
"Pegangan yang kuat Alice..!"
William menggendong Alice dipunggungnya. Alice memegang erat pundak William. William berlari sangat cepat, Alice tidak bisa melihat dengan jelas, pepohonan terlihat seperti garis yang berulang, Alice merasa seperti sedang naik kereta dengan kecepatan seperti itu.
"Willi, aku merasa mual.." Alice berbisik ke telinga William.
William memperlambat lajunya, dia bahkan berhenti ditepi sungai yang kecil.
"Maafkan aku, kau tau aku sangat senang kau berada dipunggungku.." Ucap William.
Alice tidak mengerti mengapa William terlihat senang.
"Mengapa kau sangat terburu-buru?" Alice ingin bertanya sejak tadi namun tidak ada waktu yang pas.
"Kau akan tau saat kita tiba.." William menjawab.
"Apakah perjalanan kita masih jauh Will?" Tanya Alice.
"Yaa, masih sangat jauh.." balas William.
"Aku lapar..." Alice berkata malu.
William melihat ke arah Alice, sekarang mukanya memerah.
"Kau lapar atau demam Al?" William mendekat dan menyentuh dahi Alice.
"Aku lapar..!! lepaskan tanganmu.. aku baik-baik saja.."
"Baiklah, aku akan mencarikan makanan didekat sini, kau bisa menunggu sebentar." William menghilang diantara pepohonan.
Alice duduk disebatang pohon yang telah tumbang, dia menghirup nafas dalam-dalam. Mencoba untuk menikmati kesendiriannya.
Alice menutup matanya sejenak, namun yang terbayang dalam benaknya adalah saat Gara sedang mencium dan menghisap leher wanita lain, dengan cepat Alice membuka matanya.
"Astaga.. tidak bisakah aku tenang sekejap saja.." Alice mengumpat kesal.
William datang dengan tangan yang penuh dengan jambu dan buah berry.
"Sepertinya ini bisa dimakan, baru kali ini aku mencarikan makan untuk seseorang. Seharusnya kau bersyukur." Ujar William.
"Dengan senang hati Willii, terimakasih..." Alice tersenyum senang.
Diam-diam William menarik kedua ujung bibirnya ke atas, dia tersenyum senang.
Mereka melanjutkan perjalanan, Alice kekenyangan, Dia terkantuk-kantuk digendong William.
"Al, Alice.. kita sudah sampai.." William membangunkan Alice yang tertidur pulas.
Tiba-tiba seorang perempuan datang ke arah Alice dan menamparnya dengan sangat kencang..
Plaaak...!
Alice terkejut, dia memegang pipinya..
William menarik lengan perempuan itu dan langsung menampar nya saat itu juga.
Plaaak...!
"Williii... sakiit, apa yang kau lakukan!!" Wanita itu merajuk.
"Seharusnya aku yang bertanya! Apa yang kau lakukan terhadap Alice..!!" William sangat marah dengan tindakan wanita tersebut.
"Siapa perempuan jalang ini Wiilli...! Aku tidak terima dia digendong olehmu seperti itu..!! Kau bahkan tidak mengijinkan aku untuk memelukmu..!" Wanita itu menangis.
"Jaga ucapanmu! Sebaiknya kau menghilang dari hadapanku..! " Kemudian William menarik tangan Alice masuk ke istana. Mereka meninggalkan wanita itu sendirian.
Alice masih tidak mengerti dengan kejadian yang baru saja terjadi, dia menatap William, berharap dia menjelaskannya, namun William tidak berkata apapun.
Ditengah perjalanan mereka berpapasan dengan Eric.
"Aliice...." Eric memanggil.
Alice melihat kearah datangnya suara. Dia melihat Eric melambai ke arahnya.
"Eric?" Alice bergumam.
Eric berlari ke arah Alice dan William.
"Will, kulihat Sasa menangis diluar, sebaiknya kau melihatnya." Eric mengingatkan William.
"Aku menamparnya." Jawab William dingin.
"Waw aku baru tau kau bisa marah pada wanita Will.." Balas Eric.
"Aku akan mengantar Alice, kau temuilah Sasa.." tanpa menunggu jawaban William, Eric menarik tangan Alice dengan cepat.
"Willi..." Alice mencoba berpamitan, namun William tidak mengatakan apapun.
"Eric.. kita akan kemana?" Tanya Alice penasaran.
Eric hanya tersenyum, dia tidak mengatakan apapun.
Mereka tiba disebuah ruangan yang berada di sayap sebelah kanan istana. Ruangan itu mempunyai pintu yang besar, lebarnya sekitar 2 meter dan tingginya 3 meter. Pintunya berwarna hitam dengan Mawar berduri sebagai hiasannya.
Eric mengetuk pintu dan membukanya perlahan. Ruangan itu terang, sinar matahari memenuhi ruangan yang berbentuk oval, dengan dinding yang penuh dengan lukisan. Terdapat sebuah tempat tidur yang besar di pojok ruangan, terlihat seseorang berbaring disana, namun Alice tidak mengetahui siapa dia karena sinar matahari tidak sampai kesana.
Eric pergi meninggalkan ruangan.
Alice berjalan ke arah tempat tidur. Dia melihat Yang Mulia Raja duduk disamping tempat tidur, Alice belum melihat siapa yang tertidur disana, tirai menghalangi pandangannya.
__ADS_1
"Alice.. kau sudah tiba.. " ucap Yang mulia Raja.
"Hormat saya yang Mulia..." Alice menundukkan kepalanya.
"Alice, bantulah dia.. dia menolak makan ataupun minum dari kemarin. Aku akan meninggalkan kalian." Yang Mulia Raja pergi meninggalkan Alice.
Alice ragu-ragu membuka tirai.
Dia menutup mulutnya ketika melihat Gara terbaring disana.
Terdapat luka terbuka di lengan kanannya. Alice berjalan mendekat. Dia mengusap rambut Gara.
Gara mencium aroma tubuh Alice, perlahan dia membuka matanya.
"Alice....." Gara bergumam perlahan.
Alice tidak mengatakan apapun, dia terlalu terkejut melihat Gara terbaring disana. Tidak pernah sekalipun dia membayangkan melihat kondisi Gara yang seperti itu. Air mata Alice telah menumpuk dipelupuk matanya, mereka tidak terbendung lagi dan mengalir membasahi pipinya.
"Alice..." Gara merasa sakit melihat Alice menangis, dia mencoba bangun dari tempat tidurnya, namun Alice menahannya.
"Tidurlah.."
"Apa yang terjadi? mengapa kau terluka? " Tanya Alice, Air matanya terus mengalir, Gara mengusap dengan tangannya.
"Aku baik-baik saja Alice..
Aku, aku hanya merindukanmu.." Jawab Gara.
"Aku tau kau tidak, apakah kau masih bisa bercanda?.. apa yang harus aku lakukan? Kau.. kau terlihat pucat sekali, seperti orang mati, apa yang harus aku lakukan? aku tidak bisa melakukan apa-apa.." Alice masih menangis, dia tidak sanggup melihat Gara yang terluka.
Gara bangun dan memeluk Alice dengan lembut, aroma tubuh Alice membangkitkan rasa laparnya, namun Gara menahannya sekuat tenaga.
"Kau bau anjing Alice.." Gara menutup hidungnya.
Alice melepaskan pelukannya.
"Hanya itu yang ingin kau katakan kepadaku?" Alice kesal.
"Tapi kau bau honey, mau kah kau mandi duluu? " Gara merajuk.
"Huh..!!" Alice membuang muka.
"DEAN.."
Gara memanggil Dean.
Dean datang dengan cepat.
"Kirim pelayan manusia untuk membantu Alice membersihkan diri dan memilih pakaian.." ucap Gara.
Kemudian Dean dan Alice meninggalkan Gara.
"Iya Nona.." jawab Dean.
"Mengapa Gara terluka.." akhirnya Alice tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Dean ragu-ragu menjawab.
"Hmm, Tuan muda Gara terluka karena mencoba mencari orang-orang yang mencoba melukai anda saat anda jalan-jalan bersama tuan muda." Dean menjawab dengan satu tarikan nafas.
"Apaa...." Alice terkejut. Dia tidak menyangka Gara melakukan hal seperti itu untuknya.
"Saat itu saya menyarankan Anda untuk datang, namun Tuan Muda menolak karena takut anda akan takut bila Tuan Muda ingin menghisap darah anda Nona.."
Dean menarik nafas.
"Sehingga beliau meminta saya memanggil Violet, namun yang terjadi diluar dugaan, Violet meminum ramuan cinta, sehingga Tuan Muda dapat terpengaruh olehnya." Dean berhenti bercerita.
Mulut Alice ternganga, dia tidak percaya dengan semua hal yang didengarnya. Dia tidak percaya sebelum mendengarnya dari Gara, Alice terlalu senang mendengar hal tersebut, dalam hatinya dia berharap semua yang Dean katakan benar dan tanpa manipulasi apapun.
Dean mengantar Alice ke pemandian.
Alice masuk dan mencari tempat yang nyaman untuk membersihkan diri, namun tiba-tiba seseorang mendorongnya dari belakang, Dia tau perempuan itu, belakangan dia mengetahui namanya, Sasa.
Bruugh
Alice terjatuh lumayan keras, kedua lututnya berdarah, perempuan itu tidak bisa mengontrol nafsunya, dengan cepat dia memojokkan Alice dan menggigit paha Alice dengan kuat.
Aaaaah
Garaaaa
Suara jeritan Alice terdengar oleh Gara, dengan sangat cepat Gara pergi ke tempatnya.
Gara begitu marah melihat seseorang sedang melukai Alice, Alice terlihat lemas di tempat yang gelap, namun Gara dapat melihatnya dengan jelas.
Aroma darah tercium dengan sangat kuat, Gara mencoba mengendalikan dirinya, tidak lama puluhan Vampire datang dari segala arah ke tempat pemandian. Luca berada disana dan tersenyum. Dia mengeluarkan taringnya yang gatal, aroma darah Alice membuatnya mabuk. Luca menatap jijik ke arah Gara, dia ingin menyingkirkan nya secepatnya.
Gara tidak bisa menahan emosinya, dengan kuat Dia mendorong Sasa ketembok.
Bruuugh
Sasa meringis kesakitan.
"Bakar perempuan itu!!" Gara berkata.
Dengan cepat prajurit kerajaan menarik paksa Sasa dan membakarnya di halaman belakang.
William yang melihat hal tersebut tidak berkata apa-apa, ekspresi nya datar dan tak menunjukan belas kasihan sedikitpun.
__ADS_1
Alice tampak lemas, dia mencoba untuk duduk dan berdiri, namun keseimbangan hilang. Alice terjatuh, darah bercucuran dari pahanya, pelayan perempuan datang dan menutup luka Alice dengan kain.
Gara menggendong Alice ke ruangannya.
Setelah beberapa saat Alice membuka matanya, dia melihat Gara sedang menatapnya khawatir. Alice kehilangan banyak darah karena insiden tadi. Kepalanya terasa pusing dan berat, kakinya terasa sakit.
"Garaa.." Alice berkata pelan.
"Ya honey.. apa yang kau rasakan?" tanya Gara.
"Kakiku sakit sekali Gara, rasanya panas..." Alice mencoba melihat kakinya, dan mengusapnya.
"Taruh tanganmu dikakiku, aku mohon.." pinta Alice.
Gara menuruti keinginan Alice, dia menaruh kedua tangannya di atas paha Alice yang terluka, sensasi nyaman mulai terasa di kaki Alice, dia lebih rileks dan jatuh tertidur.
Pintu kamar Gara terbuka, William berjalan kearah Gara, dia membisikan sesuatu.
Gara terlihat berpikir, dan dia setuju dengan William.
Lalu William pergi meninggalkan ruangan.
Alice terlalu lemah untuk bertanya, dia memejamkan matanya lagi.
Dia tidak tau waktu telah berlalu berapa lama, Alice terbangun karena merasakan seseorang sedang memegang kakinya.
Alice membuka matanya, dia melihat ke arah seseorang yang sedang menjilati pahanya, dia Kent. Kent mencoba menyembuhkan luka Alice, dan Gara sedang berdiri mengawasi, matanya terlihat sedih, namun dia lebih sedih melihat Alice terluka.
"Kent.."
Kent mendongak ke arah Alice, dia tersenyum.
"Kau akan baik-baik saja gadis kecilku.."
Gara tampak tidak senang mendengar ucapan Kent, namun dia menahannya.
"Terimakasih kasih Kent..." Bisik Alice.
Alice memandang Kent yang mencoba mengobatinya, dia begitu bahagia melihat Kent lagi, Alice tersenyum tanpa dia sadari.
Gara yang melihat ekspresi Alice berjalan ke luar, dia tidak sanggup melihat Alice memikirkan orang lain, luka Gara masih berdarah, dia mencoba menahannya.
Kent telah selesai mengobati Alice, luka Alice sembuh tanpa bekas sedikitpun, Kent memeluknya lembut.
"Cobalah untuk berhati-hati Alice, jangan membuatku khawatir saat aku tak disampingmu.." Kent mengecup dahi Alice lembut.
"Terimakasih Kent, kau selalu membantuku, apa yang bisa aku berikan padamu?" Tanya Alice.
Kent tersenyum.
"Hatimu.." Jawab Kent.
Alice tidak dapat berkata apa-apa, mukanya sudah merah sekarang, dia begitu malu untuk menatap Kent. Gara yang mendengar pembicaraan Kent dan Alice tidak tahan lagi, dia masuk dan menghentikan pembicaraan mereka.
"Apakah sudah selesai? kau bisa pergi Anjing. " Ucap Gara kesal.
"Gara, dia telah menolongku, apa yang kau lakukan? " Alice marah dengan sikap Gara yang tidak sopan.
"Alice, tidak apa-apa, aku akan pergi.." Kent mengecup punggung tangan Alice dan melompat keluar.
Alice terlalu terkejut sehingga dia tidak sempat menahan Kent pergi.
"Kau puas sekarang?!" Tanya Alice kesal.
"Alice.. maafkan aku, aku hanya tidak tahan melihatmu dengannya..." Gara menundukkan kepalanya.
"Aku minta maaf karena kejadian kemarin, sungguh.. aku tidak akan melakukan hal itu. Aku hanya padamu.. Alice.." Gara menahan emosinya yang sudah meluap.
Luka dilengannya berdarah lagi, bahkan muka Gara terlihat semakin pucat sekarang.
Alice bangun dari tempat tidur dan mendekat ke arah Gara. Dia mengecup keningnya dengan lembut, dan membuat rambutnya berantakan.
"Aku tau Gara, aku tau.." Alice memeluknya.
Kemudian Alice membawa Gara ke tempat tidur dan membaringkan Gara yang sudah sedingin es.
Dia mencium kening Gara.
"Sekarang kau harus meminum darahku Tuan Muda, kau tampak seperti vampire sekarang.." Alice tersenyum jahil.
Gara tersenyum, dia sangat bahagia melihat Alice disampingnya.
Alice mendekatkan lengannya ke mulut Gara, Perlahan Gara menjilat lengan Alice.
Nggg
Kemudian dia menancapkan taringnya dengan cepat.
Aaaahh
Uuuhk
Gara menghisap darah Alice perlahan, dia tidak ingin Alice lebih sakit lagi.
Perlahan luka Gara menutup, lama-lama hilang tak berbekas, wajah Gara kembali bercahaya, kulitnya bersinar dan Gara tersenyum.
Alice semakin lemah, Gara menghentikan hisapannya.
Kemudian dia memanggil Dean dan menyuruhnya membawakan makanan serta dokter.
__ADS_1
Alice tertidur lama, Dokter memberikan infus dan makanan lewat cairan, Alice terlalu lemah untuk bangun, dia hampir kehabisan darahnya. Namun Alice tak menyesali nya.