
Hari minggu Anna sukses membuat batagor. Kali ini batagornya mekar dan renyah. Dia berniat membawanya ke Penhouse Rye.
Rye memutuskan kembali ke Jakarta untuk menyiapkan perjalanan bisnisnya ke New York. Dia berharap sepulang dari New York bisa bertemu keluarga Anna dan sekaligus melamarnya.
“Enak. Enak enaakk …” Rye memakan Batagor itu penuh selera. Meskipun rupanya agak jijay. Soale tuh batagor panas panas sudah dimasukin tupperware lengkap dengan bumbu kacang, kecap, dan jeruk. Walhasil, batagornya kayak mandi keringat gitu waktu dibuka tupperwarenya.
Anna sumringah. Baru sekarang dia memahami dan menghayati kata bijak, “semua indah pada waktunya”. Sejak jaman jadul dia mencoba bikin batagor selalu gagal. Eh sekarang pas pacaran ma yayang Bou Bai sukses.
Rye cuci muka dan sikat gigi lagi. Anna masuk ke walk in closet dan menemukan Rye lagi ganti kemeja. Anna berdiri nyender di ambang pintu. Tangannya dilipat di bawah dada.
“Mau bantu ?” Rye dengan tatapan saktinya. Yang selalu berhasil membuat Anna tak berdaya. Seulas senyum di bibirnya membuat Anna jadi linglung.
Anna melangkah mendekati Rye. Dia mulai mengancingkan baju Rye dari bawah. Seperti dejavu kejadian di Rumah Sakit Kab. X. Rye merapihkan rambut Anna yang tergerai ke depan.
“Beres” kata Anna sambil mendongak, dan pada saat itu juga bibir Rye mendarat di bibirnya. Anna tersipu sipu ketika bibir mereka lepas. Rye menarik pinggang Anna dan menyesap lagi bibir si cantik itu sangat dalam dan lama. Anna ngos ngosan kehabisan napas. Mereka mengulanginya lagi seperti tak pernah bosan.
_____________________***_____________________
Hari senin selalu sibuk. Bu Dian mengajak Anna bicara di ruang rapat.
“To the point aja ni de. Gimana hubunganmu dengan Pak Rye. Apakah masih saling kedipan atau sudah deklarasi ?” tanya Bu Dian Jenaka.
“Kok ibu nyangka aku ada hubungan dengan Pak Rye ?” wajah Anna merona. Dia tersenyum tersipu sipu
“Semua orang sejak acara company gathering di PT. Eka Prakarsa sudah menduga ada udang di dalam bakwan antara kamu dan Pak Rye. Si Pak Deni tim kita tuh, ekspresi wajahnya seperti orang baru dirampok. Ituuu pas lihat kamu naik ke panggung pake kaos London Business School. Selain itu aliran listrik diantara kalian kalau lagi deketan bisa nyalain lampu se komplek ha…ha…ha…” Bu Dian merasa geli dengan pendapatnya sendiri.
Anna ikut tertawa, " ternyata kami PLN berjalan ya bu. Benar bu kami memang saling menyukai. Kami baru jadian 10 hari 12 jam he…he…he. Tapi saya maunya low profile aja. Nanti kalau kami jadi nikah, baru deh pengumuman. Malu klu ternyata kami putus."
“Ha…ha…ha… syukurlah saya ikut senang say. Nah gini May. Kalau berkenan, saya minta tolong nih mau memanfaatkan hubunganmu dengan Pak Rye. Bisakah kamu minta beliau menginstruksikan Pak Ridzky untuk menambahkan studi gender dan kekerasan untuk perempuan di sekitar tambang. Hasilnya untuk tambahan rekomendasi pada perusahaan.” Bu Dian mulai serius.
“Kenapa gak kita aja yang ajuin bu ?” tanya Anna belum paham
__ADS_1
“Gini May. Klu kita yang ngajuin, itu jatuhnya adendum kontrak. Prosedurnya jadi lama untuk sampai pada approval Pak Rye. Saya minta maap juga nih. Waktu kita semua harus ngasih masukan tentang kegiatan di proposal , yang itu lupa gak diusulin.” Bu Dian menyampaikan alasannya.
“Oh boleh. Dia lagi di New York sekarang. Nanti saya WA dulu.” Anna menyetujui sambil beranjak dari kursinya dan jalan bareng Bu Dian keluar ruang rapat.
Di pantry, mereka ketemu Jamilah. " Hei kalian baru beres rapat ya. Ayo nge-teh sini"
Anna menolak karena harus segera berangkat ke sekertariat tim Prospect. Bu Dian milih tinggal ikut nge-teh. Setelah Anna naik ke lantai 2, Bu Dian dan Jamilah tos 5 jari.
“Berhasil !. Siasat kita untuk misi penyelamatan Riska dimulai. Semoga berhasil ya.” kata Bu Dian antusias
Mulai saat itu Bu Dian dan Jamilah sering mengamati Adnan dan Riska. Baik dalam interaksi terpisah maupun ketika Adnan dan Riska berdekatan. Sudah satu minggu mereka observasi dan kesimpulannya masih sama : Adnan pria tampan dan karismatik. Dia supel dan cekatan dalam bekerja. Sopan santunnya, bahasa tubuhnya terlihat natural dan tulus. Bu Dian dan Jamilah melihat interaksi Adnan dan Riska sangat minimal. Ketika mereka berbicara satu sama lain terlihat tampak serius dan datar. NAH itu dia ! dulu Riska cukup agresif pada Adnan dan Adnan juga bersikap ramah pada Riska, seperti halnya pada staf lainnya.
Jamilah dan Bu Dian membahasnya sepulang kerja. Mereka pada kesimpulan ada sesuatu dalam hubungan Adnan dan Riska. Ini memperkuat temuan WA Adnan pada Riska yang bersifat memerintah.
____________________***_____________________
Hanya perlu dua hari bagi Bu Dian untuk mendapatkan kabar gembira yang dinantinya. Timnya dipanggil oleh Pak Ben.
“Saya mendapat email tadi malam dari Pak Ridzky, Manager Humas PT. Eka Prakarsa. CEO mereka, Pak Rye meminta kita untuk menambah kegiatan studi gender dan kekerasan di sekitar tambang. Ini akan digunakan untuk tambahan program perlindungan dan pemberdayaan perempuan di desa desa sekiar tambang. Itu luar biasa !. Isu ini sangat sensitif dan sulit dilakukan. Oleh karena itu, program semacam ini sangat mahal atau high cost. Kita butuh CEO visioner seperti dia. Semoga ada CEO lain yg seperti dia.” Pak Ben tak henti memuji Rye.
Riska mendengus. Kalau begitu ceritanya berarti dia sebenarnya yang berjasa. Kan dia yang menjebak Anna. Begitu gerutunya dalam hati.
" 100 juta" Kata Pak Ben mantap
Adnan tampak dingin saja ketika dia mendengar tim Bu Dian dapat tambahan kegiatan dan dana. Siang itu dia kembali ke kantor. Sejak pagi dia menghadiri acara di kantor gubernur.
Bu Dian menugaskan studi ini pada Riska selaku SPO. Instrumen dan protokol studi sudah ada. Itu tinggal disesuaikan dengan lokasinya saja.
Riska takut Adnan kesal karena dia harus ke lapangan selama dua minggu. Di sisi lain dia juga lega, karena bisa memulihkan dirinya.
Sebelum Riska ke lapangan, Jamilah sebagai Manajer HRD mengusulkan agar ada penambahan wawasan dulu untuk internal staf tentang gender dan kekerasan. Pak Ben setuju dan memuat memo pada semua staf agar wajib ikut dalam kegiatan ceramah dan diskusi mengenai topik tersebut.
__ADS_1
Jamilah dan Bu Dian mengunjungi LSM Rumah Teduh Perempuan. dr. Farid Ridwan selaku direktur memperkenalkan dr. Lisnawaty selaku koleganya. Di adalah psikiater. Dia menjadi volunteer membantu dr. Ridwan. Membahas rencana ceramah dan diskusi tentang gender dan kekerasan di LSM Hijau Lestari.
_____________________***______________________
Anna tersenyum ketika membaca WA dari Bu Dian…“Makasih ya May. Kamu telah membawa keberkahan untuk organisasi kita. Semoga Allah segera mempertemukan kalian dalam pernikahan yang langgeng dan bahagia…”
Ada rasa haru di hati Anna membaca pesan itu. Dia mengguman Aamiin. Dia membutuhkan semua dukungan do’a agar ibunya merestui cinta dia dan Rye.
Di sekertariat Tim Prospect…
Ini hari pertama Rye di New York. Perbedaan 11 jam sungguh menyiksanya. Anna menghela napas dan lanjut bekerja dengan laptopnya. Dia pengen cepat pulang. Jam 8 malam dia sudah janjian telepon dengan Rye.
Deni yang duduk disebrang Anna juga menghela napas dalam. Sejak kejadian di pesta bupati dan pesta perusahaan PT Eka Prakarsa di Kabupaten X, dia menyadari kalau niatnya untuk PERANG melawan Adnan sudah tidak relevan.
Pemandangan Anna mengancingkan baju Rye, belaian kecil Rye di rambut Anna ketika di rumah sakit begitu romantis. Chemistry diantara mereka begitu kuat. Hal itu diperkuat ketika pesta perusahaan, Anna mengganti kemejanya yang kotor dengan kaos Rye. Dia tau karena beberapa staf perusahaan yang berdiri di sekitarnya tampak tertegun dan kemudian saling berbisik…“eh itu kan kaos almamater si bos. Wah kok bisa si bos minjemin kaosnya ya ?”…terus yang lain …“apa dia pacar Pak Rye ya ?” …dst. Maka kesimpulannya, Adnan bukan saingannya, tapi Rye.
Deni merasa Rye bukan tandingannya. Maka diapun menyerah.
____________________***_______________________
Derri mengurungkan niatnya untuk pergi ke dapur. Dia duduk di ruang keluarga. Dia memutuskan untuk menguping pembicaraan ibunya dengan Bu Jony. Dia salah satu “selebritis” di grup pengajian Mesjid Al Barokah.
“Saya nih lagi galau Bu Jony. Sudah tiga hari istikharah, tapi masih belum dapat petunjuk. Si Anna malah mau pacaran sama orang Cina. Saya sih gak masalah sebenarnya selama se-iman. Tapi lihat kondisi masyarakat kita saat ini, tampaknya banyak yang gak suka sama orang Cina.”
“Ah gak usah istikharah Mama Anna. Mending cari mantu orang kita aja. Eh Bu Agus bilang sama saya kemarin, dia pengeeen banget jadiin Mbak Anna mantu. Reza minggu depan lulus dari akademi kepolisian. Dia langsung jadi perwira menengah karena sarjana kan. Mau dibawa kesini buat kenalan. Tapi nanti pura pura surprise aja ya kalau Bu Agus bilang.” Bu Jony ngasih saran yang gak bener nih
“Iya kah ?” mamih mulai ragu apakah dia masih perlu minta petunjuk Tuhan soal Rye.
“Bener. Itu logika aja. Kalau ada yang deket kenapa harus cari yang belum kenal. Oh iya, Bu Aswin, Mama Adit, Pak Sarwanto yang di Telkom pada pengen ngangkat mantu Mbak Anna. Cuma bukannya matre ya, kalau dari sisi ekonomi kan Bu Agus yang paling menonjol. Kalau saya punya anak bujang, ah sudah besanan dengan saya aja.” Bu Jony terus aja nyerocos kayak radio butut.
“Lagian kasian Mbak Anna kalau sampe jadi dengan orang Cina. Dia nanti ikut keluarga suaminya daripada keluarga kita. Meskipun ngaku Islam. Siapa tau mereka tetep makan ****.” Bu Jony melanjutkan ghibah bin pitnah (hadeeuh otor jadi ikut kesal)
__ADS_1
Mamih mengangguk ngangguk
Derri kesal sekali mendengar hasutan Bu Jony. “Dasar keong racun,” umpatnya. Aku harus mencari siasat bagaimana mamih bisa tetap objektif…, batin Derri sambil beranjak menuju dapur.