
Malam itu terasa sangat panjang bagi Eric. Pernikahan nya dengan Laura hanya kurang dari 48 jam lagi. Dia masih memikirkan kata-kata Gara, tidak mungkin bagi Gara untuk membohongi nya, namun dia tidak yakin dengan Laura. Eric ingin cepat-cepat melewati masa-masa sulit ini. Dia lebih baik bertarung melawan Werewolf dari pada dibuat pusing seperti ini.
Setelah berbicara dengan Eric, Gara masuk kedalam ruang kerjanya, Lin telah berdiri disamping meja kerja Gara.
"Apa yang kau temukan?"
"Saya memeriksa seluruh CCTV yang berada di daerah Perpustakaan dan kolam Yang Mulia. Namun, Laura dan Nona Alice berada dititik buta, sehingga kita tidak bisa melihat kejadian itu.
"Namun Saya berani bersumpah Yang Mulia, Nona Alice tidak melakukan apapun terhadap Laura.
"Laura, dia menjatuhkan dirinya sendiri."
"Aku percaya dengan kata-kata mu, lalu bagaimana dengan apa yang dikatakan oleh Alice?" Tanya Gara kemudian.
"Mengenai sihir hitam itu, saya dapat memastikannya Yang Mulia, dalam aliran darah Laura terdapat sisa dari sihir hitam itu, namun akan hilang dalam waktu 24 jam. Tapi, Saya menyimpan darah yang keluar saat dia terjatuh, dan tentu saja penuh dengan sihir hitam."
"Baiklah, Aku mempercayakan hal itu padamu, tapi kau harus bersiap besok jika Alice membutuhkan mu. Kau mengerti maksudku?"
Gara memandang tajam Lin, Lin tidak sanggup untuk menatap Gara, dia hanya menundukan kepala dan mengangguk.
"Kau boleh pergi."
Keesokan harinya kabar begitu cepat tersebar didalam istana, meskipun Gara sudah memperingatkan untuk tidak bergosip namun seluruh kabar itu menyebar bagaikan hama. Semua orang mengetahui bahwa Laura telah keguguran dan penyebabnya adalah Alice, entah siapa yang memulainya namun kabar itu sudah sampai ditelinga Yang Mulia Raja, mau tidak mau Beliau harus turun tangan.
"William, dimanakah Gara dan Eric?"
"Eric berada diruangannya Ayah, sedangkan Gara berada di ruang kerjanya."
"Aku ingin menemui mereka."
"Baik Ayah, Aku akan menyampaikan nya."
William pergi menemui Eric terlebih dahulu, kemudian menemui Gara diruang kerjanya.
Tok
Tok
Tok
Dean membuka pintu, terlihat William sedang menunggu untuk bertemu dengan Gara.
"Yang Mulai, Tuan Muda William ingin menemui Anda."
"Baiklah. Pertemuan ini aku akhiri, kita akan bertemu lagi siang nanti."
Para Menteri keluar meninggalkan ruangan Gara, kemudian William berjalan masuk.
"Apa yang ingin kau katakan?"
"Gara, Ayah ingin bertemu denganmu. Ini berkaitan dengan Laura, seluruh istana telah mengetahui bahwa dia keguguran,
"Namun, mereka menduga penyebabnya adalah Alice.."
William berkata dengan hati-hati, dia tidak ingin membuat Gara lebih marah lagi.
Gara tidak menjawab apapun, dia hanya berjalan keluar dan kemudian berbicara dengan Dean. William mengikuti dari belakang.
"Kau temui Alice, jangan biarkan dia mendengar apapun tentang hal ini.
"Oh, berikan lagi Earphone yang lebih baik."
Dean mengangguk, dia pergi setelah punggung Gara sudah tidak terlihat lagi.
*Tok
Tok
Tok*
Pintu kamar Gara tetap tertutup, Dean berdiri lama, dia bingung apakah harus masuk atau tidak. Tidak lama kemudian pintu terbuka, namun Dean tidak menemukan siapapun yang membuka pintu itu. Alice masih berbaring diatas tempat tidurnya. Dean memeriksa setiap sudut, namun tetap tidak menemukan siapapun.
"Apakah ada seseorang selain Aku dan Nona Alice?"
Tidak terdengar suara siapapun, yang terdengar hanyalah desahan nafas Alice yang teratur.
"Baiklah.
"Tuan Muda Gara memberikan perintah agar Nona Alice tidak mendengar apapun yang terjadi diluar sana.
"Aku hanya akan menyampaikan hal itu."
Tidak berselang lama Lin menunjukkan batang hidungnya.
"Astaga!
"Kau membuatku terkejut Lin!
"Kau hampir membuatku mati lagi."
"Kau terlalu berlebihan Dean."
__ADS_1
"Oh tentu saja!
"Sebaiknya kau berjaga, Yang Mulia tidak ingin Nona mendengar apapun, aku akan memasang Earphone ini.
"Jangan sampai Nona Alice membukanya.
"Apa kau mengerti Lin?"
Lin tidak menjawab apapun, dia hanya mengangkat kedua bahunya bersamaan.
"Oh tentu saja!
"Aku tidak ingin membuat Yang Mulia marah.
"Sebaiknya kau mendengar perkataanku."
Setelah memasang Earphone, Dean pergi keluar dan menutup pintu dengan sangat hati-hati. Lin membuat kamar Gara kedap suara, sehingga Alice dipastikan tidak akan mendengar suara apapun.
Lin terus berjaga di kamar Alice, dia tidak melewatkan setiap momen pun. Matanya terus awas.
Sinar matahari begitu terik hari ini, bahkan ketika gorden sudah ditutup, sinarnya tetap menembus kain tebal itu. Alice mengerjapkan matanya beberapa kali saat beberapa helai rambut hampir masuk kedalam mulutnya.
"Oh..
"Rambutku yang malang."
Alice membuka tutup telinga nya dan mengikat rambutnya dengan asal. Dia mengerjapkan matanya lagi, mengusapnya dan membukanya perlahan. Matanya terasa sakit, dia mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya dan keredupan yang ada didepannya.
"Liin.."
"Ya, Ma'am.."
"Pukul berapa ini? mana Gara?"
"Sekarang pukul 1 siang Ma'am. Yang Mulia berada diruang kerjanya."
"Oh.. aku tertidur lama sekali.
"Maafkaan aku, bisakah kau mengambilkan segelas air? aku merasa sangat lemas."
"Tentu saja Ma'am."
Dengan cepat Lin membawa segelas air.
"Terimakasih.
"Mengapa disini sangat panas Lin? astaga, sudah lama aku tidak berkeringat seperti ini. Mungkin saat aku masih manusia.
Lin bingung, membuka jendela akan menghancurkan sihir kedap suaranya. Dia tidak menjawab dan tetap diam.
"Oh.. astaga.
"Baiklah, Aku akan membukanya sendiri."
Ketika Alice akan turun dari tempat tidurnya, dengan cepat Lin menahannya.
"Tidak Ma'am, saya akan melakukannya."
"Ok, kau baik sekali." Alice tersenyum senang.
"Ma'am, minumlah ini." Lin memberikan air berisi darah Gara.
Namun, Alice terlihat enggan meminumnya.
"Aku tidak ingin meminumnya Lin, singkirkan itu."
"Tapi Ma'am, anda belum meminum ini sejak kemarin malam, tolong minumlah."
"Sungguh Aku tidak ingin melihatnya."
Namun Lin tidak bergerak sedikitpun dari samping tempat tidurnya, dia tetap bersikeras agar Alice meminumnya.
"Oh, kau sangat pemaksa Lin, baiklah.. berikan padaku."
Alice mengambil gelasnya, dia menutup hidung dan menghabiskan nya sekali teguk.
"Kau puas sekarang?" Alice tersenyum sinis. Lin hanya tersenyum dan menjauh.
Namun beberapa saat kemudian Alice terlihat pucat, dia memegang tenggorokannya dan memuntahkan cairan itu.
"Nona Alice..
"Nona Alice..
"Anda baik-baik saja?"
Lin mengambilkan beberapa kain untuk mengelap mulut Alice yang penuh darah.
"Aku sudah mengatakannya padamu, lihatlah.." Alice tertawa.
"Aku baik-baik saja Lin, mungkin aku butuh beberapa pakaian ganti dan seember air?" Alice menatap jahil ke arah Lin.
__ADS_1
"Maafkan Saya Ma'am, Saya akan mempersiapkannya segera."
Setelah itu Lin menghilang, lalu tidak lama kemudian Dean datang dengan terburu-buru tanpa mengetuk pintu.
"Nona Alice..
"Anda baik-baik saja?"
"Aah, Dean..
"Senang bertemu denganmu.
"Aku baik-baik saja, bisakah kau membantuku?
"Aku merasa sedikit lengket disini."
"Tentu saja Nona, pelayan sudah siap, Saya akan mengantarkan Anda."
"Terimakasih Dean, aku merindukanmu.." Alice mengecup pipi Dean, wajah Dean berubah semerah tomat, dia tidak bisa menyembunyikan wajahnya.
Lin masih memperhatikan dari kejauhan.
Pelayan telah menunggu kedatangan Alice, mereka telah mempersiapkan air dan keperluan Alice. Namun, ada yang berbeda dari pandangan mereka, Alice langsung menyadarinya.
"Apakah ada yang ingin kalian katakan?"
"Tidak, tidak ada Ma'am.."
"Lalu, mengapa kalian tampak seperti itu?"
Semua pelayan berpandangan, tanpa mereka ketahui Alice dapat melihat dengan jelas aura yang keluar dari semua pelayannya, terlihat asap berwarna abu yang mengelilingi mereka, namun Alice tidak bisa mengatakan nya, dia hanya diam saja.
"Ah, sudahlah, jika kalian tidak mau mengatakannya."
Alice terlalu frustasi, dia tidak ingin terjadi keributan karena ulahnya.
* * *
"Lin, apakah kau menungguku?"
Lin mengangguk, dia sedang berdiri didepan pintu kamar mandi.
"Apa kau tidak lelah? Kau menjagaku setiap saat Lin..
"Beristirahatlah.."
"Saya tidak apa-apa Ma'am, saya baik-baik saja."
"Kau memang keras kepala Lin."
Dimata Alice Lin hanyalah seorang pria biasa dengan setelah berwarna hitam. Lekuk tubuhnya mengingat kan Alice pada Hans, Kakak satu-satunya. Sudah lama sejak terakhir Alice bertemu dengan Hans dan Bibinya.
"Lin, dimana Gara?"
"Beliau berada di ruang kerjanya Ma'am."
"Ah, aku akan kesana dan mengejutkan nya."
Sepanjang perjalanan, Alice dapat melihat dengan jelas beberapa orang yang berpapasan dengannya mengeluarkan aura yang sama dengan pelayanan. Dia tetap berjalan meskipun mendengar banyak hal tentangnya. Dia pura-pura tidak mengetahui dan hanya terus berjalan.
Dari kejauhan, Alice dapat mendengar dengan jelas pembicaraan dari dalam ruang kerja Gara, meskipun Alice tidak mau menguping, namun pembicaraan itu tetap terdengar.
Alice hendak mengetuk pintu saat terdengar..
"*Yang Mulia, apakah benar kabar itu?"
"Saya juga mendengar nya yang Mulia.."
"Semua hal itu dapat merusak citra Anda."
"Yang Mulia, maafkan kelancangan saya, apakah mungkin Ma'am melakukan hal itu karena .. maaf beliau tidak bisa mengandung?"
"Hentikan!!"
"Tapi Yang Mulia, Anda benar-benar membutuhkan seorang keturunan.."
"Betul Yang Mulia.. apakah Anda akan mengangkat selir dan melahirkan seorang anak?"
"Saya akan memilih beberapa selir untuk Anda yang Mulia, dari bangsawan murni dan tentu saja sangat sehat."
"Saya juga akan mencarinya Yang Mulia, Anda tidak perlu khawatir."
"Aku bilang hentikan!!
"Kalian bisa keluar!!
"Sekarang*!"
Seluruh Menteri berhamburan keluar, mereka tidak mau menerima amarah Tuannya, saat pintu terbuka, Alice telah berdiri disana dengan tubuh yang bergetar dan wajah yang pucat.
Gara sangat terkejut melihat Alice.
__ADS_1
Alice hampir tertabrak jika Lin tidak cepat menggendong nya.