Cinta Dan Rahasia

Cinta Dan Rahasia
Tertangkap Tangan


__ADS_3

Laura meringkuk diatas tempat tidurnya, dia memandang langit-langit kamarnya, udara malam itu terasa dingin, dia memeluk tubuhnya sendiri. Pikirannya melayang, menembus apapun yang ada didepannya.


Laura sudah memimpikan ini sejak dia kecil, ketika pertama kali pelayannya membacakan sebuah dongeng padanya, tentang seorang pangeran yang membawa kuda putih dan menjemput seorang putri untuk menikahinya. Dia selalu menunggu saat-saat itu, usianya sudah cukup untuk pernikahan sejak 5 tahun yang lalu, namun tidak ada satupun pangeran yang datang menemuinya. Setiap bercermin, Laura selalu bertanya pada pelayannya.


'Apakah aku cantik?!'


Tentu saja, Laura sangat cantik. Terlahir dari Raja dan Ratu vampir, dia terlahir murni. Dengan kulit putih pucat, rambut berwarna gading, hidung yang sangat indah, bibir yang berwarna merah merekah, dan tubuh yang sangat proporsional. Tidak ada satupun yang meragukan kecantikannya. Kini, Laura terlalu putus asa, teman-teman perempuannya di asrama telah mempunyai pasangan, namun hanya dia yang tertinggal.


Saat itu, dia berambisi untuk mendapatkan pasangan. Siapapun yang bertemu dengannya pertama kali, maka Laura sudah menjadikannya target. Dan itulah pertama kali Laura bertemu dengan Eric.


'Bagaimana ini, aku sudah ketahuan!! Aku harus bagaimana?' Gumamnya.


Tok


Tok


Tok


Terdengar suara ketukan pintu, seingat Laura, dia tidak menunggu siapapun, apalagi larut malam seperti ini.


"Bukalah,


"Aku, William.."


Laura terkejut, dia sangat yakin bahwa orang dibalik pintu menyebutkan nama William. Dia berjalan kearah pintu dan membukanya perlahan.


"Ada perlu apa?


"Apakah kau tidak tau bahwa ini sudah larut malam?"


William mendorong pintu dan masuk kedalam kamar Laura. Dia berkeliling tanpa memperdulikan Laura.


"Apa yang kau inginkan!!" Laura berteriak, dia merasa diabaikan.


William berhenti berjalan dan menghampiri Laura. Jarak mereka hanya terpaut 1 langkah. Perut Laura yang besar hampir mengenai perut William.


"Aku tidak dapat dibodohi seperti Eric. Sebaiknya kau pulang dan batalkan pernikahan ini. Atau kau akan menyesal." William mengancam Laura dengan tatapan tajam dan mulut pedasnya.


"Aku tidak bisa pulang! Aku akan menikah!"


"Ah, kalau begitu.. apakah kau mencintai Eric?"


Laura terdiam, dia tidak bisa menjawab pertanyaan William. Sejujurnya, Laura tidak banyak berbicara dengan Eric, selama ini dia hanya bersandiwara dan sebenarnya..


"Kau tidak menjawab pertanyaanku.."


William mendorong Laura kedinding, dia menarik kedua tangan Laura keatas kepalanya.


"Kau harus pergi, atau kau akan menyesal." Eric membalikan badannya dan pergi.


Laura ketakutan, jantungnya berdebar dengan sangat kencang.


"Apa-apaan dia! kurang ajar sekali, aku tidak akan pernah menyerah!." Laura menutup pintu dengan kencang lalu menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur.


'Aku harus berfikir jernih, tidak boleh gegabah. Semoga mereka tidak memperpanjang tentang racun itu. Aku harap begitu.'


* * *


Matahari belum terlihat, namun Gara telah berpakaian lengkap, dia melihat kearah Alice yang masih tertidur dengan earphone ditelinganya. Saat Alice tertidur, Gara banyak berpikir, dia tidak bisa melanjutkan tidurnya.


"Lin, jagalah Alice."


Hanya ada keheningan, namun Gara tau, Lin ada di suatu tempat didalam kamarnya.


Gara berjalan keluar, dia membuka dan menutup pintu tanpa suara. William telah menunggu Gara didepan pintu.


"Apa yang kau temukan?" ucap Gara sambil terus berjalan tanpa memandang William, kemudian William berjalan dibelakang nya.


"Laura bertingkah aneh sejak semalam meninggalkan meja makan, aku mengawasinya sejak semalam, namun dia tidak melakukan pergerakan apapun."


"Lalu, apa yang Eric lakukan?"


"Eric masih terkejut, dia seperti orang linglung, namun aku telah memberikannya obat penenang dari dokter semalem saat mengunjungi kamarnya. Saat ini dia masih tertidur."


"Baiklah, saat ini masih aman. Aku tidak melarang Eric menikah, namun Aku ingin dia mendapat kebahagiaan nya. Aku harap anak itu benar anak Eric."


"Aku telah mengawasi Laura sejak lama, dia tidak punya teman pria lain selain teman perempuannya."


"Kau? mengenal Laura?"


William terdiam, dia tidak menjawab pertanyaan Gara.


"Aku tidak tahu ada hubungan apa antara Kau dengan Laura, aku hanya ingin Alice tidak diganggu oleh siapapun."


"Aku faham."


Mereka berjalan ke arah kantor Gara, semua orang telah menunggu kedatangannya.


* * *


Alice membuka matanya, dia tertidur sangat lelap, matahari telah bersinar sangat terang, matanya begitu sakit melihat cahaya.


"Lin, tutup gorden nya, aku hampir buta."

__ADS_1


Gorden tertutup dengan cepat.


Alice merasakan sesuatu yang berbeda, dia merasa aneh, tidak bisa digambarkan atau dijabarkan.


Dia membuka penutup telinganya, pendengaraannya sudah kembali normal, namun dia masih bisa mendengar suara-suara dari kejauhan.


"Ah syukurlah, tidak terlalu buruk."


Rasa pusing tiba-tiba melandanya, dia memegang kepalanya dan menekannya dengan kuat.


"Lin,


"Lin, Gara..


"Mana Gara.."


Beberapa saat kemudian Gara membuka pintu dan berlari ke arah Alice yang memijat kepalanya.


"Alice..


"Ada apa?"


Gara duduk disamping Alice, dia menarik tangan Alice kemudian memijat kepala Alice dengan lembut.


"Aku merasa tidak enak badan, aku pusing aku tidak tau.." Alice tidak dapat mengungkapkan perasaanya dengan benar. Dia merasa baik-baik saja, namun kemudian sakit lagi.


"Apakah kau sudah minum pil?"


"Belum, belum, aku belum makan atau minum apapun."


"Kau ingin darahku?" Gara membuka dasi dan kancing atas kemejanya.


"Tidak, tidak,


"Aku hanya sedikit pusing, mungkin aku kelelahan dengan semua hal yang terjadi.


"Sebaiknya kau kembali bekerja, aku akan beristirahat."


Alice memeluk Gara dengan erat dan mengecup keningnya.


Gara enggan meninggalkan Alice dalam kondisi seperti ini, namun Alice bersikeras agar dia kembali bekerja.


Alice menarik selimutnya dan memasang lagi earphone nya. Dia mencoba mengatur nafas dan menutup matanya.


"Lin, jagalah Alice.." Kemudian Gara meninggalkan Alice dengan segudang rasa khawatir.


Waktu terus berlalu, hampir seharian Alice tidak keluar kamar.


Gara selalu mengecek Alice berkala, setiap Gara masuk kedalam kamar, Alice masih dalam keadaan tertidur, dia tidak mau membangunkan Alice, Gara meminta pelayan untuk membawa makanan kedalam kamarnya.


"Lin, pukul berapa ini? Mengapa sangat gelap diluar sana?"


Lin berjalan ke arah Alice dan berdiri disamping tempat tidur.


"Sekarang pukul 3 sore Ma'am."


"Yang Mulia telah mengunjungi Anda hampir setiap jam, namun Anda masih terlelap Ma'am."


"Ah.. sepertinya, aku sudah lebih baik sekarang. Mata dan telinga ku sudah baik-baik saja, aku rasa."


"Aku ingin menemui Gara."


"Tapi Ma'am, Yang Mulia ingin Anda beristirahat."


"Lin, aku sudah seperti orang mati hari ini. Tidakkah kau lelah melihatku terus tertidur?" Alice menatap Lin dengan penuh harap.


"Aku akan keluar dan menemui Gara.." Alice hendak berdiri, namun dengan cepat Lin menghadangnya.


"Sebaiknya Anda makan dulu Ma'am, kemudian Anda bisa berganti pakaian, sebentar lagi makan malam." Tidak ada ekspresi diwajah Lin yang tertutup kain hitam, namun Alice menganggap itu sebagai bentuk perhatian, dan dia tidak mau membuat Lin berada dalam masalah, dia tau sejahat apa Gara. Alice terkikik membayangkan Gara menatap tajam Lin.


"Apakah Anda baik-baik saja Ma'am?"


Alice mengangkat kedua bahunya, dia tertawa lagi.


Alice menuruti Lin, dia mengambil kapsul dan memasukannya kedalam air, warna air berubah menjadi merah dengan cepat.


"Uuuuhk, ini menjijikan.." Alice merasa jijik, namun dia meminumnya dengan sekali tegukan.


Kemudian dia membersihkan diri dan berganti pakaian dibantu oleh pelayannya.


Dia masih dapat melihat dengan jelas warna aroma yang keluar dari bak mandinya ketika pelayanan menuangkan sebotol sabun. Asap berwarna merah muda terlihat indah bercampur dengan asap berwarna kuning. Sekarang Alice tidak mengatakan apapun pada pelayannya.


Pelayan mengantar Alice ke meja makan, semua orang telah berkumpul, termasuk Gara. Dia begitu terkejut melihat kedatangan Alice.


"Alice..


Alice tersenyum kearah Gara, dia berjalan dan duduk disamping Gara.


"Aku baik-baik saja sayang.." Alice mengecup pipi Gara dihadapan semua orang termasuk Yang Mulia Raja.


"Ekhm.." Eric terbatuk melihat keharmonisan Gara dan Alice.


Alice sadar dengan tingkahnya, kemudian pipinya berubah merah dengan cepat.

__ADS_1


Gara menggenggam tangan Alice dengan erat.


Makan malam kali ini berjalan dengan baik, tidak ada masalah atau interupsi apapun. 'Terlalu damai, itulah kata yang terucap dari bibir William saat semua orang telah selesai dengan makan malamnya.


Laura terlihat normal, dia tidak terlihat melakukan sesuatu yang mencurigakan. Eric tetap santai dan William terus memperhatikan tingkah Laura dari kejauhan.


Alice tidak menyentuh makanannya sedikitpun, Gara merasa khawatir, dia berulang kali menawarkan darahnya, namun Alice menolak. Yang Mulia Raja meninggalkan ruang makan terlebih dulu, beberapa tamu menunggu kedatangan beliau terkait pernikahan yang akan berlangsung lusa malam.


Laura tidak ingin menjadi orang yang dibenci didalam istana ini, dia memberanikan diri untuk berbicara dengan Alice.


Ekhm..


"Alice..


"Maukah kau berbincang bersamaku?


"Ini hanya sekedar pembicaraan perempuan, kau tau.."


Laura menatap Alice dan mencoba tersenyum.


Gara tidak suka dengan pembicaraan Laura, dia menatap Alice mencoba melarang, namun dia tau istrinya terlalu baik untuk menolak seseorang, bahkan orang yang telah melukai nya, semua itu terlihat dari senyumannya yang tulus.


"Aah..


"Baiklah..


"Sebaiknya kita saling mengenal.." Alice tersenyum lalu balas menatap Gara yang sedang menatapnya.


Alice berdiri dan mengajak Laura untuk mengikutinya keruang baca. Namun, ketika Alice melihat perut Laura, dia terkejut. Tanpa sadar Alice menutup mulutnya dan menatap Gara.


"Ada apa Alice?" Gara berdiri dan berbisik ketelinga Alice.


"Tidak ada apa-apa sayang..


"Mungkin aku salah lihat." Alice kembali berjalan ke arah perpustakaan menyusul Laura yang telah pergi lebih dulu.


Untuk masuk keruang baca mereka harus melewati beberapa anak tangga yang cukup panjang, letak perpustakaan ada di sayap sebelah timur, dengan kaca-kaca jendela yang berukuran sangat besar dan tinggi. Terdapat ribuan buku-buku yang berjejer dalam lemari yang tinggi. Bau khas buku-buku tua menyeruak ketika Alice memasuki perpustakaan.


Alice melihat sekeliling, namun Laura tidak berada disana, dia melihat keluar jendela dan melihat Laura sedang berdiri di anak tangga teratas dekat kolam ikan yang cukup besar dibawahnya.


"Laura..


Laura melihat Alice dan mencoba tersenyum. Dari kejauhan Alice dapat melihat dengan jelas perut Laura, didalam perutnya terlihat asap berwarna hitam berputar-putar seperti benang kusut.


"Lin..


"Aku melihat sesuatu yang tidak masuk akal.


"Perut Laura penuh dengan asap berwarna hitam.


"Apakah itu mungkin?"


Alice menatap Lin yang sejak tadi berada disampingnya, dan hanya Alice yang dapat melihatnya.


"Mungkin benar Ma'am, ada sihir yang dapat merubah wujud, mungkin itu salah satunya. Namun, itu adalah sihir gelap Ma'am."


"Sepertinya aku harus berhati-hati.." Alice berjalan ke arah Laura yang menunggunya di lantai atas.


"Apakah lukamu baik-baik saja?


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu..." Laura menunjukan raut wajah menyesal.


"Aku baik-baik saja, anda tidak usah khawatir Nona Laura.."


"Apakah saya boleh bertanya?" Tambah Alice dengan tersenyum.


"Tentu saja Ma'am..


"Apa yang ingin anda tanyakan?"


"Maaf, apakah anda benar-benar hamil?


"Maafkan kelancangan saya Nona Laura, tapi saya tidak melihat ada kehidupan didalam perut Nona.."


Alice memang baik, namun dia tidak ingin kebaikannya disalah artikan dan membuat kekacauan dikemudian hari.


Tubuh Laura menegang, mukanya berubah menjadi sangat pucat, bibirnya bergetar. Dia tidak menyangka Alice akan bertanya hal itu dengan sangat santai.


"Ahh..


"Apakah anda mengatakan itu karena anda tidak bisa hamil?


"Anda tentu iri terhadap saya yang bisa memberikan keturunan, bukankah begitu?


Alice terkejut, dia tidak tau Laura akan menyerangnya sepertu itu, dan membalikan kondisinya dengan dangan begitu mudah.


"Hmm..


"Tentu saja saya sedih, dan iri..


"Tapi, mari kita lihat beberapa bulan lagi, apakah anda benar-benar akan melahirkan?" Alice menatap tajam Laura, dia tidak ingin Eric dan keluarga barunya menjadi terluka dan kecewa.


Laura marah, dia benci sekali melihat Alice begitu percaya diri, dia menggigit kukunya dengan kencang, seketika dia menjatuhkan dirinya sendiri dari anak tangga.

__ADS_1


Aaah..


Alice terkejut, dia tidak menyangka Laura akan menjatuhkan dirinya sendiri. Tubuh Laura terbaring dilantai, darah segar mengalir dari kakinya. Alice menutup mulutnya dan berlari ke arah Laura, Laura tidak sadarkan diri.


__ADS_2