CEO TAMPAN MENCARI RESTU

CEO TAMPAN MENCARI RESTU
Bab 37 PERJUANGAN CINTA


__ADS_3

Mamih dam Rangga datang setelah sholat maghrib. Rangga menyerahkan tas baju ganti pada Anna. Mamih penyimpan perlengkapan sholat di atas nakas dekat sofa.


Anna mandi dan berganti baju di walk in closet. Kamar VVIP lebih mirip hotel daripada RS.


“Baguslah kamu nyuruh nak Adi pulang ke hotel. Kasian dia, penerbangan jauh dari kemarin, baru nyampe hari ini.” kata mamih sambil nyuapin Derri bubur sumsum.


Anna belum menceritakan bahwa dia telah putus dengan Rye.


Keesokan harinya, Anna memutuskan untuk menitipkan perhiasan untuk Rye pada manajer VVIP Hotel Andromeda. Perhiasan tersebut adalah hadiah dari Felicita dan Ny. Henidar.


Jam 10 pagi, Anna masuk ke lobby. Ada bola menggelinding dan berakhir di kakinya. Seorang anak kecil berumur lima tahun menghampiri. Tampaknya dia anak blasteran bule.


“Terima kasih.” kata anak itu sambil membungkuk seperti orang Jepang


“Sama sama” kata Anna sambil tertawa


Anna naik tangga marmer yang lebar melingkar disudut lobby. Tangga itu menuju lantai 1. Di lantai itu merupakan area meeting hub dan ruangan para manager. dari balkon lantai satu bisa leluasa melihat lobby karena ruangannya dirancang setengah. Anna sudah sampai di lantai satu. Dia berhenti melangkah ketika mendengar suara anak tadi berteriak. Anna secara refleks melihat ke lobby dari balkon.


“Daddyyyy…” si anak berlari pada seorang laki laki pakai kaos polo putih bergaris biru di dadanya. Laki laki itu membungkuk dan kemudian menggendong anak tadi.


“Kevin kenapa Daddy tidak tau kamu datang ? Apakah ini kejutan dari Aunty Susan ?.” kata laki laki itu


Deg! jantung Anna rasanya berhenti. Suaranya mirip Rye


Laki laki itu menengok ke kanan dan ke kiri. Saat menengok ke kanan, Anna bisa melihat dengan jelas wajahnya. Betul dia Rye !. Kaki Anna terasa lemas. Dia memegang erat besi di atas pagar balkon. Dejavu suara Stefi dengan seseorang di telepon, …bener dia anaknya Adrian?..


Anna akhirnya jongkok. Dadanya terasa sesak. Matanya berkunang kunang. Setelah beberapa saat, dia berdiri lagi. Rye dan anak kecil yang bernama Kevin itu, sudah tidak kelihatan di lobby.


Manajer VVIP menerima tas berisi perhiasan dan satu buah surat dalam amplop kecil di dalamnya. Dia memberikan tanda terima pada Anna.


Anna keluar dari lobby menuju taksi online yang sudah dia pesan.


“Goodbye Bou Bei.” kata Anna sambil melihat bangunan hotel itu dari jendela taksi.


______________________***_____________________


Rye memarahi pangacaranya, Dafa Erlangga.


“Kok bisa Kevin dibawa ke Indo gak bilang saya ? kita sedang dalam situasi kacau begini.” kata Rye di telepon


" Maap Pak Adrian. Saya juga tau setelah mereka sampai di Jakarta. Ny. Susan merencanakan pulang karena ibunya sakit keras. Tapi begitu sampai, beliau malah kena cacar. HP beliau tertinggal di bandara. Jadi tidak bisa menghubungi bapak. Kevin jadi rewel. Tuan Hendra membujuk Kevin. Anak itu senang sekali bisa naik helikopter untuk memberi kejutan pada Pak Al.


"Ya sudah. Apa mau dikata. Aku akan bawa pulang Kevin ke rumah mama besok. Biar dia bisa main dengan sepupunya.


“Alma tolong bawa Kevin main di kolam renang nanti sore. Saya harus menengok kawan di RS.” kata Rye pada pengasuh Kevin


“Baik pak. Ny. Susan berpesan, tolong temui beliau di rumah ibunya.” kata Alma.


Rye hanya mengangguk. Dia kemudian menemani Kevin main lego.


“Oh ya pak. Tadi staf hotel antar titipan untuk bapak. Saya simpan di ruang kerja.” kata Alma sambil mengocek susu coklat untuk Kevin.


Rye duduk di kursi kerjanya dan membuka surat dari Anna.


*Bou Bei aku titip giwang emerald pemberian Ce Feli dan satu set berlian dari mama. Itu hadiah untuk pernikahan kita. Saya kembalikan karena kita gak jadi menikah


Take care,


Anna*


Mata Rye berkaca kaca. Hatinya bergemuruh antara marah dan sedih


Di RS Pelita Sehat


Rye masuk ke kamar Derri. Wajah Derri sudah tidak bengep. Hanya beberapa memar saja masih terlihat. Dia sedang duduk nonton TV sedangkan mamih sedang mengupas buah.


“Hai bro. Sudah balik dari Kanada ?.” sapa Derri sambil menerima rangkulan Rye.

__ADS_1


“Iya denger kamu jadi selebritis. Aku mau minta tandatangan he…he…” kata Rye


Derri dan mamih tertawa. Rye merasa mamih dan Derri belum tau kalau Anna sudah memutuskan dirinya.


“Mamih maap ya. Saya tidak menunggu sampai mamih datang kemarin. Anna memaksa saya untuk pulang dan beristirahat.” kata Rye sambil duduk di sebelah mamih


" Iyaa gpp. Itu mamih setuju banget." kata mamih sambil menyodorkan beberapa potong apel di piring kecil pada Rye.


“Anna mana mih ?.” tanya Rye


“Di rumah. Ada yang harus dikerjakan urusan kantor. Nak Al ke rumah aja temenin dia. Rangga pergi dengan kawannya.” kata mamih


Di rumah mamih


Anna masih merenungkan kejadian tadi pagi. Rye dengan seorang anak yang memanggilnya daddy. Air matanya berlinang. Kebohongan dan kejujuran begitu sulit dibedakan. Rye begitu tegas mengatakan ‘tidak’, ketika Anna bertanya apakah dia punya anak. Anna tidak berniat mengkonfrontir hal itu. Sekarang, dia tidak punya alasan untuk minta penjelasan. Dia sangat sangat mencintai Rye. Tapi dia tidak melihat jalan lain selain putus.


Bel pintu depan berbunyi. Anna membuka pintu dan melihat Rye di hadapannya.


“Hai.” sapa Rye canggung


“Hai juga.” kata Anna. Dia mempersilahkan Rye masuk dan duduk di ruang tamu.


" Matamu sembab." kata Rye sambil menatap Anna penuh kerinduan. Dia menahan diri untuk tidak memeluknya.


Anna hanya tersenyum. Dia pergi ke ruang keluarga dan membuat teh untuk Rye. Dispenser dan buffet berisi tea set dan bahan ngeteh dan ngopi ada di sana.


“Kamu masih mencintaiku ?.” tanya Rye begitu melihat Anna masuk kembali ke ruang tamu dengan membawa cangkir teh.


“Mas itu tidak penting lagi sekarang. Let’s move on.” kata Anna


" Aku gak bisa Anna. Perasaanku bukan tombol listrik yang bisa dinyalakan atau dimatikan semaunya. Aku mohon jangan putus. Kita tunda perkawinan, gak apa apa. Tapi jangan menyerah dong. Ayo kita cari jalan keluar sama sama." kata Rye memelas


“Mas kalau kamu memaksa, kita akhirnya akan bertengkar dan bermusuhan. Kita masih bisa berteman kan ?.” kata Anna sendu


“Aku tidak yakin. Kamu bisa ? bagaimana caranya ?.” tanya Rye kesal


" Ya aku akan mencobanya. Kantorku dan perusahaanmu kan ada kerjasama program sampai tiga tahun ke depan. Kita sering ketemu untuk urusan kerjaan. Kita bisa makan atau ngeteh bersama." jawab Anna


____________________***___________________


Bu Dian dan Jamilah duduk berhadapan di meja makan pantry. Keduanya mengurut jidat.


" Ini kalau dibikin novel, judulnya Dua Jomblo Menyelamatkan Riska." kata Jamilah


“Lebih tepatnya Dua Jomblo Mencari Cara Menyelamatkan Riska.” kata Bu Dian


"Kepanjangan ha…ha…ha…"kata Jamilah sambil tertawa


“Iya kayak novel Kubalas Cintamu Dengan Sebongkah Batu. Lelah yang baca judul ! kepanjangan !.” kata Bu Dian


Keduanya tertawa


Adnan turun dari lantai 2 menuju pantry.


“Eh Adnan mau ngopi ya ?. Kebetulan saya pengen ngobrol kerjaan. Boleh ?” kata Bu Dian


“Boleh.” kata Adnan ramah


“Hasil studi Riska kan sudah selesai. Menurut Adnan dari kacamata laki - laki nih, cara yang tepat untuk memberikan pamahaman tentang pendidikan seksual yang baik pada laki laki itu bagaimana ?.” kata Bu Dian


“Ehmm gimana ya. Kayaknya Bu Dian harus tanya Mas Wira dan Yuddis deh yang sudah menikah. Kalau aku kan cuma bisa ngasih teori he…he…he…” kata Adnan santai sambil terkekeh


Jamilah dan Bu Dian tersenyum sambil manggut manggut. Adnan meminum habis kopinya yang sudah dikasih es. Diapun pamit.


“Waaah licin juga tuh buaya.” kata Jamilah kesal


“Jadi tadi malam kamu nyatroni rumah Adnan mil. Yakin itu rumah kontrakan Adnan ?” kata Bu Dian setengah berbisik

__ADS_1


“Iyalah mbak. Aku kan sudah tiga kali mengintai mereka tuh. Baru tadi malam sukses. Aku sudah hapal nomor motornya Riska. Memang durjana si Adnan itu. Waktu aku ke samping rumahnya dan nempelin kuping di jendela kamar dia, barulah terdengar jelas. Si Riska jerit jerit minta si Adnan itu jangan kasar. Aku rasanya pengen dobrak itu jendela dan mukulin si Adnan.” bisik Jamilah sambil mencondongkan badannya ke tengah meja agar lebih dekat ke muka Bu Dian. (coba duduknya berdampingan aja, biar deket 😌)


“Tapi kenapa Riska mau terus sama Adnan ya ? apakah dia suka dikasarin ? tapi kenapa nangis dan memohon jangan kasar ya ?..apakah dua orang itu punya kelainan seperti dr. Lisna bilang ?.” kata Bu Dian sambil merenung


Dua hari kemudian


Riska pingsan di kantor. Adnan saat itu sedang kunjungan lapangan ke Kab. V. Bu Dian dan Jamilah membawanya ke UGD dengan mobil kantor.


“Ayo naikan ke ranjang” kata perawat pada Pak Johan yang datang dengan menggendong Riska.


Suster melakukan langkah langkah membangunkan Riska dari pingsan: ( langkah ini bisa dipakai sebagai pertolongan pertama di lokasi kejadian)


Riska dibaringkan telentang.


Kaki Riska diangkat dan ditahan agar aliran darah ke otak kembali normal.


Baju Riska yang ketat dikendurkan dengan membuka kancing kemeja.


Satu suster yang lain datang membawa alkohol karena Riska masih belum siuman. Alkohol itu di dekatkan ke hidung. Riskapun bangun. Dokter memeriksanya. Dia menyuruh suster memasang infus berisi vitamin. Riska memejamkan mata karena sangat lemah.


“Dia dehidrasi dan stress tampaknya.” kata Dokter Sodikin pada Bu Dian dan Jamilah


Bu Dian minta bicara dengan dr. Sodikin di tempat yang jauh dari Riska.


“Maap dok. Teman kami mendapat kekerasan dari pacarnya. Tapi dia tidak mau melaporkan karena mencintainya. Adakah satu cara agar dia dapat pemeriksaan dan konseling ?.” kata Bu Dian. Jamilah ngangguk ngangguk


“Kasihan sekali. Masalah KDRT dan hubungan beracun ini memang palin sulit dibantu ketika korban menolak. Ketika dia mendapat kekerasan, bukan hanya fisiknya yang rusak tapi juga phisikologisnya hancur. Dia beruntung masih punya kalian yang peduli.” kata dr. Sodikin merasa prihatin


Mereka kembali masuk ke ruang UGD


“Mbak Riska bisa mendengar saya ?.” kata dr. Sodikin


Riska mengangguk


“Mbak Riska dehidrasi dan stress berat. Mbak Riska harus dirawat minimal tiga hari di sini dan mendapat perawatan dari dr. Psikiatri. Kalau tidak, Mbak Riska bisa kena depresi. Mbak Riska tentu tidak mau sakit kan ?.” kata dr. Sodikin lembut


“Saya cuma kelelahan aja kok dok.” kata Riska menyangkal


“Saya ini jadi dokter sudah 30 tahun dan sangat menyayangi pasien pasien saya. Saya memilih jadi kepala UGD, bukan ditunjuk loh. Anggap saya seorang ayah yang khawatir pada anaknya. Nak Riska bersedia ?.” kata dokter yang sudah mulai beruban dan berwajah teduh itu.


Setiap orang yang mendengarnya menjadi tersentuh. Bu Dian dan Jamilah berkaca kaca. Mereka sedih dengan kondisi Riska dan terharu dengan cara dokter Sodikin membujuk Riska.


Riska akhirnya bersedia. Dia dipindahkan ke ruang VIP. Meskipun BPJS hanya mengcover kelas satu, tapi Bu Dian dan Jamilah sepakat untuk membayari kamar tersebut selama 3 hari. Mereka bersepakat untuk menjaga Riska bergiliran selama 3 hari tersebut.


Jamilah kembali ke kantor dan melapor secara lengkap kepada Pak Ben di ruang rapat yang tertutup.


"Jadi Pak Ben, kami sepakat agar Riska dirawat di ruang VIP saja agar dia bisa mendapatkan full privacy. Saya mohon Izin Pak untuk menjaga dia bergiliran dengan Bu Dian. Sekaligus memantau. Jadi kerjaan yang bisa dibawa ke RS, akan kami kerjakan di sana.


“Huhh…kasian sekali Riska. Saya tidak menyangka bisa merekrut psikopat seperti Adnan. Coba kamu cek kontrak dia berapa bulan lagi ?.” kata Pak Ben geram


“Enam bulan lagi pak. Memang kenapa pak ?” tanya Jamilah


“Ingatkan saya dua bulan lagi. Saya akan memberi tau Adnan kalau kontraknya tidak akan diperpanjang !.” kata Pak Ben tegaI


" Oh ya Jamilah. Jika dia perlu waktu lebih lama di ruang VIP itu, biar saya yang bayar." kata Pak Ben sebelum dia beranjak pergi.


Dr. Lisnawaty ternyata yang dirujuk sebagai psikiaternya Riska. Dia hanya perlu dua hari untuk membongkar benteng pertahanan Riska. Masa kecil Riska termasuk normal dan baik. Sesekali waktu kecil, dia suka dijewer sama ibunya. Ayahnya kerja di perusahaan kayu dan pulang sebulan sekali. Dia terlalu sibuk ‘kejar setoran’ (hubungan intim) dengan ibunya dan cukup baik pada anak anak.


Pada hari ketiga dr. Lisna baru menggali hubungan Riska dengan laki laki. Hari ke-4 Riska sudah terbuka tentang hubungannya dengan Adnan. Dia menangis sangat kencang sampai suaranya nyaris hilang. Entah berapa lama dia menangis. Dr. Lisna sengaja mengosongkan jadwalnya agar bisa full merawat Riska. Dia hanya menerima satu pasien di tempat praktek pribadinya pada malam hari. Jadwal prakteknya dari jam 18.00 sd jam 20.00 Wib.


Hari ke-5 Riska sudah diijinkan pulang dan diminta berobat dua minggu sekali. Sedangkan untuk konseling, Riska diberi dua rekomendasi psikolog. Satu dokter Farid dan satu lagi Psikolog Agustina. Riska memilih dokter Farid.


Pesan dokter Lisna:


Cinta yang patut diperjuangkan itu adalah cinta yang hangat dan menguatkan - bukan cinta yang dingin dan menyakiti


________________________

__ADS_1


Readers yan budiman,


Sayangi dirimu dan berikan cinta absolut hanya kepada Sang Maha Pencipta


__ADS_2