Cinta Dan Rahasia

Cinta Dan Rahasia
Terbuka!


__ADS_3

Bruuugh..!!!


Suara keras itulah yang pertama kali William dengar saat dia membuntuti Laura, William terkejut melihat Laura sudah terbaring dilantai dengan darah yang mengalir dari kakinya. Alice terlihat sama terkejutnya, dia berlari kearah Laura dan mencoba membangunkan nya, William tau Alice tidak akan pernah melakukan hal mengerikan seperti mendorong Laura dari atas sana.


Dia berlari kearah Alice yang sangat terkejut melihat kedatangannya, muka Alice pucat, dahinya berkeringat.


"Will..


"Will..


"Laura.. Laura.."


William memeluk Alice, dia mencoba menenangkan nya.


"Alice, tatap aku..


"Lihat mataku..


Alice mencoba melihat mata Wiliam, kemudian dia tidak sadarkan diri.


"Penjaga..!"


Beberapa orang datang menghampiri William, Dia memberikan instruksi, kemudian dengan cepat mereka membawa Laura kekamarnya.


William menggendong Alice yang sengaja dibuatnya tidak sadarkan diri, kemudian membawanya ke kamar Gara.


William membaringkan Alice ditempat tidurnya, dia mengecup kening Alice dengan lembut dan bergegas keluar, Lin terus memperhatikan dari kegelapan.


William berjalan ke arah ruang kerja Gara, terlihat Eric sedang berdiskusi bersama Gara didalam.


"Eric, Laura terluka.


"Sebaiknya kau melihatnya."


Eric terkejut mendengar perkataan William, kemudian dengan cepat menghilang.


"Kak, Alice berada di ruangan mu, maafkan aku..


"Aku membuatnya tidak sadarkan diri."


Gara menatap William, dia tau William selalu mempertimbangkan tindakannya.


Gara berdiri dari kursinya dan hendak pergi sebelum William menahannya.


"Ada yang harus aku sampaikan.."


"Katakanlah."


"Alice berada disana saat Laura terjatuh, tapi aku yakin dia tidak melakukan hal yang mengerikan."


"Apa maksudmu?"


"Mereka berdua ada diatas kolam ikan, lalu tiba-tiba Laura terjatuh dan mengalami perdarahan."


Gara tidak bertanya lagi, dengan cepat Gara berjalan ke arah ruangannya.


* * *


Eric dengan cepat membuka pintu kamar Laura, Tubuhnya dikelilingi oleh beberapa dokter kerajaan. Mereka tidak mengatakan apapun, raut wajah menyesal terlihat jelas dimuka mereka.


"Ada apa?


"Katakanlah!!"


Mereka ragu untuk mengatakannya, mereka takut Eric akan murka, namun mereka harus menyampaikan nya pada Eric.


Dokter yang terlihat lebih tua mencoba untuk mengatakan kebenarannya, dia mengambil nafas dan mulai mengatakan nya perlahan-lahan.


"Tuan Muda Eric..


"Putri Laura..


"Keguguran.


"Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan janinnya, sudah tidak ada lagi kehidupan didalam perutnya."


Hati Eric bergejolak, dia tidak tau persis apa yang dia rasakan saat ini, dia begitu frustasi sehingga tidak dapat mengucapkan sepatah kata apapun dari mulutnya.


Dokter saling berpandangan, mereka bingung dengan reaksi Eric, hampir tidak ada ekspresi, mereka pikir, mungkin Eric terlalu terkejut dengan kabar ini.


Eric menyuruh mereka meninggalkan ruangan Laura, lalu duduk ditepi tempat tidur, dia memandang wajah Laura yang cantik dan pucat.


'Apa yang sebenarnya kau lakukan Laura? Apa yang kau inginkan? Aku harus bagaimana sekarang? Apa yang kau rasakan setelah semua ini terjadi? Apa kau benar-benar mengandung? Aku sungguh tidak mengerti! Seseorang tolong jelaskan semua ini padaku!'


Eric menutup wajahnya, dia tidak berkata apa-apa dan hanya duduk diam sambil sesekali mengamati wajah Laura yang tertidur.


* * *


Gara membuka pintu dengan tergesa-gesa, dia berlari hampir menabrak lampu didalam kamar, segera dia berjalan ke arah Alice yang masih tertidur.


"Alice..


Dia mengusap rambut Alice dan mengusap dahinya yang penuh keringat, badan Alice sangat dingin dan pucat.


"Kau seperti orang mati sayang.." Gara mengecup bibirnya lembut.


Tidak ada gerakan atau respon sama sekali dari Alice, Gara tetap duduk dan menunggu.


"Lin, apa yang terjadi."

__ADS_1


"Laura menjatuhkan dirinya sendiri Yang Mulia. Dia sengaja melakukan hal tersebut, dan.."


"Katakanlah!"


"Ma'am mengatakan bahwa Laura tidak hamil Yang Mulia, menurut Ma'am perut Laura berisi asap hitam."


Sontak Gara berdiri mendengar jawaban Lin, wajahnya tampak murka, warna matanya semakin merah dan tubuh Gara dipenuhi aura membunuh yang sangat besar.


"Gaara.."


Gara menatap Alice, dia duduk dan menggenggam tangannya.


"Aku disini Alice..


"Apa yang kau rasakan?"


"Gaara..


"Laura..


"Aku..


"Aku membuatnya jatuh...


Alice menutup mukanya, kemudian badannya bergetar, air mata membasahi kedua tangannya.


Gara memeluk Alice dengan erat.


"Tidak sayang..


"Kau tidak melakukan apapun..


"Lin mengatakannya kepadaku.


"Tapi..


"Tapi..


"Laura terjatuh..


"Aku..


"Aku..


"Sssttt..


"Jangan mengatakan apapun, sekarang beristirahat.."


Setelah itu, Alice tidak mengatakan apapun, Gara membuatnya tertidur kembali.


"Lin, selidiki lah apa yang terjadi.


"Periksa semua CCTV."


* * *


Laura terbangun tengah malam, dia memegang perutnya yang sudah datar. Tidak terlihat rasa menyesal sedikitpun pada raut wajahnya, dia tersenyum. Laura melirik kesamping tempat tidurnya, terlihat Eric duduk dan tertidur disana.


'Semua yang terjadi hari ini memang tidak sesuai dengan rencana awal, tapi aku dapat memulai kembali dari sini. Sekarang aku tidak khawatir akan apapun, Aku akan membuat perempuan itu menyesal telah mengusik kehidupan ku.'


Terlihat tangan Eric sedikit bergerak, Laura kembali pura-pura tertidur.


"Uuuh sakit..


"Sakit sekali..


"Huuu.."


"Laura..


"Laura, bukalah matamu.


"Apa yang kau rasakan?"


Laura membuka matanya, lalu dengan cepat memeluk Eric.


"Uuuh..


"Perutku sakit sekali..


"Perutku Eric..


"Eriic...


"Perutku!!


"Perutku Eric!!


"Anak kita.."


Raut wajah Eric menegang, dia tidak dapat mengucapkan sepatah katapun, jauh dari lubuk hatinya ada perasaan perih yang menusuk.


"Eriic..


"Anak kita...


Laura memukul-mukul perutnya dan mulai menangis histeris.


"Hentikan!" Eric memegang tangan Laura dengan erat dan memeluknya.

__ADS_1


"Kau tidak boleh menyakiti dirimu! Apakah sakit?"


Laura terisak, air matanya terus mengalir membasahi dada Eric, mau tidak mau Eric memeluknya lebih erat lagi.


Setelah tangis Laura berhenti, Eric melepaskan pelukannya.


"Apa yang kau rasakan?"


Laura menunjuk ke arah dadanya.


"Sakit, rasanya sesak sekali.."


Eric tidak kuasa melihat Laura menangis, dia berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan.


"Eriic..." Laura berteriak memanggil namanya, namun Eric tidak menengok kebelakang sedikitpun.


Setelah Eric menutup pintu, Laura mengusap air matanya. Dia tersenyum sangat puas.


'Apakah itu semua cukup? Aku rasa Eric akan membuat vampire busuk itu menyesal sekarang. Aah leganya, akhirnya tubuhku kembali seperti semula.'


Laura berguling-guling ditempat tidurnya sambil sesekali tertawa bahagia.


* * *


Eric berjalan menyusuri lorong yang gelap dan sepi, dia hanyut dalam pikirannya sampai tidak menyadari kehadiran Gara dan William disana.


"Eric."


Eric melihat kedepan dan terkejut melihat Adik dan Kakak nya yang berdiri tepat didepan hidungnya. Dia masih dalam keadaan bingung dan hanya melongo tidak mengatakan apapun.


"Kau baik-baik saja?" Ucap Gara sambil berjalan ke arah kursi. "Duduklah."


"Will, pergilah.."


William meninggalkan Eric dan Gara. Eric duduk disamping Gara, tangannya menopang wajahnya, Eric terlihat sangat berantakan.


"Apakah ada yang ingin kau sampaikan?" Gara memulai pembicaraan.


Eric masih diam, dia tidak tau harus memulai dari mana.


"Cobalah sedikit lebih santai, aku akan menemanimu."


Eric mengatur nafasnya dan melihat jauh kedepan, menembus dinding-dinding yang ada didepannya.


"Gara, aku..


"Aku sebenarnya tidak tau harus bagaimana.


"Kau tau, setelah Ayah mengatakan hal itu kemarin,


"Aku tidak bisa memikirkan hal lain, dan aku sangat yakin aku tidak melakukan hal itu.


"Namun, kejadian hari ini..


"Membuat ku, membuat ku merasa sedikit sakit dan sesak.


"Aku tidak tau kenapa."


Eric berhenti berbicara, kemudian dia mengatur nafasnya lagi.


"Rasanya seperti, apakah hal ini mungkin?


"Atau, apakah aku berbuat seperti itu?


"Aku tidak tau, aku merasa tidak yakin dengan diriku.


"Apakah ini buruk?"


Gara menyimak cerita Eric, dia dapat menjawab semua pertanyaan Eric dengan mudah, tapi dia tau, saat ini Eric sedang dalam kondisi yang kurang baik, sehingga Gara harus sedikit memilah kata-kata yang lebih tepat untuk dikatakan.


Namun, Gara bukanlah seorang pembicara yang handal. Hanya kata-kata lembut inilah yang terpikirkan olehnya saat ini.


"Eric, apakah kau mencintai Laura?"


Eric terkejut dengan pertanyaan Gara, dia tidak tau harus menjawab apa dan hanya diam membeku.


"Kau tau, jika kau bertanya padaku, apakah aku mencintai Alice, aku akan menjawab dengan cepat.


"Tapi kau, aku rasa kau tidak mencintainya, dari caramu berfikir, mungkin kau hanya merasa bertanggung jawab saja aku rasa."


Eric tertegun mendengar jawaban Gara, dia mulai menanyakan pada dirinya sendiri, apakah dia mencintai Laura? atau hanya merasa bertanggung jawab.


"Eric, ada hal yang harus aku sampaikan padamu."


Eric menatap Gara, dia diam menunggu. Namun, Gara tidak melanjutkan perkataannya.


"Apa yang ingin kau katakan?"


"Aku tidak yakin apakah kau sanggup mendengarnya atau tidak."


"Katakanlah, kau lihat kondisi ku sekarang? Aku tidak mau lebih buruk dari ini."


"Oh tentu saja, lihatlah dirimu, kau seperti gelandangan."


Eric tersenyum masam mendengar perkataan Gara.


"Katakanlah Kak, aku akan mendengarnya."


"Oh baiklah jika kau memaksa.

__ADS_1


"Laura tidak hamil, dia menggunakan sihir gelap."


Mata Eric terbelalak mendengar perkataan Gara, dia tidak bisa lebih terkejut lagi.


__ADS_2