
Tubuh Kent seakan bergerak sendiri, dia tidak bisa menghentikannya, emosinya begitu meluap-luap. Dia sangat menantikan pertemuan dengan Alice, namun apa yang dilihatnya sekarang diluar ekspektasinya.
Seluruh tubuhnya seakan mendidih melihat Alice berbaring dan tidak bergerak sedikitpun. Kent berjalan kearah Alice yang diam, dia membelai pipi Alice yang dingin. Alice tidak menunjukan reaksi apapun.
"Apa yang Kau lakukan brengs*k!!
"Kau berjanji tidak akan pernah menyakitinya!
"Kau sudah berjanji padaku!
"Lihat dia!
"LIHAT!
"Aaaarghh!!!!!"
Kent mengepal-ngepalkan tinjunya, dia sangat marah, dia sangat kecewa, sangat ingin membunuh Gara saat ini juga. Namun, dengan cepat William melerai mereka, tepat ketika Kent mendorong tubuh Gara dengan keras ke dinding.
'Bruuuugh!!!
"Oke, oke hentikan.
"Kent tenanglah.
"Alice tidak mati.
"Dia hanya sakit."
"Sakit?
"Sakit katamu?
"Lihat dia brengs*k, lihat!
"Dia bahkan tidak melihatku!
"Dia begitu..
"Arghh sangat dingin, seperti mati." Kent menutup wajahnya.
Darah sagar mengalir dari sudut bibir Gara, dia tidak menghentikan Kent yang melampiaskan amarah padanya. Dia sangat sedih, sangat terpukul sangat bingung dan tidak tau harus bagaimana sekarang.
"Dengarkan baik-baik..
"Alice mengalami masalah dengan seluruh indranya, dia mengatakan padaku kemarin. Seluruh indranya begitu sensitif dan sangat meningkat tajam. Lebih tajam dari vampire biasa dan sangat menakjubkan menurutku."
"Kau terdengar kagum Will.
"Kau mengatakan Alice sakit dan dia bersamamu kemarin?" Gara menatap tajam Will.
"Ah, maksudku dia sangat hebat bertahan sampai saat ini." William kehilangan kata-kata, dia tidak ingin Gara mengetahui rahasianya saat ini, William belum siap.
Namun, tepat seperti dugaan William, dengan cepat Gara menyadarinya.
"Kau menculik Alice?
"Kau menyembunyikan bersama binatang ini?" Gara menunjuk Kent dengan tatapan jijik.
"Tidak, tidak Gara.
"Aku tidak menculi.." Belum sempat William memberikan penjelasan, Gara dengan cepat membanting tubuhnya ke lantai.
'Buuugh..'
Darah mengalir dari kepala belakang William. Dia mencoba berdiri, namun lagi-lagi Gara membantingnya. Kent tidak mengerti dengan situasi yang terjadi, namun dia tidak ingin melihat ada yang mati hari ini, Kent dengan cepat menahan tubuh Gara yang akan membanting lagi tubuh William yang hampir tidak bergerak.
"Gara!
"Hei vampire busuk!
"Dengarkan Aku!
"Alice tidak bersama denganku!
"Aku dikurung dilantai bawah tanah oleh William."
Tanpa disadari, Kent membuat situasi lebih buruk.
"Lantai bawah tanah?" Tubuh William bergetar hebat ketika melihat Gara memandangnya dengan tajam.
__ADS_1
Gara melepaskan tangannya dari tubuh William. Dia duduk dikursi samping tempat tidur Alice.
"Will, Kau mau mengatakan padaku sekarang? atau Kau mau mati sekarang?" Gara tidak menunjukan ekspresi apapun, William semakin ketakutan.
Kent membantu William berdiri dan membantunya duduk didepan Gara.
William mengusap kepalanya yang masih berdarah, dia mencoba menenangkan hati dan pikirannya, saat ini tepat didepan matanya duduk seorang pemangsa terhebat dan tidak lain adalah kakaknya. Seorang Kakak yang sangat dikaguminya sejak kecil dan seorang panutan untuknya.
"Kaka.." Kent menarik nafas perlahan.
"Aku mempelajari sihir." William tidak berani menatap Gara, dia sudah sangat ketakutan membayangkannya. William menunggu respon Gara, tapi Gara tidak mengatakan apapun. Dengan mengumpulkan keberanian, William mencoba menatap Gara. Namun, Gara tidak menunjukan ekspresi apapun.
"Mengapa kau diam saja?" William menatap Gara dengan perasaan kacau.
"Apa yang harus ku katakan?
"Aku yakin Ayah sudah tau."
Gara memang benar, Raja sudah mengetahui sejak dulu, William memang mendapatkan bakat sihir dari ibunya, sekeras apapun dia menolak, tubuhnya tetap mengingat.
"Ah, Aku benar.
"Dengar Will, apakah Kau tau mengapa Aku melarang bangsawan vampire mempelajari sihir sejak ibu meninggal?"
William berpikir keras, kemudian dia menjawab dengan mantap.
"Karena Kau membenci sihir.."
"Tidak.."
"Lantas mengapa?"
Gara diam, dia menatap William dengan penuh arti.
"Karena..
"Karena Aku tidak mau Kau bersedih."
William tersentak mendengar jawaban Gara, dia tidak pernah memikirkan jawaban seperti itu, tidak, hampir tidak mungkin William memikirkan itu. Dia tidak pernah tau apa alasan sebenarnya Gara melarang vampire mempelajari sihir, dan dia tidak tau semua hal itu adalah untuknya.
Sejak kecil, Ratu memang paling dekat dengan William, anak bungsunya. Disaat Gara dan Eric berada di akademi, hanya William lah yang menemani Ratu, bahkan hanya William yang mendapatkan karunia sihir dari Ibunya, Gara dan Eric tidak punya bakat seperti William.
William salah faham sejak saat itu, Gara memang Kakaknya yang terbaik, seorang panutan untuknya.
"Aku..
"Aku tidak tau.." William merasa menyesal karena selama ini telah salah faham.
"Tidak ada yang tau, hanya Aku yang tau." Gara menatap Alice yang terbaring.
"Lalu bagaimana dengan Alice?" Gara membelai pipi Alice yang dingin.
"Maafkan Aku jika lancang Gara.
"Menurutku, Alice membutuhkan darah Kent."
"Apa Kau gila?" Gara menatap tajam William, Kent berjalan ke arah Gara dan menepuk pundaknya.
"Aku bersedia!" Kent berkata dengan mantap.
"William, Aku tau Kau tidak gila.
"Aku tau kau tidak mabuk, tapi apakah kau benar-benar sadar apa yang Kau katakan?"
"Memangnya kenapa Will?" Kent bingung dengan maksud perkataan Gara.
"Ah, Kent kau tidak datang pada saat sumpah pernikahan Alice dan Gara?
"Setelah mereka menikah, mereka hanya bisa meminum darah satu sama lain, tidak bisa dari orang lain." William menjelaskan perlahan agar Kent mengerti.
"Memang mengapa jika minum darahku?
"Tenang saja, aku sehat.
"Aku akan memberikan sebanyak yang Kau mau."
"Aku belum selesai Kent,
"Jika salah satu diantara Alice dan Gara melanggar, maka mereka akan menghilang."
__ADS_1
"Hah?
"Menghilang?
"Menghilang, menghilang?"
"Benar, betul-betul menghilang, bukan mati, tapi menghilang." William menjawab dengan tenang.
"Tidak, itu tidak boleh terjadi." Kent menjauhi Gara dengan cepat.
"Aku memang tidak menginginkannya." Gara mengecup kening Alice.
"Namun, jika dapat membuat Alice sehat dan sadar kembali.
"Aku bersedia menghilang." Gara tersenyum dengan tulus.
"Itu tidak boleh terjadi Gara,
"Aku tidak akan membiarkanmu menghilang." William menjawab dengan tegas.
"Ah, jika yang menghilang cukup kau saja, Aku sangat setuju." Kent kembali mendekat.
"Enyahlah Kau!" Gara mendorong Kent dengan keras.
"Bagaimana jika membuat Alice hilang ingatan?" William memberikan ide.
"Sumpah akan berakhir jika salah satu tidak mengingatnya." William menjelaskan.
"Will, kau benar-benar gila.
"Aku ingin tau apa isi kepalamu." Kent mendekati Will.
"Ini hanya saran saja,
"Jika Alice lupa siapa yang dicintainya, mungkin Aku punya kesempatan." William tersenyum bahagia.
"Haaa..
"Sekarang Aku mengerti." Gara menatap tajam William.
"Sudah-sudah, sebaiknya kita memanggil dokter.
"Will, kau memang bisa penyihir, tapi tetap kau bukan seorang dokter.
"Gara sebaiknya Kau memanggil dokter." Kent menatap Gara.
"Kau? ingin Aku meninggalkan Alice disini dan memanggil dokter?"
"ya, tentu saja.
"Mengapa tidak?" Kent mengangkat bahunya.
"Ah, biarkan Aku saja." William menawarkan diri sebelum terjadi pertempuran dikamarnya.
Kent memutari kamar William, dia mencari sesuatu untuk dimakan.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan disini anjing?
"Kau tidak membantu apapun."
"Kau tidak akan tau sebelum dokter datang." Kent melanjutkan mencari makanan. Sudah beberapa hari Kent hanya memakan daging dan sayuran serta meminum air kali. Dia ingin sekali memakan roti lapis dan minum lemon tea.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara langkah mendekat, seorang dokter wanita datang dan menundukkan kepala.
"Selamat siang Tuan Muda.." Dia tersenyum dengan tulus dan penuh hormat.
"Lihatlah kondisi istriku.
"Aku harap Alice baik-baik saja."
"Baik Tuan Muda, saya akan melakukan yang terbaik."
Dokter mendekati tubuh Alice dan memeriksa nadi dipergelangan tangannya. Dia menekan perut Alice dengan lembut, membuka mulutnya dan memeriksa lehernya.
Gara melihat dari dekat, dia tidak mau meninggalkan Alice. Kemudian dokter memandang Gara dengan tatapan tajam.
"Tuan Muda..
"Maaf, Lady Alice..
__ADS_1