
Malam telah larut.
Bibi Anna terus menerus melihat pintu, dia menunggu kepulangan Alice. Hatinya tak tenang sebelum melihat Alice pulang.
Bibi Anna telah merawat Alice sejak 14 tahun yang lalu. Saat itu Alice berumur 5 tahun. Bibi Anna masih ingat dengan jelas kedatangan Alice kerumahnya. Saat itu hujan sangat deras, petir menyambar bersahut-sahutan, angin berhembus sangat kencang diluar sangat gelap. Terdengar suara ketukan pintu.
"Tok tok tok tok..'
"Ann... Annn... Annaaaa..." Seseorang berteriak dari luar.
Anna segera membukakan pintu, terlihat Kakaknya Anie dan Suaminya James sedang menggendong Hans dan Alice yang tertidur pulas di pangkuan Anie. Anie dan James masuk kemudian mengunci pintu rumah Anna.
Anna terlihat bingung dan khawatir karena mereka tampak pucat sekali.
"Anie ada apa? mengapa kalian terlihat pucat sekali?"
Anna belum melihat bagian belakang tubuh Anie dan James yang penuh luka cakaran. Dia baru menyadari nya saat hendak menggendong Hans.
"Astagaa.." Anna menutup mulutnya.
Anie dan James tidak mengatakan apapun, mereka hanya duduk dan membaringkan Alice dan Hans.
Saat itu Hans berumur 15 tahun dan Alice 5 tahun.
Anna mengajak Anie dan James keruangan lain sehingga mereka dapat berbicara tanpa mengganggu anak-anak yang tertidur.
Anna memulai pembicaraan dengan saudaranya.
"Anie.. apa yang sebenarnya terjadi?" Anna bertanya khawatir.
Darah terus menerus mengalir dari punggung Anie dan James. Anna dengan cepat mengambil handuk dan obat-obatan.
"Anna.. tidak apa-apa." Anie tersenyum.
"Ann, aku punya permintaan untukmu." Anie berkata.
Anna hanya diam mendengarkan, dia tau Anie betul-betul membutuhkan bantuannya.
"Ann.. tolong jagalah Alice dan Hans." Anie terdiam, kemudian air matanya mengalir.
James memeluknya dengan erat. Anna diam tidak mengatakan apapun. Matanya sudah panas, air mata mengalir deras dari matanya.
"Jagalah Alice sampai dia berumur 19 tahun. Rumah ini akan melindunginya sampai saat itu. Dan ingatlah, jangan biarkan Alice keluar dari rumah ini, aku ingin Alice hidup dengan normal tanpa mengetahui apapun." Anie berpesan.
Suara ketukan pintu membuat Bibi Anna tersadar dari lamunannya.
"Tok tok tok "
"Alice.. kau dari mana saja?" Saat melihat Hans yang berdiri diluar, Bibi Alice semakin ketakutan.
"Dimana Alice? Dimana Alice? " Bibi Anna bertanya histeris.
"Alice? bukankah Tuan Muda Gara mengantarkannya pulang? " tanya Hans.
Bibi Alice semakin tegang, dia berlari keluar mencari Alice seperti orang kerasukan. Hans menyusul Bibi Anna yang berlari.
"Alice..
"Alice...
"Alice....
Bibi Anna tidak menemukan Alice dimanapun, dia berlari dan terus meneriakkan nama Alice.
"Aliceee..
__ADS_1
"Aliiceeee ku mohoon Aliiicee..
"Aliiceeee....
Bibi Anna terjatuh dan mulai menangis, dia tidak mengenakkan alas kaki apapun, kakinya berdarah karena menginjak ranting. Hans memeluknya dan menenangkan Bibi Anna.
"Bibi tenanglah.."
"Percayalah.. Alice akan baik-baik saja Bibi Ann.." Hans membawa Bibi Anna pulang.
Bibi Anna terus melamun, dia menyesal tidak mengantar Alice ke istana. Dia menangis terus menerus. Hans meninggalkan Bibi Anna dan kembali ke istana dengan cepat.
* * *
2 Jam sebelum Alice menghilang.
Setelah berbicara dengan Gara cukup lama, akhirnya Alice memutuskan untuk pulang. Dia tidak ingin membuat Bibinya khawatir.
"Gara, Aku akan pulang sekarang." Ujar Alice.
"Aku akan mengantarmu.." Jawab Gara.
Saat Gara akan bersiap menaiki kudanya, Alice menolak dengan sopan.
"Tidak Gara, Aku akan pulang sendiri. Terimakasih..'
Ragu-ragu Gara membiarkan Alice pulang sendiri.
Namun akhirnya dia melepaskan Alice, sebenarnya hatinya tidak ingin berpisah, namun Alice tetap ingin pulang.
Gara melihat sampai kereta kuda yang membawa Alice menghilang, dia tidak merasakan perasaan buruk apapun dan ingin cepat bertemu lagi nanti tengah malam dikamar Alice. Gara menyesal dia tidak menjelaskan siapa dia yang sebenernya.
"Kenapa Aku begitu bodoh tidak mengatakannya, bagaimana jika dia tetap salah paham?" Gara bergumam menyesali kebodohannya.
Gara berjalan memasuki istana, dia langsung masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Tidak lama kemudian,
"Tuan Muda Gara, Yang mulia Raja memanggil Anda, saya permisi." setelah menyampaikan pesan Dean kemudian pergi.
Istana sudah tampak sepi, semua tamu telah pulang, yang tersisa hanyalah pelayan-pelayan yang membersihkan sisa pesta yang telah berlangsung.
Terdapat banyak sekali gelas-gelas yang bernodakan darah, aroma yang tidak enak untuk dihirup oleh manusia. Memang sebagian besar pelayan istana adalah manusia yang mengabdi kepada kerajaan. Sedangkan penjaga dan prajurit istana lebih banyak vampire.
Dunia telah berubah sejak lama, bangsa vampire telah hidup berdampingan dengan manusia dan hidup damai.
Namun bukan berarti dunia ini tanpa peperangan, kejahatan selalu terjadi dimana-mana, banyak mahluk- mahluk yang mencoba membunuh, atau menculik manusia. Bahkan mereka tidak segan memakan manusia secara utuh.
Gara dan Adik-adik nya selalu membantu penjaga dan prajurit istana dalam memberantas kejahatan. Gara selalu bekerja dalam bayangan sehingga tak seorangpun menyadari Gara keluar dari Istana untuk berburu.
Ketika Gara memasuki aula semua kepala pelayan tertunduk, mereka menghormati Gara dan tidak pernah berani menatap matanya yang merah seperti darah.
Satu-satunya Keluarga kerajaan berdarah murni, yaitu Kerajaan Nuqi. Gara adalah satu-satunya vampire yang mempunyai mata berwarna merah. Gara mempunyai 2 saudara, ibunya telah lama meninggal karena ada pelayan yang meracuninya. Kejadian itu membuat Gara susah didekati, hanya Deanlah satu-satunya pelayan yang Gara percayai.
Gara menaiki podium dan bertemu dengan Ayah dan Adik-adiknya. Mereka menatap Gara penuh rasa iri. Gara sudah biasa menerima pandangan itu, dia tidak menghiraukannya.
"Gara, Eric dan William anakku, Apakah hari ini kalian telah melihat seorang perempuan yang aroma tubuhnya manis? " Tanya Yang Mulia Raja.
Eric dan William berpandangan, sedangkan Gara hanya diam.
"Ayah, apakah Aku boleh memilikinya? " tanya Eric dengan cepat.
Mata Gara semakin membesar dan terlihat sangat merah. Eric dan William berhenti mengatakan apapun.
Raja kemudian melanjutkan pembicaraannya.
Dia menjelaskan bahwa Alice adalah calon istri dari salah satu anaknya. Namun Alice berhak memilih dengan siapa dia akan menikah, Raja tidak mau memaksakan kehendaknya apabila berhubungan dengan cinta dan pernikahan.
__ADS_1
Raja berpesan siapapun yang akan menjadi suaminya harus mampu untuk melindungi Alice, karena Alice adalah anak dari kedua temannya yang sangat berharga. Dan darah Alice mengandung kekuatan yang dahsyat, saat seseorang menghisap darah dari lehernya, maka dia akan mendapatkan kekuatan yang maha dahsyat.
Raja menjelaskan dengan hati-hati. Mereka tidak mengetahui bahwa ada sepasang mata dan telinga yang telah mengikuti pembicaraan sejak awal. Setelah mendengar apa yang ingin didengarnya dia menghilang.
Setelah selesai menyampaikan pesannya Yang Mulia Raja meninggalkan ke 3 anaknya dengan banyak pertanyaan di dalam kepalanya masing-masing.
Mereka berpikir untuk mendapatkan darah Alice kecuali Gara. Gara dengan tegas mengatakan kepada kedua adiknya bahwa dia akan menikah dengan Alice apapun yang terjadi.
Namun Eric tidak tinggal diam, dia menjawab pernyataan Gara.
"Kakak, apakah kau yakin kau menyukai Alice? bukan menyukai kekuatannya?" pertanyaan Eric menyudutkan Gara.
Gara diam, dia tidak mampu menjawab pertanyaan Eric. Dia berpikir dengan keras. Kepalanya terasa berat dan hatinya terasa sakit, dia bingung sebenarnya apa yang dia rasakan terhadap Alice.
Gara memutuskan pergi ke kamarnya, sedangkan Eric dan William saling berpandangan. William dan Eric masih berada di podium Raja, mereka melanjutkan pembicaraan yang tertunda.
"Will, apakah Kau melihat Luca?" Tanya Eric.
"Luca dan Aku berpapasan tadi saat Aku membawa Alice." Jawab Will.
"Will, apakah kau tidak merasakan ada yang aneh dengan Luca?" Eric bertanya lagi.
William berfikir, memang tingkah laku Luca berbeda sejak sebulan yang lalu. Luca tidak pernah menghisap darah manusia sampai kering, namun beberapa hari yang lalu William melihat dengan mata kepalanya sendiri Luca menghisap darah manusia sampai kering dan mati.
"Eric, Aku rasa ada yang salah dengan Luca. Dia berbeda dengan dirinya sendiri. Aku rasa Luca bukan Luca yang kita kenal." Jawab William tenang namun pasti.
"Aku mencium bau yang aneh dari tubuh Luca.. seperti bau busuk, namun aku takut hanya perasaanku saja. " Jawab Eric.
"Apakah Kakak mengetahuinya?" Tanya William.
"Aku rasa tidak, Kakak lebih senang sendiri, dia sulit bergaul, kau tau, mungkin karena dia sudah tua." Eric tertawa.
"Eric, jaga sikapmu, Kakak akan mendengarnya. Bagaimana jika kita memperingati Kakak dan Alice?" William mengajukan ide.
"Hmm, aku rasa patut dicoba." Eric berdiri dan mengajak William ke kamar Kakaknya.
"Tok..tok..tok..."
Seseorang mengetuk pintu kamar Gara.
Gara membukanya dengan kesal, dia tau kedua adiknya yang mencoba untuk mengusiknya. Padahal Gara telah bersiap untuk pergi ke rumah Alice saat itu.
"Kakak, Aku hanya ingin memberitahumu bahwa akhir-akhir ini tingkah Luca berbeda, Aku ingin Kau waspada." Ujar Eric langsung pada intinya.
Saat Gara hendak menjawab pernyataan Eric, seseorang berlari memasuki kamar Gara.
"Tuan muda..
"Tuan muda.."
Gara marah, seseorang memasuki wilayahnya tanpa seizin nya. Dia mengangkat leher manusia itu ke atas.
"Alice tuan muda..'
Ketika mendengar nama Alice, Gara menurunkan lelaki itu.
"Apa yang terjadi?" Tanya Gara dengan marah.
"Alice ..
"Alice
"Tidak pulang yang mulia.."
Jawab Hans dengan ketakutan.
__ADS_1
Wajah Gara memanas, matanya menyala, taringnya keluar dia bisa menghancurkan apapun yang ada didepannya.