Cinta Dan Rahasia

Cinta Dan Rahasia
Lembaran Baru


__ADS_3

Gara terbangun setelah mendengar suara ombak yang cukup kencang, dia mengerjapkan matanya dan menemukan Alice tengah memeluknya dengan erat.


Mata Alice terpejam, rambutnya bertebaran diseluruh dadanya. Payudara Alice menempel dengan pas diperut Gara yang tegang.


Dia bangun dari tempat tidur dengan hati-hati, menyelimuti Alice lalu mencium bibirnya dengan lembut.


"My Alice.." dia berbisik ketelinga Alice, lalu mencium keningnya.


Gara berdiri, mencari celananya yang dia lempar sembarangan, lalu mengenakan nya. Sebelum berjalan keluar, dia menatap Alice dengan senyum yang bahagia.


Dia berjalan kearah dapur dan menemukan dua pelayannya sedang menyiapkan makan malam, Gara meminta mereka untuk mengikutinya.


* * *


Udara dingin yang masuk melalui celah jendela membuat bulu-bulu halus dipunggung Alice berdiri, dia menarik selimutnya kedadanya yang tidak tertutup sehelai benangpun. Jari-jari tangannya nya menggosok dengan lembut kedua matanya yang gatal.


Alice mengerjapkan matanya, melihat sekeliling..


Gara tidak ada dimanapun.


Alice bangun dengan cepat, dia menarik selimut tebal dan menutupi tubuhnya, namun dia jatuh terjerambab segera setelah mencoba melangkahkan kakinya.


Bruugh..!


"Aw..."


Bagian intimnya terasa berdenyut dan sakit. Dia meringis dan mengusap perutnya dengan lembut, lalu mencoba berdiri, namun usahanya sia-sia, kakinya kembali lemas dan terjatuh.


Dia mencoba menyesuaikan penglihatan nya ditempat yang cukup gelap. Suasana rumah sepi, hanya terdengar suara denting kerang yang tertiup angin diberanda.


Alice berdiri lagi, kali ini tangannya bertumpu pada tiang tempat tidurnya, dia berjalan kearah dinding dengan perlahan lalu mencari saklar.


Kliik..!


Dia menemukannya dibelakang pintu, kemudian mengamati kamarnya yang sudah terang. Bajunya berserakan dilantai, dia mengambil piyamanya dalam koper dan mengenakannya dengan cepat.


Alice berjalan perlahan, seperti seorang anak yang baru belajar berjalan, dia menarik kakinya sangat pelan, setiap dia berjalan, bagian intimnya terasa perih dan berdenyut. Alice melihat noda darah ditempat tidurnya lalu menutupnya dengan selimut.


Dia menyusuri ruangan, tangan kanannya bertumpu pada dinding untuk menyeimbangkan posisinya dan mengurangi rasa sakit diantara kedua kakinya.


Tidak ada seorangpun dalam rumah, Alice sedikit kesal. Satu hal terakhir yang diinginkannya adalah ditinggalkan sendiri.


Alice berjalan ke arah dapur, dia membuka kulkas dan menenggak sebotol minuman. Dia menutupnya dengan kencang sampai kulkas itu bergetar.


Setelah cukup kuat untuk berjalan, dia mengelilingi isi rumah, namun tidak ditemukan siapapun. Merasa ditinggalkan Alice kembali kekamarnya dan mengambil handphone lalu menekan panggilan.


Drrrt


Drrttt


Terdengar suara getaran Handphone dimeja samping tempat tidur.


'Gara tidak membawa handphone nya.'

__ADS_1


Alice khawatir dan takut, dia berjalan mondar-mandir. Menengadah kan kepalanya saat terdengar suara, namun tidak terlihat seorangpun.


Setelah satu jam menunggu dan tidak ada hasil apapun, dia memutuskan untuk mencari diluar.


Saat membuka pintu, Alice terkejut melihat cahaya dikejauhan. Dia melihat Gara melambai ke arahnya.


Alice berlari, dia melupakan sandalnya, kakinya menginjak pasir yang dingin, namun dia tidak mengeluh.


"Kau..


"Kau...!!


"Kau meninggalkanku..!" Suara Alice bergetar karena menahan amarah.


Gara memeluknya dengan erat, dan mengecup bibirnya dengan lembut.


"Aku menunggumu disini."


Alice memutarkan tubuhnya, dia menutup mulutnya.


Sebuah meja bundar yang penuh dengan makanan dilengkapi dengan tiga lilin yang bersinar dan bunga dalam vas yang masih segar. Lampu-lampu bersinar yang bergantung mengelilingi mereka.


Gara menuntun Alice ketempat duduk, lalu menarik kursinya perlahan untuk Alice.


Alice menatap Gara tidak percaya, mulutnya masih ternganga, dia masih belum terbiasa dengan pemandangan yang ada dihadapannya.


'Makanan yang lezat dan pasangan yang nikmat.'


Gara duduk dihadapannya, dia menatap Alice dan bibirnya penuh dengan senyuman.


"Apa kau suka?" ucapnya.


Alice tersenyum, dia menatap Gara "Aku menyukainya, dan aku mencintaimu." Alice mencium punggung tangan Gara yang terlipat didepan.


Gara tertawa terbahak-bahak.


"Apakah sesuai selera mu? sebenarnya aku tidak tau apakah ini akan berhasil atau tidak. Kau tau, aku tidak pernah melakukan hal ini sekalipun, dan tentu saja ini pertama kali, aku harap, aku tidak akan melakukannya lagi." Ucap Gara.


Alice melotot mendengar Gara berbicara.


"Kau harus melakukannya lagi! aku menyukai nya dan kau harus melakukannya lagi!!" Alice menggeram dan menunjukkan taringnya.


Gara tertawa, dia tidak tahan untuk mencium Alice saat itu juga.


"Sesuai keinginan mu Ma'am.." Gara mencium punggung tangannya dan Alice tersenyum seketika.


Mereka menghabiskan makan malam yang romantis, ditemani ombak, bulan dan bintang yang bertebaran.


Gara berdiri, dia berjalan kearah Alice dan mengulurkan tangannya.


"My Lady.. maukah berdansa denganku?" Gara tersenyum jail.


Alice dengan senang hati menyambut ajakan Gara, dia menjatuhkan tangannya diatas tangan Gara.

__ADS_1


Gara mendekap Alice, wanita yang baru saja dia nikahi dan sangat dicintainya.


Tubuh Alice menempel dengan sempurna ketubuhnya, setelah bercinta dengan Alice pagi tadi, Gara tidak bisa melupakan setiap inci tubuh Alice, dia mencoba melakukan berbagai kegiatan, namun lagi dan lagi bayangan lekukan tubuh Alice yang menggoda menghampiri nya.


Seperti saat ini, ketika mereka berdansa, matanya terus tertarik ke belahan dada Alice, yang tampak membusung dengan bingkai V piyama warna gadingnya.


Gara dapat merasakan hembusan nafas Alice didadanya, otot kakinya menegang. Tercium aroma tubuh Alice yang membuatnya bergairah.


Mata merah Gara menatap Mata merah Alice, mereka berpandangan, tubuh Alice terasa panas, dia bergetar, tubuhnya bergetar lebih hebat kemudian..


Alice tertawa..


Jantung Gara berdetak semakin kencang, benda tumpul dibagian pahanya mendorong ingin keluar, namun dia bingung dengan reaksi Alice.


"Apakah dansaku seburuk itu yang mulia? kau tau, sejak tadi aku terus menginjak kakimu dengan tidak sengaja, dan kau menatapku, apakah kau kesal?" Tanya Alice dengan menahan tawanya.


Gara menggelengkan kepalanya.


"Demi Tuhan Alice, kau membuatku bergairah.." erangnya.


Wajah Alice memerah, dia bersyukur penerangan ini tidak akan menampakkan wajahnya.


Gara memeluknya dengan lembut, Dia mengangkat Alice kemeja, tangan kirinya mendorong sisa makanan diatas meja, beberapa makanan terjatuh ke pasir, namun dia tidak peduli.


"Gara..!! seseorang akan datang..!"


"Tidak ada seorangpun yang akan datang, kecuali mereka ingin mati!"


Gara bersandar dimeja dan menciumnya dengan cepat sebelum Alice kembali berbicara. Dia menikmati bibir Alice yang lembut dan lidahnya yang kecil, butiran-butiran pasir yang tertiup angin menempel dirambut Alice yang tergerai.


Rasa asin menempel di lidahnya ketika menjilat bibir Alice yang terbuka, dia menghisap bibir bawahnya yang lembut dan kenyal, kemudian memasukan lidahnya kedalam mulut Alice, rasa wine yang tertinggal membuat panas dan memabukkan.


Alice menempel bagaikan perangko ketubuh Gara yang kekar, dia merasa terhipnotis sehingga tidak ada hal lain yang bisa dia lakukan selain bertumpu pada tubuh Gara. Tubuhnya terasa seperti jelly saat Gara menyentuh setiap bagian tubuhnya, dia merasa tersetrum diujung jari-jarinya dan panas naik diantara pahanya. Dia tidak bisa menahan Gara yang memasukan tangannya kedalam piyamanya, kemudian menarik celana dalamnya kebawah dan Alice mengangkat pantatnya untuk membantu melepaskan nya.


"Haaa.. Haaa.."


Alice kehabisan nafas atas deretan ciuman yang tidak ada hentinya, Gara menatap mata Alice yang merah lalu menatap bibirnya yang sedikit bengkak.


Nhgggh..


Didalamnya sudah sangat basah dan lembab, cairan membasahi jari Gara, kemudian dia menjilatnya dengan mata yang nakal. Alice tertawa.


"Inti Sari Alice.." gumamnya, Gara tersenyum memperlihatkan deretan gigi dan taringnya yang rapih.


Udara yang dingin menyapu punggung Alice, sesuatu yang keras dan tumpul mendekati pahanya, dia membantu Gara memasukan nya dengan membuka kakinya lebih lebar. Sesuatu yang panas menggesek pintu masuknya. Mulut Alice berair membayangkan matanya yang merah menyala-nyala, bibirnya berkilau karena air liur, aroma erotisnya dan kesenangan yang akan Gara berikan.


Hnnngh!


Ketika Gara menyentuh lebih dalam, penglihatannya berkedip. Ketika bagian intim nya mengepal, dia mengerang. Tangannya di pinggulnya mencengkram sedikit lebih keras, Gara mendorong beberapa kali lagi kemudian menabrak dengan keras lalu menyemprotkan ke rahimnya. Saat dia menghela napas mencoba mengambil nafas Gara menggigit bagian telinga Alice dan menjilatinya. Isi perutnya menjadi mengejang dan tubuhnya bergetar karena kesenangan.


"Aku tidak akan datang makan malam di luar lagi..!"


Mendengar Alice mengatakan itu ketika dia terengah-engah, Gara tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


__ADS_2