Cinta Dan Rahasia

Cinta Dan Rahasia
Alice Yang Terkurung


__ADS_3

Malam itu diadakan sebuah pertemuan mendadak seluruh anggota keluarga. Yang Mulia Raja beserta para Menteri menghadiri pertemuan yang dipersiapkan oleh Gara. Terlihat William dan Eric duduk berdampingan. Setelah semua kursi terisi penuh. Gara berjalan bersama Alice dan duduk dihadapan undangan. Kemudian Gara berdiri dan bersiap menyampaikan pengumuman.


"Selamat malam Yang Mulia Raja.." Gara menundukkan kepalanya. Yang Mulia Raja mengangguk dan mempersilahkan Gara untuk melanjutkan perkataannya.


"Saya ingin menyampaikan kabar yang sangat penting dan sangat membahagiakan." Gara tersenyum dengan bangga. Alice merasa sangat malu duduk dihadapan seluruh anggota kerajaan, ingin rasanya dia menutup wajahnya dan kabur dari sana.


"Istri Saya tercinta, Alice..


"Dia sedang mengandung anak Saya,


"Dan dia berjenis kelamin Laki-laki." Gara menutup pengumuman dengan senyuman kemenangan.


Seketika, semua orang yang hadir disana riuh, termasuk Yang Mulia Raja, dia berdiri karena sangat terkejut. William tidak menunjukan ekspresi apapun, karena dia mengetahui semuanya.


"Will, kau sudah tau?" Eric berbisik di telinga William. William hanya mengangguk dan tersenyum.


"Ayah, apa ada yang ingin disampaikan?" Gara menunggu jawaban Yang Mulia Raja yang masih berdiri.


Yang Mulia Raja berjalan menuju kursi yang diduduki oleh Alice, Alice merasa tegang dan tidak tau harus berbuat apa.


"Alice anakku.." Raja menggenggam tangan Alice dengan erat. Alice tidak berani menatap wajah Yang Mulia Raja.


"Apakah semua yang disampaikan oleh Gara benar?" Semua orang yang ada disana menjadi tegang menunggu jawaban Alice.


Dia merasa Dejavu dengan kondisi saat ini. Teringat olehnya persidangan beberapa hari yang lalu, dimana semua orang memandangnya dengan tatapan jijik dan penuh penghinaan karena jebakan yang Laura buat. Namun, sekarang semua orang menatapnya penuh hormat, sungguh perbedaan yang sangat jelas sekali terlihat oleh siapapun.


Alice tidak berkata apapun, dia hanya mengangguk dan tetap diam.


"Ah..


"Hatiku sangat lega Alice!!" Raja memeluk tubuh Alice yang mungil, semua orang yang melihat merasa tidak percaya dengan pemandangan yang mereka saksikan.


Alice terkejut dengan perlakuan Yang Mulia Raja, tidak pernah terpikir sedikitpun Yang Mulia Raja akan memeluknya seperti itu.


Gara berjalan mendekat, dan berbisik ditelinga Ayahnya.


"Ayah, lepaskan Alice..


"Kau membuatku malu."


Yang Mulia Raja tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Gara.


"Oh astaga anakku, Gara ..


"Tidak bisakah kau membiarkanku sebentar?


"Apa kau percaya?


"Aku akan menjadi seorang Kakek!" Yang Mulia Raja meneteskan air mata.


"Ibumu pasti bahagia sekarang." Raja menghapus air matanya.


"Semoga Yang Mulia Raja selalu diberkati.." Semua orang berteriak bersama.


Seluruh ruangan dipenuhi tawa, semua orang tersenyum penuh kebahagiaan. Gara dan Alice berpelukan, menikmati setiap momen yang terjadi.


* * *


Sudah 6 Minggu sejak Alice diketahui hamil, sekarang karena sudah didampingi oleh dokter Reina, berat badan Alice sudah mulai naik, perutnya sudah terlihat sedikit buncit.


Selama awal kehamilan Alice tidak mengalami mual muntah seperti pada umumnya yang terjadi pada Ibu hamil, hanya nafsu makannya saja yang berkurang. Setiap kali panca inderanya meningkat, Alice selalu ditemani oleh Lin atau dokter Reina, karena Gara sibuk dengan pekerjaannya.

__ADS_1


Sesekali, William dan Eric berkunjung hanya untuk mengetahui kondisi Alice. Seperti saat ini, William datang dengan membawa buah-buahan yang disukai oleh Alice.


"Hai wanita buncit.." William menggoda Alice yang sedang duduk malas ditempat tidurnya.


"Kau, dasar menyebalkan!" Alice membuang muka tidak mau melihat William.


Akhir-akhir ini memang Alice sukar mengontrol emosinya, William mengetahuinya dan terus-menerus menggoda Alice.


"Kau terlihat imut dengan perut besar itu Alice." William tertawa terbahak-bahak.


"Tutup mulutmu Will, atau aku akan mengejarmu dengan perutku yang buncit ini."


"Tidak, tidak jangan lakukan itu.


"Aku menyerah." William mengangkat kedua tangannya ke atas.


"Aku membawakan mu berry, lihatlah.." William menaruh buah berry diatas meja.


"Aaah, berikan itu..


"Berikan padaku.." Alice merajuk manja.


"Dasar kau ibu pemalas, turunlah."


"Berikan padaku Willl....


"Aku mohon....." Alice menunjukkan raut wajah memelas.


"Ha, baiklah.." William mengambil beberapa buah berry dan menaruhnya diatas telapak tangan Alice.


"Terimakasih.." Alice tersenyum senang, lalu melahap semua berry yang ada didalam genggamannya.


Setelah Gara mengetahui bahwa Alice sedang hamil, dia tidak membiarkan Alice keluar dari kamarnya, kecuali keluar bersamanya, Gara tidak mengijinkan Alice meninggalkan kamar.


Beberapa hari ini Alice terus menerus meminta keluar dari kamarnya pada Gara, dia ingin melihat taman, ingin jalan-jalan di kolam belakang, ingin pulang kerumahnya, ingin melihat hutan dan hal sulit lainnya.


Gara terlalu takut membiarkan Alice keluar dari kamar, dia selalu teringat pada saat Alice tidak sadarkan diri saat itu dan tidak ingin Alice mengalami hal yang sama, maka dari itulah Gara meminta Alice untuk diam didalam kamar.


"Will..


"Bawa Aku keluar dari sini." Alice menatap William penuh harap.


"Ah..


"Kau ingin Gara mencabik ku?


"Sungguh kau memang yang terbaik Alice.." William pura-pura tidak melihat Alice.


"Ayolah Will..


"Aku seperti burung dalam sangkar.."


"Kau kelelawar bukan burung, koreksi itu."


"Kau memang menyebalkan.." Alice memukul punggung William.


"Aku tidak bisa membawamu keluar Alice..


"Tapi Aku bisa membawakan mu seseorang.


"Bagaimana?"

__ADS_1


"Sungguh?


"Benar, Gara memang tidak mengijinkan Aku keluar, tapi bukan berarti orang lain tidak boleh masuk kan?" Mata Alice berbinar-binar.


"Apakah kau puas?" William bahagia melihat Alice tersenyum, terlihat giginya yang tidak rapih yang selalu membuat William terpesona melihatnya.


"Aku senang, terimakasih Will.." Alice mencium pipi William dengan cepat, wajah William memerah, refleks dia berdiri dan berjalan keluar.


"Aku akan pergi sekarang." William berjalan menjauh tanpa menengok kebelakang.


"Ada apa dengan anak itu?" Alice yang ditinggalkan secara mendadak menjadi bingung.


"Seharusnya Aku minta dia untuk membawa Hans dan Bibi Ann, aku sungguh merindukan mereka."


Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat, kemudian disusul suara ketukan pintu.


Tok


Tok


Tok


"Lin, lihatlah siapa yang ada disana."


"Baik Ma'am.."


Lin membuka pintu dan terkejut melihat seseorang yang tidak dikenalnya. Dengan cepat Lin menutup lagi pintunya.


"Siapa disana Lin?"


"Dia seseorang yang tidak Saya kenal Ma'am."


"Kau tidak menanyakan namanya?


"Kembalilah dan tanyakan siapa dia."


Lin kembali membuka pintu dan menanyakan namanya.


"Dia bernama Kent Ma'am."


"Apa kau bilang?"


"Dia bernama Kent Ma'am."


Alice bangun dari tempat tidur dan berlari menuju pintu, dia nyaris tersandung namun Lin membantunya dengan cepat sehingga Alice tidak terjatuh.


"Ma'am, tolong berhati-hatilah.." Lin sangat khawatir melihat Alice hampir terjerambab.


"Terimakasih Lin.."


Alice membuka pintu dengan cepat dan tanpa melihat lagi dia memeluk seseorang yang ada dihadapannya.


Lin yang terus memperhatikan menjadi bingung dengan apa yang dia lihat.


"Kent..


"Sungguh itu kau?


"Aku merindukanmu.." Alice mencium pipi Kent dengan lembut.


Kent yang sangat senang bisa melihat Alice membalas pelukan Alice dengan lembut. Wajahnya terlihat sangat bahagia dan penuh dengan senyuman.

__ADS_1


__ADS_2