Cinta Dan Rahasia

Cinta Dan Rahasia
Teman Yang Menyenangkan


__ADS_3

Siang itu Alice sangat ingin keluar dari kamarnya, dia merasa bosan berdiam diri disana, Lin sedang dalam perawatan dan Gara sedang bekerja.


Alice terus memperhatikan jarum jam, suaranya yang sama membuatnya tenang.


Tik


Tik


Tik


Tik


"Jam kerja Gara sudah hampir selesai, seharusnya dia sudah berjalan ke arah sini sekarang."


"Ah..


"Aku akan menjemputnya!!"


Alice beranjak dari tempat tidurnya, dia merapikan bajunya yang berantakan, sedikit menyisir rambutnya dan menyemprotkan kan sedikit parfum beraroma Lilac di pergelangan tangannya.


Alice berputar dengan lincah didepan cermin dan menatap seluruh tubuhnya.


"Hmm..


"Sempurna.." Alice tersenyum bahagia.


Dia bertemu dengan Dean dipersimpangan dekat ruang kerja Gara.


"Dean..."


"Ah..


"Lady Alice.."


Dean menunduk sopan.


"Apakah Gara telah selesai?"


"Belum Ma'am, tapi sepertinya sebentar lagi selesai.


"Apakah Saya harus menyampaikan pada beliau kalau Anda sedang dalam perjalanan ke sana?"


"Ah tidak, tidak..


"Aku akan memberikannya sedikit suprise..


"Kau kembalilah bekerja."


"Baik Ma'am.."


Dean melanjutkan perjalanannya yang tertunda.


Alice berjalan dengan penuh senyum diwajahnya, namun saat semakin dekat dengan pintu ruang kerja Gara, Alice merasa Dejavu. Teringat peristiwa kemarin, saat Para Menteri membicarakannya.


Namun kali ini Alice mencoba berfikir positif.


"Tuan Muda..


"Apakah Anda tidak ingin mempertimbangkan saran kami?"


"Benar Yang Mulia..


"Kami hanya ingin yang terbaik


"Tidak ada maksud apapun."


Meskipun Alice berusaha keras untuk tidak mendengar apapun, bahkan sampai dia menutup kedua telinganya, pembicaraan mereka masih terdengar begitu jelas.


"Yang Mulia, jika Anda tidak ingin mengambil selir, bagaimana jika Anak perempuan Saya?


"Saya tidak mengharapkan jabatan apapun, ini semua murni untuk kerajaan.


"Dan anak ini akan dirahasiakan, sehingga saat dia lahir anak ini akan menjadi putra dari Lady Alice."


Deg


Deg


Deg


Deg


Alice dapat mendengar suara degup jantungnya dengan sangat jelas, badannya sangat lemas mendengar hal yang seharusnya tidak dia dengar, Alice bersandar didinding, dia tidak ingin seseorang menemukannya dalam kondisi seperti itu.


Sekerumunan orang keluar beberapa saat setelah Alice jatuh kelantai, untungnya mereka tidak menyadari kehadiran Alice. Alice mencoba mengatur nafas dan jantungnya, dia tidak ingin Gara melihatnya dalam kondisi yang buruk seperti ini.


"Ayolah Alice..


"Tersenyumlah..


"Semuanya akan baik-baik saja.


"Kau harus percaya padanya."


Alice mencoba menghibur dirinya sendiri, dia mencoba menguatkan hatinya, namun tanpa Alice sadari, seseorang memperhatikannya dari kejauhan.


Alice berdiri dengan tegap, dia melangkahkan kakinya kedepan pintu ruang kerja Gara dan mengetuknya beberapa kali.


Tok


Tok


Tok


Gara membuka pintu, namun ekspresinya terkejut ketika melihat Alice berada dihadapannya.


"Dean mengatakan bahwa pekerjaanmu telah selesai, namun kau tak kunjung datang, maafkan Aku mengusul mu.."

__ADS_1


"Kemarilah.."


Alice berjalan masuk dan memeluk Gara dengan erat.


"Aku merindukanmu.."


"Akupun begitu.."


Gara menggendong Alice dan duduk di kursinya.


"Apa yang kau kerjakan hari ini?"


"Aku mendapatkan beberapa masalah diperbatasan, kau tau beberapa orang memberontak ingin memasuki kerajaan tanpa ijin."


"Apakah hal tersebut sering terjadi?"


"Tidak terlalu, ini hanya masalah yang biasa terjadi diperbatasan."


"Lalu, apa yang menahanmu begitu lama disini dan tidak menemuiku?"


Gara terkejut mendengar perkataan Alice, dia bingung mencari alasan yang tepat.


"Aah..


"Ada beberapa hal lagi yang kami diskusikan."


"Tentang apa itu?" Alice cukup ambisius untuk mengetahui segala macam hal, dia ingin mengetahui nya hingga tuntas untuk memuaskan keinginan tahuannya.


"Hanya beberapa berandal yang mengusik ketenangan kota. Vampire-vampire nakal yang masih remaja, terkadang mereka ingin membuktikan diri paling hebat dalam pergaulannya."


"Apakah berbahaya?"


"Tidak, tidak..


"Mereka bersaing dengan sesamanya.." Gara memeluk Alice sebelum Alice bertanya lebih jauh lagi.


"Gara.."


"Hmm.."


"Apakah ada yang ingin kau katakan kepadaku?"


Wajah Gara seketika tegang dan pucat, dia lupa bahwa Alice bisa mendengar suara kecil apapun. Gara melepas pelukannya dan menatap mata Alice. Alice tidak menunjukan ekspresi apapun.


"Alice.."


Tik


Tik


Tik


Tik


Ruangan terasa hening, sampai suara detik jam terdengar. Hanya ada mereka berdua didalam ruangan.


Alice masih tersenyum, Gara mencoba menyusun kata-kata terbaik yang bisa dia sampaikan. Semakin lama ekspresi Alice semakin datar. Dia sudah pasrah dengan semua hal yang akan disampaikan oleh Gara.


"Alice.."


Namun, ketika Gara menyebut namanya dengan lembut dan penuh perasaan, Alice tidak sanggup lagi menyembunyikan air matanya, dia harus pergi dari sana sebelum Gara menyadarinya.


"Ahh..


"Aku lelah, Aku akan kembali ke kamarku saja.."


Alice memalingkan mukanya, lalu berdiri, dan berjalan menjauh, namun dengan cepat Gara menggenggam tangannya.


"Tidak Alice.."


"Apa?" Alice tidak berani menatap Gara. Butiran air mata mengalir di pipinya yang lembut.


"Aku sebaiknya pergi." Alice berlari dengan cepat ke arah pintu, membuka lalu menutupnya lagi dengan cukup kencang.


Alice sangat terkejut ketika seseorang telah menantinya tepat didepan pintu ruang kerja Gara.


Alice tidak bisa menyembunyikan air matanya, dia menutup wajahnya. Lelaki itu memeluknya dan membawa Alice pergi dengan cepat, tepat ketika Gara membuka pintu, namun sayang, Gara tidak mengetahuinya.


Alice masih menangis setelah pria itu menurunkannya disebuah ruangan yang cukup besar, dengan beberapa ornamen mewah yang menghiasinya.


"Apakah kau sudah lebih baik?"


"Aku baik-baik saja Will..


"Terimakasih." Alice tersenyum dan mengusap air matanya.


"Syukurlah..


"Aku benci melihatmu menderita." William menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kebiasaan yang sama seperti saudara-saudara nya saat dalam kondisi bingung.


Alice tertawa melihat tingkah William.


"Apa yang lucu?"


"Tidak, tidak ada.." Alice menutup mulutnya, dia menahan tawanya setengah mati melihat ekspresi William yang terlihat bingung.


"Oh, Willi..." Alice mengusap rambut William dengan lembut, saat Alice menarik tangannya dari rambut William, dia menarik tangan Alice kedepan bibirnya dan mencium punggung tangan Alice dengan lembut.


Alice terkejut William memperlakukannya seperti itu, namun Alice tidak menarik tangannya, dia hanya tersenyum.


"Terimakasih karena telah menghiburku Willi.."


"Ah..


"Kau salah mengartikannya Alice..


"Namun tidak masalah.." William tersenyum dan meletakkan tangan Alice dengan lembut dipahanya.

__ADS_1


"Apa kau lapar Alice?"


"Ah, tidak Will.."


"Sungguh?


"Kau terlihat lebih kurus dari biasanya Alice.."


William membelai pipi Alice dengan lembut.


"Pipimu mengecil, peganglah sendiri." William menarik tangan Alice kepipinya.


"Kau benar..


"Aku tidak ingin memakan apapun Will..


"Sungguh, aku tidak merasa lapar."


"Tapi, badanmu seperti tersedot Alice..


"Ya Tuhan, lihatlah kakimu.


"Kecil seperti pensil."


"Ah, kau menghinaku William?


"Apa kau tidak melihatnya?


"Pahaku seperti talas siap panen!!"


"Oh Alice ku yang malang.


"Tidak ada yang menginginkan talas kecil seperti itu."


Alice melempar William dengan bantal kursi yang ada disebelahnya dengan kencang.


"Ah, maafkan Aku Lady Alice..


"Aku sedang bergurau.."


William tertawa melihat Alice yang cemberut dan Alice tidak bisa menyembunyikan senyumannya ketika melihat William tertawa seperti itu.


"Ini dimana Will?"


"Kamarku Alice..


"Kenapa?"


"Ah tidak, hanya saja.."


"Kenapa?"


"Mengapa tepat ini seperti didalam gelembung?


"Kita berada didalam gelembung berwarna biru muda."


"Kau bisa melihatnya?" William terkejut mendengar Alice mengatakan sesuatu tentang 'Shield' yang dia buat.


"Oh, iya aku bisa melihatnya.


"Kau menggunakan sihir Will"


William terkejut mendengar Alice mengatakan hal itu dengan begitu tenang.


"Ah..


"Aku, aku mempelajarinya."


Bangsawan vampir tabu mempelajari sihir, sihir hanya untuk penjaga dan penyihir, bukan untuk bangsawan vampir.


"Waaw ..


"Luar biasa!


"Kau bisa menunjukannya padaku?"


"Tentu..


"Tapi lain kali saja.." William mencoba tersenyum.


"Apakah Gara juga bisa melakukan sihir?"


"Stt Alice..


"Kita tidak boleh membicarakan tentang ini dihadapan Gara oke?"


"Mengapa?


"Mengapa tidak boleh?


"Aku tidak tau hal itu."


"Bangsa kami tidak boleh melakukan apalagi mempelajari sihir Alice."


"Tapi kau?"


"Tidak boleh ada yang mengetahuinya oke?"


Alice terdiam cukup lama sebelum menjawab William.


"Oke." Alice tersenyum dan menutup mulutnya.


"Hentikan, kau tidak usah berpura-pura denganku Alice.."


William berjalan mendekat ke arah Alice, dia membelai mata Alice yang bengkak.


"Katakanlah..

__ADS_1


"Apa yang kau inginkan?"


__ADS_2