Cinta Dan Rahasia

Cinta Dan Rahasia
Positif


__ADS_3

"Apa?!


"Lanjutkan perkataanmu." Raut wajah Gara menegang, begitupun dengan Kent yang sejak tadi berjalan dan terus memutari tempat tidur William.


"Lady Alice tidak sakit Tuan Muda."


"Lalu mengapa Alice merasa berbeda? dia sering mengatakan mendengar suara, melihat hal aneh, penciumannya terganggu, tidak ingin makan?


"Dan berat badannya seperti menyusut." Gara berbicara panjang lebar.


"Tuan Muda..


"Lady Alice hamil."


Seperti mendengar suara petir disiang bolong, tubuh Gara mematung, dia tidak bergerak dan tidak bernafas mendengar perkataan dokter. Kent terjatuh seketika, tubuhnya lemas dan pikirannya tidak karuan.


"Tuan Muda..


"Anda baik-baik saja?"


Gara masih diam, dia sudah mulai bernafas lagi, namun untuk memastikan pendengarannya, dia bertanya lagi.


"Kau bisa mengulang perkataanmu?"


"Sudahlah! Alice hamil!!


"Kau puas?" Kent menjawab dengan ketus.


Gara berjalan kearah Alice yang masih tertidur, dia memeluknya dengan erat, mencium seluruh wajahnya, punggung tangannya, rambutnya dan terus membisikan kata-kata cinta.


Terdengar suara pintu yang terbuka, William berjalan mendekat. Dia bertanya pada dokter Reina apa yang terjadi. Dokter Reina membisikan kata-kata pada William, seketika William terkejut.


"Tidak mungkin dokter.


"Tidak mungkin.."


"Mengapa demikian?" Dokter Reina bingung dengan perkataan William.


"Alice adalah manusia yang menjadi vampire.


"Dia tidak dapat hamil.."


Kent yang mendengar penjelasan William menjadi bingung, begitupun dokter Reina yang memeriksa Alice.


"Saya yakin Tuan Muda, Lady Alice hamil.


"Jika memang demikian, Saya juga tidak mengerti, namun Lady Alice benar-benar hamil.


"Untuk sementara, Tuan Muda Gara, tolong berikan darah Anda pada Lady Alice.


"Nanti saya akan memeriksa lebih lanjut setelah Ma'am sadar.


"Saya permisi.." Dokter Reina meninggalkan ruangan William.


"Gara, kau percaya perkataannya?" William berjalan mendekati Gara.


"Asalkan Alice baik-baik saja, Aku akan percaya."


"Tapi, Alice tidak mungkin hamil Gara, dia tidak bisa."


"Aku tidak peduli William!


"Aku hanya ingin Alice baik-baik saja."


"Tunggu, Aku tidak mengerti yang terjadi.


"Seseorang tolong jelaskan padaku." Kent menggaruk kepalanya dengan kasar.


"Begini Kent, karena Alice adalah manusia yang menjadi vampire, maka dipastikan dia tidak akan hamil.


"Tidak akan pernah bisa." William mencoba menjelaskan semudah mungkin.


"Tapi, dokter tadi mengatakan Alice hamil."


"Itu belum pasti, Dia akan kembali memeriksanya."


"Aku akan membawa Alice kekamarku, Kau pergilah!" Gara menatap Kent.


"Aku tidak akan pergi setelah berbicara dengan Alice." Kent tetap bersikukuh.


"Gara, Kent akan bersamaku, dia tidak akan menggangu Alice..


"Aku janji.." William mencoba membantu Kent.


Tanpa berkata apapun, Alice dan Gara menghilang tepat didepan Kent.


"Ah!


"Dasar vampire sialan!"


"Tenanglah, Aku akan membawamu bertemu Alice ketika kondisinya telah stabil.


"Apakah kau ingin kembali keruang bawah tanah?"


"Apa kau gila?


"Aku tidak akan pernah kesana lagi." Kent berjalan lagi untuk mencari makanan.

__ADS_1


Gara membaringkan Alice ditempat tidur, kemudian mengingat semua perkataan dokter Reina tadi.


"Aku harus memberikan daraku pada Alice, itu yang dikatakan dokter tadi." Gara menggores pergelangan tangannya, dia mengalirkan darahnya pada mulut Alice.


Tubuh Gara sudah mulai lemas, dia tidak tau berapa banyak darah yang keluar dari tubuhnya, tapi dia tidak mau menyerah sebelum Alice membuka matanya.


Barulah setelah beberapa saat, tepat sebelum Gara kehilangan kesadaran, secara perlahan Alice menggerakkan tangannya. Gara yang sudah merasa lemas menjadi segar kembali ketika melihat tanda-tanda Alice akan terbangun. Refleks dia memanggil namanya.


"Alice..


"Sayang...


"Istriku.." Tangan Gara yang masih berdarah membelai lembut pipi Alice.


Alice mengerjapkan matanya beberapa kali, dia mencoba membuka matanya perlahan. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Gara yang tersenyum.


"Gaara..." Satu kata yang keluar dari mulut Alice membuatnya sangat bahagia, dia merengkuh tubuh Alice dan memeluknya dengan erat.


"Kenapa?


"Apa yang terjadi?" Alice bingung dengan perlakuan Gara.


"Jangan tinggalkan Aku lagi..


"Jangan Alice..


"Aku mohon.." Gara semakin erat memeluknya, tidak sadar bahwa pergelangan tangannya masih mengeluarkan darah.


"Astaga Gara..


"Lenganmu.." Alice melepaskan pelukannya dan mengambil tangan Gara yang berdarah.


"Apa yang terjadi?" Alice menjilat tangan Gara yang penuh darah.


"Tidak apa sayang..


"Aku senang kau baik-baik saja..


"Kemarilah, Aku sangat ingin memelukmu."


Alice tidak mengerti, namun dia tetap mendekat dan memeluk Gara dengan erat.


"Tolong, jangan tinggalkan Aku.


"Berjanjilah." Gara menatap Alice penuh harap.


"Aku berjanji.." Alice mengecup bibir Gara dengan lembut.


Terdengar suara langkah mendekat, tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu.


Tok


Tok


Tok


"Suruh dia masuk Dean."


"Baik Tuan Muda."


Pintu kamar Gara terbuka, terlihat dokter Reina berdiri dibalik pintu.


"Kemarilah.."


Dokter Reina berjalan ke arah Alice dengan penuh senyuman.


"Alice, ini dokter Reina.


"Dia akan merawatmu."


"Tapi Aku tidak sakit Gara."


"Betul Ma'am, Anda tidak sakit." dokter Reina masih tersenyum.


"Lalu, mengapa Anda ingin merawat Saya?" Alice tampak bingung.


"Ah..


"Apakah Tuan Muda belum mengatakan pada Lady Alice?"


"Apa Gara?


"Apa yang tidak Aku ketahui?" Alice menatap Gara dengan rasa penasaran.


"Alice..


"Kau hamil.."


"Hah?


"Apa yang kau katakan?"


"Betul lady Alice..


"Anda sedang hamil."


"Tapi..

__ADS_1


"Tapi..


"Mereka mengatakan Aku tidak mungkin hamil." Alice semakin bingung, dia terlalu terkejut sehingga tidak tau harus bagaimana mengekpresikan nya.


Gara juga terkejut sehingga dia tidak mampu menatap Alice ketika mengatakannya.


"Gara..


"Gara..


"Aku mohon..


"Tatap Aku.."


"Ya.." Gara menatap Alice, mencoba tersenyum.


"Mengapa Gara?


"Mengapa kau tidak terlihat bahagia?"


Gara terdiam, dia tidak tau harus mengatakan apa pada Alice, setelah semua yang terjadi hari ini.


"Gara..


"Katakan padaku, Aku mohon." Alice menggenggam tangan Gara dengan erat.


"Gara..


"Aku mohon.."


"Aku..


"Aku tidak tau Alice..


"Aku tidak suka jika semua ini membuatmu sakit..


"Aku tidak mau melihatmu seperti tadi.


"Aku tidak mau."


Dokter Reina perlahan mengerti apa maksud perkataan Gara, dia mencoba berpikir dan mencari solusi.


"Tuan Muda, Lady Alice..


"Saya akan memeriksa sekali lagi, apakah anda benar-benar hamil atau tidak.


"Apakah Anda bersedia?"


"Saya bersedia dokter." Alice yakin dengan keputusannya, dia ingin Gara bahagia, dia ingin mengandung anak Gara jika memang apa yang dikatakan dokter Reina benar, maka Alice akan mempertahankannya.


"Maaf Ma'am..


"Tolong berbaringlah dengan nyaman." Gara turun dari tempat tidur dan berdiri disamping Alice.


Dokter Reina mengeluarkan stetoskop, lalu menempelkannya diperut Alice. Kemudian memeriksa lagi nadi dipergelangan tangan Alice, setelah itu menusuk jari Alice dengan jarum dan mengeluarkan darahnya lalu memasukkannya dalam tabung reaksi.


Setelah beberapa saat menunggu, dokter Reina berjalan kearah Gara yang masih berdiri.


"Tuan Muda, saya sudah selesai..


"Silahkan Anda duduk kembali." Gara duduk dipinggir Alice yang masih berbaring.


"Saya akan memberitahu hasilnya.


"Ini adalah hasil darah yang keluar, Lady Alice positif hamil." Dokter Reina tersenyum.


"Selamat Tuan Muda dan Lady Alice..


"Anda akan mempunyai seorang putra."


Gara dan Alice berpandangan, mereka tidak tau harus menunjukkan ekspresi apa, namun air mata yang mengalir dari sudut mata Alice dan Gara dapat menjelaskan semuanya.


Dokter Reina sangat senang dengan apa yang terjadi, dia mengetahui dari kabar yang beredar diistana bahwa Tuan Muda Gara sangat mencintai istrinya, bahkan selalu menolak ketika akan diberikan selir karena istrinya tidak akan bisa melahirkan seorang keturunan. Namun ketika mengetahui bahwa Lady Alice hamil dan dia sendiri yang memeriksanya, Reina sangat bahagia sekali.


Alice memeluk Gara dengan sangat erat, dia menangis bahagia, begitupun Gara. Hidupnya seakan sempurna sekarang, tidak akan ada lagi yang membicarakan istrinya dan menyuruhnya mengambil selir, semua itu sudah berlalu sekarang, Gara tersenyum bahagia.


"Dokter..


"Terimakasih.." Alice tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


"Saya sangat bersyukur Ma'am, saya ikut berbahagia." Reina tersenyum tulus.


"Namun dokter, mengapa tubuh Alice semakin kurus?


"Dan tidak terlihat tanda kehamilan pada umumnya?" Gara memberanikan diri bertanya.


"Memang benar Tuan Muda..


"Kasus Lady Alice tidak pernah terjadi, indranya yang mendadak sensitif membuat semua orang bingung dan tidak mengetahui kebenaran dibaliknya.


"Mungkin karena Lady Alice spesial."


"Dan mengapa tubuh Lady Alice terlihat semakin kurus, karena jabang bayi yang ada didalam perutnya menghisap semua energi Lady Alice."


"Saya mengira selama ini jabang bayi bersembunyi, mengapa?"


"Karena setiap orang yang ditemui Lady Alice percaya bahwa Lady Alice tidak akan pernah hamil, sehingga membuat jabang bayi terus bersembunyi dan tidak mau ada yang mengetahuinya keberadaanya."

__ADS_1


Alice dan Gara sangat menyesal dengan apa yang telah mereka lakukan, mereka menyesal tidak pernah mencari tau kebenarannya dan hanya percaya pada apa yang sering terjadi.


__ADS_2