
Setelah Alice terpuaskan dengan semua darah yang Gara berikan, Alice merasa tenaganya penuh kembali dengan cepat, lalu dia meminta Gara untuk memanggil bidan karena telah siap untuk melanjutkan proses persalinannya. Gara merasa enggan meninggalkan Alice, namun Alice bersikeras memintanya untuk keluar, Gara tidak bisa menolak setelah melihat senyuman mengembang diwajah Alice.
Tidak berselang lama kemudian beberapa bidan memenuhi ruangan persalinan. Gara keluar dari ruangan dan berjalan mondar-mandir didepan pintu. Dean dan Lin yang melihatnya ikut tidak tenang.
Beberapa saat telah berlalu, ruangan terdengar sangat gaduh dipenuhi oleh teriakan-teriakan memandu dan teriakan menahan. Alice terdengar sangat kesakitan, beberapa kali Gara menahan diri untuk tidak menerobos masuk dan mengingat perkataan Bidan bahwa akan menghambat proses persalinan Alice.
Dan kemudian tidak terdengar suara apapun, terasa keheningan yang aneh. Gara, Dean serta Lin menyadari perubahan itu, suara gaduh yang terdengar beberapa saat yang lalu menghilang. Gara menghentikan langkahnya dan mendekat kearah pintu, semua orang menahan nafas untuk sesaat, tetapi waktunya terasa sangat lama, dan sedetik kemudian tangisan bayi yang sangat kencang bisa terdengar, tubuh Gara langsung jatuh kelantai, dia merasa lemas sekali, seluruh tubuhnya bagai tak bertenaga.
"Fiuh..."
Tidak diketahui siapa yang menghela nafas, terlihat senyuman di bibir Dean dan Lin, begitupun dengan Gara.
Sekilas sepertinya semua orang dapat dengan mudah mempunyai seorang anak, tetapi ada banyak wanita yang meninggal setelah melahirkan. Dean tidak ingin memikirkan hal-hal yang tidak menyenangkan yang akan terjadi jika sesuatu terjadi pada Lady Alice. Dia tidak bisa membayangkan Gara tanpa Alice di sisinya.
Alice itu sudah seperti alat pengaman bagi Dean. Dia adalah benteng terakhir. Di masa lalu keputusan Gara adalah keputusan akhir, jika seseorang diminta untuk mati maka dia tidak punya pilihan selain melakukannya. Namun sekarang Gara bahkan tidak menolak untuk naik tahta karena diminta oleh Alice.
Dia berharap Ma'am akan terus menjinakkan binatang buas yang dikenal sebagai Tuan Muda Gara untuk waktu yang sangat lama sampai maut benar-benar memisahkan jika mungkin terjadi.
Pintu ke kamar terbuka dan bidan keluar, bersama dengan asisten yang bertugas. Wanita tua itu mengangguk pada Gara yang menatapnya dengan tajam.
"Bayi perempuan dan laki-laki yang sangat sehat, cantik dan tampan. Selamat."
Gara bingung, dia melihat 2 bayi tepat didepan matanya, Bidan tua menyerahkan bayi laki-laki ketangan Gara, namun Gara enggan untuk memegangnya, dia ragu akan menyakiti bayi yang mungil itu.
Semua orang yang melihat ikut terkejut melihat kehadiran 2 bayi mungil itu, kehadiran mereka sungguh membius setiap orang yang menatapnya.
"Mengapa ada dua?" Gara masih bingung.
__ADS_1
"Ini bayi kembar Tuan Muda, Saya tidak menyangka selama ini Ma'am mengandung 2 orang anak. Ini diluar prediksi Saya." Tiba-tiba Reina keluar dari ruangan dan menjawab pertanyaan Gara.
"Selama periksaan kehamilan hanya ada 1 bayi, namun saat proses persalinan tadi setelah melahirkan bayi laki-laki, Ma'am melahirkan lagi 1 bayi perempuan." Reina melanjutkan jawabannya.
Gara menatap dua bayi itu bergantian, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, dua mahluk mungil yang hidup dengan warna rambut seperti Alice dan sebagian seperti miliknya, tangan dan kakinya sangat kecil, Gara bahkan tidak berani menyentuhnya.
Semua orang mengucapkan selamat padanya, Dean meneteskan air matanya yang bahkan tidak keluar saat Kakak perempuannya melahirkan tahun lalu. Gara menghela nafas panjang dan tersenyum seperti anak kecil yang baru bisa berjalan.
"Bisakah aku masuk?"
"Masih ada beberapa hal yang harus diurus. Mohon tunggu sebentar lagi." Bidan menggendong bayi laki-laki dan asistennya menggendong bayi perempuan masuk kedalam kamar lagi.
Setelah menunggu satu jam lebih, Gara akhirnya bisa masuk ke dalam ruangan. Kamar tidur itu terasa sunyi. Orang-orang yang bergerak dengan tenang dan fokus pada pekerjaan mereka masing-masing tidak peduli apakah Gara masuk atau tidak tetapi Gara tidak menyadari semua itu karena fokus melihat Alice yang masih terbaring.
Tatapannya langsung terpaku pada istrinya, dengan cepat Gara berjalan menuju ke tempat tidur.
Alice kehabisan tenaga karena sakit yang dialami saat proses persalinan dan dia tidak bisa tidur sedikitpun selama proses persalinan itu berlangsung. Bidan telah menginstruksikan bahwa bahkan jika dia belum memiliki ASI dia harus meletakkan bayi di atas payudaranya jadi dia langsung melakukannya dan segera tertidur setelah menyusui. Dengan rasa sakit yang perlahan menghilang, dia tidak bisa melawan kantuk yang segera dirasakannya.
Gara duduk sangat perlahan di tempat tidur berhati-hati agar tidak menggoyangkan tempat tidur yang dia duduki sedikitpun. Dia terus memperhatikan raut wajah istrinya dengan lembut dan mengusap keringat di dahinya. Ketika dia melihat istrinya tertidur dan terlihat seperti mati hatinya terasa sangat sakit.
"Apakah dia baik-baik saja? Apakah benar baik-baik saja?"
Jauh didalam lubuk hatinya, Gara masih cemas. Meskipun dokter Reina dan bidan telah mengatakan kondisi Alice sangat stabil tapi Gara tidak bisa menghilangkan keraguan nya.
Dulu ketika waktu persalinan semakin dekat, Gara lebih khawatir untuk bertemu dengan bayi itu dari pada merasa gembira. Dia takut istrinya akan merasa cemas jika dia melihat kegelisahannya, jadi Gara bekerja keras untuk tidak memperlihatkan nya di depan Alice, namun sebenarnya Gara sering terbangun di waktu fajar dan terjaga sepanjang malam menyaksikan istrinya tertidur.
"Ma'am merasakan sakit untuk waktu yang lama karena ini adalah proses persalinan yang pertama, tetapi proses persalinan berlangsung aman, Anda harus lebih tenang dan rileks Yang Mulia."
__ADS_1
Bidan terus memperhatikan bahwa Gara tidak melihat dua bayi itu sama sekali. Bidan membawanya terlebih dahulu. Dia telah melahirkan banyak anak selama beberapa dekade tetapi ini adalah pertama kalinya dia melihat seorang suami yang matanya terpejam di wajah istrinya tanpa memperhatikan bayi yang baru lahir itu.
Bidan mengambil bayi perempuan yang telah dicuci oleh asistennya lalu menyerahkannya kepada Gara.
"Pegang ini Yang Mulia."
Ketika Bidan mendesaknya beberapa kali Gara dengan canggung menerima bayi itu dengan cara yang tidak berdaya. Disisinya, Bidan menasehatinya tentang cara menggendong anak.
"Bayi ini sangat mungil."
Itu adalah pikiran pertama Gara saat ia menggendong bayi itu. Mahluk yang sangat kecil dan tidak berdaya untuk ukuran mahluk yang begitu energik didalam perut istrinya. Bayi yang telah mengubah kepribadian dan selera istrinya.
"Terlihat aneh."
Bayi itu masih terlihat kemerahan di seluruh tubuhnya dan masih terlihat bengkak di wajah dan matanya. Jika Gara melihat bayi itu setelah baru lahir, dia pasti akan sangat terkejut. Saat ini, bayi itu bersih karena baru saja dimandikan.
"Dia adalah bayi perempuan yang sangat cantik. dia akan tumbuh menjadi gadis cantik."
Setelah mempunyai banyak pengalaman dengan bayi yang baru lahir, Bidan dapat melihat penampilan bayi yang belum terungkap dengan baik. Penampilan yang dimiliki bayi yang baru lahir, sangat berbeda dari yang nantinya akan muncul.
Namun, Gara menganggap apa yang dikatakan Bidan itu hanyalah sebagai hiburan. Tidak peduli bagaimana dia melihatnya, bayi itu terlihat aneh.
Bidan itu tidak bisa menahan tawanya ketika dia melihat betapa canggung Gara menatap anaknya. Reaksi pertama seorang ayah ketika dia melihat anaknya adalah sangat bahagia atau merasa bingung.
Tidak seperti seorang ibu yang menghabiskan 9 sampai 10 bulan merasakan bayinya bergerak ketika tumbuh di dalam perutnya. Tidak ada banyak kasus seorang ayah merasakan kasih sayang begitu dia melihat anaknya.
Tidak lama kemudian terlihat asisten mendekat dengan menggendong seorang bayi laki-laki dan menyerahkannya pada Bidan.
__ADS_1
Asisten mengambil bayi dari tangan Gara dan membawanya keluar, lalu Bidan menyerahkan bayi laki-laki itu ke tangan Gara, lagi-lagi Gara terlihat bingung.
Bidan itu mendengus tertawa dan mendecakan lidahnya. Dia memberi isyarat agar semua orang meninggalkan ruangan lalu meninggalkan kamar terakhir dengan bayi laki-laki di tangannya.