Cinta Dan Rahasia

Cinta Dan Rahasia
Tanda Awal Kelahiran


__ADS_3

Terdengar suara langkah kaki mendekat, tidak lama kemudian disusul dengan suara ketukan pintu.


Tok


Tok


Tok


"Gara, ini Aku Eric."


"Masuklah." Eric membuka pintu perlahan kemudian berjalan ke arah Gara yang sedang duduk disamping Alice yang sedang tertidur pulas.


"Kau sudah bersiap?" Eric duduk didepan Gara.


"Aku tidak ingin pergi."


"Ayolah, ini hanya perjalanan yang memakan waktu setengah jam. Dan Kau hanya akan berada disana selama 2 jam."


"Aku tidak suka berjauhan dengan Alice."


"Semua orang menantikan kedatangan mu Gara."


"Mengapa harus Aku yang pergi?"


"Apa kau berpura-pura bodoh sekarang?"


Setelah seluruh kerajaan mendengar bahwa Alice tengah mengandung anak laki-laki, Yang Mulia Raja meminta Gara untuk segera menggantikan posisinya sebagai Raja. Pertemuan besok ditengah kota adalah untuk memperkenalkan Gara sebagai calon Raja baru untuk menggantikan posisi Ayahnya.


"Mengapa tidak Kau saja?"


"Ha..


"Apa kau menghinaku?"


"Sungguh, Aku tidak menginginkan posisi itu.


"Aku hanya ingin hidup damai bersama Alice dan anakku."


"Kau punya tanggung jawab Gara.


"Kau harus membuat anakmu bangga.


"Apa kau ingin melarikan diri?"


"Sungguh Kau lebih berisik dari pada Ibu.


"Pergilah, Aku akan bersiap."


"Aku akan menunggu.


"Ah, Aku lupa.


"William dan Kent akan menjaga Alice selama Kau pergi." Eric berjalan dengan cepat keluar sebelum Gara berubah pikiran.


"Hei!


"Hei kau!


"Ah sial!!"


"Lin.


"Jika Alice bangun, sampaikan padanya Aku akan pergi ke kota sebentar.


"Dan, jangan biarkan Kent menyentuh Alice.


"Apa Kau mengerti?


"Ah, satu hal lagi.


"Temuilah dokter Reina, katakan padanya dia harus menemani Alice sampai Aku tiba."


"Baik Tuan Muda."


"Alice Aku akan pergi, Kau jangan kemana-mana.


"Tinggalah disini, tunggu Aku kembali." Gara mengecup kening Alice lalu dengan berat hati, dia berjalan keluar dari kamarnya.


Alice terbangun satu jam kemudian setelah Gara pergi dari istana. Dia melihat sekeliling mencari keberadaan Gara, namun tak melihat Gara dimanapun. Alice menggosok kedua matanya yang lengket, lalu dia mencoba merapihkan rambutnya yang berantakan karena tertiup angin.


"Lin..


"Dimana Gara.."


"Tuan Muda sedang ada perkejaan diluar kota Ma'am."


"Mengapa dia tidak memberitahukan ku?" Alice terlihat kesal karena merasa ditinggalkan.


"Maaf Ma'am, Tuan Muda sengaja tidak membangunkan Anda, Tuan Muda akan kembali dalam beberapa jam lagi."


"Aah, begitukah.


"Antar Aku keruang makan."


"Maaf, Ma'am..


"Tuan berpesan agar Anda tidak meninggalkan ruangan ini sampai Tuan Muda kembali."


"Haaa

__ADS_1


"Benar-benar suamiku itu.


"Kalau begitu,


"Bawakan Aku beberapa roti dan susu. Oh aku ingin buah berry yang dulu Gara bawakan."


"Saya akan segera kembali Ma'am."


"Cobalah untuk lebih cepat."


"Baik Ma'am."


Alice meluruskan kakinya yang pegal, seluruh kakinya bengkak, dia bahkan susah untuk melangkah. Dokter Reina tidak mengatakan apapun, menurutnya kondisi Alice baik dan sehat.


Alice tidak mengeluh apapun, selama bayinya sehat dia tetap menikmati masa kehamilannya dengan bahagia.


Tok


Tok


Tok


'Siapakah itu?


'Setauku hari ini Aku tidak menunggu siapapun.'


"Alice, ini Aku William.."


"Ah, maafkan Aku..


"Masuklah Will.."


William membuka pintu, dibelakangnya berdiri seseorang yang dia kenal.


"Kent!!!


"Mengapa kau datang?"


"Alice, Kau tidak menyambutku?" William berpura-pura terlihat kecewa.


"Ah, William..


"Maafkan Aku.." Alice turun dari tempat tidurnya dan berjalan kearah William, kemudian memeluknya dengan lembut.


"Aku kira semua orang pergi bersama Gara."


"Tidak Alice, hanya Gara dan Eric."


"Kau tidak akan memelukku wanita hamil?" Kent menarik tangan Alice yang memeluk William.


"Tentu saja Kent, kemarilah." Kent berjalan kearah pelukan Alice, lalu memeluknya dengan lembut.


"Tentu, kau harus!!


"Atau Aku akan membunuhmu jika sesuatu terjadi pada anakku."


"Sebaiknya Aku tudak memelukmu.." Refleks Kent melepaskan pelukannya. Alice tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Kent, Wiliam hanya tersenyum simpul melihat percakapan Alice dan Kent.


Lin kembali dengan sebelah tangan memegang baki yang penuh dengan makanan.


"Ma'am, ini semua yang Anda minta." Lin menaruh baki diatas meja.


"Apakah akan ada tamu Alice?" William bertanya tanpa berpikir.


"Ini untukku Will.."


"Kau sanggup menghabiskan semua ini?" Kent menanggapi pertanyaan William, Lin hanya menutup wajahnya dan menggelengkan kepalanya.


Tidak lama kemudian Alice menendang baki yang penuh dengan makanan, semuanya tumpah ruah dilantai, Lin tidak mengatakan apapun, dia hanya berjalan menjauh dan menjaga jarak dengan Alice.


"Kalian berdua!!


"Kalian tau tidak betapa beratnya menjadi seorang wanita hamil?


"Menggendong bayi dalam kandungan yang setiap hari membesar dan harus bertahan 9 bulan!


"Tidur susah, berjalan susah, duduk susah!


"Apa kalian tau betapa beratnya semua itu?


"Pinggangku sakit, perutku pegal, kakiku bengkak, tekanan darahku naik, selalu ingin buang air kecil dan selalu saja ada yang membicarakan ku ketika aku makan.


"Yang makan bukan aku saja!


"Tapi bayi dalam perutku juga!


"Kalian mengerti tidak?!"


Bagaikan dua orang anak SD yang sedang belajar, mereka berdua menjawab bersamaan.


"Mengerti.."


"Baguslah..


"Lin, bawakan Aku makanan yang baru dan sama seperti yang Aku inginkan tadi." Alice menghembuskan nafas perlahan dan duduk kembali ditempat tidur.


"Baik Ma'am.." William dan Kent saling berpandangan.


Setelah Lin kembali membawa baki yang berisi makanan yang sama, tidak ada seorangpun yang berani bicara, William berpura-pura melihat kamar Gara dan Kent berpura-pura tertarik melihat meja yang penuh dengan makanan Alice.

__ADS_1


"Kent, Kau terus menatap makananku..


"Adakah yang kau inginkan?" Alice menatap wajah Kent yang kebingungan.


"Ah,


"Tidak, tidak Alice..


"Aku tidak lapar." Kent memperhatikan Alice yang sedang makan dengan lahap.


William mengintip dari jauh, dia takut Alice akan memarahinya lagi.


'Alice tampak menakutkan..


'Bagaimana Gara bisa bertahan?


'Ah, semua demi cinta.' Gumam William.


Lin terus memantau pergerakan Kent, dia mengikuti setiap gerak tubuhnya. Gara telah berpesan padanya, dan dia tidak mau melakukan kesalahan.


"Aku sudah kenyaaaang." Alice melap kedua tangannya yang penuh dengan sisa remah makanan.


Tok


Tok


Tok


"Itu dokter Reina Ma'am.." Lin berjalan untuk membuka pintu.


"Selamat siang Lady Alice.." dokter Reina berjalan kearah Alice dan membungkukkan punggungnya.


"Halo dokter,


"Aku yakin Gara memintamu untuk menemaniku.."


"Saya memang ingin menemui Anda Ma'am.." dokter Reina tersenyum ramah.


"Ah, Anda harus belajar lagi untuk berbohong dokter, kemarilah.." Alice menarik tangan dokter Reina lalu memeluknya dengan lembut.


"Sedang ada tamu Ma'am?


"Apakah saya mengganggu?"


"Tidak, tidak..


"Tentu saja tidak.


"Kent, kemarilah..


"Ini Dokter Reina."


Kent mendekat dan memperkenalkan diri.


"Senang berjumpa dengan Anda.


"Nama saya Kent."


Dokter Reina terlihat sedikit terkejut melihat Kent, dia baru pertama kali menemui serigala setengah manusia. Namun, dia mencoba terlihat datar dan tidak menunjukan ekspresi apapun.


"Senang bertemu dengan Anda.


"Saya Reina."


Dokter Reina melihat kesudut ruangan, terlihat William sedang mengamatinya.


"Oh, Tuan Muda William..


"Selamat siang." sapa dokter Reina.


William hanya menganggukkan kepala dan tersenyum.


Namun tiba-tiba Alice memegang perutnya dan mengerutkan kening.


"Apakah anda merasa sakit Ma'am?" Dokter Reina memegang perut Alice dan melihat jurnalnya.


Masih ada beberapa Minggu sebelum dimulainya persalinan, namun dokter Reina telah mempersiapkan segala kebutuhan Alice.


Kent dan William mendekat dan terlihat khawatir. Terlihat butiran-butiran kecil keringat didahi Alice.


Kent mengusapnya dengan jarinya.


"Alice kau dingin sekali.." Kent semakin khawatir.


"Kau baik-baik saja Alice?" William mulai gelisah melihat raut wajah Kent yang pucat.


"Ah, hanya sedikit sakit dibagian bawah perutku, pinggangku rasanya panas sekali dokter.


"Apakah aku perlu mengatakannya?" Alice tampak bingung.


"Sudah berapa lama Ma'am?"


"Sudah beberapa hari.." Alice mengusap-usap perutnya.


"Saya akan memanggil beberapa bidan, dan mempersiapkan semuanya."


"Apakah sudah dimulai?" Alice menjadi gelisah.


"Belum Ma'am, saya hanya akan bersiap saja." Reina tersenyum untuk mengurangi rasa gugup Alice.

__ADS_1


Lin yang memperhatikan dari kejauhan mencoba tenang dan tidak sabar untuk menyampaikannya pada Gara. Dia sudah mengirimkan pesan lewat sihir.


__ADS_2