
Matahari telah tenggelam, sinarnya semakin lama semakin menghilang, langit semakin gelap dan angin semakin kencang berhembus.
Suasana istana ramai, hari ini semua orang siaga dan silih bergantian menjaga keamanan istana. Pandangan mata semua orang fokus, tidak ada satupun yang terlihat bercanda gurau. Malam Bulan Purnama akan terjadi beberapa jam lagi, mereka mempersiapkan diri menghadapi apapun yang akan terjadi.
Raja berkumpul di aula bersama para menteri membahas permasalahan yang telah terjadi belakangan ini. Terlihat William dan Eric duduk di sebelah Raja, mereka sedang memperhatikan Menteri yang berdiskusi dengan Raja.
Bibi Anna berada di dapur bersama para pelayan istana, sedangkan Hans berjaga di atap bersama para penjaga.
"Gara.. apakah kita akan baik-baik saja?" Alice bertanya memecah keheningan.
Gara terdiam, dia teringat Luca yang telah melukai Alice dan terpaksa membuatnya merubah Alice, Matanya memancarkan kemarahan.
"Gaara...." Alice membelai punggung Gara.
"Ah.. yaa, kita akan baik-baik saja sayang, semuanya berada dalam kendali.." Gara memeluk Alice dengan erat.
"Setelah Bulan Purnama berlalu, apa yang akan terjadi?" Tanya Alice.
"Semuanya akan kembali seperti semula.." Gara mencoba tersenyum.
"Dan apakah aroma tubuhku akan hilang?" Alice penasaran.
Tubuh Gara menegang, dia tidak tau Alice akan membahas hal itu sekarang.
"Hmm.. ya sayang, aku akan melindungimu, meskipun aroma tubuhmu akan seperti ini selamanya.." Jawab Gara.
"Tapi, bukankah Bibi Anna bilang aku akan sembuh jika melahirkan?" Tanya Alice.
"Ya sayang.." Gara berkata pelan, dia tak kuasa untuk memeluk tubuh Alice.
Alice semakin penasaran, dia curiga Gara menyembunyikan sesuatu darinya. Alice ingin bertanya lagi, namun dia mengurungkan niatnya, tubuh Gara begitu kuat memeluknya, seakan takut Alice akan pergi menghilang.
Malam semakin larut, Bulan Purnama akan sempurna beberapa menit lagi. Semua orang menjadi tegang, mereka menahan nafasnya bersamaan.
Auuuuuuuuuuuuu
Ouuuuuu
Auuuuuuuuuung
Auuuuuu
Terdengar suara lolongan serigala dari kejauhan. Bulu kuduk Alice berdiri, dia teringat momen saat seorang Werewolf mengejarnya dihutan saat bulan purnama yang lalu.
Auuuuuuu
Auuuuuuuuuung
Ouuuuuuuuuung
Grrrrrrr
Lolongan serigala saling bersahutan, Bulan sudah Purnama sempurna, semua orang bersiap untuk kondisi terburuk.
Alice memeluk erat Gara, Gara memegang tangan Alice yang bergetar.
Haruskah saya membantu Hans diatas? aku khawatir, dan Bibi Anna, apakah Bibi Anna akan baik-baik saja. Apa yang harus saya lakukan, darahku berdesir sangat kuat, seperti mau meledak!!
Gumam Alice.
"Tenanglah sayang, tidak akan terjadi apa-apa, percayalah padaku.." Gara berbisik pada Alice.
Sesuatu bergerak mendekat dengan cepat, bahu Alice menegang, dia *** tangan Gara dengan kuat.
'Kent!!
itu Kent, aku bisa melihatnya dengan jelas..'
Gumam Alice.
Seketika Alice menjadi tenang, dia khawatir akan keselamatan semua orang yang dia kenal.
Gara mencoba menjauhkan Alice dari Kent.
"Alice...
"Alice.. kau.." Kent tidak bisa menahan air matanya.
Refleks Alice memeluk Kent dengan erat, namun segera melepaskannya.
"Kent, kau bau.. ya tuhan..!!" Alice merasa senang dan terharu namun disisi lain dia tidak tahan dengan bau Kent.
"Yaa, kau tau, kaupun begitu Alice.." Kent memeluk Alice sekali lagi, namun Alice balas memeluknya dengan erat kali ini.
Gara tidak tahan melihat adegan yang membuatnya kesal, namun dia tau Kent begitu menyayangi Alice dan Alice pun begitu, untuk sementara dia mencoba menahan emosinya.
"Aku kesal melihat matamu yang merah, tapi aku lebih sedih dan kesal jika melihatmu tidak berdaya.." Gumam Kent.
"Terimakasih telah kembali Alice.." Tambah Kent.
"Aku senang dapat melihatmu Kent, aku tau saat itu kau ikut menyelamatkanku, Gara mengatakannya. " Alice menatap Gara.
"Apakah vampire brengsek itu ada disini sekarang?" Tanya Kent kesal.
"Sepertinya dia akan datang, dan aku akan menghabisinya saat itu juga." Amarah Gara memuncak jika berkaitan dengan Luca.
" Aku yang harus melakukannya Kent.. Gara. Ingatlah untuk membawanya kepadaku jika kalian menemukannya.." Alice tersenyum, taringnya mencuat.
Kent dan Gara seketika bergidik melihat pandangan Alice yang kejam.
Auuuu
Auuuuuung
Auuuuu
__ADS_1
Ratusan suara langkah kaki terdengar memasuki wilayah istana, sinar bulan dengan jelas menampakan segerombolan Werewolf yang mendekat. Dan seseorang yang Alice kenal dengan baik, Luca. Mata Alice melotot, tubuhnya menegang, dia sangat ingat dengan jelas apa yang telah Luca dan wanita-wanita vampire itu lakukan padanya. Alice mengepalkan tangannya, emosinya sudah tidak bisa ditahan lagi.
Gara melihat Luca berjalan mendekat, matanya semakin merah, Luca berjalan diantara ratusan Werewolf dengan santai, dia tidak terlihat takut sedikitpun, dibelakangnya puluhan vampire yang berkhianat mengikutinya.
Kent mengikuti pandangan penuh amarah Gara dan Alice, dia melihat seorang vampire laki-laki dengan warna mata yang berbeda berjalan diantara ratusan Werewolf dan Vampire.
Terdengar teriakan diatas balkon, ratusan anak panah telah diarahkan dan siap ditembakkan.
Puluhan meriam berjajar dan sudah diisi bola meriam, Meraka siap menyulut kapan pun perintah diteriakan.
Hans berada diantara ratusan pemanahan yang bersiap menyerang.
Alice tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Luca, dia terus mencari kesempatan untuk mendekatinya.
Auuuuuuuuuuuu
Auuuuuuuuuuuuuung
Auuuuuuuuu
Lolongan serigala terjadi bersamaan dengan lepasnya ratusan anak panah. Anak panah itu tidak membunuh Werewolf, namun membiusnya, sehingga tidak ada satupun korban jiwa. Raja telah memerintahkan hal tersebut, karena pada dasarnya Werewolf itu adalah warganya juga yang berada dibawah pengaruh Bulan Purnama.
Puluhan Werewolf tumbang, sisanya meloncat ke balkon dan masuk ke aula, vampire penjaga telah bersiap disana untuk menghadapi serangan.
Gara dan Alice masuk kedalam istana, Luca menghilang saat terjadi pertempuran diluar, Gara khawatir dia akan mengincar Alice kembali.
Kent melompat kearah Werewolf yang masih berdiri, dia bergulat ditengah puluhan Werewolf.
Luca masuk ke dalam istana melalui jalan rahasia, dia bersembunyi dalam kegelapan dan mengintai Alice.
"Aku masih bisa mencium aroma tubuhnya yang sangat kuat! Aku harus bisa mendapatkannya kembali!" Gumam Luca.
Dia tidak berhenti menatap Alice dari kejauhan, dia tidak menyangka Alice masih hidup setelah dia menghisap darahnya sampai hampir kering kemarin.
"Aku harus mendapatkan kekuatannya!! Hari ini harus berhasil!" Luca mencoba melacak aroma tubuh Alice.
Gara membawa Alice masuk, Alice bersikeras ingin menemui Bibi Anna, dia terlalu khawatir.
"Gara, aku ingin menemui Bibi Anna, tolonglah.." Alice memohon.
"Sayang, aku akan menemukan Bibi Anna, kau harus tetap disini.
Alice menunggu Gara di ruang bawah tanah, dan Gara mencari Bibi Anna.
Gara menghilang, dia meninggalkan beberapa kelelawar bersama Alice. Mereka terbang diatas kepalanya.
Luca yang telah memperhatikan dari kejauhan merasa senang saat Gara meninggalkan Alice sendirian disana.
Dengan cepat Luca membuka pintu dan masuk. Dia berlari ke arah Alice dengan cepat. Alice berdiri membelakangi Luca.
Luca tertawa terbahak-bahak.
HAHAHAHA
HAHAHAHAHA
Luca menyentuh Alice, kemudian Alice berbalik, namun seketika Luca terkejut melihat bola mata Alice yang telah berubah menjadi merah, Luca tidak tau bahwa Alice telah berubah menjadi vampire, Luca berjalan menjauh.
Alice tersenyum, kedua taringnya terlihat berkilauan. Dia berjalan mendekat ke arah Luca, Luca dapat merasakan sebuah tekanan yang dahsyat dari arah Alice. Tekanan yang sama dirasakannya ketika bertatapan dengan Gara.
Bau tubuh Alice membuat Luca mabuk, dia mencoba mendekat namun mencoba menjauh, dia tidak bisa fokus, Alice terus mendekatinya, dan Luca terdesak.
"Hai Luca.." sapa Alice.
"Kau tau...
sebenarnya Gara sengaja membuatku berada disini, dia tidak ingin aku melakukan sesuatu yang berbahaya, namun... aku tau kau akan datang.." Alice tersenyum.
"Aku tau Bibi Anna berada ditempat yang aman.. (Alice tersenyum) Aku hanya ingin.. Gara pergi dari sini.." Ucap Alice.
"Jadi maksudmu, kau sengaja ingin berduaan denganku?" Tanya Luca (menyeringai)
Alice menjilat taringnya, dia tersenyum.
"Luca.. kau tau, kau tak mendapatkan setetespun kekuatan apapun dari darahku.."
"Hanya Gara yang mendapatkannya, dan jika kau ingin kekuatan itu sekarang, kau harus membunuhku.." Tambah Alice.
Alice menggores telapak tangannya dengan kukunya yang tajam.
Darah segar bercucuran dari tangan Alice, aroma darah memenuhi ruang bawah tanah yang terkunci.
Kelelawar Gara terbang keluar mencari Gara. Mata Luca membesar, dia menjilat taringnya dan menerkam Alice dengan cepat namun Alice menahan tubuh Luca dengan lengannya, dengan sangat cepat Luca terpantul ke dinding.
Brugh..
Uhk..
"Perempuan jalang! Ahhaa.. kau ingin bersenang-senang denganku? " Balas Luca.
"Aku hanya mencoba melindungi diriku, kau tau.." Alice menjilat lukanya dan seketika luka itu menghilang.
"Waaaaw. . ." Alice tersenyum senang.
Luca mengambil kesempatan itu untuk menerkam Alice kembali, namun sia-sia, Alice dengan cepat menghindar, dia meloncat jauh ke depan.
"Tidak bisakah kita bicara baik-baik?" Tanya Alice.
"Bicara? Kau terlalu naif Alice! Lalu apakah kau tau apa yang telah mereka perbuat pada orang tuaku?" Tanya Luca geram.
Alice diam, dia memang tidak tahu mengapa Luca melakukan pengkhianatan terhadap kerajaan.
"Aah.. aku tebak, pasti kekasihmu tidak memberikan alasan mengapa aku seperti ini!! Kau memang pantas disebut wanita jalang!"
Luca menyerang membabi buta ke arah Alice, Alice yang tidak pernah sekalipun belajar bela diri merasa kewalahan, Alice terus melompat untuk menghindar, namun lambat laun Alice terpojok.
__ADS_1
Aaaah
"Lepaskan!" Alice menjerit. Gara mencekik leher Alice.
"Terakhir kali kau berteriak hal yang sama sayang.." Luca menjilat pipi Alice.
"Lepaskan! Kau begitu menjijikan!" Timpal Alice.
"Aku akan memberi tahu satu hal padamu, Raja membunuh keluargaku! Mereka membakarnya didepan kepalaku sendiri!" Luca berteriak histeris.
Alice tidak dapat berkata apapun, dia mencoba melepaskan diri, Alice menggigit hidung Luca dengan keras, hidungnya sobek darah mengalir dari wajahnya.
Aaargh
"Perempuan jalang! Beraninya kau!"
Plaaak!!
Luca menampar Alice dengan kencang.
Terlihat semburat garis kemerahan dipipi Alice, Alice menahan air matanya agar tidak jatuh.
Ini pertama kalinya Alice ditampar seseorang, dia menahan emosinya, Alice mengepalkan tangannya dan mencoba mengatur nafasnya.
"Lalu, apakah kau tau mengapa keluarga kerajaan membakar keluargamu?" Tanya Alice.
Raut wajah Luca menegang, dia tau sebenernya Ayahnya merencanakan pengkhianatan terhadap kerajaan dan meracuni Ratu dengan racun vampire nya, namun Luca menolak fakta itu, dia membohongi dirinya sendiri bahwa keluarganya tidak bersalah.
"Aku.. aku tidak peduli hal itu, kau tau, saat ini aku hanya ingin menghisap seluruh darahmu sehingga tidak ada yang tersisa setetes pun." Luca menyeringai.
Alice mencoba mengumpulkan tenaganya, dia menarik nafas dan menghembuskan nafasnya dengan perlahan, dia memfokuskan tenaganya di kedua lengannya, setelah cukup yakin dia mendorong Luca dengan sekuat tenaga.
Luca terdorong ke dinding dengan keras.
Brugh..!
Alice dengan cepat mengambil kesempatan itu, dia menggores punggung Luca dengan kukunya yang tajam.
Aaargh...!!
Punggung Luca robek, darah mengalir dari tubuhnya, dia mencoba menjauhkan diri dari Alice.
Mata Alice berkilat-kilat merah. Alice tersenyum, dia menjilat kukunya yang penuh dengan darah.
Braak..!!
Pintu ruang bawah tanah terbuka, Gara dengan cepat masuk, Kent menyusul dibelakang Gara.
Gara berlari kearah Luca, dia membanting tubuhnya yang sudah tidak berdaya.
Bruugh..!!!
Mengangkat kemudian membanting nya lagi.
Begitu dan terus begitu sampai Luca tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
Hening...
Ruangan itu hening..
hanya terdengar suara nafas yang saling bersahutan.
Alice berjalan ke arah Gara, dia memeluknya dengan erat.
Gara melihat darah dari tangan Alice, dia membolak-balikkan tangan Alice, takut dia terluka.
"Aku baik-baik saja, sejujurnya ini bukan darahku, kau tau ..." Alice tersenyum.
Gara memeluknya dengan erat.
Kent berjalan ke arah Luca, dia membanting tubuhnya sekali lagi dan menyeretnya keluar.
"Apakah sudah berakhir??" Tanya Alice senang.
Gara tersenyum, dia memeluk Alice dengan lembut.
Gara menggendong Alice keluar dari ruang bawah tanah, semua orang telah menunggu diaula. Tidak ada korban jiwa, hanya segelintir orang yang terluka. Werewolf Tah berubah kembali menjadi manusia, mereka dipulangkan oleh penjaga istana.
Vampire-vampire yang berkhianat telah di bakar dihalaman belakang, termasuk Luca.
"Apakah Luca telah tiada?" tanya Alice.
"Raja telah memutuskan kehendaknya, tidak ada yang bisa menyangkalnya."
"Sebaiknya kau tidak melihatnya Alice.." Gara menutup mata Alice.
"Aku tidak apa-apa, sungguh.." jawab Alice.
"Semoga tidak ada Luca yang lain lagi.." tambah Alice.
"Kau tau, aku akan melindungimu dari siapapun..." Ucap Gara.
"Aku tau... kau pasti sangat mencintaiku.." balas Alice.
"Aku memang mencintaimu.." Jawab Gara.
Muka Alice kembali memerah, dia telah lupa sesaat yang lalu ada bahaya besar yang mengancamnya. Berada didekat Gara membuatnya merasa aman dan nyaman.
"Aroma tubuhmu semakin kuat saja sayang.. apa yang harus aku lakukan terhadapmu?" ujar Gara.
"Aku hanya perlu melahirkan anakmu, kau tau.." Refleks Alice menutup mulutnya.
Gara menundukan kepalanya, dia tidak bisa menatap Alice.
"Ada apa Gara?"
__ADS_1