Cinta Dan Rahasia

Cinta Dan Rahasia
Cerita Hans


__ADS_3

Alice masih ingin memeluk Gara, namun suara ketukan pintu membuatnya melepaskan pelukannya.


Tok tok tok


Gara bangkit dari tempat tidur dan berjalan membuka pintu.


"Maafkan ketidaksopanan saya Tuan Muda.." Hans menundukkan kepala.


Gara berjalan ke arah Alice, Alice melihat siapa yang berjalan di samping Gara, terlihat Kakaknya dengan baju dan rambut yang berantakan sedang berjalan ke arahnya.


"Haaaaans..." Alice berteriak senang.


Hans memeluk Alice dengan erat, membelai rambutnya dan mengecup keningnya dengan penuh kasih.


"Mengapa kau terus terluka Al..? apa semua rencanaku tidak berhasil? Setelah semua yang kulakukan untukmu?" Hans mulai menyalahkan dirinya sendiri.


"Wajah apa yang harus aku perlihatkan nanti saat bertemu dengan Ibu dan Ayah jika aku gagal melindungi dan menjagamu Al.." Hans kesal pada dirinya sendiri yang gagal dalam menjaga Alice.


"Haaans, aku baik-baik sajaaa, kau lihat?? Aku sudah tidak apa-apa, aku akan membencimu bila kau seperti ituu..." Alice berkata ketus.


"Alice baik-baik saja Hans, lukanya sudah hilang dan dia sudah sehat kembali." Gara menambahkan, dia tidak ingin Hans terus-menerus khawatir tentang Alice.


"Hans, terimakasih telah menjaga Alice sampai saat ini, aku bersyukur dapat bertemu dengannya.." ucap Gara.


"Yang Mulia, saya ingin menyampaikan sesuatu.." Balas Hans, dia mulai menyusun kalimat diotaknya. Hans ingin mengatakan kejujuran yang sebenarnya pada Gara dan Alice.


Gara menatap Alice, Alice mengangkat bahunya, dia tidak tau apapun.


"Alice, kau masih ingat rahasia yang dulu kita jaga saat aku menemuimu beberapa Minggu yang lalu?" tanya Hans.


Alice mulai mencoba mengingat pembicaraan rahasianya bersama Hans.


"Hmm tentang seseorang yang mati kehabisan darah?" Tanya Alice bingung.


"Ya Alice, tentu kau masih ingat aku mengatakan akan melakukan penyamaran dan membutuhkan bantuanmu. Kau pasti ingat merekam orang-orang yang ada di Bar malam itu." Hans berhenti berbicara.


Alice menutup mulutnya dan Gara mulai membelalakkan matanya.


"Aahh, kekasihmu Alice.. siapakah itu?" Tanya Gara penasaran.


"Itu saya Tuan Muda.. maafkan kelancangan saya.." jawab Hans.

__ADS_1


"Aku masih belum mengerti.. bagaimana kau bisa menjadi kekasihnya Hans?" Tanya Gara.


"Tuan Muda, saya akan menceritakan kisah yang terjadi sebenarnya.." Hans menarik nafas dan mulai bercerita.


"Saya telah menjaga Alice sejak dia lahir, saya tau bahwa Alice adalah seseorang yang spesial, Ibu dan Ayah sangat menyayanginya, tentu saja akupun begitu. Ketika Ibu dan Ayah meninggal, aku memutuskan untuk menjaga Alice seperti hidupku sendiri. Aku bahkan tidak membiarkan Alice keluar dari rumah dengan segudang alasan yang kupunya."


Hans menarik nafas dan mulai melanjutkan ceritanya.


"Namun, aku bisa menjaganya hanya sampai Alice berusia 19 tahun, beberapa Minggu yang lalu adalah ulang tahun Alice ke 19. Mau tidak mau sebelum Alice berulang tahun aku sudah menyelidiki kandidat-kandidat yang akan menjaganya kelak menggantikan ku, karena Tuan tau saya hanya manusia biasa." Hans berhenti bercerita.


Gara mulai sedikit paham dengan alur cerita Hans, dia tersenyum.


Sedangkan Alice masih belum mengerti kemana arah pembicaraan ini.


Alice menatap Gara mencoba mencari jawaban, namun Gara hanya mengangkat kedua alisnya.


"Jadi maksudmu Hans? Kau mencari seseorang yang akan menjagaku karena aroma tubuhku? " Tanya Alice.


"Betul adikku tersayang, karena kau tau, aku tidak dapat mencium atau merasakan aroma tubuhmu, bagiku aroma mu sama saja setiap waktu, tidak ada yang berubah." Jawab Hans.


Kemudian Hans bercerita lagi.


"Aku sudah menyelidiki semua vampire yang berkuasa kecuali yang Mulia Raja tentu saja. Aku menyelidiki Tuan William, Tuan Eric, Tuan Luca serta Tuan Muda Gara. Maafkan kelancanganku tuan." Hans menundukan kepala.


"Benar Tuan Muda. Sejak hari itu saya terus mengawasi keluarga anda, karena saya juga bekerja di pusat penyelidikan kerajaan, jadi mudah bagi saya untuk berkeliling didalam istana. Dan saya mengambil keputusan, hanya Tuan Muda Gara yang dapat melindungi Adik saya."


"Saya mencari jadwal anda dan terus mengikuti anda, maka pada malam pertemuan di Bar, Alice dapat melihat anda dengan mudah. Saya menyerahkan sisanya pada Tuhan, bagaimana anda dan Alice akan saling melihat kedepannya. Namun yang tidak saya prediksi adalah kehadiran Vampire yang tidak saya ketahui, apalagi vampire itu berada dalam daftar pencarian, itulah yang saya sesalkan hari itu, sehingga anda harus turun tangan sendiri mengurus vampire itu." Hans berhenti bercerita.


"Waaaaah, waaah ternyata kau menjodohkan ku Hans??" pekik Alice.


Gara hanya tersenyum.


"Tidak bisakah kau mempertemukan kami secara normal Hans?" Tanya Alice.


"Aku sudah ratusan kali berpikir Alice, seperti yang kau tau, Tuan Muda Gara sangat susah untuk diajak bicara, maafkan saya Tuan." Hans menundukkan kepalanya.


Gara menatap Hans, dia sedikit kesal, namun Alice memelototinya.


"Hmm, terimakasih untukmu Hans, tanpa campur tangan mu mungkin Aku dan Alice tidak akan pernah


bertemu secepat itu.." Gara tersenyum.

__ADS_1


"Saya merasa terhormat Tuan Muda, karena apapun akan saya perjuangkan jika untuk Adik saya. " Hans menatap Alice penuh kasih.


Setelah menceritakan semua hal, Hans sedikit menambahkan dalam ceritanya.


"Tuan, kekuatan darah Alice hanya bisa diambil saat anda menghisap Lehernya. Selain itu tidak akan berefek apapun." Hans memandang Gara dengan serius.


Pantas selama ini Gara tidak merasakan perubahan apapun, karena selama ini dia menghisap darah Alice di lengannya.


"Aku baru mengetahuinya, terimakasih Hans.." Balas Gara.


Hans mengangguk dan pergi meninggalkan ruangan.


Alice menatap Gara serius.


"Gara.. apakah kau mau menghisap darahku?" Alice tersenyum jahil.


"Aku akan menghisap bibirmu saja sayang!" Gara menyerang Alice ditempat tidurnya.


"Aku masih belum puliih kau tau!!" Alice menyembunyikan wajahnya dibalik bantal.


"Aku akan melakukannya dengan lembut dan penuh kasih sayang.." Gara membujuk Alice.


"Waaw sekarang aku tau bagian mana yang manis darimu..!" Seru Alice.


"Dimana sayang?" tanya Gara penasaran.


"Manis di Bibir!!!" Jawab Alice.


Gara hanya tertawa pelan, dia memeluk Alice dengan erat.


"Tinggallah disini, ini tempat yang aman untukmu, apakah kau mau melahirkan anakku?" Gara menggoda Alice.


Muka Alice berubah merah, dia tidak dapat menyembunyikan rasa malunya.


"Apa kau hanya ingin aku melahirkan anakmu? tanpa menikahiku?" tanya Alice malu.


"Aku akan menikahi mu tentu sajaa!!!" Gara memeluknya dengan erat.


Alice mencium Gara dengan mesra, Gara senang Alice berinisiatif menciumnya.


Alice menghabiskan sepanjang sorenya bersama Gara. Dia memutuskan untuk ikut pulang bersama Bibi dan Hans.

__ADS_1


"Tidak bisakah kau tinggal disini? lusa akan ada purnama.." Hans khawatir terhadap Alice.


"Aku akan baik-baik saja, aku tau kau akan menjagaku.." Alice memeluk Hans lalu pamit pulang.


__ADS_2