
Tik
Tik
Tik
Tik
Ruangan terasa hening, sampai suara detik jam terdengar. Hanya ada mereka berdua didalam ruangan.
Alice masih tersenyum, Gara mencoba menyusun kata-kata terbaik yang bisa dia sampaikan. Semakin lama ekspresi Alice semakin datar. Dia sudah pasrah dengan semua hal yang akan disampaikan oleh Gara.
"Alice.."
Namun, ketika Gara menyebut namanya dengan lembut dan penuh perasaan, Alice tidak sanggup lagi menyembunyikan air matanya, dia harus pergi dari sana sebelum Gara menyadarinya.
"Ahh..
"Aku lelah, Aku akan kembali ke kamarku saja.."
Alice berjalan menjauh, namun Gara menggenggam tangannya.
"Tidak Alice.."
"Apa?" Alice tidak berani menatap Gara.
"Aku sebaiknya pergi." Alice berlari dengan cepat ke arah pintu, membuka lalu menutupnya lagi dengan cukup kencang.
Gara yang masih terkejut dengan tingkah Alice, hanya bisa terdiam mematung melihat kepergian Alice yang sangat cepat.
Gara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dia merasa bodoh.
"Seharusnya aku langsung mengatakan apa yang aku pikirkan!"
"Aku benar-benar bodoh."
Gara berdiri dari kursinya, kemudian berjalan keluar ruangannya, dan berlari menuju kamarnya, namun Alice tidak ada disana.
"Alice..
"Kau dimana.."
Gara berlari mengelilingi istana, tetapi dia tidak kunjung menemukan Alice. Setiap orang yang berpapasan dengannya tidak melihat atau mengetahui keberadaan Alice.
"Dean..
"Kau sudah menemukan Alice?"
"Tidak Tuan Muda,
"Maaf, Saya belum menemukan Ma'am." Dean menundukkan kepalanya.
"Aaargh!
"Semua ini tidak akan terjadi kalo aku cepat-cepat memberitahunya."
Matahari telah terbenam, namun Gara masih belum menemukan Alice, jejak Alice seakan hilang. Bahkan Lin pun tidak bisa melacak keberadaan Alice.
"Lin!
"Kau sudah mengeluarkan seluruh kemampuanmu?!"
"Saya melakukan yang terbaik Tuan Muda..
"Namun, Saya tidak tau ada yang bisa menggunakan sihir tingkat tinggi seperti ini sehingga dapat menghilangkan energi Ma'am."
"Apa maksudmu?"
"Ma'am terlindungi oleh sihir Tuan Muda."
"Maksudmu?
"Alice bersama seseorang?"
"Saya kira seperti itu.."
"Dan dia mempunyai sihir tingkat tinggi?"
"Betul Tuan Muda."
"Oh astaga..
"Alice..
"Dimana kau.."
Gara mulai dari awal lagi, dia kembali ketitik dimana energi Alice menghilang.
Ternyata tepat didepan ruang kerjanya, Alice tidak sempat kembali kekamarnya.
Dia mengeluarkan seluruh kelelawar nya untuk mencari Alice, Eric dan William turut serta mencari.
"Gara..
"Beristirahatlah.." William menepuk bahu Gara yang tegang.
"Ah, kau..
"Aku tidak bisa..
"Tidak sebelum melihat Alice tepat didepan mataku."
"Apakah terjadi sesuatu diantara kalian?"
"Kau tidak perlu tahu Will."
"Ah, maafkan Aku."
"Aku akan mencarinya lagi." Gara berdiri dan berjalan menuju halaman.
William tetap berdiri disana.
* * *
Gara tidak tidur semalaman, dia terus memikirkan Alice, Gara tau saat ini kondisi Alice sedang tidak dalam keadaan baik. Alice mengalami masalah dengan telinganya, dengan penglihatannya, dengan penciumannya dan nafsu makannya tidak begitu baik akhir-akhir ini. Alice selalu menolak di berikan makanan, dia tidak menyukai kapsul yang Gara berikan bahkan menolak memakan cake kesukaannya.
"Alice, kau dimana..
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan saat ini.
"Ini pertama kalinya kau pergi setelah kita menikah.
"Aaah!!"
Gara menjambak rambutnya dengan kasar karena terlalu frustasi.
"Kumohon Alice..
"Kembalilah."
* * *
Tok
Tok
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu yang beruntun membuat Gara muak, dia menghancurkan pintu dengan mengayunkan sedikit tangannya.
Bruaakk!!!
Mulut Eric menganga, dia sangat terkejut melihat pintu yang tertutup didepannya tiba-tiba meledak dan hancur berkeping-keping.
"Ka.." Eric masuk kedalam ruangan perlahan-lahan, dia tidak mau membuat Gara semakin kesal.
"Apakah aku mengganggu?" Eric langsung menutup mulutnya sendiri.
Dengan cepat dia duduk didepan Gara.
"Apa yang kau inginkan?" Gara melihat sekilas ke arah Eric.
"Aah, Ayah menyuruhku menemuimu.
"Kau tau, dia khawatir padamu.
"Kau adalah anak kesayangannya."
Gara mendengus kesal mendengar Eric berbicara.
"Aah..
"Jangan kesal dulu.
"Aku membawakan mu sebotol darah."
Gara memandang jijik botol berisi darah merah segar, dengan sekali kedip Gara menghancurkannya berkeping-keping, seluruh isi botol menghambur keluar dan menyiprat ke arah Eric.
"Aah...
"Lihatlah perbuatanmu Gara..
"Kau membuat pakaian ku kotor.
"Astaga, menyeb.."
"Menyebabkan aku harus pergi maksudku..
"Mmm.."
Gara tidak memberikan respon apapun pada Eric, suasana menjadi hening.
"Gara,
"Aku minta maaf sebelumnya..
"Namun Aku harus memberitahumu sesuatu.
"Tapi, Kau jangan emosi terlebih dulu."
"Apa yang ingin Kau katakan?"
"Hmm..
"Aku sedikit ragu untuk memberi tahumu sekarang.."
"Katakan sekarang atau kau pergi?"
"Ah..
"Ok, baiklah.. baiklah..
"........
"Matt menemui Ayah."
Seketika mata merah Gara menatap tajam Eric.
"Kau sudah berjanji tidak akan marah Oke?"
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak tau dengan pasti..
"Namun beberapa saat yang lalu Matt keluar dari ruangan Ayah."
"Lalu kenapa kau tidak bilang dari tadi?"
"Ah..
"Aku ingin memilih waktu yang tepat."
"Pergilah!"
"Oke, oke baiklah.."
Eric cepat-cepat bergegas keluar dari kamar Gara sebelum Dia melampiaskan emosi padanya. Eric sudah cukup tertekan saat Gara menatapnya tajam beberapa kali. Gara adalah seorang panutan bagi Eric, namun Gara kurang bisa mengontrol emosinya saat sedang kesal dan marah, maka dari itu Eric tau waktu yang tepat untuk menghilang dari hadapannya.
"Argh..!
"Mengapa semuanya semakin memburuk saja?
__ADS_1
"Mengapa Matt menemuimu Ayah?"
Gara kembali mengacak-acak rambutnya karena frustasi.
"Apakah kedatangan Matt berhubungan dengan pembicaraan terakhir ku dengannya?
"Ataukah ada hal lain yang dibicarakan dengan Ayah?
"Aku harus menemui Ayah terlebih dulu!"
"Dean!
"Siapkan pakaianku."
"Baik Tuan Muda."
Gara langsung meninggalkan ruangan setelah berganti pakaian. Dia tetap saja terlihat tampan meskipun hanya memakai jeans dan kemeja putih dengan lengan digulung setengah.
Tok
Tok
Tok
"Ayah ini Aku."
Gara tidak menunggu dan langsung masuk kedalam ruangan Raja.
"Ah..
"Anakku yang tampan.
"Duduklah Nak."
"Ayah, langsung saja pada intinya."
"Apa maksudmu Gara?" Raja berpura-pura bingung dengan kedatangannya.
"Apa yang kau bicarakan dengan Matt?"
"Ah..
"Matthew?"
"Siapa lagi kalau bukan dia."
"Kami hanya ngobrol sedikit, kau tau..
"Orang tua sepertiku jarang sekali ada yang berkunjung menemuiku."
"Alasan tidak masuk akal apa itu?
"Cobalah bercermin, terlihat seperti apa kau."
Vampire memang tidak menua, usia mereka berhenti dipertengahan 45, dan muka Yang Mulia Raja memang menyerupai Gara, namun terlihat sedikit lebih dewasa raut wajahnya.
Yang Mulia Raja tertawa terbahak-bahak.
"Ah Gara, anakku.." Raja mengusap sedikit air mata yang keluar.
"Sudah lama aku tidak tertawa bahagia."
"Cukup omong kosongnya.
"Apa yang Matt lakukan?"
"Tentu saja kau sudah tau Gara.
"Kau yang terakhir berbicara dengannya."
"Apa maksudmu?
"Jelas-jelas kami tidak melakukan kesepakatan apapun!"
"Mungkin tidak begitu dimata Matthew."
"Tidak, tidak!
"Aku tidak mungkin, dan tidak akan pernah melakukan hal itu Ayah!"
"Gara!
"Kau bukan Raja!
"Aku Raja saat ini!"
Gara tidak bisa berkata-kata saat Raja menatapnya dengan tajam, seluruh badannya terasa kaku dan tidak bisa dia gerakan.
"Aku memang Raja, Gara..
"Tapi aku juga Ayahmu, Aku ingin kau bahagia.
"Temukanlah Alice."
Gara tidak menjawab sepatah katapun, dia bergegas pergi meninggalkan Ayahnya.
Setelah Gara pergi, William keluar dari balik dinding.
"Ayah, sudah kau selesaikan?"
"Hmm.."
"Jadi keinginanku bisa terkabul?"
"Masih ada waktu, Aku tidak bisa mengabulkan begitu saja keinginanmu.
"Mungkin saja dia akan berubah pikiran.
"Dan..
"Kau lihat sendiri Kakakmu itu.
"Kau tidak akan bisa selamat Will."
"Tentu saja tidak,
"Mana mungkin bisa."
__ADS_1
William pergi meninggalkan Ayahnya setelah mengutarakan maksud kedatangannya.