
Alice terdiam mendengar pertanyaan William. Dia tidak tau harus mengatakan apa. Apakah Alice harus menceritakan nya? menceritakan semua hal yang dia rasakan kepada William? Tentang rasa sedih dan kecewanya, rasa putus asa dan frustasi yang terus melandanya? Alice tidak tau harus mengatakan apa, sebelum tiba-tiba William memeluknya dengan erat.
"Aku akan mendengarnya Alice, semua keluh kesahmu.." Tangis Alice seketika pecah.
"Tidak apa-apa, aku tidak akan pergi meninggalkanmu." Alice tidak bisa mengontrol emosinya lagi, badannya bergetar menahan seluruh emosi yang dia rasakan.
Alice menangis lama sekali, seluruh pakaian depan William hampir basah oleh air mata Alice, namun William tidak berkomentar apapun, dia membelai kepala Alice dengan lembut.
"Maafkan Aku Willi..
"Seharusnya Aku tidak begini..
"Tapi Aku tak sekuat itu.." Air mata Alice kembali mengalir saat dia mengingat semua hal yang terjadi padanya belakangan ini.
"Aku merasa sakit, aku..
"Aku tidak tau apakah aku baik-baik saja atau tidak..
"Aku mencoba terus tersenyum,
"Namun hati kecilku terasa perih dan sakit sekali."
Hati William terasa pilu mendengar Alice mengungkapkan perasaannya, Alice seperti hiasan kaca yang rapuh, yang harus terus dijaga dan tidak boleh disentuh terlalu keras karena akan mengakibatkan kerusakan.
William tidak ingin membuat Alice merasa sedih terus menerus, William ingin Alice bahagia walaupun dia tau bukan dia yang seharusnya membahagiakannya.
William membelai kepala Alice berulang, mencium rambutnya dengan lembut, menghirup aroma tubuh Alice yang menggoda, dia menahan dirinya sendiri agar tidak larut dalam pesona Alice yang begitu kuat, kuku William menancap dalam pada telapak tangannya, menahan semua hasrat dan gejolak yang telah dirasakannya, agar terus membuat William sadar dan tidak terjatuh.
Alice melepaskan pelukannya, dia menghapus sisa air mata dipipinya dengan tangan, namun William dengan cepat mengambil beberapa helai tissu dan memberikannya pada Alice.
"Terimakasih.." Alice tersenyum tulus, dia memperlihatkan deretan giginya yang tidak rapih, William selalu senang melihatnya, ada kesan yang dalam saat Alice tersenyum, dan dia tidak bisa menahan dirinya untuk membalas senyuman Alice.
"Apakah sudah lebih baik?"
"Sedikit,
"Kau tau, aku merasa tertekan semenjak pulang bulan madu.
"Aku begitu terkejut mendengar Eric akan menikah, dalam artian aku sangat bahagia."
"Namun kemudian Laura begitu tidak menyukaiku, lalu melempar kipasnya dengan sangat cepat sampai aku tidak melihatnya, aku begitu bingung dan bingung." Alice menggelengkan kepalanya.
"Lalu saat itu kau muncul entah darimana dan menamparnya dengan begitu kencang, sejujurnya Aku senang sekali saat itu."
"Terimakasih.." Alice tersenyum, lagi dan memperlihatkan deretan giginya.
Jantung William berdetak begitu kencang ketika Alice kembali mengingat dia dan kemudian menunjukkan senyumannya yang begitu indah, William menahan dirinya lagi dan lagi, mengepalkan tangannya sampai buku-buku jarinya membiru.
'Astaga, godaan macam apa ini Tuhan? kau terus menerus menggodaku! Aku tidak tau selera humormu begitu rendah, jika kau terus memperlakukan ku seperti ini, aku tidak tau apakah besok masih hidup atau tidak, atau perang saudara akan terulang kembali disini.' William mengutuk dirinya sendiri.
"Lalu Laura kembali mengusikku dengan memberiku racun! Apa sebenarnya salahku?
"Dan dia juga melempar lagi kipasnya sehingga kepalaku terluka.
"Aku masih merasakan sakitnya.." Alice cemberut mengingat saat itu, dia tidak sadar kedua tangannya mengusap-usap kepalanya.
"Aah, kau bercanda Alice?" William menggoda Alice.
"Aku serius Will!!
"Lihat saja kepalaku." Alice menundukan dan memperlihatkan kepalanya. William mengusap-usapnya dengan lembut dan mencium bekas lukanya yang sudah tidak ada disana.
"Oh astaga!
"Ini sangat besar Alice.." William menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Benarkah? Sudah kuduga!"
William tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan dan gerak-gerik Alice yang begitu lucu.
"Ah kau mempermainkan ku!" Alice mencubit perut William yang penuh dengan otot dan begitu kencang.
William menahan tangan Alice diperutnya dan mengusapkan tangannya diseluruh dadanya.
Uhh
William tidak bisa mengontrol suaranya yang keluar begitu saja, sentuhan jari Alice diperutnya membuat semua dinding pertahanannya hancur begitu saja.
"Will?" Alice menarik tangannya dengan cepat.
Pipi Alice memerah ketika mendengar suara William yang penuh hasrat dan gairah, Alice memalingkan wajahnya dengan cepat.
'Astaga, apa yang Aku lakukan?' Alice memukul pipinya berkali-kali.
William salah tingkah, dia berjalan menjauh, dia pergi membasuh seluruh kepalanya.
"Oh Astaga Will..
"Seluruh kepalamu basah.." Alice mencari handuk, dia membuka lemari pakaian William dan menemukan beberapa handuk yang tersimpan rapi didalamnya.
"Alice menarik William duduk dikursi dan mengeringkannya dengan lembut.
"Apa yang kau lakukan?" Alice menekan handuk perlahan.
"Mmm..
"Sepertinya keran dikamarku perlu diperbaiki." William mencoba tertawa untuk menurunkan ketegangannya.
"Sudah lebih kering sekarang.." Alice bangga pada hasil kerjanya yang memuaskan.
"Terimakasih Alice.." William berdiri dan mengambil handuk yang basah ditangan Alice.
"Tapi Aku sedikit penasaran."
"Katakanlah..
"Aku akan menjawabnya jika memang ada jawabannya." Alice mengedipkan matanya.
"Apakah yang terjadi diruang kerja Gara?"
Alice terdiam beberapa saat, dia merasa sedih dan kecewa saat mengingatnya, namun dengan cepat Alice dapat mengatasi kesedihannya.
"Ah..
"Aku sedikit menguping pembicaraan Gara.." Alice tertawa kecut.
"Menguping?
"Maksudmu?"
"Ya..
"Kau tau, aku sedang sakit.
"Sekarang Aku bisa melihat hal aneh, dan juga mendengar suara yang tidak mungkin, anggap saja begitu."
William mencoba memahami walaupun sulit dimengerti.
"Jadi, apa yang kau dengar?"
Alice menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
__ADS_1
"Menteri ingin mencari selir untuk Gara dan melahirkan anak, namun anaknya akan diberikan padaku."
Seketika William berdiri, dia tidak menyangka akan mendengar hal seperti itu dari mulut Alice sendiri. Dia mengepalkan kedua tangannya, menahan semua emosi yang tiba-tiba muncul begitu saja.
"Tidak apa-apa Willi.." Alice tersenyum dengan tulus.
"Lagipula aku sudah mendengarnya dua kali.." Alice tertawa.
"Apa?!
"Dua kali?
"Dan kau baik-baik saja?"
"Tentu saja tidak,
"Aku sungguh terluka Will..
"Kecewa, sakit, perih..
"Aku tidak bisa mengungkapkannya lagi."
Terlihat sedikit raut kecewa diwajah Alice, William menghentikan pertanyaannya, dia tidak mau membuat Alice terluka lagi.
"...
"Maafkan Aku.."
William mencoba menenangkan hatinya, dia tidak mau salah bicara lagi didepan Alice, William menyusun kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya.
Jantungnya berdetak tidak karuan, dia tidak pernah merasa gugup seperti ini sebelumnya.
'Haruskah aku mengatakannya? atau tidak? tapi aku ingin Alice tau semua hal yang sudah aku rasakan sejak bertemu dengannya.' Terjadi Perang yang berkecamuk dalam hatinya.
Alice mengambil segelas air yang telah disiapkan William untuknya, lalu menengguk habis seluruh isinya.
"Segar sekali.." Alice menjilat beberapa tetas air yang keluar.
"Alice.." William menelan ludahnya, dia merasa sangat gugup sekali.
"Ya.." Alice tersenyum lagi.
"Kau tau, Aku sangat ..
"Aku sangat menyukaimu..
"Aku..
"Aku tidak akan meninggalkanmu..
"Aku tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi Alice..
"Aku..
"Aku ..
"Terimakasih Will, Kau membuatku merasa lebih baik." Alice tersenyum bahagia mendengar ucapan William.
"Tidak Alice,
"Kau tidak mengerti maksudku.."
"Aku mengerti Will, terimakasih..
"Aku merasa sangat bahagia sekali..
__ADS_1
"Aku juga sangat menyukaimu.." Alice memeluk William dengan erat.
William merasa putus asa, Alice tidak mengerti maksud dari perkataannya.