
Levyna Matthew adalah anak bungsu dari Matt, Mentri kepercayaan dari Yang Mulia Raja. Dia mempunyai kepribadian yang baik dan sopan. Evy selalu menuruti perintah Ayahnya, karena tidak mau membuat malu nama keluarga. Sayangnya, Evy kurang beruntung dengan masalah percintaan, hal terakhir yang harus dicintainya adalah Gara, karena dia tidak akan pernah mendapatkannya.
Suasana menjadi hening sejak Gara menyebut namanya. Gara menatap Evy dengan serius, lalu dia mulai melanjutkan perkataannya.
"Kau tau apa yang akan Alice katakan jika dia ada diposisi mu?"
Evy diam, dia tidak tau harus menjawab apa.
"Alice tidak akan pernah rela jika Dia tidak dicintai, dan dia tidak akan pernah mau menyerahkan anaknya dengan begitu mudah sepertimu."
Alice terkejut mendengar perkataan Gara, dia tidak menyangka Gara akan mengatakan hal seperti itu.
"Maaf Evy..
"Kau terdengar seperti perempuan simpanan, Aku tidak akan pernah melakukannya.
"Padahal Aku tau kau sangat baik, kau melakukan semua ini untuk ku.."
Deg, jantung Evy terasa seperti akan meloncat dari tempatnya ketika mendengar perkataan Gara. Hatinya terasa begitu sakit dan kecewa.
"Kau tau, Aku tidak benar-benar menginginkan seorang anak.
"Aku hanya menginginkan Alice.
"Hanya Alice yang Aku mau!
"Bukan bayi laki-laki atau perempuan.
"Tapi Alice.
"Alice istriku!"
Tubuh Alice terasa membeku mendengar semua perkataan Gara, dia tidak bisa lagi menahan air matanya yang telah menumpuk, pipinya basah bagai sungai yang bermuarakan lautan.
Evy tidak lagi sanggup berkata-kata, perkataan Gara sudah sangat jelas baginya. Gara hanya membutuhkan Alice, dia tidak membutuhkan anak atau pewaris. Evy merasa bodoh, dia sangat malu dengan semua perkataannya tadi.
Suasana terasa canggung, tidak ada seorangpun yang memulai pembicaraan, ingin sekali Alice melompat dari sana dan naik ketubuh Gara kemudian menciumnya dengan brutal, tapi semua hal itu hanya ada dalam bayangannya saja.
Evy masih berada disana, tepat didepan Gara. Wajahnya tertunduk lesu, dia menautkan jari-jemari nya dengan erat. Air mata terus menetes dari matanya yang terlihat bengkak.
'Apa yang harus Aku lakukan sekarang?'
'Haruskah ku sentuh Gara?'
'Ah tidak, tidak..'
'Aku harus menunggu sedikit lebih lama.'
"Evy.." Tiba-tiba Gara memulai pembicaraan. Evy tidak berani memandang Gara, dia tetap menundukkan wajahnya.
"Terimakasih, Evy..
"Aku menghargai keinginanmu..
"Sebaiknya kita tidak bertemu lagi seperti ini.
"Sampaikan salam ku pada Ayahmu."
Evy tidak menjawab apapun, dia menundukan kepala dan pergi keluar.
Alice merasa bersalah terhadap Evy, ingin sekali Alice memeluknya. Evy adalah seorang perempuan yang baik. Alice berharap dia akan menemukan pasangan yang mencintainya. Seperti Dia mencintai Gara dan Gara mencintainya.
Setelah Evy keluar, Gara masih duduk dan diam. Alice menyesal dia tidak mengikuti Evy keluar, sekarang hanya ada dia dan Gara, perasaan Alice menjadi tidak karuan.
Gara berdiri dari tempat duduknya, dia berjalan ke arah Alice, sekarang Gara tepat berada didepan Alice dan hanya berjarak 5cm. Jantung Alice berdegup sangat kencang, bahkan Alice menahan nafasnya dengan susah payah.
'Gara.. menjauhlah..
'Ya tuhan Aku mohon..
'Tidak mungkin Dia tau Aku berada disini, tepat depan matanya, tidak mungkin!
'Aku tidak membuat kesalahan apapun.'
Gara merentangkan tangannya, dengan cepat dan tepat Gara memeluk sesuatu yang ada didepannya dengan erat.
"Aku merindukanmu Alice..
"Aku merindukanmu..
"Mengapa?
"Mengapa kau tega meninggalkanku seperti ini.." isak tangis terdengar begitu jelas dari mulut Gara.
"Aku..
"Aku tidak bisa hidup tanpamu Alice..
__ADS_1
"Uhk.."
Alice tidak kuasa menahan emosinya lagi, melihat Gara menangis membuat hatinya begitu sakit dia memeluk Gara dengan erat dan ikut terhanyut dalam tangisan.
Tidak ada satupun yang berbicara, Alice dan Gara berpelukan sangat erat, pakaian depan Gara basah oleh air mata Alice, dan pundak Alice basah oleh air mata Gara.
"Apa kau baik-baik saja istriku?
"Kau terasa lebih kurus.." Gara memeluk erat tubuh Alice.
"Apakah begitu?" Gara mengangguk perlahan, dia masih tidak mau melepaskan pelukannya.
"Haruskah kita berpelukan lebih lama?
"Pinggangku terasa sakit.." Gara melepaskan pelukannya dan menggendong Alice bagaikan seorang putri.
"Kau memang terasa lebih ringan Alice.." Gara mencoba tersenyum. Alice merangkul kan tangannya dileher Gara. Gara berjalan keluar dari ruang kerjanya dan kembali dengan cepat ke dalam kamarnya. Dia menurunkan Alice ditempat tidurnya perlahan. Kemudian Gara duduk disamping tempat tidur.
"Puas berjalan-jalan sendirian tanpaku?" Raut wajah Gara terlihat sangat sedih.
"Maafkan Aku.." Alice menggenggam tangan Gara dengan lembut.
"Aku sangat merindukanmu.." Dia mengambil tangan Gara kemudian menciumnya.
"Aku lebih merindukanmu..
"Aku telah mencarimu berulang, namun.."
"Aku tau..
"Maafkan Aku..
"Dan, maaf..
"Aku telah mencuri dengar pembicaraan kalian.." Alice menutup wajahnya dengan erat.
Gara menarik tubuh Alice mendekat, dia memeluknya dengan lembut, dan dibelainya rambut Alice perlahan.
"Aku hanya mencintaimu..
"Tidak akan pernah ada orang lain diantara kita..
"Hanya kau dan aku."
"Terimakasih Gara.."
"Aku tidak ingin membicarakannya."
Alice adalah seorang wanita yang berhati lembut, dia terlalu rapuh untuk diberikan tekanan yang begitu kuat, dia lebih baik tidak tau dan tidak diberi tahu apapun. Dia takut tidak sanggup menanggung beban yang terlalu berat. Kepergian orang tuanya dan semua yang terjadi dalam hidupnya yang baru dia ketahui belakang ini. membuatnya menjadi pribadi yang lebih sensitif.
"Aku mengerti.." Gara mencium kening Alice.
"Ah..
"Gara, bagaimana kau bisa menemukanku?" Alice melepaskan pelukannya.
"Karena aroma tubuhmu Alice, tidak ada yang lebih kuat dari itu.."
Aroma tubuh Alice memang sangat kuat, Alice pun terkadang merasa terganggu karena semua vampire melihatnya begitu dia lewat, semua ini karena aroma tubuhnya yang tercium seperti heroin.
"Benarkah?
"Tapi kenapa Kau tidak bisa menemukan ku saat Aku menghilang kemarin?"
"Karena seseorang menutup energimu Alice.."
Aroma tubuh Alice tertutup oleh 'Shield' yang dibentuk oleh William, sehingga tidak bisa tercium oleh Gara.
"Ah..
"Aku mengerti.."
"Tadi aku memang tidak bisa merasakan energimu, namun aroma tubuhmu begitu kuat Alice."
"Sepertinya aku memang tertangkap basah."
"Jadi, siapakah yang berani menyembunyikan mu dariku?" Gara menatap tajam Alice.
"Aku tidak tau.." Alice mengalihkan pandangannya.
"Aku tidak akan mengatakan Gara.."
"Alice.."
"Gara...
"Jika kau terus mendesak ku, Aku akan pergi lagi.."
__ADS_1
Alice tidak mau William mendapatkan kesulitan karenanya.
"Oh tuhan..
"Jangan lagi..
"Maafkan Aku.." Gara berhenti bertanya dan menarik lagi tubuh Alice mendekat.
"Aku bercanda.." Alice tertawa bahagia karena telah berhasil membuat Gara ketakutan.
'Untuk saat ini Kau aman Will..' Alice merasa tenang untuk sesaat.
"Ah, Kau gadis kecilku...
"Aku akan memberimu hukuman!" Terlihat kilatan jahat pada kedua mata Gara. Bibirnya menyunggingkan senyuman yang tidak dapat diartikan.
Gara mengunci setiap pintu, menutup seluruh gorden hanya dengan telunjuknya lalu menghidupkan puluhan lilin didalam kamar dengan sekali jentikan jari.
"Kau membuatnya terlihat mudah Gara.." Alice mencibir semua hal yang Gara lakukan.
"Oh tentu saja, Aku memang luar biasa Alice, atau kau sudah lupa?"
"Tidak, tidak
"Tentu saja tidak.." Alice menutup wajahnya yang memerah, dia kembali teringat bulan madunya bersama Gara.
Gara meniup telinga kanan Alice, Alice menutupnya dengan cepat, kemudian Gara mencium lembut tengkuk Alice yang selembut beledu, rambutnya yang beraroma mawar membuat Gara semakin mabuk. Gara menciumi leher Alice, perlahan membalikan tubuh Alice.
Mereka saling berpandangan, terlihat gairah yang bergelora dari kedua matanya. Gara tidak bisa lagi menyembunyikan maksudnya, dengan cepat dan tepat Gara mencium bibir Alice yang lembut bagaikan buah ceri yang sudah matang. Dia menghisap cairan yang berada didalam mulutnya dengan rakus, sehingga Alice kesulitan bernafas.
"Gaara...."
"Hmm..."
Gara membelai lembut payudara Alice yang masih tertutup pakaiannya. Bahan sutra yang lembut memperlihatkan bentuk tubuh Alice dengan jelas. Payudara Alice yang indah tercetak dengan sempurna, begitupun bagian tubuh lainnya.
Alice mengenakan midi dress berwarna ungu dengan kerah tali yang melingkar dileher. Warnanya terlihat cantik dipadukan dengan kulit Alice yang tidak begitu putih. Alice tidak mengenakan pakaian dalam atasan. Sehingga payudaranya terlihat dari balik pakaiannya dengan jelas.
Telunjuk Gara berputar-putar dengan lincah diatas payudara Alice, nafas Alice tercekat sesekali ketika Gara dengan sengaja menekan puncak payudaranya yang telah berdiri tegak.
"Hhnn
"Gaara...."
"Alice.."
Gara mengambil tali yang melingkar dileher Alice, dengan sekali tarik, gaun atas Alice terlepas begitu saja dan memperlihatkan payudaranya yang indah.
Refleks, tangan Alice menutup kedua payudaranya.
"Alice..
"Aku ingin melihatnya.."
Gara membelai lembut tangan Alice, kemudian melepaskan kedua tangan Alice yang menutup payudaranya.
"My Alice ..."
"Aku mencintaimu.."
"Seluruh dirimu.."
"Seutuhnya.."
Gara mencium bibir Alice dengan lembut, mereka menautkan lidah satu sama lain, bergantian menjilat gigi Alice dan giginya kemudian kembali berciuman dengan mesra.
Bibir Gara turun ke leher Alice, sudah lama sekali sejak Gara menikmati tetes demi tetes darah Alice yang begitu nikmat, dia menjilat leher Alice menciumnya berhati-hati.
"My Alice..
"Dapatkah Aku??" Gara memohon dengan sangat.
"Lakukanlah Gara..." Alice membelai rambut Gara yang basah oleh keringat.
Kemudian dengan cepat Gara membenamkan taringnya yang tajam dileher Alice, dia menghisap darah Alice perlahan, lelehan darah segar keluar dari mulut Gara, aroma tubuh Alice yang begitu memabukkan membuat Gara kehilangan kendalinya.
Gara terus menghisap darah Alice, dia mencoba untuk berhenti, namun sangat sulit sekali, Gara mengepalkan tangannya, kuku jarinya yang tajam menembus telapak tangannya dalam. Seketika, Gara berhenti menghisap leher Alice.
"Alice..
"Honey..
"Maafkan Aku.."
"Alice..."
Namun, tidak ada respon sama sekali dari Alice, Gara melihat mata Alice yang tertutup dan tubuhnya yang sangat dingin.
__ADS_1
"Alice...!"