Cinta Dan Rahasia

Cinta Dan Rahasia
Wanita Itu Bernama...


__ADS_3

Alice masih menangis, namun dia mencoba mengatur emosinya lagi, dia tidak ingin William terganggu dengan kehadirannya.


"Ayah, sudah kau selesaikan?"


"Hmm.."


"Jadi keinginanku bisa terkabul?"


'Apa keinginan William?' Seketika tangis Alice terhenti, dia menjadi penasaran dengan percakapan Raja dan William.


"Masih ada waktu, Aku tidak bisa mengabulkan begitu saja keinginanmu.


"Mungkin saja dia akan berubah pikiran.


"Dan..


"Kau lihat sendiri Kakakmu itu.


"Kau tidak akan bisa selamat Will."


"Tentu saja tidak,


"Mana mungkin bisa."


William pergi meninggalkan Raja, kemudian Alice mengikutinya dari belakang.


"Dan Apa yang kau temukan Alice?" William menengok ke arah Alice yang mengekor dibelakangnya.


"Ah, Aku rasa Gara masih mencintaiku Will.." Alice mencoba tersenyum.


"Lalu Will, apa yang kau bicarakan dengan paduka Raja?" Alice mengerutkan keningnya.


"Hmm, coba Aku pikirkan.." William berpura-pura berpikir, dia menunjuk-nunjuk kepalanya.


"Kau memang menyebalkan Will!!" Alice memukul punggung William dengan keras.


William tertawa pelan, dia menggenggam tangan Alice dengan lembut.


"Aku hanya mengutarakan beberapa keinginanku Alice..


"Namun, sepertinya akan sulit agar berjalan sesuai dengan keinginan ku.."


"Ah, tentu saja..


"Aku harap kau berhasil Will.."


"Aku akan, Aku harap kau akan bahagia jika Aku berhasil.." William mengedipkan matanya.


"Aku punya firasat buruk.." William tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Alice.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang Alice?"


"Aku masih akan mengikuti Gara..


"Kau tau, Aku sangat merindukannya."


"Haaa..


"Tentu saja Lady Alice akan merindukan suaminya.." William tertawa miris.


"Apakah Aku salah bicara Will? sepertinya Kau tidak senang dengan jawabanku?"


"Tidak, tidak


"Aku hanya akan merasa kesepian jika Kau tidak ada.."


William mengusap-usap kepala Alice.


"Hentikan Will, Aku bukan seekor anjing!"


"Oh tentu saja, Kau seekor Alice.." William tertawa terbahak-bahak.


Alice menendang kaki William dengan kencang, William hampir tersungkur. Ketika William berbalik kebelakang, Alice sudah menghilang.

__ADS_1


"Dan kini seekor Alice kabur dariku.." William berjalan menuju kamarnya.


Alice berlari cukup kencang setelah menendang kaki William, dia berlari ke arah kamar Gara. Tapi Alice melihat seorang wanita cantik berdiri didepan pintu baru yang sudah terpasang.


'Apakah Aku salah jalan?' Alice mencoba mengingat letak kamarnya.


'Aku rasa ini benar kamarku, lalu siapa perempuan itu?'


Alice mencoba mencari jawaban nya dengan cepat.


'Astaga...' Alice menutup mulutnya dengan erat.


'Tidak mungkin...'


Dengan kaki yang sudah lemas, Alice mencoba mendekati wanita itu, ia menyeret kakinya dengan malas, Alice sangat frustasi sekarang. Dia seperti kalah sebelum berperang.


'Bagaimana mungkin Aku akan menang?'


'Aku tidak kaya, lalu aku tidak cantik, namun tidak buruk rupa, hanya cukup.'


'Dan yang paling penting, Aku tidak bisa hamil.'


Seketika perutnya terasa mual membayangkan Gara bersama wanita lain, yang lebih menyakitkan lagi, Alice berada disana menyaksikannya.


'Oh, tuhan..'


'Beri Aku kekuatan untuk melewati semua ini...' Alice mengepalkan kedua tangannya.


Tok


Tok


Tok


'Bahkan ketukannya terdengar sangat lembut..'


'Oh...'


"Tuan Muda, Saya Evy..


Seperti yang sudah Alice perkirakan, dia adalah anak dari Menteri Matt yang berbicara dengan Gara kemarin.


Gara berjalan kearah pintu dan membukanya perlahan.


"Apa yang ingin Kau bicarakan?"


"Ah..


"Maafkan kelancangan Saya Tuan Muda, tapi..


"Bisakah kita berbicara didalam?"


"Apa kau bercanda?


"Aku tidak ingin siapapun masuk kedalam kamarku jika istriku tidak ada didalam!"


"Maafkan kelancangan Saya Tuan Muda.." Evy terlihat sangat menyesal, dia menundukan kepalanya dan bermaksud pergi.


"Tunggu,


"Ikut Aku.."


Gara berjalan dengan cepat kearah ruang kerjanya yang cukup jauh, Evy mengikutinya dengan sedikit berlari, dia tersandung karena gaunnya yang cukup panjang.


'Bruuuk!!'


Gara menengok kebelakang, dan terlihat Evy terjatuh dengan posisi yang cukup menyakitkan. Dia berjalan ke arah Evy dan membantunya berdiri.


Alice masih mengawasinya dari kejauhan.


'Astaga, pasti sakit sekali terjatuh seperti itu..'


'Untunglah Gara kembali untuk menolongnya.' Alice mengusap dadanya perlahan.

__ADS_1


"Kau baik-baik saja?"


"Terimakasih Tuan, Saya baik-baik saja." Evy berdiri dan kembali mengikuti Gara, namun kali ini Gara berjalan dengan lebih lambat. Evy tersenyum bahagia, dia tidak menyangka Gara akan menolongnya bahkan sekarang dia tidak berlari mengejar Gara lagi karena Gara berjalan tepat didepan hidungnya.


Hati Alice perih melihat kedekatan Evy dan Gara, namun dia tidak mau terlalu cepat mengambil keputusan.


Gara membuka pintu ruang kerjanya, kemudian menunggu agar Evy masuk dan menutup pintunya. Alice hampir tertinggal, namun dia dapat masuk dengan sedikit keberuntungan.


"Duduklah.."


"Terimakasih Tuan Muda.."


"Apa yang ingin Kau bicarakan?"


"Sekali lagi, maafkan kelancangan Saya Tuan Muda.." Evy mengepal-ngepalkan kedua tangannya yang basah oleh keringat. Dia begitu gugup duduk berhadap-hadapan dengan Gara.


"Ayah mengatakan bahwa Saya harus menjadi selir Anda Tuan Muda.." Evy mengambil nafas panjang lalu melanjutkan perkataannya.


"Tapi saya tau jika Anda hanya mencintai Lady Alice, maka saya tidak akan pernah punya tempat sedikitpun dihati Anda."


"Anda mungkin tidak ingat, bahwa dulu kita pernah satu kelas diakademi, namun itu adalah kenangan yang sangat berharga untuk Saya."


"Lalu apa yang sebenarnya ingin Kau katakan?" Gara tidak suka Evy berputar-putar dan hanya ingin menyelesaikannya dengan cepat.


"Tuan Muda, Saya akan menjadi selir Anda..


"Saya akan memberikan Anak Saya kepada Lady Alice jika anak saya laki-laki, dan saya berjanji tidak akan mengatakan hal ini pada siapapun."


"Namun, jika anak saya perempuan, maka Saya sendiri yang akan merawatnya."


"Saya tidak menginginkan apapun Yang Mulia, Saya benar-benar ingin melakukan hal tersebut."


Jantung Alice hampir berhenti ketika mendengar semua hal itu, dia tidak percaya mendengar hal ini langsung dari seseorang yang akan menjadi selir Gara.


'Siapa yang mau menyerahkan anak dengan mudahnya seperti itu pada orang lain?'


'Siapa? Mana mungkin ada!'


'Ada, jika memang Evy sangat mencintai Gara..'


'Astaga..' Alice menutup wajahnya.


Gara tidak mengatakan apapun, bahkan wajahnya tidak menunjukan ekspresi apapun.


"Saya tidak keberatan Yang Mulia..


"Bahkan, jika semua orang tidak mengetahui bahwa Saya adalah Selir Anda, Saya tidak keberatan."


'Aku keberatan Gara...


'Aku keberatan...' Hati kecil Alice begitu terluka mendengar pembicaraan ini.


'Seharusnya Aku pura-pura tidak tau, Aku tidak sanggup untuk mendengarkan lebih jauh lagi semua hal ini.'


Alice mencoba menahan agar air matanya tidak jatuh, dia ingin sekali segera mengakhiri semua hal ini, namun dari kejauhan terdengar suara isak tangis, Evy menangis.


"Saya..


"Saya hanya ingin memberikan Anda keturunan Yang Mulia..


"Bahkan ketika Saya tau bahwa hati Anda hanya untuk Lady Alice.."


"Saya tidak akan mengganggu Anda dengan Lady Alice yang mulia..


"Saya bersumpah.." Evy menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dia tidak sanggup lagi untuk berkata-kata, sedangkan Gara hanya diam tidak mengatakan apapun, Evy merasa malu sekali.


Alice terdiam mendengarkan penuturan Evy, dia tidak tau bahwa Evy begitu mencintai Gara, dan rela melakukan apapun untuk Gara, meskipun dia tau Gara tidak akan pernah melihatnya. Alice menyentuh dadanya, jantungnya berdegup begitu kencang hingga dia sulit untuk bernafas.


'Gara..


'Bicaralah..


'Aku ingin tau apa yang ada didalam pikiranmu..' Alice menahan dirinya sendiri agar tidak menyentuh punggung Gara.

__ADS_1


Seperti terdorong oleh sesuatu, akhirnya Gara memutuskan untuk bicara.


"Evy..."


__ADS_2