Cinta Dan Rahasia

Cinta Dan Rahasia
Kenyataan Yang Pahit


__ADS_3

Hans berjalan menaiki anak tangga menuju lantai 2. Bibi Alice menyuruhnya membawa obat untuk mengobati luka Alice.


Namun apa yang terjadi saat Hans membuka kamar Alice, Seluruh badannya seperti tersengat listrik. Dia melihat adiknya tercinta sedang memeluk seorang Werewolf.


Nampan yang dia bawa terjatuh ke lantai seketika, bunyinya memekakan telinga. Dengan cepat Hans memisahkan Alice dari Kent. Alice terkejut dengan tindakan Kakaknya.


Mata Hans memerah, Alice tidak pernah melihat Hans semarah ini.


"Menjauhlah darinya Alice..!!" Hans berteriak.


"Ada apa Hans? Mengapa kau memaki Kent?" Tanya Alice penasaran.


"Menjauhlah dari binatang buas itu! Aku memperingatkan mu Alice! " Hans semakin marah.


Namun, Alice tidak mengerti, dan dia tidak ingin membuat Kent merasa tidak nyaman, karena Alice telah berhutang nyawa pada Kent.


"Tidak Hans, Tidak.. Aku tidak bisa .." Alice memohon dan menolak perintah Hans.


Dengan cepat Hans mengeluarkan pistol dan menembakannya ke arah Kent, beruntung Kent dapat melompat dengan cepat.


Dor..!


Alice terkejut dan hampir terjatuh, Kent menahan tubuh Alice, Hans mendorong Kent sehingga Kent terbentur cukup keras ke lemari baju Alice.


Bruugh..!


Hans menarik tangan Alice dan menuruni anak tangga. Bibi Anna menatap khawatir dari dapur. Kent mengikuti Alice dari belakang.


"Ada apa ini Kent? Mengapa kau ada disini?" Tanya Bibi Anna.


"Aku hanya mengobati luka Alice, Bibi.." jawab Kent.


"Omong kosong, mahluk sepertimu tidak bisa dipercaya." Sanggah Hans.


Alice bingung mendengar percakapan Kent dan Kakaknya Hans. Alice menatap Hans, meminta penjelasan.


"Hans..! Lepaskan aku! Dan mengapa kau berbuat seperti itu?!" Tanya Alice kesal.


"Alice kau harus percaya padaku.." ujar Hans.


"Aku hanya mempercayai apa yang aku lihat Hans!" Jawab Alice.


Hans terdiam, dia bingung mengatakannya kepada Alice. Apakah Hans harus jujur, atau menyembunyikan nya selamanya.


Kent berdiri di samping Bibi Anna, dia takut Hans akan menembakan pistol lagi ke arahnya.


"Duduklah Kent, ada yang harus Hans katakan.." Bibi Anna berkata.


Setelah Hans mempertimbangkan konsekuensinya, akhirnya Hans memilih berbicara dan berkata jujur kepada Alice.


"Alice, nampaknya sekarang kau sudah besar. Aku akan menceritakan kisah yang menyakitkan. "


Alice terdiam, dia tidak tahu hal ini akan begitu serius dan menakutkan.


"Alice, kau pasti tidak akan ingat bagaimana ayah dan ibu meninggal."


'Deg


Alice tidak mengerti dengan arah pembicaraan Hans, mengapa membawa kematian Ayah dan Ibunya.


"Karena pada saat itu kau masih sangat kecil, namun aku sudah besar dan mengerti." Suara Hans bergetar menahan emosi.


"Malam saat ibu dan ayah meninggal adalah malam bulan purnama Alice. (Hans menahan nafasnya)


Ibu dan ayah meninggal karena serangan Werewolf." Hans berhenti bercerita dan melihat raut wajah Alice.


Alice terlihat tegang, mukanya berubah pucat, dia melihat Kent dengan pandangan tidak percaya.


Hans melanjutkan ceritanya.


"Saat itu bulan purnama, hujan turun sangat deras disertai petir yang menyambar terus-menerus. Kita sampai dirumah ini tengah malam. Aku ingat saat itu ayah menggendongku dan ibu menggendong mu. Kita tidur di kamar tamu. Samar-samar Aku mendengar suara ayah dan ibu berbicara dengan Bibi Anna, namun aku tidak tau apa yang mereka bicarakan." (Hans mengambil nafas)


Bibi Anna mendengar Hans bercerita dan menutup mulutnya. Bibi Anna tidak tau kalau waktu itu Hans terbangun dan mengikuti James dan Annie.


"Setelah itu ibu dan ayah keluar, aku melihat dari jendela depan. Tak lama kemudian Bibi Anna menutup pintu dan menguncinya."


"Namun aku pergi menyelinap lewat jendela, Bibi Anna tidak mengetahuinya. Setelah menyelinap keluar, seluruh badanku sangat basah. Karena hujan sangat deras jarak pandangku tidak terlalu jauh, namun karena bulan purnama aku dapat dengan jelas melihat. "

__ADS_1


"Saat ibu dan ayah akan memasuki mobil, sesuatu yang besar menghadang mereka, badannya besar sekali, seluruh tubuhnya dipenuhi bulu, mereka mempunyai moncong, giginya besar, runcing dan keluar dari bibirnya, bahkan air liur keluar dari mulutnya."


"Ibu dan ayah jatuh kejalanan, mereka tidak mampu melawan karena perbedaan tubuh yang sangat besar. Kemudian kau tau apa yang selanjutnya terjadi, aku tak ingin melanjutkannya." Hans terdiam, matanya memerah, dan nafasnya memburu.


Sedangkan Alice tidak mampu menahan air matanya.


"Bagaimana Aku bisa baik-baik saja melihat Kau bersama dengan binatang buas itu!" Seru Gara.


Kent diam, tidak bisa berkata apa-apa, dia tidak mengetahui akan mendengar hal yang memilukan seperti ini. Diam-diam Kent melihat Alice yang menangis, hatinya terasa perih, baru kali ini dia merasa sebenci ini terhadap kaumnya sendiri.


Tanpa diketahui oleh siapapun, Kent pergi dari rumah Bibi Anna.


Malam sudah larut.


Alice melihat berkeliling rumah mencari Kent, namun dia tak menemukannya.


Alice mencoba menenangkan hatinya, dia tidak ingin semua hal telah terjadi berakhir karena dendam dan emosi.


Mungkin memang benar Alice tidak merasakan apa yang Hans katakan, karena Alice tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri. Tapi dia sangat sedih mengetahui kematian kedua orangtuanya karena disebabkan oleh Werewolf.


Namun..


Kent jelas bukan pelakunya, dia tidak ingin Kakaknya menyamakan dirinya dengan mahluk buas yang menyerang dan menyebabkan kematian orangtuanya.


Keesokan harinya, Alice mencoba berbicara kepada Hans dikamarnya.


Tok


Tok


Tok


Alice mengetuk pintu kamar Hans yang tertutup.


"Masuklah..." Hans berbicara dari balik pintu.


Alice membuka pintu dengan perlahan.


Diam masuk dan duduk disebelah Hans yang sedang merokok.


Uuhk


Alice batuk-batuk karena menghirup asap rokok. Refleks Hans mematikan rokoknya dan mengipas-ngipaskan tangannya didepan muka Alice.


Alice tersenyum dan memeluk Hans. Alice menghirup asap yang menempel pada baju Hans, aroma yang Alice kenal.


Alice tidak tahu sejak kapan Hans merokok, sudah sangat lama sepertinya. Hans memeluk Alice dengan sangat erat, seakan-akan takut kehilangan.


Alice sudah lama tidak masuk ke dalam kamar Hans, kamar ini masih sama seperti terakhir Alice masuk setahun yang lalu. Hanya ada lemari, kasur dan meja serta Laptop yang selalu menyala.


Jendela kamar Hans selalu terbuka, mungkin agar kamarnya tidak penuh dengan asap rokok. Terdapat banyak sekali bungkus rokok yang telah kosong di sudut kamar.


"Hans, lama-lama kau akan berubah menjadi cerobong asap jika kau terus seperti ini." Sahut Alice.


Hans hanya tersenyum dan melepaskan pelukannya.


"Apa maksudmu? Apakah sekarang kau berani menghina Kakakmu?" Jawab Hans dengan tersenyum jahil.


"Hans..


"Kau tau.. kau adalah satu-satunya keluarga yang Aku punya selain Bibi Anna. Hanya kita yang terikat oleh darah, apakah kau mengerti?" Tanya Alice bersungguh-sungguh.


"Apakah sekarang aku perlu nasehatmu nona kecil?" Tanya Hans jahil.


"Haaaaans..." Alice memeluk Hans dengan manja.


Alice tidak tau bahwa selama ini Hans selalu menanggung beban yang begitu berat didalam hatinya. Seandainya saja Alice dapat sedikit meringankan penderitaannya.


"Ada apa? Katakan saja.." Hans menunggu Alice berbicara.


Sesaat kamar Hans hening, hanya ada suara nafas mereka berdua yang saling bersahut-sahutan.


"Hans.. kau ingat saat Aku hilang?" Tanya Alice.


"Hmm..." Hans mencoba mendengarkan.


"Saat itu bulan purnama, Aku masih ingat dengan jelas. Kereta kuda mengantarku pulang..."

__ADS_1


(Alice mengambil nafas lalu melanjutkan ceritanya)


"Diperjalanan, kereta menabrak sesuatu. Kau tau apa itu?"


"........." Hans diam tidak menjawab apapun.


"Werewolf Hans.. dan Werewolf itu memakan kusir kereta kuda ku.." Alice menangis mengingat saat mengerikan itu.


Hans tidak tau kejadiannya seperti itu, Hans terkejut mendengarnya, dia memeluk Alice dan mendengarkan lagi ceritanya.


"Aku melihat dengan mataku Hans, dia memakan Kusirku, lalu Werewolf itu melihatku.." Alice ketakutan mengingat kembali kejadian malam itu, badannya bergetar.


"Hentikan Alice.. maafkan Aku, maafkan Aku.. aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi.." Hans memohon.


"Tidak Hans, kau harus mendengarkannya.." Alice mengambil nafas dan melanjutkan ceritanya.


"Saat itu bulan sangat terang, sehingga aku melihat dengan jelas, namun..."


"Werewolf itu juga melihatku, saat itu aku panik dan aku langsung berlari masuk kedalam hutan, lalu Werewolf itu mengejar ku.."


Muka Hans pucat, badannya menegang mendengar Alice dalam bahaya.


"Beruntung.. Kent menemukanku dan membawaku kerumahnya Hans.." Alice mengakhiri ceritanya.


Hans terdiam, dia baru mengerti apa yang terjadi, Hans bingung mengapa Kent tidak menceritakan hal yang sebenarnya terjadi.


Sekarang, Hans merasa sangat beruntung bertemu Kent. Baginya, sekarang Alice adalah hal yang terpenting dalam hidupnya. Sudah sangat lama Alice menjadi tujuan hidupnya. Mungkin setelah orangtuanya meninggal. Hanya Alice lah yang dia pedulikan, melebihi dirinya sendiri.


Hans memeluk Alice lagi dengan erat. Alice balas memeluknya.


"Maafkanlah Aku Alice, aku tidak tau hal seperti itu terjadi kepadamu.. aku minta maaf, semua itu terjadi karena aku lalai menjagamu.." Tubuh Hans bergetar.


Hans menangis, air matanya tidak berhenti menetes. Dia sangat ketakutan membayangkan Alice dalam bahaya, apalagi langsung berhadapan dengan Werewolf. Hal tersebut telah membangkitkan memori kelamnya yang tertidur.


"Aku baik-baik saja sekarang Hans.." Alice tersenyum.


"Berhentilah menangis! Kau sudah terlalu tua.." Alice mencibir.


Alice menghapus air mata Hans yang tertinggal disudut matanya. Dia tahu sebesar apa rasa sayang Hans terhadapnya. Dan Alice juga menyayanginya sebesar rasa sayang Hans padanya.


Setelah itu, Hans pergi. Dia mengatakan akan menemui Kent dan meminta maaf serta mengucapkan terimakasih karena telah menyelamatkan nyawa Alice saat itu.


Hari itu Alice menghabiskan waktunya dengan bersantai dibawah pohon, memutar musik dan membaca science fiction. Angin sepoi-sepoi mengibarkan rambutnya.


Seperti biasa Bibi Anna sedang mengerjakan sesuatu didapur.


Terdengar seseorang mengetuk pintu.


Tok


Tok


Tok


Alice turun kebawah, dan berjalan ke arah pintu. Seseorang datang dengan mengendarai kereta kuda.


Alice membuka pintu.


"Nona Alice, anda mendapatkan sepucuk surat."


Lelaki itu memberikan sepucuk surat berwarna putih ke pada Alice. Alice merasa 'Dejavu karena mendapatkan surat lagi.


Lelaki tersebut kemudian pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Alice menutup pintu dan duduk dikursi. Dia menimang-nimang surat ditangannya.


"Haruskah aku membukanya?" Gumam Alice.


Alice menaikan alisnya dan langsung membuka surat tersebut. Alice terlalu mudah penasaran pada sesuatu. Dia tidak akan membiarkan surat itu satu menit pun tergeletak tanpa dibuka terlebih dahulu.


'Alice datanglah ke kamarku nanti malam.'


Surat tersebut hanya berisi satu kalimat, tanpa nama pengirim dan maksud tujuan.


Alice ragu-ragu untuk bertanya pada Bibi Anna. Namun dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa surat itu berasal dari Gara.


Hans mengantar Alice yang sudah bersiap sejak sore. Hans tidak mengatakan apapun. Dia merasa Alice akan baik-baik saja jika berada didalam istana.

__ADS_1


Sesampainya di Istana Alice disambut oleh pelayan, dia mengutarakan maksud kedatangannya, kemudian tanpa bertanya lebih banyak pelayan tersebut mengantar Alice menuju ruangan Gara.


Namun..


__ADS_2