CEO TAMPAN MENCARI RESTU

CEO TAMPAN MENCARI RESTU
Bab 5 BERTEMU CEO


__ADS_3

“Pak Daniel, saya sudah di lobi.” Anna mengabarkan kedatangannya melalui pesan WhatsApp kepada ajudan Adrian Erlangga Raharja, sang CEO.


“Hai, Mbak Anna. Nanti bilang saja ke resepsionis kalau Mbak adalah tamu Pak Adrian. Akan ada staf hotel yang mengantarkan Mbak ke kamar VVIP Bapak,” balas Daniel.


“Kamar?” Anna membalas cepat. Terkejut, kenapa rapatnya mesti di kamar? Wah! Gak beres ini. Jangan-jangan dia seperti CEO di novel-novel yang dia baca di Novel Toon kesayangannya. Itu, tuh, CEO yang digambarkan dingin, kejam, dan suka memaksa, tapi akhirnya jadi bucin begitu.


“No worries, Mbak. Kamar VVIP itu mirip penthouse-lah. Di hotel ini, cuma ada enam kamar di lantai teratas. Ada ruang tamu dan ruang kerja, juga pantry. Mbak nanti kalau akan presentasi menggunakan LCD, bisa pakai yang di ruang kerja,” jelas si ajudan.


“Oh, kayak apartemen, ya?”


“Bisa dibilang begitu.” Daniel mengetikkan emoji senyum di akhir pesannya.


___________________***________________________


Ada lift khusus menuju lantai 30. Hanya tamu-tamu di lantai tersebut yang bisa mengaksesnya dengan kartu pass. Seorang pelayan hotel membunyikan bel kamar VVIP 3 ketika Anna tiba di sana. Daniel sendiri yang membukakan pintu. Anna mengucapkan terima kasih kepada pelayan yang sudah mengantarnya.


“Ayo, silakan duduk, Mbak. Pak Adrian sebentar lagi naik. Beliau baru selesai meeting dengan Bupati Kabupaten X di executive hub.” Daniel mempersilakan Anna duduk di sofa besar di tengah ruangan. Sofa itu bagian dari set sofa mewah berwarna putih, tepat berada di seberang pantry.


Sebuah meja makan diletakkan di samping pantry, merapat ke jendela besar. Anna mengkhayal, pasti keren banget kalau makan malam di situ, sambil melihat gemerlapnya kota dari lantai 30.


Anna terus menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan, terkagum-kagum akan kemewahannya. Ada pintu kaca menuju balkon kalau dia berjalan lurus dari ruang tengah ini. Di belakang sofanya, ada dua pintu ruangan. Sepertinya itu kamar tidur atau ruang kerja.


Daniel menawarkan beberapa jenis minuman untuk Anna pilih. Mengingat kesialannya beberapa hari ini, Anna jadi khawatir sifat cerobohnya akan kembali membawa masalah. Bisa saja dia menumpahkan minuman ke atas sofa putih yang jelas sangat mahal ini. “Tidak usah, Pak Daniel. Terima kasih,” tolak Anna halus.


Hotel Andromeda adalah hotel berbintang lima. Selain punya ruang rapat konvensional dan ballroom, hotel ini juga memiliki executive hub, semacam ruang pertemuan untuk tamu mengobrol, melobi, atau bekerja. Setting-an ruangannya lebih nyaman, memberikan suasana yang lebih rileks dan personal.


Ada sekitar sepuluh ruangan di executive hub ini, berkapasitas empat hingga enam orang. Masing-masing dilayani oleh staf khusus hotel untuk berbagai keperluan tamu, seperti makan dan minum.


Belum lama Anna menunggu, Pak Adrian, diikuti Pak Ridzy, manajer humasnya, tampak keluar dari salah satu ruangan bersama bupati dan lanjut mengantarkannya ke lobi.


Anna mengenali Pak Ridzy dari acara konsultasi publik. Dia berpamitan untuk sekalian pulang ke basecamp perusahaan di Kabupaten X.


Sepuluh menit, kemudian Adrian masuk ke kamar hotelnya. “Halo, Anna! Maaf, kamu sudah lama menunggu?” sapanya menyalami Anna. “Hei, Daniel, kenapa tamu kita tidak disuguhi? Telepon room service, minta satu set pastry dan buah. Oh, ya, Anna mau minum air mineral? Dingin atau biasa?“ tawar Adrian.


Anna melongo, tapi lalu mengangguk-angguk, “Ehm, yang biasa saja, Pak.”


Adrian duduk menghadap Anna di sofa kecil. Anna menyerongkan sedikit posisi tubuhnya agar dapat bertatap muka dengan lawan bicaranya. Si ajudan tampak menelepon, lalu duduk jauh di ujung meja makan dengan setumpuk berkas yang harus dia siapkan untuk bosnya.


“Sebelum diskusi, kita kenalan dulu, ya? Biar tidak canggung. So, Anna, kelihatannya kamu masih muda. Koq, kerja di LSM? Tidak berminat bekerja di perusahaan? Atau sedang menunggu lulus seleksi pegawai negeri?” kata Adrian membuka pembicaraan.


“Saya dulu kuliah di jurusan Teknik Lingkungan, Pak. Semester lima, saya sudah jadi volunteer di LSM Hijau Lestari,” ujar Anna.


“Volunteer itu seperti magang?” sela Adrian.


“Ya, mirip. Tidak digaji, tapi diberi kompensasi untuk operasionalnya. Biasanya volunteer fokus untuk membantu pekerjaan tertentu. Saya dulu volunteer satu tahun untuk pekerjaan riset, Pak. Kalau libur semester, saya ikut ke lapangan untuk riset itu juga. Sangat membantu studi saya. Banyak ilmu dan pengalaman yang saya dapat dari situ,” cerocos Anna. Senang dia ditanya seperti itu.


Anna melanjutkan, kalau sekarang dia bekerja langsung di bawah Pak Bernard Paul, yang sudah dikenal Adrian. Adrian menyukai Pak Ben yang intelek dan beliau memang peneliti ahli dengan standar internasional.


“Saat menyelesaikan skripsi, saya dinilai sangat baik dan dapat nilai A. Lulus cum laude,” kata Anna. Adrian masih mendengarkannya dengan tekun.


Anna memuji Pak Ben sebagai guru dan mentor yang hebat. Adrian mengangguk sepakat.

__ADS_1


“Setelah lulus, saya langsung melamar jadi staf di Hijau Lestari. Satu tahun bekerja, saya mendapatkan NGO Award untuk melanjutkan studi di Belanda. Itu beasiswa khusus untuk staf atau pegiat LSM agar setelah lulus dapat memperkuat organisasinya. Saya tetap bekerja di Hijau Lestari, jadi semacam ikatan dinas kalau pegawai negeri,” lanjut Anna.


Anna bercerita, selama kuliah di Belanda, dia tetap mengerjakan semua pekerjaan riset dan analisa kebijakan yang dikirim lembaganya.


“Setelah ayah saya meninggal, Pak Ben menjadi sosok ayah kedua bagi saya. Beliau memang sangat saying pada semua stafnya. Maka, di sinilah saya sekarang.” Anna mengakhiri ceritanya dengan senyum.


“Jadi alasannya bukan sekadar profesional, tapi juga personal, ya. Reputasi bosmu sangat bagus. Tadi, bupati yang saya menemui saya juga memuji beliau. Katanya, Pak Ben orang yang banyak berjasa kepada masyarakat di sana. Tugas pemda juga jadi lebih ringan. Beliau layak mendapatkan staf yang cerdas dan loyal seperti kamu.” Adrian memuji.


“By the way, berapa umurmu kalau boleh tahu? Kamu terlihat sangat muda.”


“24, Pak. Nanti, empat bulan lagi. Bapak?” Anna balik bertanya. Kepo juga dia rupanya.


“32. Nanti, enam bulan lagi.”


Anna tertawa kecil mendengar jawaban Adrian yang meniru gayanya. “Giliran Bapak sekarang.”


“Oh, OK. Well, saya anak bungsu dari enam bersaudara. Papa saya meninggal ketika usia saya delapan tahun. Kakak sulung praktis jadi figur ayah dan panutan saya. Saya belajar bisnis sejak SMA. Kalau libur semester saya magang di head office perusahaan keluarga. Setelah kuliah, saya magang juga di anak perusahaan, di luar daerah,” cerita Adrian.


“S1 saya di Jepang, lalu ambil S2 di London Business School. Dan seperti kamu, saya tetap terlibat di perusahaan. Nah, setelah lulus saya bekerja jadi manajer di beberapa divisi di head office. Saat ini, kakak melihat saya siap memimpin perusahaan sendiri, maka saya putuskan untuk memulainya di industri pertambangan batu bara karena investasinya tak sebesar tambang emas,” lanjutnya.


Tak terasa, sudah hampir satu jam mereka ngobrol, namun belum ada tanda-tanda akan membahas pekerjaan yang menjadi tujuan awal mereka bertemu. Daniel menghampiri Adrian. “Maaf, Pak, barusan saya dapat pesan WhatsApp dari ajudan gubernur. Beliau bisa menemui Bapak pukul empat sore ini.”


Adrian menengok jam tangannya. “Wah, gak terasa sudah pukul tiga sore. OK, Anna, mari ke ruang kerja saya, biar kamu bisa presentasi pakai LCD. Kamu mau presentasi, kan?”


Anna mengangguk. Dia sudah menyiapkan sepuluh slide PowerPoint. Diskusi berjalan paralel, membahas secara rinci setiap slide yang dipresentasikan. Saat diskusi mereka baru berjalan tiga puluh menit, Daniel menyembulkan kepalanya dari pintu. Adrian otomatis menengok jam tangannya. Anna terdiam dan menunggu. Lanjut, tidak, lanjut, tidak…


“Anna, presentasimu berbobot, sangat menarik. Well, dengan pengalaman empat tahun sejak jadi volunteer, kamu sangat memahami dunia tata kelola industri ekstraktif. Saya hanya punya waktu hari ini karena besok harus bertemu Wakil Menteri ESDM. So, bisakah kamu tetap tinggal di sini?” tanya Adrian.


“Saya ingin kamu diskusikan dengan bosmu di kantor via video call. Bahas rancangan kasar model kerja sama seperti apa yang bisa kita lakukan.” Belum sempat Anna memutuskan, Adrian sudah melanjutkan lagi, “Saya ingin menindaklanjuti rekomendasimu. Kalau reformasi birokrasi berjalan baik, seharusnya izin produksi bisa saya dapatkan tahun depan. Bagaimana?”


Anna terkejut mendengar tawaran kerja sama ini. Sama sekali di luar dugaannya. Targetnya hari ini hanyalah menyampaikan masukan. Wah, ini kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. “Terima kasih banyak, Pak, tapi sebaiknya saya kembali ke kantor, deh. Sekalian mau shalat juga.”


“Sebaiknya jangan pulang dulu, Mbak. Kantor Mbak memang dekat, hanya lima belas menitan dari sini, tapi pulang pergi sudah tiga puluh menit,” saran Daniel. “Oh, ya, saya tadi juga sudah memesankan tiga porsi dim sum. Silakan dimakan. Kalau mau pesan yang lain, tinggal hubungi waiter, ya.”


“Betul, Anna. Please, kamu tinggal saja. Kami akan kembali dalam satu jam. Kamu pakai kamar mandi di kamarku saja untuk berwudhu. Ada sajadah di walk-in closet,” kata Adrian. Dia kembali menengok jam tangannya dan mulai beranjak.


“Oh, Bapak muslim?” tanya Anna polos.


“Kebetulan muslim KTP. Saya blasteran Cina-Bengkulu,” jawab Adrian sambil menarik alisnya ke atas. Anna tersipu malu.


Anna setuju untuk tinggal. Lima menit kemudian dim sum datang. Dia melahap bagiannya, satu keranjang kukus mini berisi lima macam dim sum. Uh, kurang nendang, dim sumnya kecil-kecil. Anna pun mencomot roti isi daging dari wadah pastry dan menghabiskan irisan kiwi di piring buah sebagai penutup.


Sudah pukul setengah empat sore, sebaiknya dia shalat dulu, pikir Anna. Setelah itu, baru dia akan menghubungi Pak Ben dan Adnan. Anna meninggalkan laptop, tas, dan blazernya di ruang kerja dan berjalan ke kamar Adrian.


Dia mengagumi walk-in closet di kamar itu.


Wah, ini, sih, bukan walk-in closet lagi. Sudah mirip butik! Kalah, deh, ruang ganti Christian Grey di novel dan film yang menggemparkan itu. Anna lanjut melihat-lihat. Ada rak sepatu, meja dan laci berisi pakaian dalam si bos (waduh, gak sopan, nih, Neng Anna!), rak bundar dengan sepasang jubah mandi, dan lemari tanpa pintu untuk menggantung baju dan celana.


Anna membuka lemari dua pintu. Pintu kanan berisi sprei cadangan, di bawahnya ada bed cover yang masih berada dalam tas plastik. Di sebelah kiri, di rak teratas, ada tumpukan handuk besar. Di tengah, handuk sedang dan kecil, sementara di rak terbawah dan lebih lapang, ada satu koper.


Masuk ke kamar mandi, Anna lebih takjub lagi. Tak usah diceritakanlah mewahnya macam apa. Pokoknya wah, wah, wah, dan superlengkap.

__ADS_1


Beres shalat Ashar, Anna menenteng tas mukena kecilnya dan berjalan menuju pintu walk-in closet. Tapi mendadak dia kebelet pipis. Anna balik lagi, meletakkan tas mukenanya di atas meja marmer yang menyatu dengan wastafel, dan masuk kamar mandi. Setelah beres, dia menyambar tas mukenanya dan meraih gagang pintu walk-in closet, saat terdengar suara laki-laki dan perempuan masuk ke kamar. Mereka tertawa-tawa dan saling menggoda.


Waduh! Anna bingung, apa yang harus dia lakukan? Karena panik, Anna masuk ke dalam lemari tempat koper berada. Dia meringkuk di sana, di sebelah koper. Pintu lemari tak bisa ditutup rapat dari dalam. Anna mendengar pasangan tadi bicara.


“Yakin kita tidak akan ketahuan Babe?” kata suara laki-laki.


“Ini VVIP, sayang. Kita tinggal ganti sprei dari ruang ganti. Orang-orang kaya itu tidak pernah memperhatikan. Yang penting saat masuk kamar rapi dan bersih. Di VVIP, sprei diganti tiap hari,” jawab yang perempuan. ”Ayo, sayang, cepat buka…”


Selanjutnya yang terdengar dari kamar tidur hanya suara-suara tak senonoh.


Keringat dingin membasahi kulit Anna. Dia menutup telinganya. Benar-benar tak nyaman. Sial sekali dia terjebak dalam posisi begini. Sekitar lima belas menit kemudian, “perayaan” dalam kamar pun kedengarannya selesai.


Tak lama kemudian, suara senandung perempuan terdengar mendekat. Dia masuk ke ruangan tempat Anna bersembunyi. Anna supertegang. Kakinya sudah kesemutan.


Anna menahan pintu dari dalam dengan memegang plat kayu di bagian bawah pintu. Meskipun tak rapat, pintu itu bisa menutup.


Uh, perempuan Mak Lampir itu membuka dan menutup pintu lemari sebelah. Pasti mengambil sprei baru. Lalu, ceklek! Pintu di mana Anna bersembunyi didorong rapat dan dikunci. Fyuh! Anna lega karena tidak terpergok, tapi kemudian tersadar, “Oh, my God! Gue terkunci!” jeritnya dalam hati.


Bagaimana ini? Anna mendorong-dorong pintu, barangkali masih bisa terbuka.


Percuma. Akhirnya dia pasrah. Sial, ponselnya dia tinggal dalam tas. Tak bisa telepon siapa pun untuk minta tolong.


Karena tegang dan letih, Anna tertidur. Entah berapa lama dia berada dalam posisi tidur meringkuk seperti itu. Saat terbangun oleh suara orang yang masuk ke dalam kamar, kedua kakinya sudah mati rasa.


“Di kamar juga tidak ada. Coba kamu telepon HP-nya.” Terdengar suara Pak Adrian memberikan insruksi. Lalu ada langkah kaki mendekati walk-in closet.


“Mbak Anna, di toiletkah?” tanya Adrian.


“Saya di lemari, Pak. Tolong!” teriak Anna girang.


“APA???” Adrian terkejut bercampur bingung. Segera dia buka kedua pintu lemari dan menemukan Anna yang meringkuk, berdempetan dengan kopernya. Adrian berjongkok. “Kenapa kamu bisa ada di situ?” tanyanya.


Alih-alih menjawab, Anna menangis. Adrian semakin bingung dan panik. Dia mengulurkan tangannya untuk membantu Anna keluar.


“Kaki saya kesemutan, Pak. Betis saya kram. Huuuh… huh… huhhh…”. Anna berurai air mata.


Adrian mengeluarkan kopernya agar Anna bisa bergerak lebih leluasa. Anna beringsut keluar. Adrian meraih dan mengangkat tubuhnya ala bridal style. Hadeuuuh! Sebenarnya dipapah saja dia masih bisa jalan, koq, pikir Anna. Tapi sutralah…


Adrian membaringkan Anna di atas ranjang. Anna merasa canggung dan deg-degan. Ini seperti di novel-novel yang dia baca. Si CEO khilaf dan terjadilah hal-hal yang diinginkan. Ups! Anna ingin sekali menjitak jidatnya sendiri. Koq, bisa-bisanya berpikir mesum di saat genting macam ini?


Adrian meluruskan kedua kaki Anna dan mengangkatnya ke atas agar alirah darahnya lancar. Kemudian dia tekuk dengan posisi menggantung lutut di atas. Beberapa kali Adrian mengulang gerakan itu. “Sudah membaik?” tanyanya. Tangannya masih bertumpu pada kedua betis Anna.


Anna mengangguk. “Koq, Bapak tahu cara meredakan kram? Kesemutannya mulai berkurang, lho.” Anna memuji dengan takjub.


“Pelatih di gym melakukan hal yang sama ketika betis saya kram.” Adrian menjawab sambil memijat telapak kaki Anna.


Daniel masuk dengan langkah cepat. “Lho, Mbak Anna ada di sini?” katanya terkejut dan gugup melihat bosnya dan tamu mereka ada di tempat tidur.


“Maaf, Pak, saya tadi kontak HP Mbak Anna dan ternyata ada suara HP dari tas Mbak Anna di ruang tengah. Saya langsung temui Manager VVIP Service dan mengecek CCTV di koridor lantai ini untuk mencari Mbak Anna. Hampir sejam lalu, ada dua staf kebersihan khusus lantai ini masuk kamar ini dan keluar berselisih sepuluh menit sebelum kita,” lapornya.


“Tapi Mbak Anna kenapa? Apakah pingsan di kamar mandi?”

__ADS_1


Adrian dan ajudannya memandangi Anna menanti jawaban.


__ADS_2