
Lima tahun kemudian…
Rye baru mendarat di Bandara Soetta. Urusan bisnisnya di New York cukup lancar. Dia harus segera mengurus izin produksi dari perusahaan batu bara miliknya.
Cuaca sangat cerah. Sore yang indah, batinnya. Rye menunggu di jalur E untuk penjemputan. Mobil yang dikirim Hotel Andromeda belum datang. Dia mendengar celoteh berisik di dekatnya. Rye melirik ke kiri, ke arah jalur D. Tampak tiga anak muda dan seorang perempuan berusia paruh baya saling rangkul dan tertawa-tawa. Sepertinya mereka satu keluarga.
“Aduuuh, Cilok! Elu tetap saja kumal. Gue pikir elu sudah jadi bule. Hahaha!” kata seorang pemuda bertubuh agak gempal.
“Derri, berhenti memanggil kakakmu Cilok,” kata perempuan yang lebih tua. Pakaiannya gamis, kelihatannya dia adalah ibu mereka.
Rye tersenyum geli dan geleng-geleng kepala melihat kehebohan itu. Lalu Kembali menatap lurus ke depan menanti jemputannya tiba.
Di Jalur D…
Anna baru lulus S2 dari sebuah universitas di Belanda atas beasiswa dari jalur NGO Award atau beasiswa untuk para pegiat LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Dia bergabung dengan sebuah LSM yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan hidup dan pemberdayaan masyarakat di salah satu provinsi di Kalimantan.
Ibu dan kedua adiknya memeluknya gembira saat menyambutnya di bandara. Lalu bersama-sana mereka menunggu taksi online datang menjemput. Keruwetan mencari tempat parkir di bandara mengurungkan niat Derri, adiknya, membawa mobil keluarga untuk menjemput sang kakak yang baru Kembali dari Negeri Kincir Angin.
Rye masuk ke sedan hitam khusus untuk menjemput tamu VVIP. Sesaat kemudian, taksi online datang menjemput Anna dan keluarga.
Di perempatan jalan pertama dari bandara, mobil Rye berjalan lurus, sedangkan mobil Anna belok kiri. Tak ada yang mengira, tangan takdir akan mempertemukan penumpang dari kedua mobil berpisah arah itu.
____________________***_____________________
Bernard Paul, asli Kanada. Usianya 71 tahun. Terhitung uzur untuk ukuran orang Indonesia. Kenyataannya, Pak Bernard terlihat masih segar dan cekatan. Jika sedang berkunjung ke desa-desa terpencil, beliau sanggup berjalan berkilo-kilo meter jauhnya dengan santai, tanpa terlihat Lelah. Sementara para staf lapangannya yang rata-rata lebih muda empat puluh tahun sudah ngos-ngosan.
Pak Bernard adalah sosok bos yang kalem dan sangat visioner. Beliau sangat mencintai Kalimantan, sampai-sampai mendedikasikan sisa usia dan uangnya demi pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat Kalimantan.
Beliau mendirikan LSM Hijau Lestari ini lima belas tahun lalu, bersama beberapa dewan pendiri, termasuk seorang tokoh masyarakat Dayak dari desa yang pernah dia dampingi.
Pak Bernad sungguh rendah hati dan ingin menutup mata untuk yang terakhir kalinya di Kalimantan.
Riska adalah Senior Program Officer di Divisi Lingkungan Hidup. Sudah enam tahun dia bekerja di LSM Hijau Lestari ini. Pagi itu, dia melirik sinis Anna yang sedang ngobrol dengan staf Bagian I & C (Information & Communication). Riska masih kesal karena Annalah yang dikirimkan untuk mengikuti seleksi NGO Award kala itu. Menurutnya, itu tidak adil.
Pak Bernard seharusnya memilih dirinya, meskipun beasiswanya sendiri diperuntukkam bagi program kebijakan publik. Dia pasti bisa. Anna baru tiga tahun bekerja di sini. Meskipun berdedikasi dan menonjol dalam pekerjaannya, Anna tetaplah junior dan bagi Riska, junior dilarang melangkahi senior.
Riska bertekad menemukan cara untuk menjatuhkan Anna dan menunjukkan pada dunia kalau lebih hebat dari Anna!
Kantor LSM Hijau Lestari yang nyaman menempati bangunan dua lantai. Lantai satu terdiri atas ruang tamu, pantry plus meja makan panjang, ruang rapat, dan mushalla kecil.
Ruang kerja ada di lantai dua. Tidak ada tembok, maupun sekat, yang memisahkan ruangan antara direktur, program manager, divisi program, unit pendukung, dan keuangan. Semua menyatu, dengan meja berjejer berhadapan per divisi. Meja direktur menghadap meja mereka, berjarak hanya sekitar dua meter.
Pak Bernard sendiri yang mengatur semua ini. Filosofinya adalah keterbukaan dan kesetaraan. Pemisah mereka hanya jalan kosong untuk lalu lintas staf.
Saat Anna asyik bertukar cerita dengan para staf untuk mengejar ketertinggalan informasinya selama kuliah di Belanda dan Riska menyusun rencana-rencana jahatnya untuk Anna, masuklah Pak Johan ke ruangan.
Pak Johan adalah salah seorang staf LSM Hijau Lestari yang asli berdarah Dayak Ngaju.
Pak Johan tidak sendiri. Di belakangnya mengekor seorang laki-laki muda berpenampilan perlente.
“Pak Bernard, ini Pak Adnan, baru tiba dari Jakarta untuk bertemu Bapak.” Pak Johan memperkenalkan laki-laki itu.
Pak Bernard menyambut dengan senyum hangat dan mengulurkan tangan pada tamunya, “Halo, Adnan! Bagaimana perjalananmu? Semoga lancar, ya.“ Dijabatnya erat sambutan tangan Adnan.
“Baik, Pak Bernard. Cukup lancar, meskipun cuaca kurang baik,” sahutnya.
“Panggil saya Ben. Folks, mari mendekat. Saya akan memperkenalkan kalian kepada pengganti Pak Didi,” pinta Pak Bernard.
__ADS_1
Seluruh staf berdiri merapat dan membuat setengah lingkaran di depan meja Pak Bernard.
“Ini Adnan, 28 tahun, belum menikah.” Pak Bernard mulai mengenalkan Adnan sambil tersenyum simpul, melirik staf-stafnya yang perempuan dan masih jomblo. Sontak penegasan status Adnan ini mengundang keriuhan kecil di antara mereka.
“S2 dari Australia.” Pak Bernard melanjutkan. “Dia akan menjadi Program Manager baru kita, menggantikan Didi yang mengundurkan diri bulan lalu karena harus merawat istrinya yang terkena stroke. So, dia harus pulang ke Jawa. Ayo, kalian memperkenalkan diri.”
“Hai, Adnan! Aku Dian, Koordinator Divisi Lingkungan Hidup.”
“Riska, SPO lingkungan hidup.”
“Dodi dan ini Winda. Kami staf Bu Dian.”
“Hai, aku Hendra! Biasa dipanggil Omest, katanya ganjen. Ini Neni, fruit children-ku, kami dari tim admin,“ Hendra memperkenalkan anak buahnya sambil bercanda.
Neni sewot sekali tidak diberi kesempatan memperkenalkan dirinya sendiri. Air mukanya langsung berubah. Lainnya, termasuk Adnan, tertawa melihat tingkah mereka berdua.
“Halo! Aku Wira, Koordinator Comdev (community development).”
Semua memperkenalkan diri, Agus, Dessy, Tiara, Dino, hingga giliran Anna.
“Hai, saya An… hatchiiih!” Anna mendadak bersin keras sekali, membuat air liurnya sedikit muncrat dan nyaris terkena Adnan.
Anna terkesiap, “Soriii!” Spontan Anna menutup mulutnya. “Sa-saya Anna, unit pendukung untuk riset dan kebijakan publik.” Anna segera memalingkan wajahnya yang memerah.
“ Okay, guys, untuk ngobrolnya kita lanjut di pantry, ya. Sambil maksi. Bu Lia memasak spesial untuk menyambut Mas Adnan,” kata Neni, sambil mengedipkan mata kepada Adnan.
Di pantry, Anna sangat girang melihat semangkok besar cilok yang sudah bermandikan bumbu kacang. Segera dia menyerbunya sambil menghunus garpu. Teman-temannya tertawa saja melihatnya.
“Take it easy, Anna. Ciloknya gak bakal lari,” kata Pak Ben terkekeh.
Anna memenuhi mulutnya dengan dua butir besar cilok sekaligus. Bumbu kacang menetes ke atas dada kirinya, mengotori pakaiannya. “Aduuuh, jorse, deh!” rutuknya pada dirinya sendiri.
Sore itu, Adnan sudah langsung bekerja. Pak Ben memberikan arahan di ruang rapat. Bu Dian, Riska, dan Anna ikut hadir.
“Adnan, minggu depan PT Eka Prakarsa akan melakukan konsultasi publik untuk mendapatkan izin tambang batu bara di Kabupaten X. So, kamu diskusikan profil perusahaan tersebut dan kondisi sosial di sana dengan Dian dan Riska.” Pak Ben memberikan arahannya.
Dia juga meminta Adnan mempelajari dokumen rencana penambangan dan pascapenambangan bersama Anna. “Kamu punya waktu tiga hari untuk mempelajari semuanya. Weekend kamu bisa keliling kota untuk orientasi tempat barumu.”
Menjelang pulang, Adnan dan beberapa staf turun ke lantai satu. Adnan langsung menuju halaman parkir, sudah ada Riska di sana menyapanya.
“Hai, Adnan!” sapanya. “Kamu diantar Pak Johan kan ke kosanmu? Aku ikut mecarikan kosanmu itu, lho, bantu Neni. Semoga kamu suka, ya, dengan pilihan kami. Itu sudah paling baguslah untuk rate satu setengah juta per bulan. Oh, ya, bagaimana kalau kujemput makan malam nanti? Anggap saja sebagai sambutan dariku,” ajak Riska mencoba ramah.
“Oh, Riska, kamu baik sekali, tapi aku kabari nanti sekitar pukul enam sore, ya. Khawatir aku akan sangat Lelah, tapi terima kasih atas tawarannya.” Adnan merespons juga dengan ramah. Dia tersenyum, menunjukkan giginya yang putih berbaris rapi.
____________________***______________________
Di dalam mobil menuju Kabupaten X, Bu Dian duduk di depan bersama sopir. Riska duduk di tengah dengan Adnan, sedangkan Anna di jok belakang. Urutan tempat duduk itu sudah direncanakan oleh Riska. Sebelum yang lain masuk mobil, Riska meminta Anna duduk di jok belakang. Dia beralasan ingin lebih mudah berkoordinasi dengan Adnan dan Bu Dian mengenai persiapan konsultasi publik.
Dasar Anna orangnya easy going, dia terima saja tanpa banyak bertanya.
Di awal perjalanan, Riska dengan dramatis mulai menceritakan kembali “perjuangannya” mencari kosan terbaik untuk Adnan. Dia bilang rintangannya banyak, mulai dari dikejar anjing pemilik kosan, jatuh dari sepeda motor karena jalanan yang licin, sampai rok payungnya tersangkut bilah pagar hingga robek gara-gara ada kadal melintas tiba-tiba.
Kosan Adnan adalah tempat kesepuluh dari sebelas tempat yang dia survei Bersama Neni. Di jok belakang, Anna mencibir.
“Katanya mau bahas konsultasi publik, malah ngomongin kosan,” sungutnya dalam hati. Masa bodoh. Anna kembali menikmati Novel Toon, web novel kepunyaan Mangatoon yang sangat dia sukai.
Konsultasi publik PT Eka Prakarsa meminjam aula Kecamatan A. Perwakilan masyarakat terdampak langsung hadir dari sepuluh desa di Kecamatan A dan lima desa di Kecamatan B. Para pejabat dari instansi terkait tingkat provinsi dan kabupaten juga hadir.
__ADS_1
Tampak pula Dewan Adat dan perwakilan dari empat LSM lingkungan, selain Hijau Lestari. Adnan dan tim disambut Manajer Humas PT Eka Prakarsa, Pak Ridzky.
Sesi pertama adalah pembukaan. Sambutan dari berbagai pihak cukup panjang dan membosankan. Setelah rehat,barulah masuk ke acara inti, yakni presentasi rencana kerja penambangan dan pascapenambangan PT Eka Prakarsa. Saat presentasi manajer humas baru berjalan beberapa menit, terdengar gemuruh suara helikopter mendarat. Pak Ridzky menghentikan presentasinya.
Tak berapa lama, masuklah sesosok eksekutif muda diikuti dua ajudan yang membawakan tas koper Ecolac dan sejumlah dokumen tebal. Sang eksekutif tampak gagah dengan setelan jas dan dasi yang serasi, serta tampak mahal. Dia merapatkan kedua tangannya di dada sebagai bentuk penghormatan kepada hadirin yang ada di ruangan.
Kacamata hitamnya dibuka dan dan dia bersalaman hangat dengan para pejabat dan tokoh-tokoh yang duduk di baris depan.
“Saudara-saudara, ini Pak Rye Adrian Raharja. Beliau CEO PT Eka Prakarsa.” Pak Ridzky memperkenalkan bosnya dan memberikan kesempatan untuk sang bos bicara, menyampaikan permohonan maafnya akibat keterlambatannya.
Anna menarik napas dalam. “Hadeuh, konsultasi publik isinya pidato melulu,” gerutunya perlahan.. Adnan melirik dan tersenyum.
“Sabar,” bisiknya. Lagi-lagi Anna tersenyum malu dibuatnya.
Tanggapan dan diskusi akan dibahas setelah rehat kopi. Adnan mempelajari kembali sejumlah catatan sebagai bahan diskusi nanti. Catatan itu adalah intisari dari sekian banyak input yang diberikan Bu Dian dan Riska terkait kondisi lingkungan, serta masukan dari Anna mengenai isi dokumen rencana kerja penambangan dan pasca penambangan.
Riska tersenyum penuh arti melihat persiapan Adnan. Hanya dia dan Tuhan saja yang tahu rencana apa yang ada dalam benaknya saat itu.
“Inilah saatnya menjatuhkan Anna,” batinnya.
Riska ditugaskan menyerahkan dokumen rencana kerja penambangan dan pasca penambangan kepada Adnan dan Anna. Anna baru datang dari luar negeri dan Adnan baru saja bergabung dengan mereka. Keduanya tak menyadari, jika satu dari dua puluh tiga lampiran yang menyertai kedua dokumen tidak ada. Mereka mengira telah mempelajari seluruh isi dokumen, berikut lampirannya.
Riska sengaja tidak menilap satu lampiran itu. Pagi-pagi sekali sebelum berangkat ke konsultasi publik, dia sudah tiba kantor untuk menyelipkan lampiran yang sempat dia sembunyikan itu, kembali ke tumpukan dokumen di atas meja Adnan dan Anna.
Dia tersenyum puas membayangkan betapa malunya Anna di forum ketika analisanya mentah karena ada satu lampiran penting yang tak masuk dalam kajiannya. Riska tidak menyadari, perbuatannya itu akan mencoreng juga reputasi organisasinya. Kedengkian telah menyelubungi hatinya.
Setelah rehat kopi, sesi tanya jawab dan diskusi berlangsung ramai. Adnan mendapat giliran mewakili Hijau Lestari untuk menyampaikan catatan yang perlu diklarifikasi di forum, kelemahan dari rencana kerja penambangan dan pascapenambangan.
Panjang lebar Adnan membacakan analisa Anna yang menemukan adanya kesenjangan atau gap yang sangat besar dari rencana tersebut karena tidak menyertakan manajemen risiko pada kondisi pasar global, dikaitkan dengan strategi mitigasi bencana.
Padahal kedua aspek itu penting untuk menjaga stabilitas produksi dan kemampuan perusahaan dalam memberikan kompensasi kepada masyarakat yang terdampak langsung oleh proyek penambangan.
Rye, sang CEO, dengan tenang merespons kajian Hijau Lestari yang disampaikan Adnan. “Saya tidak mengerti pada bagian mana organisasi Anda melihat kesenjangan itu.
Semua yang Anda sebutkan itu sudah kami jabarkan dalam suplemen 14. Silakan Anda lihat kembali.”
Perhatian seluruh peserta konsultasi publik tertuju pada Adnan dan tim. Anna sontak membuka kembali dokumennya. Dia yakin suplemen tersebut tidak ada. Tiap lampiran atau suplemen tidak diberi nomor, hanya diurutkan saja berdasarkan judul.
Anna membuka lembar demi lembar dan… dokumen itu ternyata memang ada! Dia terkejut dan menjadi sangat bingung.
“Mengapa bisa begini? Siwerkah mataku?” pikirnya. Dengan gugup, Anna mencoba meyakinkan Adnan kalau memang sebelumnya dokumen itu tidak ada. Adnan tak menjawab, dia meraih lampiran itu dan kembali ke forum.
Dengan gentleman, Adnan menyampaikan permohonan maafnya dan meminta waktu untuk mempelajari ulang. Selanjutnya, dia akan mengirimkan tanggapan dan masukan via e-mail.
Ketika acara selesai, Rye menghampiri Adnan dan timnya. “Kenapa kalian kebut semalam sampai suplemen sepenting itu terlewat?” tanyanya. Kedua tangannya berada di saku jas. Anna melangkah maju, namun Adnan menahannya.
“Maaf, Pak. Tampaknya saya sebagai program manager baru sangat ceroboh, tapi seperti yang saya sampaikan di forum tadi, Bapak masih bersedia kan menerima catatan dan masukan kami?” ujar Adnan.
“Tentu saja. Sesungguhnya saya tertarik pada bagian analisa kalian tentang relasi sosial versus bisnis. Biasanya LSM lingkungan macam kalian antibisnis, yang penting alam lestari. Lah, orang kan perlu kerja dan seterusnya. So, siapa yang akan menemui saya untuk menjelaskan lebih konkrit lagi soal itu?” kata Rye, masih dengan kedua tangan di saku.
Anna tersenyum lebar. Wajahnya mulai berseri. Dia seperti mendapatkan kesempatan untuk penebusan dosa. “Saya, Pak!” Dia mengangkat tangan kanannya.
Rye mengangguk dan tersenyum. “Temui saya besok di Hotel Andromeda. Dekat kantor kalian, kan?”
____________________***____________________
Dear Readers,
__ADS_1
Bagaimana pertemuan Adrian dan Anna berikutnya ? ikuti lanjutannya ya
Dukung otor dengan like, komen, dan vote