
"Tidak Yang Mulia...!
"Saya tidak melakukan hal itu!
"Dia memakai tipu muslihat!
"Dasar perempuan jalang!!"
Tiba-tiba William bangkit dari tempat duduk dan berjalan kearah Laura kemudian menamparnya dengan keras.
Plaaak!!
Semua orang yang melihat tidak berkedip sedikitpun, mereka tidak menyangka Tuan Muda William akan melakukan hal tersebut.
"Kau!
"Kau!
"Berani-beraninya kau menampar ku!
"Aku akan membalasmu!"
Laura tertawa terbahak-bahak setelah William pergi meninggalkannya dan kembali duduk dengan tenang tanpa menunjukkan ekspresi apapun.
Raja mengambil keputusan dengan cepat beberapa saat setelah Lin melakukan pengorbanan. Laura dinyatakan bersalah dan otomatis pernikahan yang akan digelar esok hari dibatalkan.
Putri Laura dikembalikan keluarganya. Semua ucapan Alice terbukti benar dan tidak ada yang meragukannya lagi. Orang-orang yang mendukung Laura dihukum cukup berat oleh Yang Mulia Raja.
Setelah persidangan selesai, Gara mengantar Alice keruangannya, sedangkan Lin diberikan pengobatan oleh Dokter kerajaan. Gara menyuruh Lin berhenti untuk menjaga Alice, namun dia menolak. Lin tetap ingin menjaga Alice sepanjang hidupnya.
Alice merasa hari ini sangatlah panjang, hati dan pikirannya terasa lelah sekali. Dia memutuskan untuk beristirahat didalam kamarnya. Dean mengunjungi Alice secara berkala untuk menawarkan berbagai macam makanan, namun dengan halus Alice menolak. Lin masih berada di ruang pengobatan, dan Alice sendiri setalah Gara pergi untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.
Tok
Tok
Tok
Terdengar suara ketukan pintu, Alice merasa tidak menunggu seorang pun hari ini. Dia berjalan dengan malas ke arah pintu dan membukanya perlahan.
Terlihat Eric berdiri dengan wajah yang cerah dibalik pintu.
"Hai.." Eric tersenyum menyapa Alice.
Alice sedikit bingung dengan kedatangan Eric, namun Alice membalas senyuman Eric dengan cepat.
"Eric..
"Masuklah.." Alice membuka pintu dengan cepat.
Eric berjalan masuk, kemudian duduk dikursi samping jendela.
"Apakah kedatanganku mengganggu?" Eric menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ahh..
"Sebenarnya aku sedang beristirahat.." Alice berpura-pura lemas.
"Maafkan aku Alice, aku akan pergi.." Eric langsung berdiri ketika Alice berjalan kearahnya.
"Tidak, tidak..
__ADS_1
"Aku hanya bergurau.." Alice memeluk Eric dengan erat. Eric menjadi salah tingkah, namun dia membalas pelukan Alice dengan lembut.
"Terimakasih.." Bisik Eric ditelinga Alice. Alice hanya tersenyum mendengar kata-kata Eric, dia memeluk nya lebih erat.
"Alice.." Eric duduk kembali lalu mulai bercerita.
"Aku tidak bisa mengatakan apapun. Kau tau belakangan ini Aku tidak bisa berpikir secara jernih. Aku merasa bukan diriku saat Laura datang dan memberitahu bahwa dia hamil, Aku sangat terkejut."
"Sungguh, Aku merasa tidak melakukan hal apapun padanya. Namun, ketika Ayah tau bahwa Laura hamil dia sangat bahagia. Dan aku sangat senang Ayah bahagia karena ku. Kau tau, aku tidak bisa mencapai Gara. Dia terlalu jauh, jadi saat Ayah bahagia karena Aku, Aku sangat bahagia sekali, mungkin ini satu-satunya cara agar Ayah bangga padaku."
Alice mengerti apa yang ingin disampaikan oleh Eric. Dia mendengarkan Eric dengan sungguh-sungguh hingga Eric menyelesaikan ceritanya.
"Tapi saat Gara bertanya padaku apakah Aku mencintai Laura atau tidak, Aku tidak dapat menjawabnya."
"Dan ketika aku melihat kalian, Aku sangat iri. Aku tidak bisa merasakan hal itu saat bersama Laura."
"Namun ketika tau bahwa Laura keguguran, hatiku rasanya sakit sekali, karena aku akan kehilangan rasa percaya diriku pada Ayah. Namun aku lebih sakit lagi saat mengetahui bahwa Laura hanya berbicara bohong tentang kehamilan itu."
"Sekarang, Aku merasa sangat bebas, beban ku terasa lepas begitu saja dari pundak ku."
"Terimakasih, karena Kau selalu menjadi dirimu sendiri Alice."
"Aku berharap kau akan bahagia bersama Kakakku, kau tau, kau terlalu baik untuknya!"
Alice tertawa puas saat mendengar Eric membicarakan Gara.
"Aku ingin bahagia seperti mu.." Eric tersenyum.
"Kau akan bahagia Eric!
"Seseorang telah diciptakan untukmu diluar sana.
"Kau tidak perlu merenung memikirkan hal yang sudah pasti.
Alice mengecup kening Eric, Eric sangat terkejut dan hampir terjungkal kebelakang. Kemudian dia lari kearah pintu karena merasa malu.
"Aaah..
"Terimakasih Alice,
"Aku akan pergi.." Eric menutup pintu dengan cepat.
* * *
"Tuan Muda..
"Apakah Anda tidak ingin mempertimbangkan saran kami?"
"Benar Yang Mulia..
"Kami hanya ingin yang terbaik
"Tidak ada maksud apapun."
Gara diam, dia tidak merespon apapun, dia tau semua Menteri yang bekerja padanya adalah orang-orang terbaik, mereka tidak mencampur urusan pribadi dan kepentingan kerajaan. Namun, Gara betul-betul tidak ingin menerima saran seperti ini, saran yang mereka berikan lama-kelamaan membuat Gara muak.
"Yang Mulia, jika Anda tidak ingin mengambil selir, bagaimana jika Anak perempuan Saya?
"Saya tidak mengharapkan jabatan apapun, ini semua murni untuk kerajaan.
"Dan anak ini akan dirahasiakan, sehingga saat dia lahir anak ini akan menjadi putra dari Lady Alice."
__ADS_1
Gara tertegun mendengar penuturan Matt, Menterinya yang paling tua dan paling lama menjabat sebagai Menteri. Dia tidak menyangka akan mendengar hal seperti itu hari ini.
Setelah mendengar hal tersebut, Gara membubarkan rapat. Gara duduk diruang kerjanya cukup lama, dia memikirkan perkataan Matt.
"Apakah aku bisa berbuat seperti itu?" Gara merenung cukup lama.
"Apakah Alice akan bahagia?"
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Gara. Dia berjalan kearah pintu dan membukanya. Terlihat Alice berdiri didepannya dan tersenyum.
"Dean mengatakan bahwa pekerjaanmu telah selesai, namun kau tak kunjung datang, maafkan Aku mengusul mu.."
"Kemarilah.."
Alice berjalan masuk dan memeluk Gara dengan erat.
"Aku merindukanmu.."
"Akupun begitu.."
Gara menggendong Alice dan duduk di kursinya.
"Apa yang kau kerjakan hari ini?"
"Aku mendapatkan beberapa masalah diperbatasan, kau tau beberapa orang memberontak ingin memasuki kerajaan tanpa ijin."
"Apakah hal tersebut sering terjadi?"
"Tidak terlalu, ini hanya masalah yang biasa terjadi diperbatasan."
"Lalu, apa yang menahanmu begitu lama disini dan tidak menemuiku?"
Gara terkejut mendengar perkataan Alice, dia bingung mencari alasan yang tepat.
"Aah..
"Ada beberapa hal lagi yang kami diskusikan."
"Tentang apa itu?" Alice cukup ambisius untuk mengetahui segala macam hal, dia ingin mengetahui nya hingga tuntas untuk memuaskan keinginan tahuannya.
"Hanya beberapa berandal yang mengusik ketenangan kota. Vampire-vampire nakal yang masih remaja, terkadang mereka ingin membuktikan diri paling hebat dalam pergaulannya."
"Apakah berbahaya?"
"Tidak, tidak..
"Mereka bersaing dengan sesamanya.." Gara memeluk Alice sebelum Alice bertanya lebih jauh lagi.
"Gara.."
"Hmm.."
"Apakah ada yang ingin kau katakan kepadaku?"
Wajah Gara seketika tegang dan pucat, dia lupa bahwa Alice bisa mendengar suara kecil apapun. Gara melepas pelukannya dan menatap mata Alice. Alice tidak menunjukan ekspresi apapun.
__ADS_1
"Alice.."