
Hari ini cuaca tampak cerah, langit berwarna biru, udara terasa segar sekali.
Gara menggandeng tangan Alice keluar istana. Mobil sport Lamborghini berwarna biru telah terparkir diluar,
Dean membukakan pintu mobil untuk Alice dan Gara.
Gara tidak mengatakan apa-apa pada Alice, mereka mengendarai mobil meluncur keluar dari istana.
Angin berhembus kencang menerpa wajah Alice, rambutnya terbang kesana-kemari. Gara memberikan kaca mata hitamnya pada Alice.
"Pakailah.." Tidak lupa Gara memasangkan sabuk pengaman Alice.
"Jadi.... Mau kemana kita Tuan Muda Vampire?" Tanya Alice.
Gara hanya mengangkat kedua alisnya. Perjalanan mereka diiringi oleh lagu-lagu pop yang sedang populer.
Alice mengalihkan pandangannya, melihat jalan yang tidak pernah dilaluinya, pemandangan baru baginya.
Gedung-gedung tinggi pencakar langit bertebaran di kanan kirinya. Banyak toko-toko menjual beraneka ragam makanan dan minuman. Butik-butik mewah berjajar disepanjang jalan.
Alice tidak pernah keluar rumah, sejauh ini dia hanya pergi ke kastil. Apapun yang Alice butuhkan, selalu dipenuhi oleh Bibi Anna dan Hans Kakaknya tanpa harus repot-repot keluar rumah.
Sehingga mengetahui Vampire dan Werewolf berkeliaran di jalan merupakan hal yang baru bagi Alice.
"Gara.. mengapa kau tidak terbakar? Aku serius ingin tauuu! Atau Kau ingin membuatku mati penasaran?" tanya Alice dengan wajah yang cemberut.
"Kenapa dengan sinar matahari? Dia tidak akan melukaiku, lihatlah baik-baik tubuhku.." jawab Gara.
Alice melihat tubuh Gara, tak ada luka sedikitpun, yang ada kulitnya terlihat sangat sehat dan kenyal, hanya saja kulitnya terasa dingin. Kemudian Alice mengendus badan Gara, aroma tubuh Gara menenangkan syaraf tubuhnya.
Hmmm
Wangiiiiii
Bisik Alice.
Gara tersenyum, kemudian Gara mencium kening Alice yang masih mengendus-endus tubuhnya.
Tak berselang lama akhirnya Gara menghentikan laju mobilnya. Mereka berhenti di depan sebuah butik pakaian yang terlihat sangat mewah. Bahkan nama butiknya pun semewah namanya "Rose gold" . Interiornya butiknya terlihat sangat luxury. Didominasi warna silver, gold dan merah maroon.
Saat Gara melangkahkan kakinya kedepan pintu butik tersebut, semua pelayan menyambutnya dengan menundukkan kepala. Tidak ada satu pasang matapun yang berani menatapnya, kecuali Alice.
Alice sudah menyesuaikan diri berada didekat Gara. Lagi pula siapa yang tidak mengenalnya. Gara merupakan seorang vampire dengan status tertinggi setelah Raja, Putra Mahkota.
Gara menggandeng tangan Alice memasuki butik tersebut. Mereka berani melihat Gara setelah Gara melewatinya. Mereka memandang iri Alice, tatapannya terasa menusuk punggung Alice dengan tajam.
Namun, Alice tidak mempedulikannya. Dia tetap berjalan bergandengan tangan dengan Gara.
Seorang Manajer butik berjalan ke arah Gara, dengan penuh hormat dia bertanya.
"Suatu kehormatan Yang Mulia memasuki toko kami. Ada yang bisa saya bantu.." Dia tidak berani menatap Gara, kepalanya tertunduk.
"Berikan semua koleksi pakaian kalian yang sesuai dengan tubuh Alice." Perintah Gara.
Sesuai instruksi Gara, semua orang sibuk mengambil pakaian yang sesuai tubuh Alice.
Alice mulai merasa tidak nyaman, puluhan pakaian berjajar didepannya. Alice mengambil asal pakaian tersebut, dia melihat price tag dan matanya melotot, Satu baju itu harganya sama dengan 10 buah Hp.
Alice berbisik ketelinga Gara, Gara membungkukkan badannya.
"Aku tidak terlalu membutuhkan pakaian, lagi pula pakaian itu terlalu mahal, aku tidak nyaman memakainya."
Gara berbisik ketelinga Alice.
"Pakaian yang kau pakai mencerminkan suamimu sayang.."
Pipi Alice merona, Jantungnya berdegup begitu cepat.
Semua orang yang melihat merasa iri terhadap Alice.
"Kirim semua pakaian ini ke rumah Alice." Ucap Gara.
__ADS_1
"Baik yang mulia.." jawab manager butik dengan senyuman yang mengembang.
Alice dan Gara meninggalkan butik. Tidak ada lagi pakaian yang dipajang disana, semua habis dibeli Gara.
Kemudian Gara membawa Alice kesebuah toko perhiasan.
Semua pelayan bertindak serupa. Alice mulai terbiasa.
"Tuan Muda, semua perhiasan disini adalah yang terbaik. Tidak ada toko lain yang menjual perhiasan yang sama seperti toko ini." Manager membujuk Gara.
Sedangkan Gara hanya melihat Alice, dia bertanya.
"Sayang, apa yang kau inginkan?" Tanya Gara.
Alice menggeleng, dia tidak menginginkan apapun.
"Aku rasa, aku akan mengambil semua perhiasan ini, kirimkan kerumah Alice." Perintah Gara.
Alice melotot melihat Gara, Gara pura-pura tidak melihat apapun, dia pura-pura memilih kalung.
Manager itu seperti mendapatkan durian runtuh, dia tidak pernah sebahagia ini, bibirnya tidak berhenti tersenyum.
Lalala
Lalala
Ah, bahkan dia bersenandung.
Gara menggandeng Alice keluar toko. Dia puas berjalan-jalan bersama Alice.
"Menyenangkan bukan?" Tanya Gara.
"Menyenangkan? Kau hanya menghamburkan uang! " Seru Alice kesal.
Gara tidak mempedulikan sebanyak apapun uang yang dia habiskan, dia merasa senang karena sedang bersama Alice, belanja hanyalah alibinya untuk lebih dekat dan lebih lama bersama Alice.
"Bisakah kita melihat air terjun didepan sana?" Tanya Alice.
Gara menyetujuinya, mereka berjalan ke arah taman dan duduk dikursi yang kosong.
Beberapa pasang mata memperhatikan gerak-gerik Alice.
Gara ingin secepatnya mengajak pulang Alice, namun tampaknya Alice sedang menikmati keindahan air terjun itu.
"Apakah sebaiknya aku membeli air terjun ini dan memasangnya dirumah?" Gumam Gara.
Alice duduk bersandar ke bahu Gara, dia menikmati setiap momen yang dia habiskan bersama Gara, Alice memegang tangan Gara dengan lembut. Dia bersyukur dapat bertemu Gara. Namun masih ada rahasia diantara mereka. Alice teringat kejadian di Bar malam itu.
Saat Alice ingin bertanya, Gara berbicara lebih dulu.
"Bagaimana jika sebaiknya kita pulang?"
Saat itu dengan cepat dan tiba-tiba seorang vampire berlari ke arah Alice, dia mendorong tubuh Alice, tak berselang lama vampire lainnya ikut menyerang Alice.
Dengan cepat Gara mengeluarkan kelelawar-kelelawar miliknya. Kelelawar itu melukai mata vampire-vampire yang menyerang Alice. Gara menggendong Alice dan pergi dengan cepat.
Gara meninggalkan mobilnya di basement parkiran butik. Dia menurunkan Alice dan memintanya menunggu di depan butik.
Setelah Gara meninggalkan Alice, seseorang berlari dengan cepat ke arah Alice, Alice merasa terancam, dia berlari dengan sekuat kakinya, Alice menyebrang ke jalan yang lebih ramai, dia hampir tertabrak mobil.
Bruugh
Alice terjatuh, lutut dan sikunya berdarah, Alice berdiri dan mencoba berjalan.
Uh
uuuh
Lukanya terasa perih, seseorang menepuk punggungnya dari belakang dan memeluknya dengan erat.
Dia, Gara.
__ADS_1
Setelah melihatnya Alice merasa tenang, badan Alice lemas dia terjatuh dan Gara refleks menahan tubuhnya.
Gara mendudukan Alice dikursi, dia menutup luka Alice dengan saputangannya.
"Baru beberapa detik aku meninggalkanmu..!!" Seru Gara.
Gara tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Saat dia baru mencapai mobilnya, Gara melihat seorang pria mengejar Alice, Alice berlari kejalan raya dan sebuah mobil Van putih yang melaju dengan kencang hampir menabraknya.
Beruntung mobil itu memilih menabrak lampu penerang jalan. Gara merasa tidak berguna. Dia memeluk Alice dengan erat.
Mereka pulang menggunakan mobil, Alice tidak berkata apapun, begitupun Gara. Perjalanan ini terasa sangat lama, suasana terasa suram.
"Aku baik-baik saja.." Alice memulai pembicaraan.
Alice menatap Gara dan menggenggam tangannya.
Gara melihat wajah Alice, dia tersenyum.
Gara membukakan pintu mobil, menggendong Alice dan membawanya ke rumah Bibi Anna. Bibi Anna terkejut melihat Alice datang dengan digendong Gara, dia ingin bertanya namun dihentikan oleh Hans.
"....."
"Aku akan naik sendiri Gara, kau pulanglah dulu .." Alice tersenyum.
Gara tidak mengatakan apapun, dia mencium punggung tangan Alice dan pergi.
"Alice.. apakah ada masalah?" Tanya Bibi Anna setelah yakin Gara telah meninggalkan rumahnya. Bibi Anna memutar tubuh Alice dan menemukan luka di lutut dan sikunya.
"Naiklah, aku akan membawa obat untuk lukamu." Bibi Anna berkata.
Hans hanya melihat Alice, dia tidak mengomentari ataupun bertanya.
Alice menaiki tangga dan membuka pintu kamarnya.
Dia terkejut melihat seseorang berdiri di jendela kamarnya. Dia memutar tubuhnya dan memeluk Alice dengan erat.
"Kent??" Alice terkejut.
Kent melepaskan pelukannya dan tersenyum.
"Aku merindukanmu gadis kecil.." Kent berkata manis.
Pipi Alice kembali merona, pipinya Semerah tomat busuk sekarang.
"Apa yang kau katakan? Kita baru berpisah satu hari saja, dan apa maksudmu merindukan ku? Kita kan baru saling mengenal." Alice mengalihkan pandangannya.
Kent mengendus tubuh Alice, dia mencium bau vampire.
"Uuhk, badanmu bau si penghisap darah itu." Lalu Kent melihat luka baru di tubuh Alice.
"Mengapa aku selalu menemukanmu terluka? Apakah kau sengaja mencari perhatianku?" Tanya Kent sambil tertawa.
"Apa maksud mu?" Tanya Alice kesal.
"Tidak, tidak.. aku bercanda.." Kent memeluk Alice lembut.
"Aku akan menghilangkan lukamu.." Bisik Kent.
Alice duduk di tempat tidurnya, Kent jongkok dan menjilat lutut Alice.
"Uuuuhk..."
Luka dilututnya menghilang tak berbekas.
Kemudian Kent menjilat sikunya, dan lukanya menghilang juga.
"Aaaah.."
"Waaaaw benar-benar hilaaaang!!!! Kau tidak berbohong ternyata." Refleks Alice memeluk Kent. Dan bersamaan dengan itu pintu kamar Alice terbuka, Hans berdiri disana dan melihat Alice memeluk Kent.
__ADS_1
Nampan yang berisi obat terjatuh.
"Praaang..!!