
Pagi itu William telah menyusun rencana dengan matang, dia tidak pernah gagal sekalipun. Kecuali urusan hati tentu saja.
Sebenarnya malas sekali William untuk bangun dari tidurnya, dia hanya tidur beberapa jam saja, karena Gara terus mengajaknya berkeliling untuk mencari Alice. Tentu saja Gara tidak akan pernah menemukannya.
"Aku ingin cepat mengakhiri semua ini.
"Aku harap rencanaku berjalan sesuai dengan perkiraanku.
"Aku sudah melangkah sangat jauh.
"Maafkaan Aku Alice."
William berjalan memasuki kamarnya, dia melihat Alice masih terbungkus selimutnya. Alice terlihat cantik sekali, sinar matahari membuat wajahnya bersinar bak rembulan.
'Sepertinya dosis yang kuberikan terlalu banyak, Aku harus mengaturnya lagi.'
"Alice...
"Bangunlah.." William mengusap kepala Alice dengan lembut.
"Uhh..." Alice mengusap-usap matanya.
"Jam berapa sekarang Will?"
"Pukul 7 pagi Alice, tepatnya 8 menit lagi."
"Astaga, aku tertidur selama itu?" Alice berdiri dengan sangat cepat, namun keseimbangan tidak stabil sehingga William dengan cepat membantunya berdiri.
"Duduklah dulu, aku akan mengambilkan air minum untukmu."
"Terimakasih." Alice kembali duduk dan meminum gelas yang diberikan oleh William.
"Kau ingin bertemu Gara?"
"Tentu saja."
"Masih ingat apa yang harus kau lakukan?"
"Aku tidak boleh menyentuh siapapun dan apapun."
"Baiklah, minum ini." William menyerahkan sebuah botol berisi ramuan berwarna ungu kebiru-biruan yang telah diraciknya semalam. Botol itu berisi ramuan penghilang dan stamina. William ragu melihat tubuh Alice yang terlihat lemah. Berat badan Alice turun drastis semenjak terakhir William melihatnya di pesta pernikahan.
"Apakah ini aman?" Alice ragu-ragu mengambilnya.
"Oh ayolah Alice, Aku tidak akan pernah mencelakakanmu.." William menaruh botol itu ditangan Alice.
Alice menggenggamnya dengan erat. Dia memutar-mutar botolnya, kemudian membuka tutupnya dan meminumnya sekali teguk.
"Terasa seperti anggur..
"Sedikit pahit diujungnya." Alice mengeluarkan lidahnya yang berwarna ungu.
"Oh ayolah, kita sedang tidak mengikuti lomba Alice." William mengambil botol yang kosong dan menaruhnya diatas meja.
"Tidak ada yang terjadi Will.." Alice mengerutkan dahinya.
"Tunggu sampai beberapa menit, kau tau obat juga memerlukan waktu untuk bereaksi." William mencubit pipi Alice dengan gemas.
'Seandainya saja kau mencintaiku dan bukannya Gara.'
"Sakit sekali! hentikan." William tertawa bahagia melihat ekspresi Alice yang kesal.
Alice merasa mual beberapa saat kemudian, dia menutup mulutnya dengan cepat.
"Aku merasa mual Will."
"Apakah begitu?
"Kurasa, Aku terlalu banyak memberikannya padamu."
Alice memukul punggung William dengan keras.
'Bukk!!
"Ahh, aku bercanda..
"Aku bercanda, maafkan Aku." William berjalan menjauh.
"Alice..
"Alice..
"Aku tak bisa melihatmu, sentuh Aku."
Tidak ada respon dari Alice, William berteriak sekali lagi.
"Alice, sayang..
"Sentuh Aku, hanya Aku yang bisa melihatmu jika kau menyentuhku."
Ramuannya bekerja sesuai dengan perkiraan William, dia sengaja membuat Alice tetap mengeluarkan aroma tubuhnya, namun William menekannya sedikit agar tidak banyak orang yang menyadarinya kecuali Gara.
"Astaga Aliiice, kau bisa menyentuh punggungku." Alice tepat berada didepannya.
"Kau memperingatkan ku untuk tidak menyentuh siapapun dan apapun."
"Begini, jika Kau ingin terlihat hanya oleh Gara, sentuh Gara saja, namun jika Kau ingin terlihat oleh semua orang, kau harus menyentuh sesuatu yang ada disana, misalnya pot bunga, atau gelas atau apapun."
"Ah, Aku mengerti." Alice memeluk William dengan lembut.
"Baiklah, baiklah.. cukup dengan pelukannya, sekarang ikuti Aku."
Alice mengekor William, dia berjalan sangat hati-hati. Tangannya disimpan diatas dadanya, dan kedua kakinya berjinjit.
"Oh Alice..
"Kau seperti orang bodoh, berjalanlah seperti biasa." Kemudian Alice berjalan seperti biasa, namun tangannya masih diatas dada.
"Dengar, ikuti Eric dengan cepat, hati-hati jangan sampai menyentuhnya.
"Berhati-hatilah.." Alice mengangguk dengan cepat.
Alice menghilang dibalik tikungan, dia mengikuti Eric yang hendak bertemu dengan Gara. William berjalan berlawanan arah, dia bermaksud menemui Yang Mulia Raja.
Seseorang keluar dari ruangan Raja, tidak diragukan lagi, dia adalah Menteri Matthew.
"Selamat siang Tuan Matt.." William menyapa Matt dengan sopan.
__ADS_1
"Selamat siang Tuan Muda.." Matt menganggukan kepalanya.
"Apakah Anda akan menemui Yang Mulia Raja, Tuan Muda?"
"Betul sekali, Anda sudah selesai?"
"Sudah Tuan Muda, silakan.."
Matt membukakan pintu untuk William.
"Terimakasih.."
William masuk dan menutup pintunya dengan rapat.
"Halo Ayah.." tubuh Yang Mulia Raja tertutup dokumen-dokumen yang ada diatas meja kerjanya.
"Oh astaga anakku, angin apa yang membawamu masuk kedalam ruangan ku yang penuh debu ini?"
"Oh ayah, ayolah.." Raja berdiri dan duduk dikursi yang lebih nyaman.
"Ayah, tolong jangan marah."
"Apa itu? katakanlah."
"Apa kau sudah tau bahwa Alice sakit?"
"Astaga kenapa lagi anak itu?" Raut wajah Raja terlihat khawatir.
"Semua indra dalam tubuhnya dalam keadaan yang tidak dapat aku prediksi Ayah."
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak tau, tapi ada yang tidak beres dengan tubuhnya.
"Aku harap penelitianku dapat membuahkan hasil."
"Will!
"Apakah Kau masih meneliti 'Dia' ?"
William tidak menjawab, dia mengerutkan dahinya.
"Oh astaga William!
"Bagaimana jika Alice dan Gara mengetahuinya?"
"Aku tidak memaksanya Ayah, kau tau!
"Dia setuju untuk melakukannya.
"Kau boleh menemuinya jika mau."
"Aku tidak akan pernah turun kesana Will!
"Sungguh perbuatanmu.
"Jika Gara mengetahuinya, kau mungkin tidak akan selamat."
"Dan Aku harap kau akan menyelamatkan ku Ayah.."
"Dan..
Tok
Tok
Tok
William masuk kedalam kamar Ayahnya.
"Ayah ini Aku."
Terdengar suara Gara, tidak lama kemudian dia masuk dan terlihat Alice mengikutinya dibelakang.
"Ah..
"Anakku yang tampan.
"Duduklah Nak."
"Ayah, langsung saja pada intinya."
"Apa maksudmu Gara?" Raja berpura-pura bingung dengan kedatangannya.
"Apa yang kau bicarakan dengan Matt?"
"Ah..
"Matthew?"
"Siapa lagi kalau bukan dia."
"Kami hanya ngobrol sedikit, kau tau..
"Orang tua sepertiku jarang sekali ada yang berkunjung menemuiku."
"Alasan tidak masuk akal apa itu?
"Cobalah bercermin, terlihat seperti apa kau."
Yang Mulia Raja tertawa terbahak-bahak.
"Ah Gara, anakku.." Raja mengusap sedikit air mata yang keluar.
"Sudah lama aku tidak tertawa bahagia."
"Cukup omong kosongnya.
"Apa yang Matt lakukan?"
"Tentu saja kau sudah tau Gara.
"Kau yang terakhir berbicara dengannya."
"Apa maksudmu?
"Jelas-jelas kami tidak melakukan kesepakatan apapun!"
__ADS_1
William dapat dengan jelas melihat ekspresi diwajah Alice, dia sangat tertekan dan gugup.
'Aku harap ramuannya bekerja lebih lama.'
"Mungkin tidak begitu dimata Matthew."
"Tidak, tidak!
"Aku tidak mungkin, dan tidak akan pernah melakukan hal itu Ayah!"
"Gara!
"Kau bukan Raja!
"Aku Raja saat ini!"
Gara tidak berkata-kata saat Raja menatapnya dengan tajam, seluruh badannya terasa kaku dan tidak bisa dia gerakan.
"Aku memang Raja, Gara..
"Tapi aku juga Ayahmu, Aku ingin kau bahagia.
"Temukanlah Alice."
Gara pergi dari ruangan Raja dengan emosi didalam dadanya.
Alice terlihat menangis, William tidak sanggup untuk menahan diri memeluk Alice dengan erat. Tapi dia harus bertahan, Alice masih belum menyelesaikan masalahnya.
William keluar dari balik dinding, Alice terkejut melihat William berada didalam ruangan Raja, namun dia tidak berkata apapun karena tidak ingin mengganggu pertemuan mereka.
"Ayah, sudah kau selesaikan?"
"Hmm.."
"Jadi keinginanku bisa terkabul?"
"Masih ada waktu, Aku tidak bisa mengabulkan begitu saja keinginanmu.
"Mungkin saja dia akan berubah pikiran.
"Dan..
"Kau lihat sendiri Kakakmu itu.
"Kau tidak akan bisa selamat Will."
"Tentu saja tidak,
"Mana mungkin bisa."
William pergi meninggalkan Raja, kemudian Alice mengikutinya dari belakang.
"Dan Apa yang kau temukan Alice?" William menengok ke arah Alice yang mengekor dibelakangnya.
"Ah, Aku rasa Gara masih mencintaiku Will.." Alice mencoba tersenyum.
"Lalu Will, apa yang kau bicarakan dengan paduka Raja?" Alice mengerutkan keningnya.
"Hmm, coba Aku pikirkan.." William berpura-pura berpikir, dia menunjuk-nunjuk kepalanya.
"Kau memang menyebalkan Will!!" Alice memukul punggung William dengan keras.
William tertawa pelan, dia menggenggam tangan Alice dengan lembut.
"Aku hanya mengutarakan beberapa keinginanku Alice..
"Namun, sepertinya akan sulit agar berjalan sesuai dengan keinginan ku.."
"Ah, tentu saja..
"Aku harap kau berhasil Will.."
"Aku akan, Aku harap kau akan bahagia jika Aku berhasil.." William mengedipkan matanya.
"Aku punya firasat buruk.." William tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Alice.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang Alice?"
"Aku masih akan mengikuti Gara..
"Kau tau, Aku sangat merindukannya."
"Haaa..
"Tentu saja Lady Alice akan merindukan suaminya.." William tertawa miris, dia tau Alice sangat merindukan Gara, namun William hanya tidak ingin mengetahuinya saja.
"Apakah Aku salah bicara Will? sepertinya Kau tidak senang dengan jawabanku?"
"Tidak, tidak
"Aku hanya akan merasa kesepian jika Kau tidak ada.."
William mengusap-usap kepala Alice.
'Ah, Aku harus mengontrol perasaanku sekarang'
"Hentikan Will, Aku bukan seekor anjing!"
"Oh tentu saja, Kau seekor Alice.." William tertawa terbahak-bahak.
Alice menendang kaki William dengan kencang, William hampir tersungkur. Ketika William berbalik kebelakang, Alice sudah menghilang.
"Dan kini seekor Alice kabur dariku.." William berjalan menuju kamarnya. Dia memasang 'Shield' dengan lebih kuat.
Sebuah pintu masuk terbuka dibawah lantai, bunyi gemuruhnya sangat keras dan memekakkan telinga, namun tidak akan ada yang mendengarnya, karena 'Shield' yang digunakan William berlapis-lapis.
William berjalan menuruni puluhan anak tangga, jalannya sangat curam dan licin, tetesan air terdengar diatas kepalanya. Ini adalah jalan menuju ruang bawah tanah rahasia yang telah dibangun oleh kerajaan sejak beratus-ratus taun yang lalu. William menemukannya tidak sengaja saat insiden Ibunya terbunuh 7 tahun yang lalu. Ibu William adalah Ratu vampire yang menguasai ilmu sihir, karena itulah vampire dilarang mempelajari sihir, karena akan mengingatkannya mereka akan kematian Sang Ratu Vampire.
William menyalakan obor yang bergantung diatas dinding, terdapat puluhan obor yang menyala sangat terang sampai ujung anak tangga terbawah.
Tidak ada seorangpun yang pernah turun kesini selain dia, dibawah sana tidak terlalu buruk, sebenarnya tempat ini penuh dengan magic sehingga banyak hal tidak masuk akal terjadi.
Seharusnya ujung dari ruang bawah tanah ini akan gelap dan sangat gelap tentu saja, jika kita lihat kembali ke pintu masuk yang yang menyeramkan, namun dibawah sana seperti masuk dunia lain, kita bisa melihat langit yang biru dengan matahari yang hangat dan padang rumput yang hijau. Kupu-kupu terbang kesana kemari, lebah madu hinggap di bunga-bunga yang bermekaran, suasana yang tidak akan pernah dijumpai diruang bawah tanah manapun.
Terlihat seorang pria tinggi yang tampan dengan telinga hewan berbaring dipadang rumput yang hijau, kehadirannya begitu kontras disana.
"Halo Kent.." William tersenyum penuh arti.
__ADS_1