
Gara dan Alice telah resmi menikah.
Yang Mulia Raja memberikan hadiah sebuah pulau di selatan. Pulau tropis yang mempunyai pantai indah dengan pasir putih dan pohon kelapa yang berbaris rapi ditepi pantai.
Seluruh pulau dikelilingi hutan yang rimbun dan masih belum terjamah. Disana hanya ada sebuah bangunan villa yang indah dengan beranda yang mengarah langsung ke pantai. Hanya 3 orang pelayan yang tinggal disana dan yang selalu merawat dan membersihkan pulau serta villa.
Gara memutuskan akan pergi bulan madu disana dan Alice sangat menyetujuinya. Mereka berangkat setelah upacara pernikahan selesai, hanya membutuhkan waktu 5 jam untuk sampai disana, 3 jam mengendarai mobil dan 2 jam berlayar dengan yatch.
Alice sempat mengalami mabuk laut, karena ini adalah kali pertamanya menaiki sebuah Kapal layar dan terombang-ambing diatas laut.
"Kau baik-baik saja sayang?" Gara terlihat khawatir melihat kondisi Alice yang kurang baik.
"Aku baik-baik saja, sebenarnya aku sangat senang bisa menaiki perahu ini bersamamu." Alice mencoba tersenyum.
Gara tertawa terbahak-bahak mendengar Alice berbicara.
"Aah astaga, maafkan aku sayang.." Gara mengusap air mata disudut matanya.
"Apa? kenapa? kenapa kau tertawa?" Alice tampak terkejut mendengar Gara tertawa seperti itu.
"Tidak sayang, tidak ada hal yang aneh.."
Alice cemberut, dia tidak puas dengan jawaban Gara.
"Ooh..
"Ooh baiklah..
"ini bukan perahu sayang, tapi kapal layar.." Gara mengalihkan pandangannya dari Alice, dia tidak mampu menahan dirinya untuk tidak tertawa lagi.
Alice melempar Gara dengan tasnya dengan kencang.
Buuk..!!!
"Aaaw ."
"Kau sangat jahat!" Alice menendang kaki Gara dengan kencang.
Gara terlihat kesakitan, dia berjingkrak jingkrak dengan satu kaki diatas.
"Aliice.. jangan marah sayang
"Maafkan aku..
"Kemarilah..
Gara menggosok gosok kakinya yang sakit.
Alice diam tidak bergeming, dia menyilang kan tangannya didada.
Gara berjalan ke arah Alice dan memeluknya..
"Maafkan aku..
"Aku sangat senang kita disini..
"Aku terlalu bahagia..
"Maafkan aku..
"Dan..
"Kakiku benar-benar sakit..
Gara memperlihatkan raut muka yang memelas, sehingga rasa kesal Alice sudah menghilang seperti buih-buih busa dilautan. Alice balas memeluknya.
"Aku memaafkanmu..!!
"Cium aku..
Dengan wajah yang penuh senyuman Gara mencium Alice dengan lembut.
Bibirnya perlahan menyentuh bibir Alice, membasahinya dan menciumnya lagi. Percikan air laut yang asin sesekali memercik wajah mereka.
Angin darat menerpa layar, mengibarkannya dan mendorongnya. Bintang-bintang terlihat sangat terang dan lebih jelas. Alice dan Gara duduk berpelukan di geladak utama.
__ADS_1
Matahari sudah mulai menunjukan kehadirannya, sinarnya yang keemasan menerpa wajah Alice. Gara telah memindahkan Alice kedalam kamar saat Alice tertidur.
"Alice..
"Sayangku..
"Sebentar lagi kita akan tiba."
Alice bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah Gara, dia memeluknya dari belakang.
"Terimakasih Gara, aku mencintaimu.."
Gara membalikan tubuhnya dan mengangkat Alice ke meja, dia memberikan gigitan kecil dihidung Alice yang mungil.
"Aku mencintaimu.." Bisiknya.
Pelayan menyambut kedatangan Alice dan Gara, mereka membawa koper dan perlengkapan yang dibutuhkan.
Alice membuka sepatu nya, dia berlari diatas pasir dengan riang. Gara memperhatikan dari kejauhan dengan senyum puas dibibirnya.
"Tempat ini sangat menakjubkan..!!" Alice terlihat bersemangat dan menggebu-gebu.
"Aku tau ..
"Tapi jangan lupa sarapannya sayang.." Gara mengedipkan matanya.
"Oh tentu saja.." Alice berlari kearah Gara, dia duduk dipangkuan Gara dengan cepat.
"Bisakah aku?"
"Tentu saja.." Jawab Gara.
Alice mencium leher Gara, menjilatnya dan membenamkan taringnya dengan cepat. Alice menghisap darahnya perlahan, menjilatnya lagi dan menghisapnya lagi.
"Uuuh
Setelah puas Alice berhenti, dia menatap Gara dengan penuh hasrat.
Gara tersenyum, dia menggendong Alice masuk ke dalam kamar.
Dia menjatuhkan Alice dengan lembut ditempat tidur. Pertama-tama Gara melepaskan jam tangannya, lalu membuka kemeja putih yang dikenakannya, kancingnya terlepas satu-satu.
Alice tidak mampu mengalihkan matanya dari tangan Gara saat pria itu melepaskan jam hingga kancing kemejanya. Jari-jari Gara tampak panjang dan lentik, tetapi tetap terkesan kuat.
Gara memandang Alice yang tidak berkedip melihatnya, Gara duduk dan menarik Alice bangun, sampai mereka berdua berlutut dibagian tengah tempat tidur.
"Katakanlah apa yang harus kulakukan Gara..." ujar Alice, sambil terus mengelus bagian tubuh Gara yang mengeras.
Gara mengangkat kepala dari payudara Alice. Pria itu melupakan usaha untuk menelanjangi Alice, dan beralih dengan membuka kemejanya sendiri.
"Tidak ada peraturan dalam hal ini. Jika aku melakukan sesuatu padamu, dan kau menikmatinya.." Gara menarik kemejanya dan melemparnya ke samping.
"Kemungkinan besar, aku akan menikmatinya jika kau melakukan hal yang sama padaku." Tambahnya.
"Ooh.. baiklah."
Gara membawa tangan Alice untuk menyentuhnya, membimbing tangannya bergerak naik-turun dengan perlahan. Kulit yang lembut meluncur ditelapak tangannya, menyusuri urat yang menonjol dan kebutuhan yang sekeras batu. Kelembutan ini sebentar lagi akan berada didalam dirinya. Bagian kewanitaannya berdenyut saat memikirkan hal itu.
Alice menggerakkan tangannya lagi dan lagi. Setetes cairan bening muncul di bagian ujungnya. Dengan penasaran ia menyekanya dengan ujung jari.
Tangan Gara meremas dengan kuat, membuat tangan Alice tidak bisa bergerak, "Jangan lakukan lagi."
Gara menjauhkan tangan Alice dan mencengkram bagian bawah celana dalamnya. Sambil menyusuri tangan dilekukan betis Alice, kemudian pahanya, Gara menarik celana dalamnya. Tangan Gara langsung membelai tubuhnya, meremas payudara nya, pinggulnya dan pahanya.
Satu tangan Gara terulur ke pangkal pahanya dan membukanya. Ia sudah lembab disana, dan tangan Gara bisa dengan mudah menyelinap masuk ke antara lipatan sensitif nya. Gara mengekplorasi bagian itu dengan lembut, nafas pria itu semakin memburu.
Dengan kenikmatan yang semakin meningkat, Alice mendapati dirinya berharap Gara akan menciumnya, selama pria itu menyentuhnya seperti itu.
Punggungnya melengkung, membuat payudaranya terangkat kedepan. Dengan erangan perlahan, Gara menunduk dan melumat puncak payudaranya, menghisapnya dengan kuat, bersamaan dengan tangan Pria itu membelai bagian yang paling sensitif itu dengan ibu jari. Gara menyelipkan satu jari didalam dirinya, dan otot daerah intimnya mengetat disekeliling ibu jari itu.
"Astaga." Saat Gara berbicara lagi, suara nya bergetar.
"Kau sangat ketat."
"Apakah itu buruk?" Alice mendesah saat Gara menggerakkan jari keluar masuk dengan kelembutan yang memebuatnya nyaris gila.
__ADS_1
"Ini tidak adil. Rasanya akan luar biasa nikmat untukku, dan luar biasa tidak nyaman untukmu." Gara meningkatkan kecepatan gerakan tangannya, dan pinggul Alice terlonjak oleh tikamakan kenikmatan. "Bisakah kau mencapai klimaks untukku? Jika kau lebih dulu mencapai nya, pasti akan lebih mudah."
Sentuhan Gara membangkitkan sensasi yang tak tertahankan didalam dirinya, dan Gara membawanya semakin dekat ke puncak dengan setiap hujaman tangannya. Ia tidak pernah mengalami ini sebelumnya. Rasanya ia menggantung ditepi puncak kenikmatan, tetapi ada benang tipis yang masih menahannya.
Kemudian, ucapan Gara mulai mengikis benang itu.
"Aku ingin melihat mu mencapai puncak, aku selalu memimpikan nya, tidakkah kau tau itu?"
Terguncang oleh gelombang kenikmatan yang menggulung nya, Alice membiarkan kepalanya terhempas ke bantal dan mengangkat pergelangan tangannya ke atas mata.
Gara menarik tangan Alice, sementara tangan yang lain terus menghujam dengan ritme yang kuat dan cepat.
"Oh tidak, jangan bersembunyi dariku. Aku egois dan aku ingin melihatnya. Saat ini, seharusnya aku membenamkan wajahku dipangkal pahamu dan membawamu ke puncak dengan lidahku, tapi aku tidak akan melakukannya karena aku harus melihatmu saat kau mencapai puncak untukku."
Alice nyaris tidak bisa membayangkan penjabaran Gara, tetapi tubuhnya merespon dengan antusias. Ia sudah sangat terangsang, tubuhnya mengeluarkan suara erotis, saat Gara menghujamkan jari kedalam dirinya berulang kali.
Gara sudah membawanya begitu dekat, sangat dekat. Alice merintih, membutuhkan pelepasan yang sudah tak tertahankan.
"Katakan padaku, " Ujar Gara. "Katakan padaku apa yang kau butuhkan."
Apakah ada kata untuk menjabarkan nya? Bisakah ia menemukan kata-kata itu. Gara sudah menghapus kan semua kosa katanya.
"Lebih lembut, " ujar Alice. "Lebih lembut."
Gara mengurangi tekanan ibu jarinya, "Iya?"
"Iya.." Alice menggeliat dan terengah, menggigit bibirnya dan mencengkram seprai tempat tidur.
Aaaah
Ahhhhh
Nggggg
Tali penahanannya akhirnya terputus. Ia mencapai puncak dengan ledakan yang dahsyat, klimaks membuat pinggulnya terlonjak dari atas tempat tidur. Gara menyelipkan jari kedua ke dalam dirinya. Gelombang kenikmatan menyapunya berulang kali. Tubuhnya masih mengejang oleh kenikmatan yang dahsyat saat Gara menarik tangan dari tubuhnya dan memposisikan diri diantara kakinya.
"Aku harus memilikimu," Gumam Gara, membuka paha Alice dengan lebar dan menghujam masuk ke pangkal pahanya yang masih bergetar, "Sekarang."
Alice terkesiap saat tikaman rasa sakit bercampur dengan gelombang kenikmatan yang baru.
Gara mengumpat, dan mendorong lebih dalam. "Aku tidak bisa berhenti." Menghujam. "Terlalu nikmat."
Dengan tekanan pinggul, Gara mendorong lebih dalam dan lebih lagi. Selubung nya yang lembut terasa sakit dan menyesuaikan diri. Pada saat ia pikir ia tidak mungkin bisa menerima lagi, Gara meremas bokongnya dengan kedua tangan, mengangkat pinggulnya, dan masuk lebih dalam. Lehernya terangkat saat ia berusaha untuk menarik nafas. Ia merasa begitu penuh, ia merasakan Gara dimana-mana.
Akhirnya, setelah masuk sepenuhnya, Gara berhenti sejenak di atas tubuhnya, terengah dicekungan lehernya. Penyatuan mereka terasa sakit, tetapi juga sempurna dan sangat tepat. Ia adalah seorang wanita, ia diciptakan untuk ini. Ia menyukai fakta bahwa ia bisa membawa Gara kedalam dirinya dan memeluk pria itu disana, dengan erat, sehingga Gara tidak akan memilih berada ditempat lain.
"Kau membuatku bagaikan berada di neraka untuk ini," Ujar Gara, menghukum Alice dengan sentakan lembut didalam dirinya. "Dan aku ingin kau tau, ini harga yang pantas untuk setiap momen yang kulewati."
Alice tertawa dan guncangan itu membuatnya terasa lebih sakit, namun sekaligus nikmat.
Sambil mencium Alice sambil membungkam tawanya, Gara menghujam lagi. Kali ini dengan lembut. Tubuhnya sudah menyesuaikan diri dengan Gara, dan pria itu bergerak dengan lebih mudah, meluncur keluar masuk dengan hujaman yang mulus dan kuat. Dalam sekejap, rasa sakitnya sudah jauh berkurang dan mulai terasa hangat dan sangat nikmat. Alice mengendurkan pahanya, membuka kakinya lebih lebar untuk membawa Gara masuk lebih dalam. Menyesuaikan tubuhnya dengan bobot tubuh Gara yang menindihnya, bahu dan lengan Gara yang berotot kencang, serta punggung Gara yang kokoh. Saat hujaman Gara semakin cepat, ia menyusuri tangannya dengan posesif ke setiap permukaan kulit pria itu, bahkan ia berani menangkup bokong Gara yang kencang.
Gara mengeluarkan erangan nikmat, dan ia merasakan pria itu bergerak. Gara tidak bisa menahan diri lagi, kebutuhan murni sudah mengambil alih kendali diri pria itu. Gara bangun dan berlutut, kemudian mengangkat pinggul Alice dari atas tempat tidur dengan tangan kuat. Urat dileher Gara menonjol seperti tali tambang.
Mata Gara terpejam, ia mengeluarkan suara serak, sesuatu antara erangan dan geraman. Kemudian, Gara terkulai lemas diatas tubuh Alice, mengejang dan tidak berdaya dalam puncak pelepasannya. Alice melingkarkan lengannya di seputar bahu Gara, membelai rambut yang basah di kening pria itu. Gara merebahkan kepalanya di payudara Alice dan mendesah kan namanya.
"Alice.."
Alice memeluk Gara dalam segala cara, merasakan kedekatan yang sempurna.
Gara menarik diri dari tubuhnya dengan cepat.
"Apakah kau merasa sangat sakit?"
"Tidak terlalu sakit, aku bisa mengatasinya."
"Bagus.." Gara berguling kesamping dan berbaring.
"Maaf, aku gagal melakukannya dengan lembut."
"Aku tau, tidak apa-apa.." Alice mengecup pipi Gara lalu menutup tubuhnya dengan selimut.
Dengan satu tangan Gara menarik Alice, merapatkan tubuh wanita itu ketubuhnya. Alice merebahkan kepalanya didada Gara, terpesona oleh detak jantung Gara yang kuat dan cepat.
"Yang berikutnya akan lebih baik." Gumam Gara. "Kau akan tau saat itu."
__ADS_1
Alice tertawa terbahak-bahak.
"Aku menantikannya.." balas Alice, lalu memeluk Gara dengan erat.