk jalan agar cepat.


Rye memutuskan untuk ikut agar dia juga bisa mengatur personel dan logistik pendukung dari dana pribadinya. Ternyata para cewek keren itu ingin ikut juga. Sersan Edwin keberatan. Dia khawatir perjalanan lebih lambat karena harus menjaga mereka. Anna meyakinkan kalau dia jago trekking. Bu Dian ternyata sabuk coklat Muang Thai. Nukila sudah mengarungi semua medan di dunia ini. Hesty bilang kalau dia jago berenang. Haya menangis kencang…dia tidak punya keahlian khusus tapi dia orang yg kuat jalan. Dia berjanji tidak akan merepotkan. Dia memohon jangan ditinggal di desa sendirian.


___________________***_______________________


Tak terasa rombongan sudah menempuh 2 km ke dalam hutan. Mereka istirahat dulu. Tiba tiba datang dua orang laki laki yang satu membawa senapan angin dan satu lagi bawa parang. Mereka berteriak memanggil kawannya. Edwin berteriak meminta tim kembali ke desa.


Edwin melawan 2 orang. Bu Dian yang jago muangthai gak bisa tinggal diam. Dia dan Nukila menghadapi 2 orang. Rye dan Anna saling membelakangi menghadapi 3 orang. Musuh fokus menghadap Edwin, Rye, Bu Dian, Anna, dan Nukila. Hesty, Haya, dan Pak Gayo sang penunjuk jalan diam diam berlari ke kanan hutan yang menanjak. Mereka memotong tali rambat dari pohon beringin seperti yang di film Tarzan itu. Pak Gayo dengan gesit mengajarkan mereka membuat perangkap. Lalu perangkap itu dilemparkan pada 3 orang musuh yang berdekatan.


Kesempatan itu digunakan Edwin dkk untuk mengikat mereka. “Stooop” Hesty berteriak agar sisa penjahat menyerah karena 3 temannya sudah tertangkap. Tim kawan dan lawan sama sama berhenti dan menoleh.


Kesempatan itu digunakan Nukila untuk memukul kepala musuh dengan penggorengan teflon.


“Aaaaaw…curaaaang ! Kan dibilang stop, kok mukul sih ?” teriak si musuh


“Berisik !” teriak Nukila sambil mengayunkan lagi teflonnya. Si musuh langsung melindungi kepalanya. Satu orang musuh yang bermaksud membantu kawannya berhenti …


Nukila tersenyum dan menggerakkan alisnya sambil bertanya, “mau ?” …Si musuh menggeleng dan langsung ngacir.


Mereka akhirnya sepakat dibawa ke luar hutan bersama mereka. 7 lawan 7. jadi satu orang bawa satu. Edwin dan Rye bawa dua orang penjahat. Bu Dian diminta mengawasi dan membawa senapan angin yang dirampas dari si penjahat. Sedangkan senjata lainnya sudah diamankan oleh masing masing anggota tim. Haya yang mungil bertanggungjawab mengecek spot sinyal.


Penjahat yang dipentung kepalanya pakai teflon oleh Nukila protes. Dia gak mau dikawal Nukila. Dia mau sama Anna aja. (aaish penjahat baper wkkk…wkkk)


“Lo kate ini demokrasi !” semprot Nukila. Semua orang tertawa melihat si penjahat yang manyun sambil mendelik pada Nukila.


Setelah pertempuran sengit cukup menguras tenaga. Tim kawan memutuskan untuk beistirahat lagi setelah 300 m berjalan. Ketika Edwin sedang pipis dan Rye mengikat tawanannya di pohon.Salah satu tawanan yang dipegang Anna berhasil meloloskan diri.


Sebabnya, Pak Gayo tiba tiba menjerit karena ada bunglon kepeleset dari pohon dan hinggap di mukanya. Tali pengikat gembala musuh terlepas dan dia lari meloncat loncat ngeri dan akhirnya jatuh menindih tawanannya. Anna spontan melepas tali gembala tawanannya, dan membantu Pak Gayo bangun. Semua orang fokus pada Pak Gayo. Maka larilah si tawanan itu.


Anna berteriak dan langsung lari mengejar tawanannya yang kabur. Bu Dian mengikuti sambil menembakkan senapan angin. Mereka terus mengejar entah sejauh mana. Malang nasib mereka, tergelincir ke lubang yang dalam setinggi orang dewasa. Merekapun pingsan.


Ketika mereka siuman, dua tangan mengulurkan tangan. Tenyata dua tentara timnya Kapten Arnold.


Rye terengah engah dan bertumpu pada lututnya. Dia melepaskan tangan Anna dari si penolongnya.


Sebelumnya …


Tim Kapten Arnold mendengar bunyi tembakan Bu Dian. Maka Arnold menghentikan pasukannya dan mencari asal suara. Penjahat yang dikejar sudah di tangkap. Edwin dkk serta penjahat tawanan mereka, sudah dijemput di tengah tengah perjalanan mereka.

__ADS_1


Mereka sampai jam 10 malam di Biara. Di sana Yolanda Nona dan tim peneliti sudah masuk ruang perawatan. Para penjahat sudah diringkus dan dibawa kopasus pakai jalur laut yg datang dari Kab. Z.


_____________________***_____________________


Anna senang sekali ketemu Yolanda Nona. Dia dehidrasi dan kecapaian ngurus tim peneliti dalam pelarian mereka. Sehingga dia pingsan. Untung tim penyelamat menemukan mereka. Sisa tim peneliti lainnya sudah ditemukan dan ikut ke Biara. Sementara penjahat dibawa kopasus lewat laut.


Dalam dua hari akan diadakan pesta syukuran kembalinya tim peneliti dari hutan. Warga desa dan pengurus biara tidak diberitahu yang sebenarnya. Rye sebagai pihak yang banyak berjasa diminta tinggal. Rye tentu bersedia.


Sejak pagi tim relawan sudah sibuk menyiapkan pesta syukuran. Ini juga pesta perpisahan untuk tim peneliti yg akan kembali ke ibukota provinsi bersama pasukan khusus Australia. Beberapa pejabat Pemda Kabupaten W termasuk bupati akan hadir pada pesta malam hari nanti. Tim relawan sempat kaget karena Wakil Bupati Kab. Z hadir ditemani ajudan dan beberapa pejabat. Mereka datang dengan helikopter berkapasitas 7 orang.


Sisi sisi lapangan sudah penuh dengan lampu hias warna warni. Tiga buah genset sudah dikeluarkan. Menyanyi, menari dan pertunjukkan sulap menjadikan suasana sangat meriah. Begitu banyak orang memenuhi lapangang.


Anna yang bertugas mengurus listrik dan lampu melihat beberapa ruas lampu sudah mulai bermasalah. Dia mengajak Dino ke gudang logistik yang ada di belakang biara. Jaraknya sekitar 100 meter dari lapangan tanpa harus belok karena gudang di belakang biara.


Gudang itu bangunan tua seperti biara. gedungnya memanjang. Setengah tembok dan atasnya papan. Hanya bagian belakang yg tembok semua. Pintu hanya satu di ujung kanan. Jendeka kecil dua dari kayu yg dipasang sejajar kepala orang dewasa. Anna agak serem juga makanya ngajak Dino. Masuk ke dalam ada lantai kosong sekitar dua meter dari ruang yg disekat sekat untuk nyimpan logistik. Ketika Anna dan Dino keluar dari ruang paling ujung dengan membawa beberapa lampu disko dan dua lampu ukuran besar yang disebut senter duduk. diameter lampu sekitar 30 cm. Dino mengendongnya dengan sebelah tangan. Baru saja menutup pintu ruangan tsb, terdengar suara laki laki dan perempuan dan membuka pintu gudang. Suaranya memburu penuh napsu.


“Jangan khawatir. Pengawalku akan jaga di pintu. Klu ada yg macam macam, dia akan dibungkam” kata si laki laki masuk ke gudang sambil menciumi si perempuan.


Dino dan Anna saling pandang. Mereka panik. Akhirnya Dino menarik pintu ruang sempit untuk penyimpanan sapu dan alat kebersihan. pintu itu 2/3 kayu dan sisanya kaca. Dari luar hanya tampak separuh wajah mereka. Jaraknya hanya 5 meter dari meja tempat siarang langsung itu terjadi. Anna dan Dino terbelalak ketika melihat wajah mereka ternyata … Nukila dan Prayogo !. Ya betul ! dia Wakil Bupati Kab. Z.


Mereka membuka membuka baju masing dengan tergesa gesa. Setelah lepas semua Anna hampir menjerit. Dia menutup mulutnya. Dino tak sanggup melihat. Dalam hati dia berdo’a: “Tuhan beri kekuatan agar tidak tergoda. Semoga para tentara itu datang. Aamiin…” Anna juga memejamkan mata dan berkata dalam hatinya: “Tuhan kenapa nasibku kok jadi penonton terus…kapan saya jadi pemain ? kapaaan ?”


Anna membuka lagi matanya, dia penasaran pengen lihat tontonan langka.


“Waaah si mbak nuke gunungnya ternyata gede banget ya. Klu pake baju gak terlalu kelihatan. …WOW itu ulekan apa batang ? kok gede amat ya ?” Anna heboh bisik bisik sama Dino. Anna melirik ke Dino yg sedang menutup mata dan telinga.


“Terus mereka ngapain ?” bisik Dino dgn tetap menutup mata dan telinga.


“Lah elu. Kalau pengen tau ya lihaat” Anna merasa bingung dgn kelakuan Dino.


“Klu gua lihat dan denger sendiri nanti gua ikut nafsu. Klu denger lu yg komentar kan kesilap itu suara aslinya.” Dino menjelaskan masih bisik bisik. Anna menggangguk angguk.


"Oh sayang …fu**…fu** ! keras yaang…


Anna si komentator: “Fakfak Din”


“Kabupaten di Papua ?” Dino heran


Anna terus bisik bisik heboh jadi komentator seperti nonton bola: …" Kuda kuda-an Din diremas anunya, wooow nungging…weeits iiih…gak tega gua ngomongnya…Aduuuh pak itu bibir bukan kue pukis !


Ekspresi Dino hanya dua: WOW dan WHAT ?

__ADS_1


__ADS_2