Cinta Dan Rahasia

Cinta Dan Rahasia
Mencari Kebenaran


__ADS_3

Rasa gugup yang William rasakan, tidak berarti sama sekali didepan Alice, bahkan Alice tidak menyadarinya sedikitpun.


'Seharusnya Aku tidak mengungkapkan perasaanku seperti ini. Sekarang Aku tampak seperti orang bodoh.' William sudah putus asa saat ini.


"Jadi Willi..


"Mengapa kita disini?" Alice melepaskan pelukannya.


"Ah..


"Karena kau tampak putus asa saat itu." William merujuk pada dirinya sendiri saat ini, dia menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.


"Apakah tampak begitu jelas?"


"Dimataku?


"Tentu saja..


"Wajahmu benar-benar..


"Luar biasa, bengkak." William menahan tawanya.


"Oh..


"Tentu saja, semua itu karena ulah Kakakmu!" Deg, jantung William kembali berpacu saat mendengar nama Kakaknya.


"...."


"Ada apa Willi?


"Kau tampak terkejut?"


"Tidak,


"Tidak apa-apa.." William mencoba tersenyum senatural mungkin.


"Sekarang pukul berapa?


"Aku harus kembali ke kamar..


"Gara akan mencariku..


"Mungkin." Alice menundukkan kepalanya.


"Terlambat Alice."


"Apa maksudmu?"


"Gara telah mencarimu sejak kau menghilang."


"Maksudmu menghilang?"


"Ya, karena Aku telah menghilangkan energi tubuhmu, sehingga Dia tidak tau keberadaanmu saat ini, meskipun kau tepat berada didepannya."


Alice mencoba mencerna perkataan William, dia berfikir sangat keras sehingga William membantunya dengan cepat.


"Alice, intinya kau tak terlihat oleh siapapun kecuali Aku."


"Apakah seperti Lin?"


"Persis seperti itu, tapi Lin bahkan tidak bisa melihatmu."


"Waaaaw!!


"Luar biasa Will!!"


William tampak terkejut dengan ekspresi santai Alice, ini diluar ekspektasi nya.


"Kau tampak bingung Will.."


"Tidak, hanya saja..


"Apakah kau tidak marah?


"Kesal padaku?"


"Marah? kesal?


"Mengapa harus?"


"Kau sudah berada disini berjam-jam Alice, sekarang sudah hampir malam.."


"Apakah begitu?


"Hmm..


"Kalo begitu kau harus membawaku keluar Will.."


"Ah..


"Kau ingin pergi kemana Alice?"


"Bertemu Gara..


"Tapi..


"Jangan biarkan dia melihatku.."


William berpikir terlebih dahulu, dia mencoba mencari keberadaan Gara, Alice hanya bisa bertemu Gara ditempat yang tidak mencolok, jika terlalu banyak orang akan beresiko.


"Oke, Aku akan membawamu bertemu Gara,


"Tapi..


"Jangan sampai kau bersentuhan dengan siapapun dan barang apapun.


"Apakah Kau mengerti Alice?"


"Baiklah, aku akan berhati-hati.."


"Untuk saat ini lebih baik Kau beristirahat disini Alice, Aku akan keluar sebentar untuk melihat situasi terlebih dulu."


"Oke, baiklah..


"Aku akan beristirahat disini."


Setelah itu William pergi meninggalkan Alice didalam kamarnya sendiri.


Alice masuk lebih dalam, dia menemukan tempat tidur William yang sedikit berantakan dengan posisi bantal berada dibawah sebagian dan selimut yang menjuntai.


Kamar ini terlihat nyaman jika sedikit dirapikan, banyak sekali botol-botol kaca yang berisi berbagai macam cairan dengan berbagai macam warna.


"1, 2, 3, 10,.....15..


"Banyak sekali macamnya, Aku penasaran apa isinya.."


Alice mendekati sebuah botol yang berwarna biru, namun dia mengurungkan niatnya ketika membaca label pada botol 'Blue poison'


"Ah, seharusnya Aku tidak mendekatinya.


"Siapa yang tau apa yang ada didalamnya, kecuali pemiliknya sendiri."


Setelah lelah berkeliling Alice memutuskan untuk meluruskan kakinya ditempat tidur William yang terlihat nyaman untuk disinggahi.


"Memang senyaman kelihatannya." Alice tersenyum puas.


Dia tidak kuasa menahan kantuk yang begitu kuat menyerangnya tiba-tiba. Alice terlalu lelah untuk melihat asap berwarna putih pada gelas yang diminum nya tadi. William memasukkan beberapa tetes obat tidur diatasnya.


"Baiklah, Aku menyerah.


"Mataku terasa berat sekali..


"Oh tuhan, Aku ingin keluar dari..


Alice belum sempat menyelesaikan kalimatnya, dia tertidur lebih cepat dari seharusnya.


Beberapa jam kemudian William kembali kekamarnya, dia melihat sekeliling namun tak menemukan Alice. Pintu menuju kamar tidurnya tertutup, William membukanya perlahan, terlihat Alice berbaring di tempat tidurnya.


"Aku kira kau pergi keluar.." William mengusap rambut Alice yang panjang dan sedikit bergelombang.


"Sepertinya kau sangat lelah Alice..


"Aku akan membiarkanmu berisitirahat."

__ADS_1


William berjalan keluar, dia mengambil beberapa botol obat dan meraciknya.


* * *


Matahari mulai terbit menunjukan sinar keemasannya. Tubuh Alice terlihat indah dan berkilauan terpapar sinarnya. Burung-burung bersiul diluar, Alice dapat mendengarnya dengan jelas.


"Alice...


"Bangunlah.." William beberapa kali mengusap kepala Alice.


"Uhh..." Alice mengusap-usap matanya yang sedikit lengket.


"Jam berapa sekarang Will?"


"Pukul 7 pagi Alice, tepatnya 8 menit lagi."


"Astaga, aku tertidur selama itu?" Alice mencoba bangkit dan berdiri dari tempat tidur, tubuhnya terhuyung dan hampir jatuh, namun William dengan cepat menahannya.


"Duduklah dulu, aku akan mengambilkan air minum untukmu."


"Terimakasih." Alice kembali duduk dan meminum gelas yang diberikan oleh William.


"Kau ingin bertemu Gara?"


"Tentu saja."


"Masih ingat apa yang harus kau lakukan?"


"Aku tidak boleh menyentuh siapapun dan apapun."


"Baiklah, minum ini." William menyerahkan sebuah botol berisi ramuan berwarna ungu kebiru-biruan. Alice melihat asap abu-abu keluar dari dalam botol tersebut.


"Apakah ini aman?" Alice ragu-ragu mengambilnya.


"Oh ayolah Alice, Aku tidak akan pernah mencelakakanmu.." William menaruh botol itu ditangan Alice.


Alice menggenggamnya dengan erat. Dia memutar-mutar botolnya, kemudian membuka tutupnya dan meminumnya sekali teguk.


"Terasa seperti anggur..


"Sedikit pahit diujungnya." Alice mengeluarkan lidahnya yang berwarna ungu.


"Oh ayolah, kita sedang tidak mengikuti lomba Alice." William mengambil botol yang kosong dan menaruhnya diatas meja.


"Tidak ada yang terjadi Will.." Alice mengerutkan dahinya.


"Tunggu sampai beberapa menit, kau tau obat juga memerlukan waktu untuk bereaksi." William mencubit pipi Alice dengan gemas.


"Sakit sekali! hentikan." William tertawa bahagia melihat ekspresi Alice yang kesal.


Alice merasa mual beberapa saat kemudian, dia menutup mulutnya dengan cepat.


"Aku merasa mual Will."


"Apakah begitu?


"Kurasa, Aku terlalu banyak memberikannya padamu."


Alice memukul punggung William dengan keras.


'Bukk!!


"Ahh, aku bercanda..


"Aku bercanda, maafkan Aku." William berjalan menjauh.


"Alice..


"Alice..


"Aku tak bisa melihatmu, sentuh Aku."


Tidak ada respon dari Alice, William berteriak sekali lagi.


"Alice, sayang..


"Sentuh Aku, hanya Aku yang bisa melihatmu jika kau menyentuhku."


William sangat terkejut, Alice tepat berada didepannya.


"Kau memperingatkan ku untuk tidak menyentuh siapapun dan apapun."


"Begini, jika Kau ingin terlihat hanya oleh Gara, sentuh Gara saja, namun jika Kau ingin terlihat oleh semua orang, kau harus menyentuh sesuatu yang ada disana, misalnya pot bunga, atau gelas atau apapun."


"Ah, Aku mengerti." Alice memeluk William dengan lembut.


"Baiklah, baiklah.. cukup dengan pelukannya, sekarang ikuti Aku."


Alice mengekor William, dia berjalan sangat hati-hati. Tangannya disimpan diatas dadanya, dan kedua kakinya berjinjit.


"Oh Alice..


"Kau seperti orang bodoh, berjalanlah seperti biasa." Kemudian Alice berjalan seperti biasa, namun tangannya masih diatas dada.


"Dengar, ikuti Eric dengan cepat, hati-hati jangan sampai menyentuhnya.


"Berhati-hatilah.." Alice mengangguk dengan cepat.


Tok


Tok


Tok


Tok


Tok


Eric mengetuk pintu kamar Gara, namun kemudian terdengar ledakan yang sangat besar.


Bruaakk!!!


Alice sangat terkejut melihat pintu yang tertutup itu tiba-tiba meledak dan hancur berkeping-keping.


"Ka.." Alice mengikuti Eric masuk kedalam kamar Gara. Dia berdiri sedikit lebih jauh dari Eric.


"Apakah aku mengganggu Mu?"


"Apa yang kau inginkan?"


"Aah, Ayah menyuruhku menemuimu.


"Kau tau, dia khawatir padamu.


"Kau adalah anak kesayangannya."


Terdengar geraman kecil keluar dari mulut Gara.


"Aah..


"Jangan kesal dulu.


"Aku membawakan mu sebotol darah."


Gara terlihat jijik melihat botol berisi darah, namun botol itu hancur seketika, seluruh isinya menghambur keluar dan menyiprat ke arah Eric.


"Aah...


"Lihatlah perbuatanmu Gara..


"Kau membuat pakaian ku kotor.


"Astaga, menyeb.."


Gara menatap Eric dengan tajam.


"Menyebabkan aku harus pergi maksudku..


"Mmm.."


Gara tidak memberikan respon apapun pada Eric, suasana menjadi hening, Alice masih mendengarkan pembicaraan mereka, jantungnya berdegup dengan kencang, dia takut Gara akan menyadari kehadirannya.


"Gara,

__ADS_1


"Aku minta maaf sebelumnya..


"Namun Aku harus memberitahumu sesuatu.


"Tapi, Kau jangan emosi terlebih dulu."


"Apa yang ingin Kau katakan?"


"Hmm..


"Aku sedikit ragu untuk memberi tahumu sekarang.."


"Katakan sekarang atau kau pergi?"


"Ah..


"Ok, baiklah.. baiklah..


"........


"Matt menemui Ayah."


Raut wajah Gara terlihat kesal.


"Kau sudah berjanji tidak akan marah Oke?"


"Apa maksudmu?"


"Aku tidak tau dengan pasti..


"Namun beberapa saat yang lalu Matt keluar dari ruangan Ayah."


"Lalu kenapa kau tidak bilang dari tadi?"


"Ah..


"Aku ingin memilih waktu yang tepat."


"Pergilah!"


"Oke, oke baiklah.."


Dengan cepat Eric meninggalkan kamar Gara, Alice masih berdiri disana. Dia membekap mulutnya dengan kuat.


"Argh..!


"Mengapa semuanya semakin memburuk saja?


"Mengapa Matt menemuimu Ayah?"


Gara mengacak-acak rambutnya karena frustasi.


'Astaga Gara, Kau terlihat kacau.'


"Apakah kedatangan Matt berhubungan dengan pembicaraan terakhir ku dengannya?


"Ataukah ada hal lain yang dibicarakan dengan Ayah?


"Aku harus menemui Ayah terlebih dulu!"


'Siapakah Matt? Apakah nama salah satu Menteri?' Alice berpikir dengan keras.


"Dean!


"Siapkan pakaianku."


"Baik Tuan Muda."


Gara meninggalkan ruangan setelah berganti pakaian.


'Aku merindukanmu Gara..' Alice mengikuti Gara dengan berhati-hati.


Tok


Tok


Tok


"Ayah ini Aku."


Gara masuk dengan cepat setelah memberitahu kedatangannya, Alice masih mengikutinya.


"Ah..


"Anakku yang tampan.


"Duduklah Nak."


"Ayah, langsung saja pada intinya."


"Apa maksudmu Gara?" Raja berpura-pura bingung dengan kedatangannya.


"Apa yang kau bicarakan dengan Matt?"


"Ah..


"Matthew?"


"Siapa lagi kalau bukan dia."


"Kami hanya ngobrol sedikit, kau tau..


"Orang tua sepertiku jarang sekali ada yang berkunjung menemuiku."


"Alasan tidak masuk akal apa itu?


"Cobalah bercermin, terlihat seperti apa kau."


Yang Mulia Raja tertawa terbahak-bahak.


"Ah Gara, anakku.." Raja mengusap sedikit air mata yang keluar.


"Sudah lama aku tidak tertawa bahagia."


"Cukup omong kosongnya.


"Apa yang Matt lakukan?"


"Tentu saja kau sudah tau Gara.


"Kau yang terakhir berbicara dengannya."


"Apa maksudmu?


"Jelas-jelas kami tidak melakukan kesepakatan apapun!"


Deg


Deg


Deg


Jantung Alice kembali berdetak saat mengingat kejadian kemarin.


"Mungkin tidak begitu dimata Matthew."


"Tidak, tidak!


"Aku tidak mungkin, dan tidak akan pernah melakukan hal itu Ayah!"


"Gara!


"Kau bukan Raja!


"Aku Raja saat ini!"


Gara tidak bisa berkata-kata saat Raja menatapnya dengan tajam, seluruh badannya terasa kaku dan tidak bisa dia gerakan.


"Aku memang Raja, Gara..


"Tapi aku juga Ayahmu, Aku ingin kau bahagia.


"Temukanlah Alice."

__ADS_1


Alice tidak bisa menahan air matanya, dia menangis tersedu-sedu saat Gara pergi meninggalkan ruangan Raja, tepat pada saat itu William keluar dari balik dinding.


__ADS_2