
Gara memang terlihat menyeramkan saat sedang marah, namun dia tidak bisa bergerak 1 inci pun dari depan Alice, wajahnya terlihat sangat gelisah.
"Silahkan tunggu Tuan Muda. Jika Anda terus bertanya tentang kemajuan persalinan Ma'am, Saya tidak dapat berkonsentrasi sepenuhnya. Tolong beristirahatlah Tuan Muda, agar Ma'am dapat melahirkan dengan aman dan sehat."
Bidan itu berkata dengan tegas, dia tidak mau proses melahirkan yang dipimpinnya terganggu, bahkan jika itu adalah Raja sekalipun.
"Alice akan baik-baik saja?" Kegelisahan Gara mereda setelah Bidan itu mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
"Ma'am akan baik-baik saja Tuan Muda, Anda akan semakin cemas jika terus menunggu disini. Saya pikir akan lebih baik jika Tuan Muda menuggu ditempat lain."
"Aku akan tinggal disini." Gara tetap bersikeras.
Bidan memaksakan senyumnya setelah mendengar jawaban Gara. Jika ada orang lain yang menyaksikan semua ini, mereka akan mengira bahwa Alice adalah satu-satunya wanita yang melahirkan didunia ini.
Gara berdiri dengan ekspresi sedih ketika Bidan meninggalkannya dan kemudian menutup pintu ruangan bersalin.
Dean menggigit bibir bawahnya ketika mencuri dengar pembicaraan Bidan dan Gara, begitupun dengan Lin yang bersembunyi dibalik bayangan pohon. Pemandangan yang langka dan berharga, dia tau seharusnya dia tidak mencuri dengar pembicaraan mereka, namun Dean tetap tidak tahan untuk menguping dan menahan tawanya ketika melihat Bidan memarahi Gara.
Setelah itu Dean pergi meninggalkan Gara dan tidak sengaja melihat Lin, kemudian menyeretnya masuk kedalam sebuah ruangan.
"Astaga..
"Lin!
"Apakah kau melihat semuanya?" Dean menutup mulutnya agar tidak tertawa.
"Tentu saja, aku melihatnya.
"Dari jarak jauh pun aku bisa mendengarnya." Lin memukul pundak Dean.
"Hentikan sebelum Aku melaporkan semua hal yang kau lakukan dibelakang Tuan Muda." Lin menatap Dean dengan serius.
"Ayolah Lin, jangan seperti itu.
"Apa kau ingat tadi Tuan Muda berlari sangat kencang meninggalkan kereta kuda?
"Aku kira dia terbang." Dean tidak kuasa menahan tawanya.
"Disaat seperti ini kau bisa tertawa?
"Aku tidak kuasa bernafas ketika melihat Lady Alice menahan sakit."
"Ah tentu saja Aku pun begitu.
"Tapi, Aku yakin Ma'am akan baik-baik saja.
"Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Ma'am tidak baik-baik saja."
"Ah...
"Aku pun begitu."
* * *
Fajar telah menyingsing, matahari telah terbit dengan sinarnya yang hangat, namun tidak ada tanda-tanda Bidan akan keluar dari ruang persalinan. Gara tidak memejamkan mata sekalipun, dia tidak ingin melewatkan kondisi Alice sedikitpun.
Sejak subuh terdengar teriakan Alice yang sangat menyayat hatinya, namun dia tidak bisa masuk dan melihat kondisi Alice, karena Bidan tua itu menyuruh asistennya untuk mengunci pintu. Gara bisa saja mendobraknya, namun dia tidak ingin Alice menjadi gelisah karenanya, dia tidak mau menambah pikiran Alice.
__ADS_1
Tiba-tiba suasana menjadi hening, Dean dan Lin yang menemani Gara sejak beberapa jam lalu saling berpandangan, mereka menunjukkan raut wajah yang bingung dan gelisah. Gara terlihat tegang, dia terlihat lebih pucat dari biasanya, bahkan warna matanya semakin merah, Lin dan Dean tidak kuasa menatapnya.
Tiba-tiba terdengar suara kunci berputar dan suara pintu terbanting.
Seorang Bidan muda keluar dengan tergesa-gesa dan memanggil namanya berulang kali.
"Tuan Muda..
"Tuan Mudaaa.."
Gara berdiri lalu berlari dengan cepat, Dean dan Lin menyusul dengan kecepatan yang sama.
"Tuan Muda..
"Astaga..
"Anda harus ikut dengan Saya.."
"Apa yang terjadi?" Gara sangat cemas, dia tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya.
"Mari ikut dengan Saya.."
"Katakan!
"Apa yang terjadi?!"
"Anda akan mengetahuinya didalam Tuan Muda."
"Bidan tua itu mengatakan padaku, bahwa Aku tidak bisa masuk kedalam."
"Saya mohon ikutlah dengan Saya..
"Ini darurat."
Amarah Gara memuncak, dia menarik pintu dan melemparkannya dengan keras. Gara masuk dengan tergesa-gesa.
"Oh apa yang terjadi?" Bidan tua bingung melihat Gara datang dengan cara yang tidak lazim.
"Kau mengatakan padaku bahwa Alice akan baik-baik saja!"
"Tentu saja Tuan Muda..
"Ma'am baik-baik saja."
"Lalu, mengapa kau menyuruhku masuk?"
"Duduklah terlebih dahulu Tuan Muda."
"Katakan padaku apa yang terjadi!
"Sebelum Aku merobek mulut kalian!"
"Oh..
"Baiklah Tuan Muda.." Bidan itu duduk lalu mulai berbicara.
"Tuan Muda, Ma'am membutuhkan darah Anda. Beliau kehabisan energi karena jarak melahirkan yang panjang.
__ADS_1
"Saya harap Tuan Muda bersedia masuk dan memberikan darah pada Ma'am."
"Tentu saja!
"Aku akan melakukannya dengan senang hati.
"Aku sudah mengatakan padamu bahwa Aku ingin menunggu Alice didalam.
"Tapi kau melarang ku." Gara sedikit kesal dengan tindakan Bidan tua itu.
"Maafkan Saya Tuan Muda, mari ikut saya." Gara tidak berkomentar apapun, dia mengikuti Bidan itu dengan cepat.
Dari kejauhan terlihat Alice terbaring diatas sebuah kasur dengan seprei putih, rambut Alice diikat kuncir kuda, tubuhnya basah oleh keringat. Tercium aroma tubuh Alice yang begitu menggoda. Mata Alice tertutup, tapi dia menyadari kehadiran Gara dan membuka matanya perlahan.
"Saayang..." Suaranya terdengar parau, Alice terlihat kesakitan, namun dia tetap tidak mengatakannya dan hanya tersenyum seperti orang bodoh.
Gara berjalan mendekat dan mencium kening Alice dengan lembut.
"Kau terlihat hebat sayang." Gara mencoba tersenyum senatural mungkin.
"Hentikan.
"Jangan tersenyum seperti itu. Kau terlihat menakutkan." Alice mencubit pipi Gara dengan kencang.
"Apakah begitu sayang?
"Ah, Aku harus menghentikan dari sekarang.
"Padahal itu adalah senyum andalanku."
"Sekarang Aku mengerti mengapa semua orang takut padamu." Alice mengacak-acak rambut Gara dengan lembut.
"Kemarilah, izinkan aku mencium mu." Alice menarik leher Gara dan menciumnya dengan mesra. Semua orang yang tadinya menjaga Alice, dengan cepat meninggalkan ruangan, sekarang hanya ada Gara dan Alice.
"Kau harus meminum darahku Alice, kau terlihat sangat lemas, astaga..
"Aku tidak kuasa melihatmu seperti ini lagi.
"Cobalah untuk tidak hamil lagi dikemudian hari, aku tidak mau menyaksikan mu seperti ini lagi, aku tidak sanggup." Gara menutup kedua matanya.
Alice tidak menyangka Gara akan mengatakan hal seperti ini, degup jantungnya berdebar begitu cepat. Dia sangat senang sekali mendengar pengakuan Gara. Alice menarik tubuh Gara dan memeluknya dengan erat.
"Jangan seperti itu.
"Jantungku bisa lepas.
"Apa kau ingin membunuhku?" Alice memeluk Gara lebih erat lagi.
"Aku sangat mencintaimu Alice..
"Tetaplah hidup untukku.
"Aku akan memberimu segalanya." Gara mengecup bibir Alice dengan lembut.
"Sekarang, hisaplah darahku.." Gara membuka kancing baju atasnya dan mendekatkan lehernya yang penuh dengan pembuluh darah.
Alice ragu-ragu, namun dia melihat tekad yang kuat di mata suaminya. Kemudian, Alice mulai menancapkan taringnya yang tajam dan menghisap darah Gara perlahan.
__ADS_1