CEO TAMPAN MENCARI RESTU

CEO TAMPAN MENCARI RESTU
Bab 1 PERMULAAN


__ADS_3

London Business School, 2009


"Adrian Salman Erlangga alias handsome Rye! Let's celebrate our graduation at The Glories!" sorak Leo Chung.


"Awesome ! Kita lulus bersamaan dengan hari ultahmu ya, Leo." kata Adrian sembari merangkul bahu sahabatnya itu.


"Ya, ini tahun terbaik dalam hidupku. Umur 22 tahun, lulus dari salah satu sekolah bisnis terbaik di dunia. LBS, baby !" Leo meninju udara di atas kepalanya.


"Kamu masih mau kerja di kantor keluargaku di New York? Atau mau pulang saja ke Hongkong?" tanya Adrian


"Tampaknya aku akan selalu menjadi lintah yang menempel padamu. Ha..ha..ha! Ya, tentu saja aku akan bekerja denganmu di New York," tukas Leo


Tiba-tiba, "Adriaaaaan ! Ini aku !" Seorang perempuan cantik berteriak menyapanya.


"Stefani ?" Adrian terkejut


Tiga bulan kemudian ...


"Rye, bulan depan kamu berulang tahun yang ke-21. Bagaimana kalau kita rayakan di night club baru di Soho ?" usul Leo sambil memasang kembali jasnya.


Rye bergeming.


"Kalau kamu setuju, ayo, pulang kantor kita cek tempatnya. Aku tau kamu tidak suka night club, tapi ini nyaman juga buat orang yang mau nongkrong. Mereka juga punya koq jus jeruk buat anak mami sepertimu. Hehehe !" kata Leo bersemangat


Adrian Salman Erlangga, si bungsu dari enam bersaudara. Perangainya kalem, sedikit poker face. Perlu usaha ekstra untuk bisa membuatnya terkesan, marah, atau sedih. Anak Pramuka banget. Mungkin ini berkat didikan kakak sulungnya, Hendra Raharja Erlangga. Usia mereka terpaut 24 tahun. Meskipun beda ibu, mereka sangat dekat dan salin menyayangi.


Rye murah hati, tapi tidak pernah pamer. Leo sangat beruntung menjadi sahabatnya sejak SMA di Australia. Rye membantunya dalam banyak hal, termasuk menemaninya kuliah S1 di Jepang dan tentu saja Rye yang membiayai semuanya.


"Nah, ini klubnya ! Keren, kan ? Tuh, antriannya panjang, tapi aku sudah reservasi dan berikan tips 100 dolar kepada bouncer-nya (penjaga merangkap petugas keamanan). Total pengeluaran 300 dolar. Kamu bisa transfer ke rekeningku. Hehehe !" ujar Leo sambil menepuk pundak Rye.


"Kamu yang pengen, kenapa aku yang bayar ? Kebiasaan," kata Rye datar. Tak urung, dia mengeluarkan dompet dan mengulurkan 300 dolar. " Ini cash saja."


"Hai, boleh kami bergabung ?" kata seorang perempuan berambut pirang, diikuti dua temannya.


"Aku Shannon. Ini Gwen dan Rita," kata si pirang mengulurkan tangan.


"Hai, cantik ! aku Leo dan ini temanku, Rye." Leo memperkenalkan diri.


Leo asyik mengobrol dan tertawa-tawa dengan ketiga perempuan itu, sementara Rye diam saja. Sesekali dia menyesap birnya.


"Boleh kami pesan Champagne ?" tanya Leo pada Rye, di sela tawanya


"Tentu, dengan uangmu," jawab Rye datar


"Tuh, ladies, kalian lihat sendiri ? That's my Rye ! Ngomongnya paling panjang tiga kata. Hahaha !"


Sejak saat itu, Leo dan Shannon berpacaran. Rita sebetulnya naksir Rye, namun tak mendapat respon. Rye juga sangat sibuk bolak-balik Amerika-Indonesia untuk mengurus bisnis keluarga.


Ulang tahun Rye ke-21 dirayakan di penthouse baru, di daerah elit upper Manhattan. Pada masa itu, harganya masih sekitar USD 8 juta. Rye bersyukur mengikuti saran sang kakak, Hendra, karena kini nilainya betlipat hingga USD 20 juta.


Hendra selalu mengingatkan agar semua pengeluarannya bukan sekedar gaya hidup, melainkan juga investasi.


_____________________***______________________


Empat tahun kemudian.....


BRAAAKKK! Leo menggebrak meja makan.


"Shannon, apa yang kamu pikirkan? Empat tahun putus sambung denganku. Masa kamu tidak mengenap sifatku ? Aku tidak suka komitmen! Apalagi punya anak!" bentaknya.


"Aku tahu, Leo, tapi aku takut menggugurkan kandungan. Aku melihat jarum suntik saja sudah gemetar." Shannon tersedu


"Kau boleh tinggal di apartemenku, tapi jangan harap aku mau menikahimu. Kau pergi dari sini setelah anakmu lahir," kata Leo. " Oh, ya, buat dirimu berguna selama di sini." Leo berlalu, menyambar jaketnya dan keluar dari apartemen.


Shannon terduduk memeluk lutut di sofa, memandang keluar dari jendela kamar Leo. Dia datang ke Ney York dari Minnesota untuk kuliah di Hudson University. Tak hanya kuliah, Shannon juga bermimpi untuk hidup di kalangan jet set New York dan menjadi sosialita.


Demi semua itu, dia hidup super hemat agar selalu punya uang untuk bisa masuk ke klub-klub elit. Entrance fee- nya saja minimal USD 50. Untuk minuman dan kursi duduk, sedikitnya dia harus mengeluarkan USD 100. Lalu apa yang dilakukannya selama di klub? Mencari teman dan pacar orang kaya.

__ADS_1


Shannon mengingat pertemuannya dengan Leo pertama kali di New Soho Night Club. Uang masuknya saja USD 100. Satu botol bir dan berdiri di diskotik perlu USD 75. Karenanya dia senang berhasil menggaet Leo yang duduk di kursi VIP. Untuk duduk di sana, pengunjung harus membayar USD 200.


Belakangan, Shannon baru tahu kalau Adrianlah yang kaya raya. Namun demikian, Shannon tetap mencintai Leo. Pria itu sama dengan dirinya, senang berpesta dan hidup menjadi sosialita.


Sementara itu, di kantor perwakilan Erlangga Group, Leo sedang menunggu agenda wawancara dengan calon manajer, menggantikan Jeremy Hanson yang meninggal karena kecelakaan.


Hidup ini benar benar tidak adil. Aku dan Rye keluar dari sekolah yang sama sejak SMA hingga S2, Tapi dia langsung jadi manajer karena perusahaannya milik keluarga, sedangkan aku harus menunggu empat tahun untuk jadi manajer. Itu pun kalau aku terpilih. HUH! batin Leo


Leo memang terpilih menjadi manajer, tentu saja dengan intervensi Rye. Rye yang saat itu sedang berada di Hongkong membuat rekomendasi yang melebih-lebihkan prestasi Leo pada beberapa proyek yang sukses. Padahal kesuksesan itu hasil kerja cerdas Rye sendiri.


Satu minggu setelah pengangkatan Leo sebagai manajer, Rye kembali ke New York. Mereka makan siang di restoran dekat kantor.


"Oh, my God, Leo! Ayo, tukar tempat duduk denganku!" kata Rye blingsatan.


"Memangnya kenapa? Ada apa, sih?" Leo heran dan enggan beranjak dari kursinya.


"Ada Mariska! Cepat, cepat!" kata Rye, panik.


Leo menoleh ke arah lirikan mata Rye. Sambil menunduk, Rye bangkit dan bergerak ke arah kursi Leo, mendorongnya paksa. Leo bangun dari kursinya, namun seketika timbul niat jahilnya.


"Hai, Mariska! Ayo, ke sini!" Leo berteriak sambil melambaikan tangannya ke arah Mariska.


Rye terpaku, dia belum sempat duduk di kursi Leo. Matanya melotot ke arah sahabatnya itu. "Sialan kamu, Leo!" umpatnya berbisik.


"Hello, Leo and... Rye!" sapa Mariska seraya mendekat ke arah meja mereka berdua.


Leo mengecup pipi kanan Mariska sebagai tanda salam. Rye hanys mengulurkan tangan dengan kikuk.


"Oh, Ryr sayang. Relaks, jangan tegang. Aku mengerti sekarang. Kau lebih suka Leo daripada aku," kata Mariska mengedipkan mata.


"No, no, aku dan Leo teman," sanggah Rye salah tingkah.


Leo dan Mariska tertawa. Mariska pamit ke toilet. Leo melihat Mariska menyimpan tas di meja pojok kiri, di mana tiga temannya sudah duduk di sana.


"Aku juga mau ke toilet, nih," kata Leo


Toilet laki-laki ada di belokan ke kanan, sedangkan toilet perempuan ke kiri. Leo berdiri di depan toilet, seperti sedang antre. Dia melihat Mariska. Leo memanggilnya.


"Waktu itu, aku sudah empat bulan pacaran dengan Rye, tapi dia selalu sibuk. Aku kesal dan minta putus. Dia meminta maaf. Kubilang, aku kesepian dan butuh perhatian lebih darinya. Rye setuju dan untuk membuktikannya, dia mau tidur denganku, tapi 'junior-nya' tak mau bangun. Dia panik saat melihatku marah dan menamparnya," tutur Mariska geli mengenang kejadian ML-nya yang gagal.


Leo ikut tertawa, "Oh, poor, Rye."


Satu minggu kemudian...


"Rye, ayo, malam ini temani aku dan Shannon menghadiri pembukaan klub di Tribeca. Jeffrey, tetanggaku, salah satu owner-nya," ajak Leo.


"Jeffrey yang jadi dokter di RS Hudson? Atau kau punya teman Jeffrey yang lain?" tanya Rye.


"Ya, Jeffrey yang dokter itu."


Malam itu, mereka berangkat ke Hot Tribeca Night Club.


"Bagus juga klubnya, meskipun tak semahal klub-klub di Soho," kata Rye ketika ditanya pendapatnya oleh Leo.


"Silahkan, spesial satu botol red wine dan satu gelas orange juice untuk Tuan Adrian. Hehehe!" kata Jeffrey, sang tuan rumah.


Rye, kamu baik-baik saja? Kenapa kamu berkeringat?" tanya Shannon heran.


"Entahlah. Badanku rasanya tidak enak. Panas rasanya," kata Rye sambil membuka kancing atas kemejanya.


"Sebaiknya aku memanggil Leo dan Jeffrey." Shannon beranjak dan turun ke lantai disko memanggil keduanya. Tak lama ketiganya kembali ke kursi VIP.


"Apakah kamu bepergian ke luar daerah atau luar negeri dalam seminggu terakhir?" tanya Jeffrey sambil memegang dahi Rye.


"Aku baru kembali dari Spanyol dua hari lalu," jawab Rye. Adrenalinnya terasa menderu


"Nah, itu dia. Bisa jadi ada virus atau kamu mau flu. Kalian tahu, alkohol pada dosis yang tepat bisa menjadi obat. Aku akan kasih kamu champagne, on the house. Itu jenis minuman yang alkoholnya paling cepat bisa diserap tubuh," kata Jeffrey sambil memberi kode pada pelayan.

__ADS_1


"Rye, aku akan temani Jeffrey pidato sambutan. You know, sebagai sopan santunlah. Setelah itu, kita pulang. OJ?" kata Leo menepuk pundak Rye.


"Kau boleh pakai ruanganku sambil rebahan." Jeffrey menawarkan.


Rye meminum satu gelas champagne. Dia merasa sedikit baikan. Lalu dia meminum lagi dua gelas dan mulai mabuk. Shannon membawanya ke ruangan Jeffrey.


"Aku bantu kamu membuka kemeja dan ikat pinggang, ya. Kata guru yogaku, ini bisa membuatmu lebih bebas bernafas," kata Shannon sambil melepaskan kancing kemeja Rye dan melonggarkan ikat pinggangnya.


Sentuhan Shannon membuat Rye sangat bergairah. Matanya berkunang-kunang. Otaknya terasa kosong. Rye memeluk Shannon dan menindihnya. Shannon tersenyum dan mengundang Rye dengan tatapannya.


Rye dengan rakus melahap tubuh Shannon. Mereka melakukannya tiga kali, hingga akhirnya Rye terkulai di pangkuan Shannon. Mereka tidur berpelukan di atas karpet.


Leo dan Jeffrey masuk ruang kerja Jeffrey. Leo histeris melihat sahabatnya berpelukan dengan pacarnya. Namun Jeffrey segera menenangkannya.


Leo meremas kepalanya dengan kedua tangannya, mencoba menenangkan diri. Dia meminta Jeffrey mengambil selimut. Jeffrey mengeluarkan selimut tipis dari lemari dan menyelimuti pasangan itu.


Keesokan paginya, Rye banguj lebih dulu. Kepalanya sakit dan dia sangat terkejut mendapatkan dirinya tanpa busana dengan Shannon. Rye bangun dan merangkak mencari pakaiannya. Selesai berpakaian, dia membangunkan Shannon.


Shannon menangis dan Rye mencoba menenangkan.


"Rye aku tidak menyesali apa yang terjadi. Kamu sangat jantan dan memuaskan. Aku menangis karena merasa bersalah pada Leo," kata Shannon sesegukan


"Aku akan bicara pada Leo. Semua ini salahku." kata Rye sambil memeluk Shannon.


Rye keluar dari ruang kerja Jeffrey. Dia mendapati Leo dan Jeffrey tertidur di sofa tamu. Rye meminta Shannon untuk pulang, sebelum membangunkan Leo dan Jeffrey.


"Jadi kalian melihat kami tadi malam?" tanya Rye dengan raut wajah malu dan bersalah


"Tentu saja, Rye! Kamu pikir aku akan meninggalkan kamu di night club?" kata Leo. " Aku marah saat ini, tapi aku ingin percaya kalau kamu melakukannya tidak sengaja karena mabuk." wajahnya kecewa


_____________________***______________________


Sejak kejadian itu, Rye merasa sangat bersalah pada Leo. Dialah yang menyebabkan putusnya hubungan Leo dengan Shannon. Rye merasa menjadi manusia paling hina di muka bumi.


Suatu hari Leo datang menyerahkan laporan pada Adrian. Leo dipersilahkan duduk di sofa dan Adrian duduk di dekatnya. Setelah membahas pekerjaan, Adrian menanyakan kabar Leo.


"Aku bohong kalau bilang aku baik baik saja. Aku sakit hati, Rye, tapi kamu adalah sahabatku. Aku juga berhutang budi atas semua kebaikanmu. Kamu membiayai hidupku, sekolahku, bahkan memberikan pekerjaan," kata Leo


"Aku bisa kehilangan Shannon. Namun dengan berjalannya waktu, aku bisa menemukan penggantinya. Tapi kamu tidak tergantikan. Kamu sahabat sejatiku," lanjutnya dengan mata berkaca - kaca.


Rye memeluknya dan menangis. Dia merasa semakin bersalah


Shannon menemui Rye satu bulan setelah kejadian itu. Di apartemen, dia sangat gugup. Bolak balik dia melihat cermin. Untung perutnya kecil jadi cukup meyakinkan kalau bilang baru hamil mau sebulan. Ini baru akan jadi masalah kalau kehamilan sudah besar.


"Ah semoga saja dia mau menberi uang. Setelah pertemuan hari ini, kami tidak akan bertemu lagi. Jadi dia tidak akan tahu kalau aku melahirkan dua bulan lebih cepat." batin Shannon


Mereka bertemu di sebuah cafe. Rye datang lima menit setelah Shannon.


"Terima kasih kau mau menemuiku. Aku hamil, sudah tiga minggu. Aku tidak memintamu untuk menikahiku atau memberiku uang yang banyak. Hanya saja, jika kamu mau sedikit membantu hiks..hiks..


" Shannon berhenti sebentar dan mengusap air matanya. "Aku kehilangan pekerjaan di rumah mode Zara, karena aku mual di pagi hari sejak minggu lalu. Boleh aku meminjam sedikit uang untuk biaya hidup dan biaya ke dokter?" tuturnya


Rye beranjak dari duduknya. Dia pindah ke kursi di samping Shannon. Dia memegang tangan Shannon.


"Aku juga akan mencari orang tua yang mau mengadopsi anak ini," lanjut Shannon berurai air mata.


"Shannon, maafkanlah aku. Kamu harus sakit dan kehilangan pekerjaan karena mengandung anakku. Kamu jangan khawatir, aku akan bertanggung jawab. Kamu tinggal saja di penthouse-ku. Aku jarang ada di sana karena harus bolak balik ke Indonesia untuk memulai perusahaanku sendiri. Tapi aku akan menggaji satu orang sebagai asisten pribadimu," kata Rye


"Kita tidak saling mencintai, tapi aku akan menjadi ayah untuk bayi ini. Terima kasih kau tidak menggugurkannya." lanjut Rye


Shannon sangat terkejut. Ini jauh di luar dugaannya. Dia kira Rye akan memberinya selembar cek dengan nilai yang menggiurkan, palin sedikit USD 100 ribu.


Bagaimana ini ?


_____________________***___________________


Dear Readers,

__ADS_1


Akankah Rye mengetahui kebohongan Shannon ? ikuti kelanjutannya ya


Mohon dukungan dengan like, komen, dan vote


__ADS_2