Cinta Dan Rahasia

Cinta Dan Rahasia
Perkembangan


__ADS_3

"Alice sayang..


"Apakah kau baik-baik saja?" Gara berhenti dan mengamati seluruh tubuh Alice.


"Aku baik-baik saja sayang..


"Hanya saja sudah sangat lama sekali.." Alice menutup wajahnya karena merasa malu.


"Memang sudah sangat lama sekali Alice.." Gara mengecup kening Alice dan menarik tangan dari wajahnya.


"Jangan ditutup, Aku ingin melihatmu.."


"Aku malu.." Alice hendak menutup wajahnya lagi, namun dengan cepat Gara melumat bibirnya yang terus berbicara.


"Alice.. aku merasa anak kita menendang perutku dari dalam sana, Aku bisa merasakannya." Gara berhenti mencium Alice dan melihat perut Alice yang masih tertutup pakaiannya.


"Mungkin dia tidak ingin kita terlalu dekat Alice.." Raut wajah Gara berubah menjadi sedih.


"Tidak mungkin Gara..


"Mungkin dia ingin segera bertemu denganmu." Alice memeluk tubuh Gara dengan erat.


"Kita berdua sangat mencintaimu Gara..


"Aku bisa pastikan itu.


"Rasakanlah gerakannya." Alice menaruh tangan Gara diatas perutnya. Gara dapat merasakan gerakannya yang kuat dan berubah-ubah.


"Dia menyapamu Gara.." Alice tersenyum bahagia.


Gara menatap tangannya yang bertumpu pada perut Alice yang menggelembung. Dia menyadari bahwa kehidupan benar-benar tumbuh didalam sana. Saat Gara menyaksikan perutnya tumbuh dan tumbuh lagi, dia berpikir itu menarik. Merasakan dengan tangannya sendiri bahwa bayi itu bergerak didalam sana, tidak bisa dia jelaskan bagaimana rasanya. Jauh didalam lubuk hatinya, ada perasaan bergetar.


Ketika Gara gelisah dan ketakutan karena kesehatan Alice memburuk, dia menyalakan anaknya saat itu. Namun sekarang, Gara merasa menyesal karena melakukan itu, sekarang Gara merasa bersyukur karena bayi itu tumbuh dengan sehat.


"Aku mencintaimu Alice..


"Dan aku juga mencintai anak kita..


"Aku rasa kita harus berhenti sekarang, Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu.." Gara tersenyum dan mencium kening Alice.


"Apa Kau marah sayang?" Alice menatap kedua mata Gara.


"Tidak mungkin sayang.." Gara memeluknya dengan lembut.


"Lebih baik kita beristirahat sekarang.."

__ADS_1


"Itu lebih baik.."


* * *


Gara terbangun tengah malam, namun Alice tidak berada disampingnya. Tempat tidurnya kosong. Dia mencari sekeliling tapi tetap tidak menemukan Alice.


"Dean.."


"Saya Tuan Muda.."


"Dimana Alice?"


"Seperti biasa Tuan Muda."


Seperti yang sudah Gara perkiraan. Gara pergi dari kamarnya dan berjalan ke arah ruang makan. Seluruh lampu sudah menyala, tepat disana didepan matanya, Alice sedang duduk makan steak ditemani oleh Lin.


Terlihat beberapa tumpukan piring kosong dan beberapa gelas kosong dimeja makan. Gara menggelengkan kepalanya. Gara tidak tau apakah Alice benar-benar bisa mencerna seluruh makanannya atau tidak, dia berniat akan mengajukan pertanyaan, tetapi ketika Lin menatapnya dan menggelengkan kepala, Gara dengan cepat menutup mulutnya.


'Hampir saja..' Gumam Gara.


"Dean, ambilkan Aku segelas anggur." Gara duduk didepan Alice yang sedang makan dengan lahapnya. Alice berhenti sejenak dan melihat suaminya yang duduk.


"Ah.. Gara..


"Kau lapar sayang?


"Ah tentu saja.." Gara tersenyum penuh arti.


Setelah menghabiskan 5 piring steak domba dan beberapa gelas minuman itu yang dikatakan oleh Dean, Alice kembali kekamar dan tertidur pulas. Gara masih terkejut melihat piring yang berserakan diatas meja.


"Dean..


"Kau yakin Alice baik-baik saja?


"Apakah perutnya tidak akan 'meledak' ?"


Dean tertawa terbahak-bahak mendengar kekhawatiran Gara.


"Maafkan saya Tuan Muda.." Dean menutup mulutnya cepat-cepat.


"Itu hal yang normal bagi ibu hamil Tuan, nafsu makan mereka meningkat drastis dan berbeda dari biasanya.


"Lady Alice kurang menyukai domba, namun saat ini Ma'am begitu menikmati 5 piring steak domba yang saya sajikan.


"Saya rasa bayinya menyukai rasa dari masakannya." Dean tersenyum.

__ADS_1


"Apakah benar begitu?" Gara tampak ragu dengan jawaban Dean.


"Tentu Tuan Muda..


"Mungkin anda ingat Kakak perempuan Saya, taun lalu dia hamil dan mengalami hal yang sama, namun nafsu makannya tidak sebanyak Ma'am."


"Nah, itu yang aku khawatirkan."


"Dokter Reina mengatakan Lady Alice akan baik-baik saja Tuan Muda."


"Syukurlah jika memang benar begitu." Gara meninggalkan meja makan dan kembali kedalam kamarnya.


Didalam sana terlihat Alice terbaring lelap dengan mulut yang sedikit menganga.


"Istriku yang cantik.." Gara mengecup kening Alice dan kembali keruang kerjanya.


"Jagalah Alice Lin." Kemudian terdengar suara pintu tertutup.


Matahari telah kembali bersinar, cuaca diluar sangat bagus dengan langit yang biru dan beberapa awan putih yang muncul. Angin sepoi-sepoi membelai kening Alice dengan lembut, beberapa helai rambutnya terbang terbawa angin.


Siang itu Alice masih tertidur pulas, tidak ada satupun yang berani membangunkannya. Begitupun dengan Gara. Hari ini akan diadakan konferensi pers diluar kota, Gara harus meninggalkan istana untuk beberapa hari, namun dia ragu harus meninggalkan Alice.


"Dean, apakah Alice sudah bangun?" Semalaman Gara tidak kembali kekamar, dia menyelesaikan beberapa dokumen diatas meja kerjanya.


"Belum Tuan Muda.."


"Ini sudah hampir pukul 10.


"Alice sudah melewatkan sarapan." Gara menjadi gelisah dan kembali kekamarnya secepat yang dia bisa.


Seperti yang sudah Dean katakan Alice memang masih tertidur lelap. Mulutnya masih menganga seperti tadi malam Gara meninggalkannya.


"Oh istriku yang malang.


"Kau telah melewatkan sarapan sayang.." Gara membelai rambut Alice yang berantakan karena tertiup angin.


Gara terus menerus memandangi perut Alice yang menggelembung. Dia menyentuhnya perlahan takut Alice akan terbangun karena ulahnya.


"Kau makan dengan lahap semalam anakku." Gara tersenyum.


Lin yang terus memperhatikan Gara tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia tidak percaya bahwa Gara yang selama ini dia kenal bisa melakukan hal yang seperti ini. Tidak pernah terbayangkan dalam benak Lin sedikitpun.


Gara yang selalu bermuka datar, haus darah dan kejam sangat berbeda ketika berada disamping Alice. Lin masih ingat saat pertama kali bertemu dengan Gara. Saat itu Lin hanya seorang ninja biasa, dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, Gara membantai beberapa kelompok pengkhianat. Dia bahkan tidak memberikan belas kasih sedikitpun kepada mereka.Meskipun mereka telah bersujud memohon ampun, kepala mereka langsung terputus begitu saja saat Gara menatapnya. Aura yang Gara pancarkan sangat mengerikan, tidak ada seorangpun yang berani menatap matanya. Bertatapan dengannya berarti kematian.


Saat ini, tepat didepan matanya, Tuan Muda yang dia layani sedang mencium kening istrinya dan memegang lembut perutnya dengan hati-hati. Bahkan Gara tidak berani membantah keinginan istrinya meskipun melukai harga dirinya. Lin sangat kagum kepada Alice, dengan semua hal yang dilihatnya Lin menjadikan Alice sebagai tuannya yang harus dilayani dengan sepenuh hati. Namun kekagumannya pada Gara tetap tidak berubah dan justru bertambah.

__ADS_1


"Haruskah Aku pergi Alice?


"Aku tidak ingin kemanapun.." Gara mencium punggung tangan Alice.


__ADS_2