Cinta Dan Rahasia

Cinta Dan Rahasia
Will You Marry Me?


__ADS_3

Gara terdiam lama..


Alice menyadari keanehan yang terjadi, dia sadar Gara selalu menolak atau mengalihkan pembicaraan jika hal itu berkaitan dengan anak.


Alice memeluk pinggang Gara, dia memeluknya dengan erat.


Gara menatap tangan Alice yang memeluknya, tangannya begitu mungil, dia tidak ingin kehilangan Alice lagi.


Hatinya tidak siap untuk mengatakan kebenaran pada Alice. Namun, Gara sudah tidak bisa lagi menghindar lagi, Alice harus tau keadaan yang sebenarnya.


"Alice.. sayang.." Gara memutar tubuhnya dan menatap Alice dengan lembut.


Ada kesedihan yang terpancar dalam tatapannya. Alice mencoba tersenyum, namun dia dapat merasakan kesedihan yang Gara rasakan.


"Katakanlah.." Alice tersenyum, dia menunggu jawaban Gara.


Braaak..!!


Pintu kamar Gara terbuka dengan keras.


Bibi Anna berlari kedalam dan memeluk Alice dengan kuat.


"Aku sangat mengkhawatirkan mu, kau baik-baik saja sayang??" Bibi Anna memutar tubuh Alice bagai boneka.


"Aku baik-baik saja Bibi.." Alice mengecup kening Bibinya yang sudah berkerut.


"Hanya saja kau dingin sayang.." Bibi Anna tersenyum.


"Ahh.. apakah aku mengganggu pembicaraan kalian?? maafkan saya Tuan Muda..." Bibi Anna merasa bersalah.


"Tidak, kami akan bicara lain kali, sebaiknya kalian beristirahat.."


"Dean.. antarkan Bibi Anna dan Alice ke ruangannya." Ujar Gara.


Dean masuk dan bergegas mengantar Alice dan Bibinya untuk beristirahat.


"Bibi, pergilah lebih dulu... aku akan bicara dengan Gara sebentar." Ucap Alice.


"Oh.. baiklah sayang, aku akan pergi lebih dulu." Jawab Bibi Anna.


Alice membuka pintu kamar Gara, Gara sedang berdiri menghadap jendela. Dia memandang kegelapan malam.


Alice memeluknya lagi, dia memeluknya dengan erat seakan tidak ingin berpisah.


"Apakah kau tidak lelah??" Tanya Gara.


"Kau tau, kau menyembunyikan sesuatu dariku. Aku tidak suka hal itu." Alice cemberut.


Gara menatapnya dengan lembut, tangannya menyentuh pipi Alice yang dingin.


"Alice sayang.. kau tau, aku sangat mencintaimu."


"Perasaanku padamu tidak akan pernah berubah.."


"Meskipun dunia dan seisinya hancur aku akan tetap mencintaimu.."


Wajah Alice memerah, dia tidak bisa menyembunyikan.


Gara mengecup kening Alice dengan lembut.


"Aku tau.. aku juga sangat mencintaimu, tak akan ada bisa menggantikan mu.."


"Aku sungguh-sungguh tidak bisa hidup tanpa dirimu.."


Mata Alice berkaca-kaca, dia tidak bisa menahan air matanya lagi.


"Kau menangis, aku membuatmu menangis lagii.." Gara menjauh dari Alice.


Alice mengejarnya dan memeluknya.


"Gara..! Aku sangat bahagia!! apakah kau tidak bisa membedakannya??" Alice kesal dengan jawaban Gara.


"Maafkan aku, maafkaan aku sayang.. maafkan aku, aku.. aku hanya tidak tahan, aku tidak bisa melihatmu menangis, aku merasa gagal untuk melindungimu." Jawab Gara.


"Aku menangis karena bahagia Gara.. tatap mataku, apakah aku terlihat sedih? apakah aku terlihat terluka?"


Gara menggelengkan kepalanya. Dia memeluk Alice dengan erat.


"Aku mencintaimu.. aku mencintaimu.." Bisik Gara.


Alice membenamkan wajahnya di dada Gara yang bidang.


Gara mengantar Alice ke ruangan Bibi Anna. Bibi Anna dan Hans sedang memakan sebuah cake yang berukuran sangat besar.


"Aaah apakah aku melewatkan sebuah pesta??" Ucap Alice jahil.


"Nikmatilah waktu kalian, aku akan menemui ayahku.." Gara tersenyum lalu pergi meninggalkan Alice bersama Bibinya.


Hans berjalan kearah Alice dan memeluknya.


"Kau baik-baik saja Alice?" Tanya Hans.


"Seperti yang kau lihat.." Alice tersenyum.


"Aah, selamat ulang tahun Hans!!" Alice mengecup pipi Hans.


"Terimakasih adikku yang manis.." Hans mengecup kening Alice.


"Duduklah sayang.. apa yang kau bicarakan dengan Tuan Muda??" Tanya Bibi Anna.


"Hmm, aku tidak membicarakan apapun.." Alice tersenyum.


"Makanlah Alice.. Kau terlihat lebih kurus." Ucap Hans.


Alice menikmati Cake yang diberikan Dean, dia makan dengan lahap bersama Bibi dan Kakaknya, seolah tidak ada yang terjadi semalam.


Suasana istana masih ramai, pelayan bekerja sama membersihkan sisa-sisa keributan yang telah terjadi tadi malam.


Eric terlihat sibuk berbicara dengan Mentri pertahanan. William berjalan ke arah Gara dan menyapanya.


"Gara.. apakah Alice baik-baik saja?"


"Ya, Alice baik-baik saja, dia sedang beristirahat sekarang." Jawab Gara.


"Syukurlah.. aku masih bisa merasakan aroma tubuhnya Gara, apakah tidak ada cara lain untuk menghilangkannya? dia akan terus-menerus dalam bahaya jika seperti ini." William terlihat khawatir.


"Aku akan bertanya pada Ayah, aku harap Alice akan baik-baik saja, dan terimakasih telah mengkhawatirkannya.." Gara menepuk bahu William dan tersenyum.


Gara berjalan meninggalkan William yang masih penuh dengan pertanyaan.


Gara menyusuri lorong yang panjang, dia banyak berfikir dalam perjalanan menemui ayahnya, dia tidak bisa menghilangkan Alice dari pikirannya. Alice tidak mengetahui betapa besar dan dalamnya cinta Gara padanya.


Tok tok tok


"Masuklah Gara.."

__ADS_1


"Ayah.."


"Duduklah... apa yang ingin kau sampaikan?"


Tanya Yang Mulia Raja.


Yang Mulia Raja diam menunggu jawaban Gara. Dia melirik kearah Gara yang menundukan kepalanya. Raja tidak pernah melihat anaknya segelisah itu, Gara benar-benar telah berubah, semua itu berkat Alice.


"Ayah, Alice baik-baik saja.. semua orang aman dan keadaan terkendali.." jawab Gara.


"Lalu.. apa yang membuatmu risau?" Tanya Raja.


"Semua ini gara-gara aku ayah.. seandainya aku tidak merubah Alice.. seandainya aku tidak gegabah saat itu.." Gara menundukan kepalanya lagi.


Raja berjalan ke arah Gara, dia membelai kepalanya.


"Gara.. Alice baik-baik saja sekarang, jika saat itu kau tidak merubahnya, tidak akan ada yang tau apa yang akan terjadi pada Alice saat itu.."


"Jagalah Alice mulai dari sekarang, itu merupakan tugas dan kewajibanmu." Raja berjalan ke luar.


Raja berharap Gara akan selalu melindungi Alice dimanapun dia berada, dan saling mencintai satu sama lain sampai maut memisahkan mereka.


Malam yang penuh dengan bahaya telah lewat, matahari telah menunjukan sinarnya lagi. Cahayanya menerangi seluruh alam. Udara yang segar membuat Alice merasa nyaman tidur dikamarnya. Setelah menghabiskan Cake pemberian Dean, Alice memutuskan untuk pulang bersama Bibi Anna dan Hans.


Tok tok tok


Clak..


Bibi Anna berjalan memasuki kamar Alice, dia membelai rambut Alice dengan penuh kasih.


Annie, kini Alice sudah dewasa.. kau pasti akan sangat bahagia jika melihatnya sekarang..


Bibi Anna menitikkan air matanya, dia mengingat saudaranya yang telah lama tiada.


"Alice... sayang.. lihatlah matahari sudah sangat tinggi!! kau akan bangun saat matahari kembali tenggelam??" Bibi Anna memukul pantat Alice.


Buuk!!


Awwww


"Hentikaan Bibi... aku akan bangun. Ya Tuhan, tidak bisakah aku tidur seharian??" Alice menutup kedua matanya.


"Bangunlah!! Tuan Muda Gara menitipkan sesuatu untukmu!!" Bibi Anna turun ke lantai bawah.


"Apa? apa yang Gara bawa untukku??? tunggu aku.." Alice bergegas turun menyusul Bibi Anna.


Hans duduk dimeja makan, dia sedang membaca koran dan menikmati secangkir kopi hangat. Hans menoleh ke arah Alice saat dia menuruni anak tangga.


"Selamat pagi Hans..!!" Sapa Alice.


"Hmmm..."


Terdapat sebuah kotak berwarna merah diatas meja, diatasnya tertulis pesan.


'Dear Alice.. mulai hari ini kau harus meminumnya, nikmatilah...'


Alice memutar kotak itu, kotak itu cukup besar, dia membuka tutupnya perlahan. Terdapat ratusan pil berwarna merah didalam sebuah botol. Alice membuka tutup botol dan mencium baunya. Baunya seperti obat, disana tertulis '3x1 minumlah setiap hari, masukkan kedalam segelas air'


Alice mengambil satu kapsul dan memasukannya kedalam segelas air, perlahan air itu berubah menjadi merah seperti darah.


Bibi Anna dan Hans yang melihatnya langsung mual, tidak dengan Alice, matanya berkilat-kilat, dia meminumnya sekaligus.


"Apa itu Alice??" Tanya Bibi Anna penasaran.


Bibi Anna hanya menggelengkan kepalanya, dia tidak mau mencobanya sekalipun.


"Mandilah.. aku sudah menyiapkan air hangat untuk mu.."


Alice kembali kekamarnya dan pergi mandi.


Hari ini berjalan seperti biasanya, hari yang Alice jalani sebelum dia mengenal Gara. Terkadang Alice merindukan saat-saat seperti ini, namun sekarang dia sudah merindukan Gara lagi.


Kraaak..


Seseorang mencoba membuka pintu jendela kamarnya, namun Alice telah menguncinya sebelum pergi mandi. Dia menunggu diluar sampai Alice melihatnya.


"Keeeent...!! apa yang kau lakukan disana? " Alice membuka jendelanya dan membiarkan Kent masuk kedalam kamarnya.


Kent langsung memeluk tubuh Alice yang masih dibalut handuk, dia tidak menyadari tindakannya.


"Aku merindukanmu..." ucap Kent.


Refleks Alice mendorong tubuh Kent menjauh.


"Bisakah kau membiarkanku memakai pakaian??" Ucap Alice.


Refleks Kent menutup matanya, dia baru sadar Alice hanya mengenakan handuk.


"Maafkan aku.. aku hanya sangat merindukanmu.." Ucap Kent dengan masih menutup matanya.


Alice bergegas mengenakan pakaian yang telah disiapkannya.


"Uuuhk.. baumu Kent.. " Alice menutup hidungnya.


Kent membuka matanya dan memeluk Alice lagi. Kent sangat merindukan Alice, dia khawatir terjadi sesuatu malam itu. Setelah pertempuran itu, Gara melarang siapapun untuk menemui Alice, Kent kesal dan pergi meninggalkan istana saat bulan purnama telah usai.


Dia tidak peduli dengan kondisi Alice yang telah berubah, perasaannya pada Alice tulus.


"Aku selalu mandi 3x sehari kau tau... " Kent cemberut.


"Aku tauu.. mungkin hidungku yang terlalu sensitif.." Alice memeluk Kent lagi.


"Apakah kau baik-baik saja Kent? kau tidak terluka??" Alice memutari tubuh Kent yang besar.


"Aku baik-baik saja sayang, kau harus mengkhawatirkan dirimu sendiri.." Kent menatap Alice dengan penuh kasih.


"Hmm.. aku baik-baik saja, lihatlah.. aku tidak tergores sedikitpun.." Alice memutarkan tubuhnya seperti seorang penari.


Kent senang melihat Alice yang ceria, dia menggendong Alice dan mendudukkannya di pahanya.


Kent mencium kening Alice, membelai rambutnya dan mencium Alice dengan lembut, Alice terkejut dengan perbuatan Kent, dia mencoba mendorong tubuh Kent, namun tidak membuahkan hasil.


Kent membuka mulut Alice dan memasukan lidahnya perlahan, dia begitu merindukan Alice sehingga tidak bisa mengontrol tubuhnya sendiri. Aroma tubuh Alice membuatnya mabuk, dia tidak sadar bahwa Gara telah berada dibelakang nya sejak tadi.


Dengan cepat Gara menarik Alice dari Kent.


Bruuugh...!!


"Apakah kau sudah sadar sekarang??!" Gara mendorong Kent Kedinding kamar Alice.


Hans dan Bibi Anna bergegas kekamar Alice karena mendengar keributan, namun mereka berhenti didepan pintu ketika mendengar suara Gara.


"Hans.. sebaiknya kita tidak ikut campur.." Bibi Anna dan Hans kembali kebawah, mereka pura-pura tidak mendengar apa yang sedang terjadi.


"Gara..." Alice terkejut melihat Gara menggendongnya.

__ADS_1


"Tubuhmu bau anjing sayang..." Gara menutup hidungnya.


"Aah ada pangeran.. apa yang kau lakukan disini? bukankah tugasmu mengurus negara?" Kent memancing emosi Gara.


"Apa yang kulakukan bukan urusanmu..! apa yang anjing liar lakukan ditempat seperti ini?" balas Gara.


"Aku hanya merindukan Alice, dan itu tidak ada hubungannya denganmu." Jawab Kent.


"Kau masih belum tau? Alice adalah kekasihku..!!" Gara menatap tajam Kent.


Kent melihat kearah Alice yang digendong oleh Gara, Alice tidak mengatakan atau menyangkal apapun. Dengan perasaan yang kacau Kent meninggalkan Alice dan Gara.


Braaak!!!


Pintu jendela terbanting.


"Dasar anjing tidak punya sopan santun!" Gara memaki Kent yang telah tiada.


Alice merasa bersalah melihat Kent yang pergi dengan kesal, namun dia tidak bisa berbuat apapun, memang kenyataannya begitu, Gara pasti kesal dan marah melihat Kent menciumnya.


"Apa kau marah sayang?" Tanya Alice sambil menutup mukanya.


"Apa aku terlihat baik-baik saja??!" Jawab Gara kesal.


Alice turun dari pangkuan Gara, dia memeluknya dengan erat.


"Aku merindukanmu...." bisik Alice.


Gara yang sedang marah menjadi luluh mendengar Alice merindukannya.


"Benarkah...??" Gara tersenyum.


"Tentu saja..." Alice mencubit pipi Gara dengan gemas.


"Sebaiknya kau tidak berbohong, atau aku akan menghukum mu.." Gara menggendong tubuh Alice ke tempat tidurnya.


Gara menatap Alice..


"Sayang.. bisakah kau mandi lagii..? aku sudah menahannya dari tadi.." Gara menutup hidungnya.


Alice tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Gara, dia mencium pipi Gara dengan cepat.


"Aku akan segera kembali..." Alice pergi membersihkan dirinya.


Gara tersenyum melihat Alice yang berlari sangat cepat ke kamar mandi.


Gara turun ke lantai bawah, dia melihat Hans dan Bibi Anna sedang berada diruang makan. Bibi Anna menoleh kearah Gara saat Gara menuruni anak tangga.


"Tuan Muda..." Bibi Anna berjalan menghampiri Gara.


"Aku akan membawa Alice hari ini." ucap Gara.


Bibi Anna hanya mengangguk, dia tidak mengatakan apapun.


Hans berjalan ke arah Gara.


"Tuan muda.. mengenai aroma tubuh Alice.." Hans menundukkan kepalanya.


"Aku akan menjelaskannya sendiri, kalian cukup diam saja." jawab Gara.


Hans dan Bibi Anna kembali ke ruang makan, mereka duduk dalam diam.


Gara berjalan keluar, dia menunggu Alice di dalam mobilnya, Gara mencoba menyusun ratusan kalimat dalam kepalanya, dia sangat gugup dan tidak sanggup mengatakan kebenarannya Alice.


Alice menuruni anak tangga, dia melihat Bibi Anna dan Hans duduk diruang makan.


"Bibi, Hans apa yang sedang kalian bicarakan? " Tanya Alice.


"Tidak ada sayang, sebaiknya kau bergegas.. Tuan Muda menunggumu diluar.." Bibi Anna tersenyum.


"Baiklah.. aku pergi dulu..." Alice mengecup pipi Bibi Anna dan Hans sebelum pergi.


Hans dan Bibi Anna saling berpandangan, mereka menyimpan pertanyaan dalam hatinya masing-masing.


Claack


Alice membuka pintu mobil Gara.


"Apakah aku lama??" tanya Alice.


"Tidak sayang, masuklah.."


Alice masuk ke dalam mobil dan Gara bergegas memakaikan sabuk pengamannya.


Mereka melaju dengan cepat, melintasi perkotaan, desa dan hutan.


"Apakah kita masih lama??" Tanya Alice penasaran.


sepanjang perjalanan tidak ada satupun dari mereka yang berbicara, suasana sangat canggung, Gara seperti sedang berpikir dan Alice tidak mau mengganggu nya.


"Kita akan tiba sebentar lagi.."


Jajaran pohon-pohon yang tinggi menghilang dengan cepat tergantikan oleh birunya air, Alice begitu terkejut karena melihat laut yang biru dan jernih.


Gara membuka kaca mobilnya, dengan cepat wangi air laut tercium oleh Alice, angin yang kencang menerpa wajah dan rambutnya.


"Gara... ini lauuut..." Alice berteriak histeris.


Gara tersenyum, dia senang Alice terlihat sangat bahagia. Dia mengelus rambut Alice yang tertiup angin.


"Apakah kau suka?"


"Suka sekali...!!!" jawabnya.


Gara berhenti disebuah tebing yang menghadap ke laut yang biru. Perjalanan mereka cukup lama sehingga matahari terlihat sudah akan tenggelam.


Dia membuka pintu mobil Alice, dan menuntunnya keluar.


Mata Alice berbinar melihat bulatnya matahari dan sinarnya yang keemasan akan tenggelam masuk kedalam lautan.


"Cantik bukan..?" Ucap Alice.


"Cantik sekali.." Gara menatap Alice.


"Mataharinya...!!" Jawab Alice.


"Tidak ada yang melebihi kecantikanmu sayang..." Gara memeluk Alice dengan lembut.


Pipi Alice merona, dia bersyukur Gara memeluknya sehingga pipinya yang Semerah tomat tidak terlihat.


Gara melepaskan pelukannya dengan enggan. Dia menatap Alice dengan lembut, angin menerbangkan rambutnya yang panjang, matahari semakin terbenam.


Gara mengecup bibirnya dengan lembut, Alice merespon dengan diam. Dia menikmati setiap sentuhan bibir Gara yang lembut dan dingin, perlahan Gara menjauhkan dirinya, dia berlutut dan menatap Alice.


"Alice.. maukah kau menikah denganku?"

__ADS_1


__ADS_2